Arsip untukDesember, 2006

THE LUBISGRAFURA.WORDPRESS AWARDS 2006

THE LUBISGRAFURA.WORDPRESS AWARDS 2006

Adalah semacam ucapan bentuk terima kasih Lubis kepada berbagai pihak yang sedikit banyak menjadi pusat inspirasi dan rasa kekaguman yang tinggi. Mungkin tahun ini hanya dalam bentuk ucapan terima kasih yang ditampilkan dalam blog saja. Harapan saya tahun depan, saya bisa memberikan lebih kepada orang-orang di sekitar saya yang telah memberikan sumbangan yang tinggi selama tahun 2006 dan insyaAllah tahun-tahun mendatang.

NOMINASI PEREMPUAN

  1. Bu Ani

Beliau bekerja di SDN Balearjosari Malang. Beliau juga yang telah memberi saya banyak pekerjaan hingga pengalaman hidup yang sangat berharga. Bu Ani adalah ibu saya yang baru saja kutemukan.

  1. Wa Oda Wulan Ratna

Cerpenis asal Jakarta yang sudah melanglangbuana dari Sabang hingga Merauke. Ia memenangkan berbagai penghargaan ditingkat nasiona.

  1. Mbak Ulfa

Kerja kerasnya sebagai seorang front office di sebuah lembaga bimbingan belajar terbesar di kota Malang, Primagama cab. Blimbing telah membawa dirinya ke dalam sebuah kesukesan yang besar. Semangat pantang menyerah dan keuletan bekerja menjadikan seorang Ulfa menjadi benar-benar hebat.

  1. Mbak Nita

Dari pertama kali bertemu, aku sudah kagum dengan kemampuan Mbak Nita dalam memimpin sebuah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang periode 2003/2004. Ia juga menjadi seorang pemimpin perempuan di berbagai kegiatan. Kini, ia menjadi asisten dosen di universitas yang sama.

Perempuan terbaik tahun ini adalah Bu Kusubakti Handayani.

Semoga Allah memberikan amal jariyah yang sebesar-besarnya buat beliau, karena telah membimbing saya dalam skripsi. Segala kesabaran dan keuletannya dalam membimbing saya sempat membuat air mata saya menetes. Beliau sampai sakit, dan saya yang tak berbakti ini justru bersikap santai dalam mengerjakan skripsi. Semoga Bu Yani bisa pulang dari haji dengan selamat sentausa sepanjang massa.

NOMINASI LELAKI

  1. Hudi

Teman kos. Ia banyak memberikan masukan dalam hal pengetahuan baik secara gaib maupun secara konkrit. Salut buatmu! Semoga dikehidupan mendatang kita dapat bertemu kembali.

  1. Mukhlis

Dua kali kau menginap di kamarku. Kau sedikit banyak telah mewarnai karya-karyaku. Kapan datang ke kos lagi?

  1. Wawan—eko—yulianto

Pebengkel. Sosok berwibawa dan sekaligus seorang guru di lembaga bahasa Inggris terkenal di kota Malang dan secara nasional, bahkan internasional, English First. Dialah orangnya.

  1. Bapak Widodo

Kesabaran dan kebijaksanaan yang kau ajarkan akan kubawa hingga tetes terakhir pasir waktu. Beliau baru saja pulang dari Jepang. Banyak oleh-oleh yang diberikan kepada saya. Termasuk senuah rahasia tentang kehidupan yang selama ini tak pernah kupedulikan.

Lelaki terbaik tahun ini adalah Ainur Ridwan

Tak akan pernah cukup waktu untuk berdiskusi denganmu. Seorang lelaki yang bekerja di lembaga bahasa Inggris British 5 tahun ini telah memberikan warna banyak dalam hidup saya. Kemampuan menelaah yang rasional telah kudapatkan dari dia. Semoga sukses selalu.

PENGHARGAAN KHUSUS

Kepada orang tuaku, Ari Wijayanti sekaligus calom mertuaku, Tina, Mbak Ida, Mas One,Mbak Indah, semua keluargaku dan kedua adikku : Ema Grafika Rahayu dan Suci.

NOMINASI THANKS GIVING 2006

  1. Abdul Aziz (PNS Pajak)

Tak ada kau, tak ada kepenyairan Lubis.

  1. Rizal (Temen Kos)

Banyak membantuku. Kau lampu di jalan raya.

  1. Dian Hartati

Apa yang musti kukatakan untuk ucapan terima kasihku?

  1. Bu Kusubakti Handayani

Dosen pembimbing hidup terbaikku.

  1. Mbak Reni

Jika bukan sampean, aku tak bisa seperti ini. Apalagi jadi tentor terbaik.

  1. Mukhlis

Kutraktir kopi jika kau ke Malang lagi.

  1. Deny Prabowo

Kedatanganmu, warna karyaku.

  1. Aris Kurniawan

Terlalu berlebihan atau tidak, jika kau kusebut sebagai guruku?

  1. Lutfi

Kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah belok di perempatan sana. Puput,kekasihmu, hanya sebagian kecil dari inspirasiku.

  1. Andi Paul

Kapan kamu muncul?

PENGINSPIRASI TERBAIK TAHUN 2006

  1. Ari Wijayanti

Kapan kita bertengkar lagi? Aku rindu pertengkaran?

  1. Bu Kusubakti Handayani

Dosen pembimbingku yang terbaik.

  1. Mbak Ulfa

Terima kasih telah mempercayaiku untuk kisah rahasiamu.

  1. Pak Widodo

Pinjami aku catatan kehidupan yang telah kau goreskan.

  1. Ghurun Adib Ahmadi.

Kulihat keteduhan di cangkir kopimu.

  1. Abdul Aziz

Dua bintang?

  1. Bagus Setya Mahardika
  2. Mami Legiatai
  3. Hudi
  4. Mukhlis

LOYALITAS NOMINE 2006

  1. Ari Wijayanti
  2. Primagama Cab. Blimbing
  3. Bengkel Imaji Malang
  4. Temen kos-kosan daerah Klaseman
  5. Abdul Aziz
  6. Eko
  7. Bagus Stya Mahardika
  8. Andreyas-Pipink
  9. Ika Kecut
  10. Domba “ARIF”

LINGKUNGAN KOMUNITAS TERBAIK 2006

  1. Primagama Cab. Blimbing Malang

Buat : Pak Imam, Mbak Ulfa, Pak Alex, Siswa 3 IPS 1, Siwa 3 IPA 2, Mbak Wawa, Mas Ainur Ridwan, dsb.

  1. Bengkel Imaji Malang

Lek Wawan, Bang Mukid, Bang Emil, Om Sidik Nugraha, Pak Dhe Gurun, Leli, Ivan Jay,

  1. Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang

Semua yang ada di sana, makasih yang masih bisa kusebut ada Dida, Didik, Nanang, UKMP-UM deh!

  1. KKN Banjarsari The Rock City

Kak Andreyas, Piping, Obey, Kikik, Ika Kecut, Renda Satpol Oon, Miss gila hingga Miss jelek, Bananas, Ngerock deh!

  1. Kos-kosan

Hudi, Funny, Danang, Rizal, Tinggalah kita. Jadi kan, makan daging kambing?

  1. Temen Ngopi

Andreyas, Pakde, Bagus, Abdul Aziz (ngopi net), Piping, Rendra, dan semuanya.

  1. Halte Band

Tanpa diriku, kuharap[ kalian masih berkarya. Jaya terus Halte, walau kinisudah berubah nama menjadi TM Band.

FILM TERBAIK LUBISGRAFURA.WORDPRESS AWARDS SEPANJANG 2006

  1. Denias
  2. James Bond: Cassino Royal
  3. Mission Impossible III
  4. The Prestige
  5. Silent Hill
  6. Opera Jawa
  7. Jomblo

Penghargaan terbaik adalah Mission Imposible III sebagai KONSEP TERBAIK, ADEGAN CERDAS, ACTION TERBAIK, dan UNPREDICTEBLE PLOT.

MP3 YANG SERING DIPUTAR SELAMA 2006

  1. Dewa 19 – Kamulah satu-satunya.
  2. Astrid – Jadikan aku yang kedua
  3. Aerosmith – I don’t want miss a think
  4. Debu – Mazhab Cinta
  5. Ebit. G. Ade – Kupu-kupu kertas
  6. Duran Duran – Ordinary World
  7. Dewa 19 – Satu sisi
  8. Spice Girl – 2 become 1
  9. The Beatles – Let it be
  10. Anggun – Snow on the sahara

Kepada yang belum tersebutkan namanya, bukan berarti Anda tak berarti sama sekali. Anda justru yang terbaik dan nominasi khusus bagi nama-nama yang belum tersebutkan sebagai THE BEST HIDDEN PEOPLE ON ME 2006

Kepada Semua pihak saya ucapkan terima kasih. Semoga amal dan ibadah kita diterima di sisi Allah SWT. Amin.

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com

Diproteksi: lomba cerpen dan puisi 2007

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Teknik “Memancing” untuk Menulis Puisi

Teknik “Memancing” untuk Menulis Puisi

Saudara-saudara pebengkel, beberapa waktu yang lalu saya termenung sambil menikmati lagu oldiest (smoga tidak salah menuliskannya) dan tiba-tiba mendapatkan inspirasi menulis puisi. Mungkin agak terkesan “membajak” tetapi, apa pedulilah, kita bermain-main saja dengan kata dan puisi. Mari,

Pertama, mari kita siapkan teks lagu oldiest semacam Alias, Duran Duran, Vanila Ice, Belinda Carlisle, Roxette, MLTR, atau siapa sajalah.

Kedua, pilih lagu yang pualing disukai. Baik syairnya atau iramanya.

Ketiga, coba cari kalimat atau syair yang menjadi favorit.

Keempat, buka MS Words dan mulailah mengetik kata yang paling disukai itu

Kelima, beri judul lain yang hampir mirip dan editlah menjadi puisimu sendiri.

Berikut adalah contoh dari beberapa puisi yang berhasil saya buat dari teknik “memancing” dari lagu-lagu oldiest. Pertama, saya memilih lagu Ordinary World-nya Duran Duran:

Came in from a rainy Thursday on the Avenue

Thought I heard you talking softly

I turned on the lights, the TV and the radio

Still I can’t escape the ghost of you

What is happening to it all?

Creazy some say

….

Pride will tear us both apart

Well now pride’s gone out the window

Cross the rooftops, runaway

(dan dari syair di atas terjadilah puisi kita sendiri, seperti halnya puisi saya berjudul “suara” berikut ini)

Suara

Hujan mengetuk jendela ruang kuberdiam

ada suara yang merambat di gelombang udara

: seperti suara perempuan

Kumatikan note book, televisi, dan lampu

namun aku masih mendengar suara itu

sebegitu dekat, seolah di depan gendang telinga kau merambat

“apa yang terjadi?” tanyaku pada dingin hujan

“kau gila!” jawab hujan sembari mengetuk daun jendela

Aku berlari turun ke jalan menembus hujan

suara itu terus memanggil lewat getaran-getaran

dedaun dan reranting di pinggir jalan kota tua.

Selembar kertas di jalan yang basah menceritakan padaku

tentang seorang pengantin perempuan yang lari

di hari pernikahannya, karena ia tahu

: yang menutup dan mengunci ruang hatinya –

adalah hanya kekasihnya,

yang kini sedang berdiri di perempatan jalan kota tua

saat hujan meluruh. Dan aku melihat pengantin perempuan itu

– sedang menuju ke arahku.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Berikutnya dari lagunya MLTR “Sleeping Child” terjadilah perkawinan yang sebegitunya:

Oh, my sleeping child the world’s so wild

But you have built your own paradise

If all people around the world

They had mind like yours

Wo’d have no fighting and no wars

If all the kings and the leaders

Could see you here this way

They would hold the earth in their arms

They would learn to watch you play

(bim salabim, jadilah puisi berikut yang berjudul “anak-anak turun ke jalan” ini)

Anak-anak Turun ke Jalan

Anak-anak turun ke jalan sembari membawa kembang api

masing-masing di tangan kanan dan di kiri

rembulan menjelma sebentuk sampan, melayari lautan bintang

mengikuti langkah anak-anak di jalanan

orang tua bernyayi di balik pagar, bersorak seperti ketika

karnaval tiba – anak-anak mereka melintasi halaman rumah

Anak-anak turun ke jalan bernyanyi dengan riang

seorang tentara di seberang sana menyembunyikan senjatanya

: di balik lampu jalanan

ikut bersorak mengikuti nyayi anak-anak

dan seseorang telah mengubur dalam-dalam

(segenggam mesiu), ia pun ikut bersorak

tak ada polisi, tak ada petugas keamanan

semua mengikuti nyanyi anak-anak

semua raja, semua pemimpin, semua presiden

ikut turun ke jalan mengiring langkah anak-anak

: perang, pertikaian, pembantaian, dan dunia yang liar

hanya tinggal dongeng-dongeng yang sudah dilupakan.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Saya beri contoh satu lagi dari lagu “Hands to Heaven”-nya Breathe seperti berikut ini:

Tonight I need your sweet caress

Hold me in the darkness

Tonight you calm my restlessness

You relieve me sadness

Morning has come another day

I must pack my bags and say goodbye, goodbye

(abra ka dabra, jadilah puisi yang berjudul “uluran tangan” milik kita sendiri, beginiJ

Uluran Tangan

Datanglah padaku, pada malam-malam yang gelap

ukirlah relief kisah-kisah perjalananmu di relungku

datanglah pada dingin-dinginku, ikuti arah mantraku

niscaya, kau akan berjalan menuju arahku.

Datanglah sebelum pagi pecah

karena aku harus segera berkemas,

membawa seluruh bekal perjalanan ke dalam tas

dan padamu, aku harus mengucap pisah.

Tangamu masih sebegitu jauh untuk kurengkuh

kubisikkan doa-doa kepada sepoi angin

dan air mata yang membelah wajahmu di kejauhan

menjelma arus Niagara, atau Gangga yang membelah Hindia

datanglah saat kuberkemas, memasukkan seluruh kenangan ke dalam tas

datanglah sebelum pagi benar-benar pecah

karena, hanya padamu aku harus mengucap pisah

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Selamat Mencoba…

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com

puisi: Suara

Suara

Hujan mengetuk jendela ruang kuberdiam

ada suara yang merambat di gelombang udara

: seperti suara perempuan

Kumatikan note book, televisi, dan lampu

namun aku masih mendengar suara itu

sebegitu dekat, seolah di depan gendang telinga kau merambat

“apa yang terjadi?” tanyaku pada dingin hujan

“kau gila!” jawab hujan sembari mengetuk daun jendela

Aku berlari turun ke jalan menembus hujan

suara itu terus memanggil lewat getaran-getaran

dedaun dan reranting di pinggir jalan kota tua.

Selembar kertas di jalan yang basah menceritakan padaku

tentang seorang pengantin perempuan yang lari

di hari pernikahannya, karena ia tahu

: yang menutup dan mengunci ruang hatinya –

adalah hanya kekasihnya,

yang kini sedang berdiri di perempatan jalan kota tua

saat hujan meluruh. Dan aku melihat pengantin perempuan itu

– sedang menuju ke arahku.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Anak-anak Turun ke Jalan

Anak-anak turun ke jalan sembari membawa kembang api

masing-masing di tangan kanan dan di kiri

rembulan menjelma sebentuk sampan, melayari lautan bintang

mengikuti langkah anak-anak di jalanan

orang tua bernyayi di balik pagar, bersorak seperti ketika

karnaval tiba – anak-anak mereka melintasi halaman rumah

Anak-anak turun ke jalan bernyanyi dengan riang

seorang tentara di seberang sana menyembunyikan senjatanya

: di balik lampu jalanan

ikut bersorak mengikuti nyayi anak-anak

dan seseorang telah mengubur dalam-dalam

(segenggam mesiu), ia pun ikut bersorak

tak ada polisi, tak ada petugas keamanan

semua mengikuti nyanyi anak-anak

semua raja, semua pemimpin, semua presiden

ikut turun ke jalan mengiring langkah anak-anak

: perang, pertikaian, pembantaian, dan dunia yang liar

hanya tinggal dongeng-dongeng yang sudah dilupakan.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Jiwa

Bukankah kau bisa merasakan kedatanganku?

membauinya, menyentuhnya dengan jemarimu?

matikan semua lampu di kota ini, nyalakan lilin di tanganmu

Lantas, aku akan terbang menyelinap

masuk ke setiap relung hati, seperti gesekan biola

mengalir seperti harpon

atau berdebum seperti pukulan dram?

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Uluran Tangan

Datanglah padaku, pada malam-malam yang gelap

ukirlah relief kisah-kisah perjalanamu di relungku

datanglah pada dingin-dinginku, ikuti arah mantraku

niscaya, kau akan berjalan menuju arahku.

Datanglah sebelum pagi pecah

karena aku harus segera berkemas,

membawa seluruh bekal perjalanan ke dalam tas

dan padamu, aku harus mengucap pisah.

Tangamu masih sebegitu jauh untuk kurengkuh

kubisikkan doa-doa kepada sepoi angin

dan air mata yang membelah wajahmu di kejauhan

menjelma arus Niagara, atau Gangga yang membelah Hindia

datanglah saat kuberkemas, memasukkan seluruh kenangan ke dalam tas

datanglah sebelum pagi benar-benar pecah

karena, hanya padamu aku harus mengucap pisah

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Kepulangan

Di hutan ini aku tersesat,

totem elang yang menuntun jalan pulang tlah hilang

roh-roh nenek moyang tlah murka, menggulung hutan

dengan badai, kilat, dan lebat hujan

/

manusia tak lagi berdiri di satu garis persamaan,

perbedaan tlah menjelma hitam-putih, tinggi-rendah

pada peperangan ras, agama, dan batas

/

aku semakin lemah melangkah

kutatap hatiku yang kosong, tak mampu kuberlari

apalagi bersembunyi, (kau tlah menemukanku:)

kurindu gelak-gelak tawa dan tangis bahagia

yang kini menempel di sulur-sulur pohon tua

/

“jangan pedulikan apapun yang dikatakan pohon”

“lanjutkan perjalananmu, percaya pada hatimu”

“di seberang kan kau temui, apa yang kau cari”

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Surga

Seberapa berhargakah bagimu cinta itu?

Setarakah dengan Titanic yang karam?

Sejumlahkah dengan WTC yang menyisakan kelam?

Kau saja yang berada di tengah samudra, bisa kembali pulang

Apalagi berada di pucuk menara tertinggi di dunia

Kau cukup mendengarkan suara anak-anak

Menghentak di seluruh jalanan, di muka bumi

Diantara lelampu jalanan malam yang penuh kedamaian

Di sanalah pintu sorga itu sedikit terbuka

Di sinilah kehidupan itu dimulai

Untuk memahami perantauan-perantauan di masa depan

Dan kunci itu sudah kau pegang.

Seberapa berhargakah?

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

PENGUMUMAN LOMBA CWI dan MENPORA 2007

Kita sudah lama menunggu, mungkin seperti tahun yang lalu ya sekitar tanggal 28-29 desember lagi. Dian, kamu ikut lomba ini kan? wa oda? trus, kalau si tyas kok gak ada kabar lagi…semoga kita menang lagi tahun ini, dan buat teman2 CWI 2005 kuharap kita ketemu lagi

INFO FILM TERBARU: BABEL (BABE)

dicopy-paste dari www.21cineplex.com

Bersenjatakan sebuah senapan Winchester, dua orang bocah Maroko menggembala kambing. Dalam kesunyian gurun pasir, mereka memutuskan untuk mencoba senapan tersebut…namun peluru meluncur lebih jauh dari yang mereka duga

Pada saat bersamaan, empat kehidupan terpisah, sekelompok orang-orang asing terpisahkan oleh tiga benua berbeda. Terjebak dalam kecelakaan yang mengakibatkan kepanikan luar biasa, menimpa pasangan Amerika (Brad Pitt dan Cate Blanchett) yang sedang berlibur, seorang ayah dan anak tuli belasan tahun di Jepang yang suka memberontak, seorang pengasuh anak di Meksiko yang tanpa izin membawa dua orang anak Amerika ke perbatasan. Tak satu pun dari mereka akan bertemu; hubungan secara tidak langsung tercipta diantara mereka. Semuanya akan tetap terisolir karena ketidakmampuan mereka berkomunikasi dengan baik satu sama lain

PENGUMUMAN LOMBA

PERHATIAN! SEGALA BENTUK KLAIM ATAU PERTANYAAN TENTANG LOMBA HENDAKNYA JANGAN DITUJUKAN PADA PAGE INI KARENA SAYA HANYA BERTUGAS SEBAGAI PENYALUR SAJA. KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA DILACAK PADA SUMBER YANG SAYA CANTUMKAN. KECUALI BERBENTUK KOMENTAR. JIKA ADA PELANGGARAN, SAYA AKAN MENGHABUS POSTING KLAIM ANDA DI PAGES WWW.LUBISGRAFURA.WORDPRESS.COM. SELAMAT BERKARYA.

Diproteksi: EMAIL SURAT KABAR NASIONAL BARU 2007

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Polemik Skandal DPR hingga Poligami A.A Gym

Polemik Skandal DPR hingga Poligami A.A Gym

Aduh, sebegitunya ya negara kita. Di televisi banyak menyiarkan berita-berita tersebut sekaligus di media-media dan tak kalah juga lho di pages atau web atau blog atau milis-milis di internet juga mengangkat isu ini. Mungkin saya agak terlambat dalam meyikapi ini, tetapi tak apalah, berikut ulasan saya.

Soal Skandal YZ dan ME

Secara hati nurani, saya sangat terpukul seperti kalah main judi. Betapa tidak, mereka adalah tokoh masyarakat yang secara tidak langsung menjadi panutan masyarakat. Saya “melaknat” dua insane ini bukan berarti saya juga tidak punya dosa. Saya hanya prihatin saja. Jangan-jangan jika saya pada posisinya juga akan melakukan hal yang sama. Tetapi bagaimanapun, saya MELAKNAT dua insane tersebut. LAKNAT! LAKNAT! LAKNAT! Tetapi saya belum melihat adegan asyik-masygul yang konon hanya 42 detik itu. Pecat saja deh mereka itu.

Yang menjadi prihatin saya lagi, hari ini di Kompas (10/12) diberitakan bahwa di televise-televisi kini banyak diputar video tersebut. Tentu saja ini untuk mengejar ratting penonton dan membuat tertariknya para pengiklan. Aduh, busyet dah pertelevisian di Indonesia. Saya sangat kecewa. Menurut saya pemberian tanda semaca R, DW, BO atau sejenisnya sudah tak ada gunanya lagi. Orangtuapun terkadang tak memperhatikan ini. Saya pernah melihat dengan kepala saya sendiri, ketika saya sedang menonton televisi di tetangga saya yang nota bene di desa. Saat itu ada anak usia SD-lah yang ikut nongkrong, pas ada adegan yang agak “gimana gitu” dan ada tanda BO eh orang tuanya diam aja. Malah berkomentar. Nah, si anak ini bertanya. Lhadalah, orang tua ini menjelaskannya bukan dengan cerdas, tetapi justru mendukung. Duh, siapa yang salah ini?

Ohya, Pak Presiden (walau mungkin juga Bapak tidak membaca situs ini) tolong jangan diberi peringatan televise kita yang menampilkan adegan gituan. Langsung aja dicabut izinnnya atau gimana lah. Implikasinya ini terhadap anak didik kita. Kebetulan saya juga seorang pendidik, jadi saya merasa sangat prihatin.

Skandal PNS

Nah, ini dia kasus yang kedua. Kok bodoh ya mereka. Kalau saya jadi mereka tidak akan melakukan skandal di restoran makan. Lha wong punya gaji tiap bulan, ngapain nggak sewa kamar hotel aja. Patungan lah. GOBLOK!

Ini sangat memalkukan sekali di kancah perantauan negara kita. Musti dengan cara apa lagi kita mesti membenahi negara kita ini. TOLONG TIDAK USAH DIBERI KESEMPATAN ORANG-ORANG MACAM GINI, LANGSUNG PECAT AJA, KARENA NANTINYA PNS YANG LAIN JUGA NGIKUT. BIAR KAPOK, PECAT! PECAT! SECARA TAK TERHORMAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Polemik AA Gym

Nah, diantara isu-isu itu ternyata Aa Gym juga tidak mau kalah seru. Menikah lagi, itu adalah alasan yang baik dari pada melakukan skandal. Cuma ada statemen Aa yang saya kurang sependapat nih. Gini “saya menikah lagi secara legal kok. Masak saya melakukan pernikahan ilegal?” kira-kita begitu bunyinya. Tetapi esensi dari statement itu justru menjadi boomerang lho buat Aa. Emangnya Aa siapa? Nabi? Malaikat yang nggak punya salah? Lha sampena saja manusia kok masak nggak mungkin melakukan hal-hal yang illegal. Mungkin sekali gitu! Coba dong dirubah statementnya begini “saya menikah legal kok. Lha dari pada melakukan yang illegal?” atau gimana lah yang penting tidak menuju ke sesuatu yang “menyempurnakan diri” kita kan nggak sempurna.

Ya, semoga istri Aa mendapatkan ketabahan. Segala keikhlasannya bisa mendapatkan ridlo Allah. Seharusnya istri Aa ini menjadi contoh istri-istri yang lain dari pada membiarkan suaminya selingkuh, ya mending nikah lagi.

Itu kalau dari sudut pandang berfikir positif kepada Aa. Tetapi di sisi lain mana ada sih perempuan yang mau di madu? Kebetulan karya saya juga banyak yang berupa kefeminitasan, jadi jujur saya juga kurang sepakat. Tetapi ya gimana lagi. Makanya saya menulis feminis bukan berarti saya ngerti perempuan. Karena itulah saya belajar memahami perempuan…wassalam. Mari mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lubis Grafura

puisi: Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir

Kalaupun milyaran bebatuan menghadang

Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu

Jadikan saja aku angin, Ya Allah

Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang

Senantiasa bergerak selayak awan di langit

Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu

Knapa tak kau jadikan saja aku tanah

Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang

Telapak kaki telanjangnya

Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu

Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku

Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan

Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api

Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat

Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan

Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan

Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil

Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah

Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan

Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu

Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….

Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca

Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja

Yang tengah luruh di atas pekuburan

Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah

Bahwa segala kesombongan telah terbungkam

Di balik nisan yang terpahatkan namanya

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi apa saja, asal jangan menjadi manusia

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Bekerja sebagai tentor Bahasa Indonesia di salah satu lembaga bimbingan belajar terbesar di Malang. Juara III Cerpen All About Women 2005. Tiga naskah cerpennya pernah dimuat dalam antologi cerpen yang diadakan oleh CWI dan Menpora, La Runduma 2005. Buku kumpulan puisi berjudul Kepada Siapa Aku Mesti Bercerita Tentang Rahasia Sepasang Mata di Balik Jendela (November 2006) diterbitkan oleh UKMP-UM. Beberapa naskah baik cerpen maupun puisi pernah dimuat Suara Pembaharuan, Seputar Indonesia, Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi.

Nilai Agama dalam Karya-karya Saya: Lubis Grafura (agak narsis sih)

Nilai Agama dalam Karya-karya Saya: Lubis Grafura

Bismillahirrahmanirrokhiim

Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah ulasan bertajuk Refleksi Agamis yang Manis dari Karya Cerpen oleh Bapak (Mas?) M. Fitran Salam yang kini tinggal di Martapura. Sekaligus tulisan ini saya buat untuk beliau. Duh, besok kalau beli topi kayaknya harus agak besar sedikit, karena kepalaku juga ikut gede J

Pertama, saya ucapkan banyak terima kasih karena telah mencantumkan nama sekaligus cerpen saya dalam pembahasan di RadarBanjarmasin bebrapa bulan yang lalu. Saya sangat terharu. Berarti misi saya sudah berhasil. Berikut cuplikan dari artikel beliau:

Pada cerpen Tangisan Tak Berpeluh ,Lubis Grafura,(RB 26-1-2006) saya temukan nilai lebih lain, dapat memberikan pencerahan dan perenungan; “Aslika. Dengar saya ya. Kalaupun aku tak terlalu pintar ngomong soal agama, tetapi Tuhan berjanji bahwa suami atau jodoh yang kelak kau terima itu adalah sebagian dari sikap laku di masa lalumu. Jika dirimu baik, maka suamimu adalah orang yang baik. Lihatlah ke cermin hatimu, berkacalah di sana. Kau, wanita yang baik! Aku melihatnya!”

Paragraf itu merujuk –yang dalam konteks cerita- pada ayat Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 3, ”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan berzina atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu’min”.

Memang, dari dulu saya ingin sekali memasukkan unsur-unsur agama Islam ke dalam setiap karya saya. Karena, bagi saya, tidak ada keraguan di dalam agama Islam (walau saya sejujurnya punya puluhan juta gudang dosa). Nilai-nilai Islam seharusnya bisa menjadi universal. Bahkan, target saya, orang yang di luar Islam sendiri akan mengatakan bahwa “ini bukan cerpen Islami” tetapi ini cerpen “yang universal” tetapi di dalam sifat keuniversalan itu ada nilai-nilai luhur Islam yang seratus persen “milik Islam”

Jujur saja, saya sangat kagum dengan Hollywod yang mampu menyelaraskan antara logika, religi, dan jalan cerita yang “wah!” kenapa kita sebagai orang (penulis) Islam tidak berbuat seperti itu? Tujuan kita membuat karya bukankah agar dibaca orang lantas orang tersebut dapat memetik nilai-nilai budi yang halus?

Awalnya, saya sangat menampik kehadiran sastra Islami (walau tidak semua). Jujur saya sangat tidak sepakat. Karena menurut saya sangatlah munafik. Seolah seperti nonton sinetron yang tokohnya kiai lantas memiliki tenaga dalam (dengan efek computer) lalu iblisnya kalah. Atau dengan membaca fatihah setannya mencelat. Aduh, munafik sekali bagi saya. Jazuz!

Coba, kalau memang berdakwah, kenapa kita tidak membuat karya yang universal tetapi Islami? Tetapi sehabis saya pikir-pikir juga. Biarlah mereka membuat “sastra Islami” yang dikonsumsi oleh orang-orang Islam sendiri. Toh, pasarnya juga jelas! Segala sesuatu kan ada prosesnya.

Saya ingin menceritakan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang universal, bukan agama teroris! Islam mengajarkan akan cinta kasih dan damai, Islam memberikan kemudahan, kabar baik dan buruk, serta jalan menuju kebenaran yang sebenar-benarnya. Itu semua lewat karya. Tanpa harus dengan tokoh berjilbab atau santri. Bolehlah kita sesekali memakai atribut itu. Tapi jangan naïf juga soal ceritanya. Nanti tokohnya tomboy trus kenalan dengan santri lalu berjilbab. Tolong kelogisan itu dipikirkan lagi.

Misi dalam naskah saya adalah : unsur-unsur Islam, kematian, asmara-romantis, feminitas, dan kalau perlu soal sex. Kenapa? Karena keempat unsur tersebut universal sekali. Soal feminitas adalah soal bumbu. Dia pantas ada dan tidak, tetapi untuk lainnya saya kira sangat perlu. Coba amati deh film-film besar Hollywod yang di dalamnya mesti ada : kemanusiaan, sex, dan ketuhanan. Coba aja lihat film-film itu mesti nanti akan menemukan ketiga hal tersebut.

Ok, selamat berkarya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Lubis Grafura.

Bu Yani (re-publish ucapan terima kasih)

Surat yang tak sampai pada Kusubhakti Handayani Sekeluarga

Selamat Jalan Bu, semoga Haji ibu benar-benar mabrur. Saya ucapkan banyak terima kasih atas semua yang ibu berikan. Jujur, saya tidak berani mengungkapkan rasa terima kasih itu lewat sikap atau kata-kata. Saya bisa melakukannya dengan puisi dan surat yang entah akan sampai kepadamu atau tidak.

Selama ditinggal Pak Wid, engkaulah yang dengan tulus membimbing saya. Saya seperti melihat ibu saya sendiri di sepasang mata beliau. Tetapi saya tidak bisa berbuat banyak untuk membalasnya. Saya tidak bisa melunasi hutang2 saya kepada beliau. Karena hutang itu tak akan pernah cukup kubayar dengan seluruh sisa umur hidup. Semoga bisa menjadi amal jariah buat ibu. Dan ilmu itu bisa bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Selamat jalan bu, doaku menyertaimui. Semoga kau baca surat ini….

Lubis Grafura

Universitas Negeri Malang (UM) Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

Universitas Negeri Malang (UM)

KONFIRMASI

Kepada netter yang budiman,

saya selaku pengelola situs ini TIDAK BERHAK menjawab setiap pertanyaan mengenai lomba. Hal ini karena saya bertugas menyampaikan informasi, BUKAN PANITIA LOMBA. Sekali lagi saya tidak bertanggungjawab terhadap lomba yang bersangkutan. Jadi, segala bentuk konfirmasi hendaknya jangan ditujukan ke page ini.

Sekian, terima kasih. Semoga bermanfaat

Lubis Grafura

Refleksi Agamis yang Manis dari Karya Cerpen (Lubis Grafura) Oleh : M.Fitran Salam

diambil secara mentah dari redarbanjarmasin

Bagai menikmati mie instan ala iklan Tora Sodiro,’enyak enyak nyak nyak’ dan semakin dalam memang semakin menyentuh nikmat,begitu sering terasa menikmati karya cerpen. Namun terkadang bagai mengupas kelapa tua kering, berserabut dan berbatok tebal dan kemudian cuma mendapatkan isi daging yang tipis.

Menginklusi simbol-simbol agamis ke dalam karya cerpen tentu tidaklah semudah menyajikan mie instan bila untuk memberi nilai lebih dari sebuah karya sastra, cerpen khususnya. Nilai lebih yang saya maksud adalah sebentuk nilai agama/ ketuhanan yang direka manis, tidak terasa bombas, menggurui dan terkesan dipaksakan, ataukah hanya sebagai tempelan kebiasaan yang tidak memiliki arti. Tetapi diharapkan mampu menumbuhkan daya renung mendalam, berdaya untuk memperbaiki, pencerahan dan berarti.

Nilai-nilai agama/ ketuhanan yang menginklusi simbol-simbol agamis pada karya sastra (cerpen) sepertinya dan semestinya dituntut daya ungkap yang lebih kuat, lebih evokatif karena ia telah terpandang lebih esiensial dari simbol-simbol budaya umumnya, hal ini setidaknya tersirat dari sebuah pertanyaan Sainul Hermawan; “Mengapa daya ungkap yang kuat ini justru hadir bersama perempuan, bukan dengan masjid?” Kapasitas pertanyaan Sainul Hermawan itu melihat ke dalam karya puisi Ariffin NH (RB,12-3-2006), tapi dapat dipahami melebar pada karya sastra lainnya. Dan saya pun tergelitik untuk menyimak kembali simbol-simbol agamis, nilai-nilai ketuhanan yang terdapat dalam beberapa karya cerpen.Ya, beberapa saja, tidak masuk langlang ke hutan raya cerpen, istilah Jamal T. Suryanata.

“Perempuan Lembah” Maman S Tawie (RB,27-2-06) menempatkan simbol keagamaan sebagai pembuka, ilustrasi waktu;”Magrib baru saja// Kumandang adzan magrib dari radiotransistor kepala dusun sudah sekitar dua puluh lima menit berlalu”. Selanjutnya tidak berkait dengan tema dan watak karakter tokoh. Sepertinya biasa, lazim karena pada cerpen lain pun – juga kisdap – hal serupa mudah saja ditemukan, rasa saja yang mungkin tidak sama karena bentuk pengolahan juga beda.

“Godspot” Sainul Hermawan (Jurnal Cerpen Borneo 2) menjadikan keagamaan/ ketuhanan sebagai tema cerita. Dengan tokoh kontroversial Sainul menggugat, mengkritik dan menantang terhadap bentuk-simbol ketuhanan yang ia temukan pada orang-orang yang merasa memiliki tuhan dan menjajakannya bagai sales produk dagangan; yang ia jumpai pada dan terpampang di baliho, billboard, stiker, brosur, pamplet, film, televisi, puisi, novel, AD/ ART partai, undang-undang dan di gapura lokalisasi.

Tokoh, si pencari kesucian/ bahasa suci, yang diliput “kenikmatan” ide kiri, penuh luapan ilusi ide-ide materialisme historis(?), dan tantangannya yang berani, arogan adalah menantang kutukan tuhan yang dianggapnya cuek dengan keadaan. Dengan menginjak-injak kitab suci yang telah dibentangkannya di tengah ruang, seraya menantang agar dikutuk ;“Kawan, kamulah saksi sejarah itu. Saksikanlah caraku mencari tuhan, membangunkan Tuhan dari kecuekannya”. Sesaat kemudian dia meloncat dan mendaratkan kedua kakinya di atas kitab itu. Dia menginjak-injaknya dan berkata;

“Tuhan kutuklah aku jika kau memang benar-benar ada! Kutunggu hari ini, besok, lusa, bulan ini, tahun ini, kapan saja!”

Kutukan itu masih ditunggunya, meski ia merasa lelah, tak tahu pasti dan ragu; “Aku juga tak tahu pasti, apakah tuhan tak jadi mengutukku. Tetapi mungkin juga ia telah mengutukku lewat air panas yang telah mengobah kaki kananku, atau lewat hatiku yang tak pernah berhenti sedih di sela-sela berahi yang abadi, atau lewat labirin-labirin otakku yang tak sudi berhenti mendenyutkan pening.”

Cerpen itu mengenaskan tetapi berujud merangsak pikiran hingga ke ujung cerita; “Aku kini jadi guru honorer di yayasan saudaraku. Di sini aku mengajar bahasa inggeris dan sejarah. Tapi aku masih menunggu kutukan tuhan itu :T=N/K.”.

Sainul, dengan rumus matematika ketuhanan itu masih ingin memacu pikiran pembaca, ia tidak menjelaskan apa arti simbol hurup T, N dan K. Atau ia telah merasa memberikan penjelasan lewat cerita yang telah tersaji? Namun saya yakin, dalam hal wujud Tuhan sesungguhNya; T=/=N/K, sebab dilihat bentuk rumus itu; N=TxK; K=N/T. Maka T kehilangan vitalitasnya, eksestensinya, menjadi sejajar dengan N dan K.

Anna Fajar Rona, “Subuh Pertama di Masjidil Haram”,(RB,9-4-06) mengangkat Masjidil Haram -ibadah haji- terasa ringan, menyentuh dan enak, mendapatkan suatu bentuk ibadah berdasar atas kekuatan Ilahi, bukan kehendak aku, bukan karena ibadah itu sendiri, yang di antara etikanya adalah; Gugur permulaannya karena terhenti pada ibadatnya saja. Lewat Anna FR, seorang Dargi alkoholis, do’anya memberikan pelajaran atas kehendaknNya itu, bukan karena beban kewajiban;”…bimbinglah hamba Ya Allah, mudahkan hamba dalam menyelesaikan ibadah atas panggilanMu ini”.

“Angin Arbain”, A.Rahim Qahhar,(Horison,XXXIX/12/04) dengan ibadah haji dan tanah haramnya dibuat latar dari cerita pertemuan dua cucu Adam, lain jenis bukan mahram. Lelaki berumur seusia akhir Rasulullah, cucu 13 bertemu dengan wanita bersuami pun beranak yang telah gadis. Pertemuan seperti dikatakan bumi; ”Lihat, cucu Adam mulai kasmaran”.// Mungkin hanya fatamorgana padang pasir, sebuah khayali. Bagaimana manisnya cerpen itu? Tentu saja mutu keseluruhannya tak diragukan karena “Angin Arbain” berada di jajaran cerpen terbaik sayembara Horison 2004.

Pada cerpen Tangisan Tak Berpeluh ,Lubis Grafura,(RB 26-1-2006) saya temukan nilai lebih lain, dapat memberikan pencerahan dan perenungan; “Aslika. Dengar saya ya. Kalaupun aku tak terlalu pintar ngomong soal agama, tetapi Tuhan berjanji bahwa suami atau jodoh yang kelak kau terima itu adalah sebagian dari sikap laku di masa lalumu. Jika dirimu baik, maka suamimu adalah orang yang baik. Lihatlah ke cermin hatimu, berkacalah di sana. Kau, wanita yang baik! Aku melihatnya!”

Paragraf itu merujuk –yang dalam konteks cerita- pada ayat Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 3, ”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan berzina atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu’min”.

Aspihan N. Hidin,”Berikan Aku Arti” (RB,10-4-05), tokoh muda Marbahan penyandang titel S Pdi ini bergaya aktif; aktif di pengajian, pembicara seminar, pelukis kaligrafi, punya usaha percetakan, sablon, penambak ikan, hobi memancing, main bulu tangkis sekaligus

kutu buku yang ingin berikan aku arti menjadi banyak “memberikan arti”.

Arti yang mana diminta/ dicari tokoh cerita itu? Sepertinya berawal pada ayat Al-Qur’an, Ar-Ruum 21, yang dalam cerita itu hadir ‘berdampingan’ dengan wajah (gadis?) yang menerawang di plapon kamar si tokoh cerita; “Aan memanjakan tubuhnya di tempat tidurnya, sehabis salat magrib dan baca Qur’an. Ia me rawang ke atas kamarnya entah mengapa seakan-akan ada sebuah lukisan wajah di plapon. Ia mencoba mengulang… Sudah puluhan wajah…tapi tak satu pun yang mirip. Setiap kali ia bertanya kepada hatinya tentang bayangan wajah itu, setiap itu juga ia teringat sebuah ayat al Qur’an surah Ar Ruum 21 yang kandungan intinya tentang hakekat sunatullah berupa mahligai suci berhias cinta dan kasih sayang”.

Ar Ruum 21, (terjemahannya) sudah biasa/ sering kita temukan di lembar undangan perkawinan, dan itu lazim dikerjakan oleh orang percetakan/ penyablon. Bukankah lebih manis memaksimalkan upaya mereka-manis realita; jika Aan sang tokoh cerita yang juga pencetak/ penyablon itu sekali menerima order, sekali menerima undangan perkawinan ia merasa tersentuh dengan misteri ayat 21 ar Ruum itu. Ia akan lebih rasional dan tidak mengurangi kemisteriannya, suasana psikologis bisa lebih terbangun, tidak harus diseret ke tempat tidur dengan menerawang, setelah salat dan baca al Qur’an, yang dua hal ini justru lebih manis dan bermuatan memotivasi untuk mengawali pengungkapan misteri ayat dimaksud?

Kemisterian ayat itu sepertinya terjawab dan arti didapat. Gurunyalah yang telah memberikan penjelasan dan pemahaman. Dengan memadatkan beberapa ayat al Qur’an (terjemahannya) sebagai penjelasan atau petuah sang guru, perangkuman yang cukup manis, pencerahan dan berdaya cerna dari ayat-ayat yang terdapat pada; Q.S al Baqarah 20, adz Dzariyaat 56, al A’raf 172 dan Hud 61. Penjelasan atau petuah itu cukup panjang, boleh jadi masih ada dalil naqli lain yang tidak dapat saya sebutkan. Dengan itu cerita Berikan Aku Arti belum berakhir, masih berlanjut dengan banyak “memberikan arti”.

Puthut EA,”Tentang Kepulangan” (Kumpulan Cerpen; Dua Tangisan pada Satu Malam, Kompas, Mei 2003), dengan gayanya sendiri menyentil manis, mungkin itu tidak terasa bahwa ia mengkritik guru ngaji dari golongan tertentu yang tidak suka ditanya murid; “Guru ngajiku ada tujuh. Satu dari Muhammadiyah, enam dari Nahdhatul Ulama. Hampir semua guru ngajiku tak suka padaku,karena aku keliwat suka bertanya. Mereka bilang hamba Tuhan yang baik menerima begitu saja, apalagi anak kecil. Tapi aku pintar, sehingga mereka tak punya banyak alasan untuk menyalahkanku. Tapi, aku sayang pada mereka, mungkin karena aku jarang benci sama orang” ,(hal.84).

“Tentang Kepulangan” Puthut notabene tidak bercerita tentang keagamaan, menutup ceritanya dengan sebuah do’a kepada Tuhan. Do’a seorang perampok bank agar tidak tertangkap polisi. Tetapi saya merasakan lebih manis dengan penutup Kisdap “Bulan Bulat Bulaling” Jamal T Suryanata; “Kada saapa tadangar inya mengaji mailun sambil maristai hidup nang sudah dilakuni; Ya ayyuhan nafsul mutma’innah. Irji’ii ilaa rabbiki radhiyatam mardhiyyah. Fadkhuli fii’ibadii. Wadkhulii jannati; Kada karasaan, balilihan banyu mata di pipinya. Kada karasa an, basah batubal tapih bakurungnya”(Galuh, Sakindit Kisdap Banjar, RB. hal.78)

Refleksi agamis yang manis dari karya cerpen, entah di-sebagai-pembuka, ilustrasi waktu, tema, latar, pencerahan, kritik maupun di bagian penutup cerita dengan semaksimal pengolahan meracik-manis penyajiannya pada akhirnya kembali kepada apresiasi para

pembaca, penikmat. Semanis apa yang dapat ia rasakan atau tawar adanya.***

*) Cerpenis, tinggal di Martapura

ARI TADI NGAJAK GELUT

EMANG KAYAK DI SMACK DOWN?

maksudnya gelutnya sama Tina bukan sama saya…ha haha

kamu kok tampak cantik sih? aku jadi minder

cepet lulus ya. Jangan patah semanga ngerjain skripsinya. Aku aja nggak pernah putus asa kok. pak sumadi, anggap aja seperti wajahnya tom atau jerry jadi gemes kan? nggak takut bimbingan…

semangat! hore!

Tips Menulis:Mentransfer Gaya Film Hollywood ke Dalam Cerpen

Tips Menulis:

Mentransfer Gaya Film Hollywood ke Dalam Cerpen

Film adalah anugrah seni terbesar yang pernah dimiliki manusia (Janji Joni, 2002)

Banyak hal sebenarnya yang dapat kita peroleh dengan menonton film. Selain sebagai hiburan, film juga mampu memberikan sumbangan kebijakan untuk kepekaan perasaan kita. Terlepas dari dua hal tersebut, kita sebagai penulis dapat belajar bagaimana menulis dengan kamera. Bukan dengan pena!

Setelah saya menonton film dari berbagai genre. Saya lebih tertarik dengan film horor dan film drama. Hal ini berdasarkan “efek kejut” yang hebat yang selalu muncul di film horor, dan “adegan-adegan cerdas” yang muncul di setiap film drama. Selain itu, kedua genre film tersebut selalu memiliki ciri khas penceritaan yang hebat.

Terdapat benang merah yang dapat kita tarik, ketika melihat film gaya Hollywod. Pertama, adegan pembuka yang menarik. Kedua, adegan “cerdas” yang membuat penonton merasa “wah”. Ketiga, pengakhiran film yang “mengambang” dan lagi-lagi “beradegan cerdas”

Berikut saya mencoba melakukan transferisasi adegan tersebut ke dalam cerpen saya yang berjudul Dua Orang Tentara. Berikut ulasannya:

Pertama, Adegan pembuka yang cerdas.

Hampir semua film Hollywod melakukan teknik ini. Hal ini dilakukan agar penonton betah duduk di kursinya dan sebagai adegan pengantar ke adegan berikutnya saja. Misal dalam cerpen Dua Orang Tentara dibuka adegan berikut:

SEBUAH laras panjang muncul dari balik celah reruntuhan bangunan. Seperti seekor ular yang mengintai mangsanya dari balik tanah. Senapan itu sesentipun tak bergerak. Pun ular yang memiliki sepasang mata tajam yang diam. Tak hendak melepas mangsanya barang sedetikpun. Hingga setelunjuk jari menarik pelatuk. Jika senapan adalah ular, ia akan meluncurkan kepalanya ke arah mangsa. Dan peluru itu meluncur secepat kedip mata. Orang di seberang sana tergeletak dengan luka di jidatnya. Seolah seekor ular telah mematuk dengan bisa yang tak memberi kesempatan hidup mangsanya.

Dalam cerpen tersebut, saya hendak menganalogikan antara senapan dan ular. Adegan di sini kita buat sebagus mungkin agar pembaca lebih tertarik dengan adegan selanjutnya. Kalau menurut Anda adegan ini kurang begitu menarik. Silakan Anda buat yang lebih menarik. Saya yakin Anda pasti bisa. Ayo menulis!

Kedua, adegan “cerdas” yang membuat penonton merasa “wah”

Dalam film horor versi Hollywod ada adegan cerdas untuk menggambarkan masa lalu atau cara pengungkapan misteri dengan cara penelusuran. Berikut kesamaan yang selalu muncul dalam film tersebut

  1. Mencari data di internet
  2. mencari data di perpus
  3. mencari data di rumah sakit
  4. mencari data di pelosok desa, dsb

Bagi saya, adegan tersebut ternyata mampu membawa penonton untuk mengikuti kamera. Kita dibuat bertanya-tanya dan selalu berkata “wah”. JIka ke internet mereka tak segan-segan menampilkan yahoo atau google. Kita coba saja. Toh, kedua istilah itu sudah bukan hal yang asing lagi buat diri kita bukan.

Ketiga, pengakhiran film yang “mengambang” dan lagi-lagi “beradegan cerdas”

Ada yang beranggapan bahwa

Karya Pemenang Lomba Menulis Cerpen Tingkat Regional Universitas Negeri Malang 2006

Karya Pemenang Lomba Menulis Cerpen Tingkat Regional

Universitas Negeri Malang 2006

Ini pengalaman pertama bagi saya menjadi juri. Betapa tidak, bagaimana saya tidak ndredeg ketika harus disejajarkan dengan juri papan atas kita: Bu Yuni dan Pak Karkono. Duh, saya nggak pede banget, tetapi kalau saya ngurusin pede ya kapan berkembangnya. Nah, maka dari itu saya mencoba seoptimal mungkin untuk menjadi juri. Sejujurnya, saya punya selera berbeda dari juri-juri yang lain, dan maka dari itu saya tampilkan versi saya dan versi juri. Semoga bermanfaat.

VERSI SAYA (SELAIN JURI YANG LAIN)

Juara I : “Selubung Dosa Menelingkup Nurani”

Juara II : “ Keluhan di Ujung Maut”

Juara III : “Mimpi”

Naskah Pilihan

  1. Buah dari Surga
  2. Pelangi Terakhir
  3. Nightmare
  4. Kerlipan Cahaya Bintang
  5. Pelangi Bulan Juni
  6. Blue Rain

Juara I : “Selubung Dosa Menelingkup Nurani”

Juara II : “Buah dari Sorga”

Juara III : “ Keluhan di Ujung Maut”

VERSI JURI KESELURUHAN

Naskah Pilihan:

  1. Kerlipan Cahaya Bintang
  2. Elang Hutan Jati
  3. Mimpi
  4. Skizofrenia
  5. Pelangi Bulan Juni
  6. Perciobaan Ares
  7. Akhir Sebuah Perdebatan

Selamat kepada para pemenang. “Terus Berkarya Hingga Titik Tinta Penghabisan!”

Diproteksi: alamat email media massa

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Re: Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba

Re: Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba

 

Kepada: sidiknugroho@yahoo.com

 

Salam kenal Mas Sidik, perkenalkan nama saya Lubis Grafura. Sampean bisa lihat keseluruhan tentang saya (mengenal lebih jauh tentang saya) di www.lubisgrafura.wordpress.com . Masalah yang sedang sampean hadapi mungkin banyak dirasakan oleh penulis-penulis lain. Bahkan diri saya dulu juga merasa seperti itu. Pernah juga saya mendapatkan balasan yang sangat menyakitkan plus mematahkan semangat. Begini:

MAAF, CERPEN ANDA TIDAK COCOK DI KIRIM KE—

Begitu, balasannya. Akhirnya saya tak putus asa. Terus menulis mengirm menulis membaca, mengirim lagi, menulis lagi dan sampai hari ini belum di terima juga. Akhirnya saya ikut lomba macam-macam, eh alhamdulilah ketiga cerpen saya masuk dalam La Runduma CWI 2005. Di sana saya banyak ketemu banyak penulis dan saya dapat resep jika mengalami masalah yang seperti sampean rasakan (semoga saya juga tidak narsis). Begini:

  1. Beranggaplah bahwa menulis itu seperti orang kencing, kita tak pernah mengharapkan kencing itu kembali mengencingi kita to? Yang sudah dikirim atau dibuang biarkan saja. Seiolah kita tak pernah berbuat apa-apa.
  2. Buat daftar pengiriman. Biasanya Koran kan 2 bulan nggak dimuat, berarti kan gak layak muat. Kita revisi lalu kita kirim aja lagi ke Koran yang lain. InsyaAlloh ada jalan deh. Kita kan tahu ada berapa banyak Koran di Indonesia yang menawarkan cerpen setiap Minggu?

Nah, semoga sampean juga tidak merasa sendirian. Ok, yang penting bersemangat.

Mari, Menulis Hingga Titik Tinta Penghabisan!

 

Dan, sebuah komentar balik dari Milis Apresiasi Sastra (apsas) yang membuat kepalaku besar, mungkin juga aku harus beli topi yang ukurannya lebih besar dari pada yang sebelumnya. Berikut uraian Wawan Eko Yulianto kepada saya:

Memang, Bis,
Kalau ditanya siapa orang yang paling semangat menaklukkan rubrik
budaya koran, pasti saya akan jawab LUBIS GRAPURA. Dan untungnya
semangatmu sudah menular ke teman-teman (yang paling terinspirasi
adalah aku).
Mas Sidik,
Nasib kita sama, Mas. Kalau saya, saya malah semangatnya masih naik
turun. Masih butuh banyak sekali bantuan untuk memaksa diri menulis
cerpen. Ikut APSAS ini salah satunya. Waktu ada proyek menulis KERETA
API, saya langsung ikut, dengan harapan itu bisa memacu saya menulis.
Cara lain menyemangati diri ya… kumpul-kumpul sama teman-teman yang
masih berjuang, seperti misalnya Lubis GRafura ini. Dengan kumpul
bersama mereka,kita jadi bisa membicarakan tentang surat penolakan
dari kompas dengan cengengesan. He he he.
Terakhir,
Meskipun masih kerepotan menyarangkan tulisan saya ke media, saya
selalu berpegang satu hal: MENULIS SAJA ITU SUDAH SORGA. Ini
dikatakan Natalie GOldberg, guru menulis saya. Yah, sudah bisa
menulis dan menuangkan gagasan-gagasan gila saja sudah sorga. Itulah
yang layak disyukuri.
Dan saya ingin mengutip kata istri saya dulu dalam sebuah sms:
success comes to those with extraordinary determination.
Mas Sidik (yang pastinya sudah jauh lebih senior daripada saya), mari
saling menyemangati. Istilahnya anak-anak Bengkel Imajinasi di
Malang, “Mari saling membakar!”
Sepenuh hormat,
wawan

 

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA PUISI 3: ” Puisi untuk siapa saja yang kamu sayangi “

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA PUISI 3
diambil dari WWW.SUKAINTERNET.COM ( Education Web SITE Community )
BOGOR – INDONESIA !

Puisi yang dinilai yang bertema : ” Puisi untuk siapa saja yang kamu sayangi “

BEASISWA PENDIDIKAN ( PERIODE SEPTEMBER – NOVEMBER 2006 / LOMBA PUISI 3 )
JUARA I : Rp 300.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : ???
Judul Puisi :

JUARA II : Rp 200.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : Lukman Asya
Judul Puisi : ” Kepada Istriku “

JUARA III : Rp 150.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : ???
Judul Puisi :

JUARA IV : Rp 100.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : Sabrina Teduh Alami
Judul Puisi : ” Untuk Saudaraku yang ada di jalanan “

JUARA V : Rp 75.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : ???
Judul Puisi :

JUARA VI : Rp 50.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : ???
Judul Puisi :

JUARA VII : Rp 25.000 ,- ( PLUS Voucher Pulsa Rp 25.000 )
Nama : Dian Ambarwaty
Judul Puisi : ” KEKASIHKU NAN INDAH “

JUARA VIII : PIN VOUCHER ISI ULANG Rp 25.000
Nama : Dewi Nur Aisyah
Judul Puisi : ” Teruntuk Kekasih Didamba “

JUARA IX : PIN VOUCHER ISI ULANG Rp 25.000
Nama : Mega Ayu
Judul Puisi : ” Keluargaku Sahabatku “

JUARA X : PIN VOUCER ISI ULANG Rp 25.000
Nama : Sari usdiana putri
Judul Puisi : ” Cintaku Abadi Untukmu “

Para Pemenang harap menghubungi : sukainternet@gmail.com
Nb : Hadiah paling telat kami kirim 2 ( Dua ) Minggu dari tanggal 5 Desember 2006

« Tulisan sebelumnya