puisi: Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir

Kalaupun milyaran bebatuan menghadang

Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu

Jadikan saja aku angin, Ya Allah

Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang

Senantiasa bergerak selayak awan di langit

Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu

Knapa tak kau jadikan saja aku tanah

Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang

Telapak kaki telanjangnya

Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu

Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku

Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan

Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api

Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat

Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan

Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan

Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil

Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah

Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan

Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu

Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….

Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca

Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja

Yang tengah luruh di atas pekuburan

Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah

Bahwa segala kesombongan telah terbungkam

Di balik nisan yang terpahatkan namanya

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi apa saja, asal jangan menjadi manusia

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Bekerja sebagai tentor Bahasa Indonesia di salah satu lembaga bimbingan belajar terbesar di Malang. Juara III Cerpen All About Women 2005. Tiga naskah cerpennya pernah dimuat dalam antologi cerpen yang diadakan oleh CWI dan Menpora, La Runduma 2005. Buku kumpulan puisi berjudul Kepada Siapa Aku Mesti Bercerita Tentang Rahasia Sepasang Mata di Balik Jendela (November 2006) diterbitkan oleh UKMP-UM. Beberapa naskah baik cerpen maupun puisi pernah dimuat Suara Pembaharuan, Seputar Indonesia, Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi.

& Komentar »

  1. LUTHFI Berkata:

    puisi nya bagus sekali sampai-sampai saya terharu

    dengan puisi mu sehingga saya tidak bisa berkata banyak

  2. azzam Berkata:

    puisinya bagus banget,
    izin copy ya…

  3. Veea Berkata:

    we may have someone in our heart
    someone in our life
    someone in our dream
    but Allah is someone when we have no one

  4. abdul Berkata:

    subhanallah
    keeereeen banget……..bahkan.saya merasa anda memang orang yang yamg pantas dipuji.

  5. Rahma aini Berkata:

    terharu sekali….

  6. yani Berkata:

    puisinya bagus…beneran

  7. anha Berkata:

    subhanallah…..!!! puisi yang begitu Indah yang tidak bisa dilukiskan keindahannya..

  8. Reny Berkata:

    Saya reny,sebelumnya saya mohon maaf…dulu saya pernah ikut ngopy puisi ini,,
    Puisi ini sangat bagus,dan puisi inilah puisi yang pertama kali saya deklamasikan dan alhamdulillah saya bisa mendapatkan juara.
    saya benar2 dapat merasakan apa yang tersirat di puisi ini…


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan sebuah Komentar