Arsip untukJanuari, 2007

Tips Menurunkan Demam pada Anak

 

Tips ini diambil dari halaman Klasika Kompas edidi 28 Januari 2007 dengan berbagai gubahan dan pengembangan.

 

Bagi ibu-ibu yang buah hatinya sakit panas, semoga tips berikut ini bisa membantu untuk memberikan pertolongan pertama. Yang perlu ibu lakukan adalah:

 

Pertama: Mintalah si buah hati untuk segera berbaring dan beristirahat

Perlu diperhatikan bahwa jangan pernah menyelimuti si buah hati Anda dengan selimut yang tebal. Selimut tebal hanya akan membuat si buah hati tidak nyaman, karena hanya akan menambah suhu panas tubuh tidak bisa menguap. Hal ini justru akan menyebabkan suhu si buah hati akan naik. Usahakan kondisi kamar si buah hati nyaman dan sejuk atau ber-AC. Namun, untuk AC aturlah suhu yang tidak terlalu dingin.

 

Kedua: Menyeka sebagian tubuh si buah hati dengan kain basah

Lakukan hal ini selama 5-7 menit. Dengan menguapnya air pada kulit, berarti suhu tubuh pun ikut didinginkan. Adapun yang dimaksudkan dengan sebagian tubuh adalah bagian-bagian seperti lengan, kening, atau kaki. Usahakan tiga bagian itu mendapatkan sapuan. Untuk tubuh, sepertinya akan membuat si buah hati tidak nyaman.

 

Ketiga: Memberi air putih yang banyak

Untuk mendinginkan tubuh, si buah hati cukup minum air putih saja. Selalu sediakan air putih di kamar si buah hati.

 

Keempat: Memberi obat penurun panas

Tidak ada salahnya ibu memberikan obat penurun panas ke pada si buah hati. Tentu saja dengan dosis yang tersedia. Pilihlan obat penurun panas yang disukai si buah hati. Sekarang dapat ditemukan di apotek-apotek obat penurun panas pada anak dengan rasa buah. Jika perlu, selalu sediakan oba ini di kotak obat sebagai antisipasi setiap saat.

 

Kelima: Mengukur suhu panas

Ukurlah suhu si buah hati Anda dengan thermometer air raksa kira-kira setiap 4-5 jam. Sangat dianjurkan untuk mencatat suhu tersebut pada lembar kertas, agar mengetahui perkembangan suhu tubuh si buah hati. Fungsi lain adalah jika nanti si buah hati di bawa ke dokter, Anda bisa menunjukkan hperkembangan suhu tubuh si buah hati.

 

Catatan: Apabila demam pada buah hati Anda sudah lebih dari 2-3 hari, lebih baik segera konsultasikan kepada dokter. Jangan lupa membawa catatan perkembangan suhu anak.

 

Semoga bermanfaat.

 

 

Lubis Grafura

Koordinator www.lubisgrafura.wordpress.com

 

Yth. Ketua Badan Kepegawaian Kota Blitar

Dengan Hormat,
Sehubungan dengan datangnya e-mail ini, saya Lubis Grafura, S.Pd alumni Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hendak menyakan beberapa hal mengenai kepegawaian.
Menurut beberapa informasi yang saya peroleh dari berbagai media cetak, tulis, dan lisan menyebutkan bahwa pada tahun 2007-2008 tidak ada lagi lowongan untuk guru. Artinya, untuk dua tahun terakhir ini prioritas PNS guru umum ditiadakan. Ini adalah kebijakan pemerintah untuk menghabiskan guru kontrak dan honorer yang sudah ”mengantri”.
Lantas, apabila berita tersebut benar dan sekolahan tidak alagi menerima guru bantu dan honorer selama dua tahun terakhir tersebut apakah pemerintah juga memiliki pertimbangan lain untuk lulusan fresh graduated seperti halnya saya? Kalau ada mohon saya diinformasikan dan bisa saya sebarkan agar dalam masyarakat tidak terjadi ketimpangan isu.
Bapak/Ibu bisa menghubungi saya di www.lubisgrafura.wordpress.com atau di 08563693116 atau balas di email ini. Dengan segala kerendahan hati saya mohon kepada Bapak/Ibu untuk membalas email dari saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu yang telah bersedia membaca email dari saya.

Lubis Grafura
www.lubisgrafura.wordpress.com

Lima Titik Membangun Pondasi Bangsa Indonesi

Kelima titik tersebut adalah sektor pertanian, perikanan, kebudayaan, pendidikan yang berada di masing-masing sudut titik persegi, sementara sektor pusat adalah agama yang menjadi sentra keempat titik tersebut.

 

Kita adalah negara yang besar, mengingat kita memiliki banyak kepualuan dan peraiaran yang kaya. Tak berlebihan, jika kita menyebut bahwa tanah air kita adalah tanah air surga. Segala macam kebutuhan banyak tersedia di negara kita. Lantas, bagaimana kita mengolah sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia di dalamnya (SDM)? itulah pertanyaakita, sekaligus untuk dibahas dalam tulisan ini.

 

Belajar dari negara Jerman dan Jepang yang nota bene SDA-nya sangat terbatas, namun mereka mampu untuk menjadi negara yang kuat dan memiliki potensi untuk diperhitungan dalam percaturan politik dunia. Kenapa negara kita tidak bisa? Kita bisa! hanya saja kita masih memulai dan meraba-raba.

 

Kesimpulannya, kekutan sebuah negara bukan terletak pada kekayaan SDA-nya, melainkan SDM-nya lah yang menentukan kemajuan negara tersebut. Ibaratnya seorang anak yang diwarisi orang tuanya ilmu akan mampu bertahan dari pada yang diwarisi harta namun tak diwarisi ilmu. Harta bisa habis dalam hitungan menit, begitu pula SDA.

 

Lantas, apa yang akan kita lakukan?

 

Mungkin kelima formula saya ini bisa membantu pemerintah dan para cendikiawan untuk membangun bangsa. Kalau uraian tentang ilmu atau SDM dan warisan atau SDA dapat kita kelola secara seimbang, insyaAlloh negara kita akan melaju dan jaya kembali. Kita hanya perlu membangun pondasinya. Ibarat bangunan, kita tak akan mampu membangun istana tanpa harus membuat pondasinya. Kita kuatkan ponasi tersebut. Kelima titik itulah pondasi kita. Tapi sebelumnya, kita musti bersyukur terlebih dahulu kepada Allah atas apa yang sudah diberikan kepada kita berupa nikmat alam dan nikmat hidup.

 

Titik Satu: Pertanian

Negara kita adalah negara agraris. Sangat ironis, apabila kita mengimpor beras dari luar negeri. Dalm hal ini, perlunya pemerintah mengembalikan efisiensi bulog, meningkatkan perannya, mengadakan dialog untuk petani dan bulog. Singkatnya, perlunya bimbingan petani Indonesia, mulai dari hal pembibitan, penanaman, hingga ke pemasaran. Kalau sektor ini berhasil, kita tak perlu impor beras. Justru kita harus mengekspor beras yang tentu saja berkualitas. (selengakapnya baca: Nasib Para Petani Lokal Indonesia: Efisiensi Bulog dan Dialog Petani-Bulog di blog ini)

Titik Dua: Perikanan

 

Nenek moyang kita adalah pelaut, dan kita mewarisi budaya melaut. Sebagian besar negara kita juga meliputi laut. Kekayaan bahari kita tolong ditingkatkan. Sebenarnya untuk sektor pertanian dan perikanan atau dalam konteks ini uga meliputi peternakan, kesulitan rakyat kita bukan masalah pengucuran dana dari pusat saja. Hasilnya akan nihil kalau pemerintah hanya memberikan dana, tanpa ada bimbingan. Jadi yang dibutuhkan rakyat kita adalah: (1) lembaga bimbingan, pengaduan, atau penyuluhan yang tersedia di berbagai kecamatan, (2) proses peminjaman dana / subsidi dana / peminjaman modal ringan bunga, (3) agen distribusi hasil.

 

Pemerintah tidak bisa memihak/ melakukan kebijakan dari salah satu kebutuhan tersebut. Pemerintah harus melakukan ketiga-tiganya: ya menyuluh, ya mensubsidi, ya mendistribusi. Itulah yang harus dilakukan.

 

Titik Tiga: Kebudayaan

 

Kaya SDA, kita juga kaya budaya. Pemerintah juga perlu memberikan penyuluhan atau “mewajibkan” di setiap daerah untuk membangun sanggar budaya di negara ini. Melestarikan budaya adalah hal penting. Tujuannya jelas, yaitu melestarikan budaya dan menarik wisata domestic ataupun mancanegara. Lantas, siswa-siswi SD sampai dengan SMA perlu diadakan pembelajaran di luar kelas mengnal budayanya. Baik budaya lokal maupun budaya nasional. Bukankah budaya kita juga mengajarkan moral yang baik?

 

Titik Empat: Pendidikan

 

Sebenarnya kekolotan dan tradisi-tradisi yang kurang baik di negara kita dapat diselesaikan dengan jalur pendidikan. Bukankah pendidikan itu diupayakan untuk memperhalus budi pekerti manusia? Daerah-daerah pelosok perlu diadakan pembangunan. Peran otoda adalah untuk membangun negara kita dari akar-akarnya. Artinya pemerintah daerah diberi kebebasan untuk mengatur anggarannya sendiri. Termasuk di dalamnya adalah mengatur pendidikan. Memberikan pendidikan kepada desa atau daerah yang masih terbelakang. Karena satu orang, menurut saya, akan memiliki potensi yang bagus dan cerdas kalau mereka memiliki dasar pendidikan yang bagus.

 

Titik Sentra: Agama

 

Sebagian besar negara ini adalah muslim. Perlunya tokoh-tokoh atau pemuka agama untuk saling bekerja sama. Memberikan pencerahan “kedamaian” kepada umatnya masing-masing. Titik ini juga memberikan pusat dari keempat titik lainnya. Kalau titik ini tidak kuat, orang yang lain bisa melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Perlunya diadakan dialog antaragama yang disiarkan di tv atau radio, atau mungkin kerja bakti bersama antarumat bergama. Semua harus dilandasi ikhlas dan tidak ada niat untuk saling menginterferensi.

 

Begitulah titik-titik tersebut. Siapapun berhak mengkopi artikel ini dan disebarluaskan. Tidak ada hak cipta, juga tidak ada ide awal siapa yang mencetuskan Lima Titik Membangun Pondasi Bangsa Indonesia. Kalaupun ada pihak yang merasa ini ide awalnya, saya mohon maaf, dan jika belum ada ini bukanlah ide saya, melainkan menuliskan saja apa yang berada dalam benak saya. Kalaupun ada yang ingin mengakui ide ini, silakan, asal saja ide ini disebarluaskan untuk membangun negara tercinta ini. Semoga Allah memberikan jalan yang benar bagi kita, serta diberiNya caha kita dari kegelapan dunia. Amin….

 

 

 

Lubis Grafura

 

 

Curhat: Bulan-bulan Kegelisahan dan STRESS stadium Sat

Betapa tidak, kerjaanku setiap hari adalah ngajar, pulang, buat prediksi, pemasaran, ngajar, ke kampus, pulang, buat prediksi, ngajar lagi dan begitulah siklus kehidupan saya. Namun, di sela-sela kebosanan hidup itu Hudi dan Fani tadi malam mengajakku berbincang masalah kehidupan “kejawen” untuk cerpen saya. Kalau nggak gitu pacarku setia sekali mendengarkan rencana-rencana novelku. Tapi, masih bosan deh.

 

Apalagi skriopsi yang harus segera selesai, tapi tak kunjung selesai-selesai. Puny aide banyak tapi fisikku tidak bisa diajak kompromi untuk menulis naskah. Lantas, saya hanya ngopi sambil main gitar. Termenung seperti orang edan.

 

Selain itu aku juga termenung dengan jalan hidup yang sudah aku tempuh. Hidup memang tak pernah bahagia kalau kita selalu berkata “andaikan” atau “seumpama” Dan aku tak tahu harus bagaimana. So, aku hanya bisa menangis saat berdoa dan bersimpuh di hadapan ibuku sambil berkata “ibu, aku molor satu semester lagi”

 

Betapa bahagianya aku J

 

 

Lubis Grafura, Gitcu!

Panca Pondasi Bangsa

Panca Pondasi Bangsa

 

Kelima titik tersebut adalah sektor pertanian, perikanan, kebudayaan, dan pendidikan yang berada di masing-masing sudut titik persegi. Sementara itu, sektor pusat adalah agama yang menjadi sentra dari keempat titik tersebut.

Kita adalah negara yang besar, mengingat kita memiliki banyak kepulauan dan perairan yang kaya. Tak berlebihan, jika kita menyebut bahwa tanah air kita adalah tanah air surga. Segala macam kebutuhan banyak tersedia di negara kita. Lantas, bagaimana kita mengolah sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia di dalamnya (SDM)? Itulah pertanyaan kita, sekaligus untuk dibahas dalam tulisan ini.

Belajar dari negara Jerman dan Jepang yang nota bene SDA-nya sangat terbatas, namun mereka mampu untuk menjadi negara yang kuat dan memiliki potensi untuk diperhitungan dalam percaturan politik dunia. Kenapa negara kita tidak bisa? Kita bisa! hanya saja kita masih memulai dan meraba-raba.

Kesimpulannya, kekuatan sebuah negara bukan terletak pada kekayaan SDA-nya, melainkan SDM-nya lah yang menentukan kemajuan negara tersebut. Ibaratnya seorang anak yang diwarisi orang tuanya ilmu akan mampu bertahan dari pada yang diwarisi harta namun tak diwarisi ilmu. Harta bisa habis dalam hitungan menit, begitu pula SDA.

Pertanian dan Perikanan

Negara kita adalah negara agraris. Sangat ironis, apabila kita mengimpor beras dari luar negeri. Dalm hal ini, perlunya pemerintah mengembalikan efisiensi bulog, meningkatkan perannya, mengadakan dialog untuk petani dan bulog. Singkatnya, perlunya bimbingan petani Indonesia, mulai dari hal pembibitan, penanaman, hingga ke pemasaran. Kalau sektor ini berhasil, kita tak perlu impor beras. Justru kita harus mengekspor beras yang tentu saja berkualitas

Nenek moyang kita adalah pelaut, dan kita mewarisi budaya melaut. Sebagian besar negara kita juga meliputi laut. Kekayaan bahari kita tolong ditingkatkan. Sebenarnya untuk sektor pertanian dan perikanan atau dalam konteks ini uga meliputi peternakan, kesulitan rakyat kita bukan masalah pengucuran dana dari pusat saja. Hasilnya akan nihil kalau pemerintah hanya memberikan dana, tanpa ada bimbingan. Jadi yang dibutuhkan rakyat kita adalah: (1) lembaga bimbingan, pengaduan, atau penyuluhan yang tersedia di berbagai kecamatan, (2) proses peminjaman dana / subsidi dana / peminjaman modal ringan bunga, (3) agen distribusi hasil.

Pemerintah tidak bisa memihak/ melakukan kebijakan dari salah satu kebutuhan tersebut. Pemerintah harus melakukan ketiga-tiganya: ya menyuluh, ya mensubsidi, ya mendistribusi. Itulah yang harus dilakukan.

Kebudayaan dan Pendidikan

Kaya SDA, kita juga kaya budaya. Pemerintah juga perlu memberikan penyuluhan atau “mewajibkan” di setiap daerah untuk membangun sanggar budaya di negara ini. Melestarikan budaya adalah hal penting. Tujuannya jelas, yaitu melestarikan budaya dan menarik wisata domestic ataupun mancanegara. Lantas, siswa-siswi SD sampai dengan SMA perlu diadakan pembelajaran di luar kelas mengnal budayanya. Baik budaya lokal maupun budaya nasional. Bukankah budaya kita juga mengajarkan moral yang baik?

Sebenarnya kekolotan dan tradisi-tradisi yang kurang baik di negara kita dapat diselesaikan dengan jalur pendidikan. Bukankah pendidikan itu diupayakan untuk memperhalus budi pekerti manusia? Daerah-daerah pelosok perlu diadakan pembangunan. Peran otoda adalah untuk membangun negara kita dari akar-akarnya. Artinya pemerintah daerah diberi kebebasan untuk mengatur anggarannya sendiri. Termasuk di dalamnya adalah mengatur pendidikan. Memberikan pendidikan kepada desa atau daerah yang masih terbelakang. Karena satu orang, menurut saya, akan memiliki potensi yang bagus dan cerdas kalau mereka memiliki dasar pendidikan yang bagus.

Titik Sentra: Agama

Sebagian besar negara ini adalah muslim. Perlunya tokoh-tokoh atau pemuka agama untuk saling bekerja sama. Memberikan pencerahan “kedamaian” kepada umatnya masing-masing. Titik ini juga memberikan pusat dari keempat titik lainnya. Kalau titik ini tidak kuat, orang yang lain bisa melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Perlunya diadakan dialog antaragama yang disiarkan di tv atau radio, atau mungkin kerja bakti bersama antarumat bergama yang didasari tanpa saling menginterferensi.

Ari Wijayanti

Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Flu Burung, antara usaha Prefentif semenjak dini dan masukkan untuk pemerintah

Alhamdulilah, ternyata negara kita mendapatkan rekor terbaru dari sederetan musibah yang selama ini terjadi. Mulai dari tsunami, gempa, kecelakaan, hingga sekarang prestasi flu burung.

Kita mendapatkan prestasi urutan tertinggi pada tahun 2007 untuk kategori NOMINE OF “FLU BURUNG” apabila dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, China, dan Kamboja (Kompas, 21 Januari 2007). Selanjutnya, dari sumber yang sama, disebutkan bahwa dari lima negara asia total korban meninggal selama tahun 2003-15 Januari 2007 Indonesia menduduki teratas, yaitu 61%. Sementara itu runner up diduduki oleh Vietnam dengan nilai 42%, disusul secara berurutan Tahiland 17%, China 14%, dan terakhir Kamboja dengan perolehan 6%.

Sebaiknya kita tidak usah menyalahkan siapa-siapa dalma hal ini. Hal ini karena manusia hanyalah makhluk yang lemah, sekaligus banyak salah. Aalagi yang namanay bencana ataupun musibah datangnya seperti “rejeki”, “jodoh”, dan “kematian”. Semuanya di luar kuasa kita. Maka dari itu, mari kita mulai koreksi diri dan melakukan usaha prefentif semenjak dini.

 

Sebelumnya saya ingin memberikan gambaran bagaimana cirri-ciri flu burung tersebut. Apabila di sekitar kita ada yang memiliki gejala yang saya sebutkan, hendaknya segera mungkin dibawa ke rumah sakit/puskesmas terdekat. Berikut cecirinya:

1. Sesak nafas disertai dengan demam yang tinggi

2. Terjadi nyeri di sekitar persendian

 

Nah, paling tidak dua hal diatas perlu diperhatikan, apalagi poin yang pertama. Lantas, kita juga harus melakukan usaha pembersihan diri dengan cara:

1. cuci tangan sebelum makan atau menyentuh makanan, terlebih setelah membelai unggas.

2. masaklah makanan (terutama unggas) yang benar-benar masak

3. jika ada program sertifikasi unggas di sekitar tempat inggal, segeralah dukung program pemerintah tersebut dengan berpartisipasi

4. apabila ada unggas yang leas atau seolah loyo segera dicurigai

5. segala macam bentuk unggas hindarkan dari jangkauan keluarga

6. berhati-hati dengan kucing, walau selama ini belum ada riset yang membuktikan bahwa hewan yang manis itu juga membawa bibit flu mematikan, lebih baik kita menjaga jarak dengannya. Untuk sementara, bagi pecinta kucing, jangan dicium dan dibelai-belai dulu.

7. persiapkan diri nomor rumah sakit terdekat atau puskesmas atau posko kesehatan untuk berjaga-jaga apabila ada keluarga kita yang sudah

 

Saya juga ingin sekali memberikan beberapa solusi untuk pemerintah mengenai flu burung. Untuk masyarakat, saya harap tidak membebankan ini semua kepada pemerintah. Sementara untuk pemerintah, jangan tinggal diam melihat derita masyarakat. Berikut saran saya untuk pemerintah, masyarakat, dan orang-oarng yang memiliki pengaruh di dalam masyarakat:

1. Pemerintah daerah, kalau bisa harus punya tempat posko perlindungan selama 24 jam. Baik di tingkat kecamatan atau tingkat desa.

2. Selain posko kesehatan, alangkah baiknya petugas yang memeriksa unggas di desa-desa dilengakpi dengan surat dan wajib menunjukkan kepada warga. Hal ini ditakutkan apabila ada oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan ini untuk memeras rakyat.

3. Sebaiknya para pemerintah daerah seegra mendukung program pemerintah pusat demi keselamatan negara kita.

 

Nah, dari serentetan bencana tersebut, kita harus tetap bersyukur kepada Allah SWT karena dengan adanya bencana kita memang diajari untuk hidup bersama. Hidup saling tolong-menolong. Bencana telah memberikan filsafat kepada kita, bahwa sebongkah batu besar tak cukup dua tangan untuk memindahkannya. Mari kita saling bergandengan, agar kita bisa terlepas dari cengkrama derita dan menuju masa depan yang lebih baik.

 

Iklan layanan masyarakat ini tidak dipungut biaya.

J

Lubis Grafura

Konseptor www.lubisgrafura.wordpress.com

 

Kritik dan saran kirim ke lub_hi@yahoo.com

 

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

JJJJJJJJJJJJJJJJ

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tips Agar Sholat Kita Kusyuk dan Sejuk

Tips Agar Sholat Kita Kusyuk dan Sejuk

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Sebenarnya saya hedak menuliskan artikel ini sudah lama, tetapi lha saya sendiri sholatnya belum kusyuk, juga saya bukan kiai yang handal. Terus, berbagai dosa dan kemaksiatan masih saya lakukan. Tetapi, atas dorongan hati nurani yang mendesak, akhirnya saya tuliskan tips agar sholat kita kusyuk.

1.      Mandilah terlebih dahulu sebelum sholat

Ini sangat penting sekali, mengingat bahwa dengan mandi kita bisa mendapatkan kesegaran tubuh dan mengembalikan fitalitas kita. Kecuali isya, kita seharusnya mandi terlebih dahulu. Atau kalau tidak mandi, minimal kita “gerujukan” atau menyiram kepala kita dengan air. Ada tips dari teman untuk yang sulit bangun subuh, siapkan ember atau wadah apapun di samping tempat tidur kita. Kalau terdengar adzan, kita basuh mata kita atau membasuh wajah kita. Setan pasti takut dan lari terbirit-birit.

2.      Menghayati wudlu

Paling tidak kita tahu apa sih makna kita wudlu itu? Tentu saja kita hendak menyucikan diri sebelum menghadapNya, seperti halnya kita mencuci tangan sebelum makan. Kita niatkan yang benar-benar tulus dalam hati kita bahwa kita wudlu untuk membersihkan diri sebelum menghadapNya.

3.      Memakai baju yang tidak biasa diapakai sehari-hari/ baju yang khusus digunakan untuk sholat

Kalau bisa kita menyisihkan satu atau dua baju yang khusus untuk sholat. Kalau bisa warnanya putih atau setidaknya yang polos agar kalau kita berjamaah, tulisan di punggung kita tidak menganggu jemaah yang lain. Dan, kalau bisa warnanya jangan mencolok. Kalau bisa sih warna hitam atau putih.

4.      Matikan/selesaikan  segala sesuatu yang membebani pikiran

Contohnya, HP tolong di non-aktifkan, kompor dimatikan, pokoknya pastikan segala sesuatu yang membebani pikiran kita dalam sholat agar tidak muncul

5.      Ketika mendengar adzan, langsung menyegerakan sholat

Syahdan suatu cerita, syaiton itu kalau mendenagar adzan akan berlari terbirit-biri, kalau tidak, tubuh mereka akan terpotong-potong. Nah, kita aja yang agak bandel. Kalau bisa setelah mendengar adzan langsung cuci muka dan berwudlu. Madni kalau perlu. Dengan begitu kita seperti sudah men-scan program-program virus males yang sudah ditanamkan jin jahat pada pikiran dan tubuh kita.

6.      Berjamaah

Bukankah dengan berjamaah pulsa kita bertambah 27 kali dibandingkan sholat sendiri? Selan itu kita juga bisa menjaga silaturahmi dan kebersamaan sesama muslim loch!

7.      Memberi wewangian

Sebelum memulai sholat, alangkah baiknya kita menyemprotkan wewangian ke sekujur tubuh kita dan sajadah kita. Ya, analoginya seperti kalau kita hendak bertemu dengan orang yang paling kita cintai gitu. Kita kan harus mempersiapkan penampilan sebaik mungkin, kan?

8.      Memaahami isi bacaan sholat

Kalau ada waktu nanti akan saya posting khusus bagaimana memahami dan menghayatibacaan dalam sholat. Tapi untuk sementara silakan baca-baca buku risalah atau tuntunan sholat. Dibaca plus dipahami, jangan dihafalkan.

9.      Berdoa dengan sungguh-sungguh

Berdoalah dengan tulus, siapa tau kita bisa memburaikan air mata. Duh, betapa tenangnya jiwa ini ketika bisa menangis karena Allah taala. InsyaAlloh urutan doa nanti saya carikan sumbernya terlebih dahulu agar bisa kita pelajari bersama-sama.

10.  Tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama

Nah, ini dia yang paling sholat. Biasanya, saya tidak tahu persisinya, orang yang banyak melakukan kemaksiatan dan dosa sholatnya tidak bisa kusyuk dan sejuk. Tapi ya, lagi-lagi kembali kepada kehendakNya. Hal ini saya rasakan sendiri termasuk juga teman-teman yang curhat sama saya.

11.  Mencuci perelngkapan sholat seminggu sekali dan membersihaknnya.

Nah ini penting, karena kebersihan sebagian dari iman bukan? Logisnya, kalau tempat kerja kita bersih, pastilah kita akan merasa nyaman dan tenang.

12.  Lain-lain

Ada baiknya kita menjaga stamina lewat olah raga dan minum air putih yang banyak dan makan-makan yang sehat plus HALAL.

 

Mungkin hanya itu saja dari saya. Apabila ada kekurangnnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semua data di atas saya peroleh dari diskusi dengan teman-teman. Saya ucapkan banyak terima kasih banyak kepada rekan-rekan, guru, dan dosen saya yang sudah memberikan masukan yang banyak.

 

Kepada Mashudi (karyawan Gramedia Matos), kepada Bpk. Nurhadi (Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang/UM), kepada Abdul Aziz (PNS Pajak Jakarta), Supai Rahmat (Sobatku di pulau seberang), Pipink dan Andreaz (teman diskusi dan ngopi), Wijayanti (semoga benar-benar direstui olehNya cintaku kepada), Bejo (Ustat KKN Banjarsari The Rock City), Mas Ainur dan Mbak Ulfa (Karyawan Primagama dan British 5 Internasional), dan semua ustat dan guru kehidupan saya yang enggan dan tak bisa saya sebutkan satu persatu. Semoga ilmu yang kita diskusikan bisa menjadi amalan jariah dan manfaat dunia akhirat.

 

Ok, tunggu posting saya berikutnya tentang “Memahami bacaan dalam sholat” dan “Doa khusuk yang  berlimpah rahmat lewat peluh”

 

J

Lubis Grafura dalam www.lubisgrafura.wordpress.com

 

TAHUN BARU

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1428 H 20 Januari 2007

PREDIKSI MATERI UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN) SMP

 

PREDIKSI MATERI UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN)

BAHASA INDONESIA

SMP PRIMAGAMA CAB. BLIMBING MALANG

Materi:

1. Menentukan pertanyaan yang tepat dengan isi bacaan/paragraf

2. Menentukan pernyataan yang tepat dari isi paragraf

3. Memberikan tanggapan terhadap isi paragraf

4. Mencari topik paragraf

5. Menemukan ide pokok paragraf

6. Membaca tabel

7. Membedakan fakta dan pendapat

8. Menentukan kesimpulan dari paragraf

9. Mengurutkan petunjuk/kalimat menjadi paragraf

10. Memahami isi surat dan pengumuman

11. Mengoreksi tanda baca dan ejaan

12. Urutan kerangka karangan

13. Penulisan daftar pustaka

14. Susunan acara

15. Peribahasa

16. Makna ungkapan

17. Poster

18. Majas

19. Sinonim dan antonim

20. Kalimat langsung dan tidak langsung

21. Kata ganti

22. Pertanyaan yang tepat dalam wawancara

23. konotosi dan denotasi

24. Kalimat tidak padu

25. Kata umum dan kata khusus

26. Kalimat berobjek

27. Kata penghubung dan kata depan

28. Makna imbuhan

29. Makan perulangan

30. Kalimat pasif dan kalimat aktif

31. Polisemi, ameliorasi, peyorasi, sinestesia, homonim, homograf, homofon

32. Penyempitan dan perluasan makna

33. Kata tidak baku

34. Pemakain tanda hubung (-)

35. Kalimat majemuk: setara dan bertingkat

36. Memahami penggalan drama

37. Macam-macam puisi dan syair

38. Memahami puisi berdasarkan citraannya

39. Memahami watak tokoh, seting, suasana dalam penggalan cerpen

40. Sudut pandang pengarang dalam menulis cerpen/novel

41. Ringkasan ini bacaan atau paragraf

42. Memo

43. Kalimat: perbandingan, pertentangan, pengandaian,

 

Bagi adik-adik SMP yang ingin konsultasi belajar, silakan kirim email ke lub_hi@yahoo.com untuk menanyakan kesulitan belajar dalam bahasa Indonesia. Beberapa soal prediksi akan saya kirim lewat email.

Tulislah Namaku dengan Abu:

Tulislah Namaku dengan Abu:
Jemari yang Lepas Kendali
Oleh wawan—eko—yulianto

Data Buku:
Judul : Tulislah Namaku dengan Abu
Penulis : Abdul Mukhid
Penerbit : Babel Publishing & Komunitas Bengkel Imajinasi
Cetakan : I, September 2006
Tebal : xii + 56 hal.
ISBN : 979-25-3950- 6

Bisa dipastikan, bagi sebagian penyair, puisi adalah cara yang
mereka pakai untuk melepaskan keluh kesah, menyalurkan kegelisahan,
untuk menghindari overload di dalam batin. Bahkan, jika para penyair
itu tidak keberatan, kita bisa menyebutnya sebagai “curhat.” Namun,
sebagai seorang dewasa yang tegar, tidak pada tempatnya jika penyair
berkeluh kesah, meratapi hidup, mengutuk dunia, dan “curhat” dengan
berlinang airmata.
Memang, penyair berhasil mengatupkan mulutnya kuat-kuat, berhasil
menyembunyikan berbagai kegelisahan “di sisi kalbu yang paling
rahasia.” Namun, pengalaman panjang membaca puisi membuat penyair
tak mampu mencegah jari-jarinya yang tiba-tiba menggerakkan pulpen
ketika dia sendirian di kamarnya, di kereta api, di tepi jalan.
Maka, lahirlah Tulislah Namaku dengan Abu dari tangan Abdul Mukhid,
salah seorang penyair dari kelompok yang saya sebut di atas, para
penyair yang menulis sebagai sebuah kebutuhan. Perlu ditegaskan, di
sini tidak dibicarakan penyair yang menulis puisi untuk sekedar
menggambarkan suasana, yang menulis puisi untuk sekedar memenuhi
kuota sekian puisi per bulan, atau yang menulis puisi untuk sekedar
disebut penyair.
Ignas Kleden menggolongkan setidaknya ada tiga jenis kegelisahan
yang menggerakkan seorang penyair dalam berkarya. Yang pertama
adalah kegelisahan metafisik, yaitu kegelisahan yang timbul dalam
hubungan si penyair dengan kosmos, baik itu alam maupun manusia. Di
sini, penyair hanya bisa menerima atau menolak keadaan itu.
Selanjutnya, kelahiran puisi bisa juga dipicu oleh kegelisahan
politik, yaitu kegelisahan penyair terhadap kejadian-kejadian yang
bersifat kemasyarakatan, kegelisahannya terhadap segala jenis
ketimpangan yang disebabkan oleh golongan penguasa atau golongan-
golongan lain yang berkaitan dengan penguasa, atau kegelisahan si
penyair dalam hubungannya dengan banyak orang “di dalam struktur
sosial yang diciptakan oleh manusia sendiri.” Dan yang terakhir
adalah kegelisahan eksistensial, yaitu yang muncul dalam hubungan si
penyair dengan diri sendiri.
Tidaklah salah jika kita membaca ke-44 puisi Abdul Mukhid yang
terkumpul dalam Tulislah Namaku dengan Abu dengan berpegang pada
tiga postulat itu. Pada kelompok pertama, yang digerakkan oleh
kegelisahan metafisik, kita bisa mendapati puisi-puisi Abdul Mukhid
yang banyak mengangkat tema sepi dan kepergian seseorang. Puisi-
puisi semacam Tulislah Namaku dengan Abu dan Catatan Sepi 1-4 bisa
dimasukkan ke dalam kelompok pertama. Bagaimanapun, alih-alih curhat
yang berhenti pada keluh kesah, puisi-puisi ini sudah memiliki
solusi. Bisa dibilang, puisi-puisi ini ditulis ketika si penyair
sudah memutuskan akan bangkit dari segala hal yang
menggelisahkannya. Perhatikan berikut ini:
Jika dari sepi mesti dimulai
hari-hari duka abadi
Mudah-mudahan kita bertemu di kehidupan nanti
(bagian dari “Catatan Sepi 3″)
Di sini, sang aku sudah memutuskan tidak akan larut ke dalam
kegelisahannya, meskipun pada kenyataannya dia memilih sepi. Jika
masih kurang, berikut masih ada lagi:
Duhai sepi yang lahir dari saripati gelisah!
Ijinkan aku mulai berbenah.
(bagian dari “Catatan Sepi 4″)
Dalam antologi pertama Abdul Mukhid ini, kita akan mendapati
beberapa saja puisi yang bernada ini.
Selanjutnya, kita akan menemukan puisi-puisi yang kelahirannya
didorong oleh kegelisahan politik. Di sini, seperti banyak orang
Indonesia yang tak puas dengan kemeriahan pesta kemerdekaan
sementara negeri masih berantakan, Abdul Mukhid hadir dengan
puisi “56 Tahun Indonesia (masih) Cemas.” Di sini, dia melayangkan
tuntutannya tentang kemerdekaan bertahun-tahun yang tetap tak bisa
memberi kita ketentraman. Dalam puisi “Revolusi Dimulai Hari Ini,”
tampak sekali penyair menggugat keadaan yang serba cacat, semisal:
ketika isu-isu sudah jadi komoditi
cukong-cukong politik obral janji
seniman sibuk tipu sana-tipu sini
mahasiswa cuma jadi agen mimpi.
(bagian dari “Revolusi Dimulai Hari Ini”)
Namun, tidak hanya keadaan di Indonesia yang disasar penyair. Dia
juga menyasar invasi Amerika ke Irak sebagaimana terlihat pada
puisi “Airmata Ibrahim” dan “Jangan Menulis Sajak Tentang Perang.”
Terakhir, kita bisa melihat keresahan eksistensialis yang banyak
terkait dengan Tuhan. Dalam kelompok ini, kita bisa melihat
bagaimana penyair membahas Peta Nasib yang harus
dia “gambar/gores/ jalani” sementara dia hanyalah makhluk serba lemah
dan otaknya “dungu.” Bahkan, puisi yang berjudul “Di Luar Terlalu
Gaduh” menunjukkan betapa si aku ingin berlari ke Tuhan karena tidak
mampu lagi menghadapi dunia yang terlalu gaduh. Nada serupa juga
muncul dalam puisi “Ini Hari Apa? Tanggal Berapa?” Selain itu,
banyak diantara puisi-puisi kelompok ini yang terasa “mengembalikan
segala persoalan kepada Tuhan,” sebagaimana disoroti Anwar Holid
dari puisi Abdul Mukhid. Sikap yang semacam ini terasa sekali pada
banyak puisi dalam kumpulan Tulislah Namaku dengan Abu ini.
Namun, ada satu fitur khas puisi-puisi ketuhanan Abdul Mukhid di
buku ini, yaitu kemampuannya memberikan cara ungkap yang unik. Salah
satu contoh yang sangat bagus adalah:
Tuhan, maafkan aku
114 surat yang kau kirim
tak pernah sempat kubalas.
(bagian dari “Tuhan, Maafkan Aku”)
Di sini, tampak jelas sekali bagaimana si penyair telah dengan
begitu cerdasnya menyamakan surat-surat Alquran itu dengan surat
yang dikirimkan lewat pos. Memang, banyak lelucon sehari-hari yang
menyamakan surat-surat Alquran dengan surat pos. Tapi, sepertinya
ada yang sampai terpikir untuk membalas surat-surat tersebut. Di
sinilah, puisi ini benar-benar menunjukkan orisinalitas ungkapan
yang hebat. Yang sudah tampak unik sejak dari daftar Isinya adalah
Tuhan@Arsy.Com. Pada puisi yang sebelumnya pernah masuk di buku Dian
Sastro for President Reloaded (AKY, 2004). Di dalam puisi ini, kita
bisa menguping doa yang diucapkan oleh seorang pecandu internet.
Karenanya, si aku ini meminta kepada Tuhannya untuk membalas
emailnya. Puisi ini terasa unik. Kesan jenakanya lebih terasa
daripada kesan seriusnya. Di sini, seorang manusia menanti balasan
dari Tuhannya, bertentangan dengan puisi “Tuhan, Maafkan Aku” dimana
seorang hamba menyesali sikapnya yang belum sempat membalas surat
dari Tuhan.
Namun, ketiga penggolongan di atas tidaklah mungkin cukup untuk
membaca sebuah kumpulan puisi. Sebagaimana diterima secara umum
bahwa dari satu puisi bisa lahir satu jilid buku skripsi, maka
tidaklah mustahil jika dari sekumpulan puisi Abdul Mukhid ini bisa
lahir berjuta penafsiran pada diri pembaca.
* * *
Dari ke-44 puisi dalam buku Tulislah Namaku dengan Abu, bisa dicari
setidaknya dua hal yang mencirikan puisi-puisi Abdul Mukhid—
setidaknya puisi-puisi yang ada dalam buku ini. Pertama, puisi-puisi
ini hadir dengan bahasa yang gamblang, tidak dibuat-buat. Dengan
pilihan pemakaian diksi-diksi yang kuat tetapi masih sangat akrab di
kuping seperti itu, puisi-puisi Abdul Mukhid yang tabiatnya minta
dirasakan itu segera bisa dirasakan. Namun, perlu ditekankan, puisi-
puisi ini tidak akan berhenti begitu ia bisa ditafsirkan. Ruang-
ruang yang membutuhkan penafsiran masih tetap ada.
Yang terakhir adalah adanya kesan suram. Sekan-akan ada ada tekanan
besar yang memaksa hadirnya puisi-puisi itu. Hal itu diimplikasikan
dengan kata-kata bernada minor, semacam “sepi, cemas, sedih, gundah,
perih, maut, kebusukan, senyap,” yang muncul secara bertubi-tubi.
Untungnya, sebagaimana di singgung di awal sekali, selalu ada solusi
di sana. Maka, puisi-puisi ini tidak hanya datang untuk berkeluh
kesah dengan pembaca, dan melarutkan pembaca ke dalam kesuraman. Ia
datang untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana sebuah
permasalahan dihadapi. Maka, jadilah kita menikmati puisi ini
sebagai sebuah desahan kepuasan dari seseorang yang telah melepaskan
sebuah tekanan di pikiran. Dan berkat jemari sang penyair yang lepas
kendali itu, kita bisa menikmati sesuatu yang sebenarnya sudah
digudangkan “di sisi kalbu yang paling rahasia” dalam bentuk puisi-
puisi di lembar-lembar buku Tulislah Namaku dengan Abu ini.

Pengumuman Lomba Puisi Fordisastra

dikutip dari www.fordisastra.com

Karena kesibukan yang bertumpuk dari para moderator/dewan juri lomba cipta puisi Ulang Tahun-I Fordisastra, yang tidak bisa ditinggalkan, maka bersama ini kami sampaikan bahwa pengumuman pemenang Lomba Cipta Puisi Ulang Tahun-I Fordisastra, akan diundur sampai Selasa, 23 Januari 2007.

Dengan terjadinya kemunduran jadwal ini, kami dengan sungguh-sungguh memohon maaf kepada semua  peserta yang telah mengirimkan karyanya.

Sekali lagi atas nama redaksi fordisastra.com kami meminta maaf yang sedalam-dalamnya.

salam sastra

Redaksi fordisastra.com

Para pemenang dan Nominator CWI 2006

Selamat kepada para pemenang

Wayan Sunarta, Dongeng di bukit Batu Bintan
Muhammad Nasir, Rapun
Ragdi F. Daye, Punggung
Rista Rifia Libiana, Perempuan bermata Bidadari
Irene Sarwindaningrum, Digital Dream
Dalih Sembiring, Floccinaucinihipilificatius
Dian Hartati, Kota Kenangan
Rohyati Sofjan, Poli
I Gusti Made Dwi Guna, Boarding
Ina Nur Ratriyana, Kalau Esok Hari Masih ada, Tuhan…
Ajun Kesuma, Harta Karun
Hari Ambari, Nyi Pohaci
Endah Sulistyowati, Tentara di Tapal Batas
Denny Prabowo, Tedong Helena
Iggoy el-Fitra, Abu, Sepenggal Rindu Arafuru
MH Abid, Pendulang Emas
Indrian Koto, Lagu Ombak Kampung Terkurung
Alimuddin, Serambi tak mau kembali ke Abang Indonesia
Nana Supriatna, Sutinah
Azizah Hefni, Pintu yang Terkunci
Joko Nugroho, Benang yang Mencari Daun
Fahruddin Nasrullah, nubuat dari Sabrang
Griven H Putera, Pusara bernisan Duhut Berbunga
Gunawan Budi Susilo, Malam Buta
M Badri, Loktong
Marhalim Zaini, Jaring Batu
Wicaksono Surya Hidayat, Tuhan yang Ketiga
St. Fatimah, Malaika, sebuah Firman Terakhir
M Raudah Jambak, Bulan
Widzar al-Ghifary, Untuk Lelaki Harum Rimba
Sucipto bin Rapii, Kisah dari Numfor
Satmoko Budi Santoso, Kuda yang menderap di Kaki Candi
(karena diketik mendadak, maaf atas kesalahan penulisan

Nominator Penulisan Puisi Fordisastra

diambil dari www.fordiasastra.com

Berdasarkan seleksi tahap pertama oleh Nanang Suryadi dan Dino Umahuk, maka diputuskan 20 nominator pemenang lomba penulisan puisi HUT pertama Fordisastra.com. Puisi-puisi tersebut di bawah, akan kembali dinilai untuk menentukan pemenang 1,2,3 dan harapan, oleh Nanang Suryadi, Dino F Umahuk serta satu Juri Tamu. Insya Allah, hasilnya akan diumumkan pada 23 Januari 2007.

Aglaonema 4 (Pakcik Ahmad)

Betapa Tua Aku Di Sini (Isbedy Stiawan Zs)

Di Akhir Gelap (Deddy Arsya)

Episode Fetus (Fina Sato)

Getah (Ragdi F. Daye)

Guru Bertanya (Abdul Mukhid)

Kasidah Laut (Budy Utamy)

Keluarga Kecilku (Arie Saptaji)

Mencari Waktu (Koko Nata Kusuma)

Nyanyian Malam di Cipularang (Yuli Saja)

Pesan Di Resah Hujan (Mutia Sukma)

Roman Lumar (Lukman Asya)

Saat Langit Menulis Sajak (Dedy Tri Riyadi)

Sajak Matahari Kehilangan Cahaya (Denny Prabowo)

Sajak Tahun Baru (Muhamad Misbakhudin)

Sebutir Kepompong (I A O Suwati Sideman)

Setaut Kisah Persuaan Pada Musim Bujang (Esha Tegar Putra)

Tulang (S Yoga)

Wajah Matahari (Lupita Lukman)

Ziarah Batu (Sunlie Thomas Alexander)

Email untuk Dian Hartati di Bandung sono

Dian, di Bandung

 

Dian, mungkin ini sulit kukatakan kepadamu. Aku dapat berita buruk dari kantor, sepertinya aku tak mendapatkan izin. Padahal, sudah jauh-jauh hari aku mempersiapkan diri untuk ikut ke Jogja. Tapi, izin itu masih terlalu sulit untuk kudapatkan. Doakan saja saya bisa. Saya akan cari tentor pengganti selam 2-3 Februari mendatang. Doakan saya dapat.

 

Beberapa malam yang lalu, sepertinya engaku hendak menelfonku ya? Maaf aku tidak mengangkatnya, karena telefonku ketinggalan di kampus, aku sedang ngopi. Jadi, sori banget aku gak SMS atau telp. balik, soalnya aku lagi kosong pulsa.

 

Oya Dian, jika memang kemunkinan terburuk aku tak bisa datang bagaimana? Kepingin sih, aku chating dengan kamu. Hayo kapan? Malam Mingguan? Pokoknya kita bisa janjian dulu, nanti kita bisa ngobrol lewat massager-nya Yahoo.

 

CWI tahun ini saya tak beruntung. Apalagi, katanya tahun ini tak ada lagi workshop ke Jakarta. Tapi, sudahlah cukup beruntung bagi diriku mengenal dirimu. Ohya, kamu sudah lulus ya aku mungkin lulus bulan September mendatang. Lantas gimana Tyas? Masih hidupkah lelaki yang dulu pernah mengaku sebagai “Ariel” gadungan dan hampir ditangkap polisi?

 

Wasalam,

Cukup sekian

GPSN

GPSN

 

Mari kita galakkan budaya GERAKAN PUASA SUNNAH NASIONAL (GPSN)

baik puasa sunah setiap hari atau puasa Senin Kamis

biar kita bisa merasa tenang sekaligus hati sejuk

negara sejuk

dinia sejuk

 dan, kita makin dekat dengan Allah SWT

Mari, berpuasa

Pengumuman Lomba CWI 2006 dan Memori CWI 2005

Pengumuman Lomba CWI 2006 dan Memori CWI 2005

 

Tahun kemarin, CWI 2005 dimenangkan oleh Wa Oda Wulan Ratna lewat La Rundumanya, lantas saya numpang tiga cerpen Perempuan Dilarang Menangis, Aku Cantik!, dan Lilin yang Tak Pernah Padam. Tahun ini saya terpaksa “pensiun” untuk masuk ke dalam antologi lagi. Tapi, saya sudah cukup bersyukur karena sudah menemukan Bang Aris, Abid, Wa Oda, Dian, Denny Prabowo, sekaligus Mukhlis yang sering datang ke kos, tak Lupa juga M. Batu bara, Koko, Jengki, dan cerpennya Orang Meru yang kemarin muncul di Jawa Pos, dan semuanya yang tak bisa saya sebut satu per satu. Ohya, Tyas kamu kok nggak ada kabar sama sekali?

 

Pada tahun 2005 kemarin banyak pihak yang tidak puas, dan sekarang kayaknya jumlah orang tidak puas itu makin bertambah deh. Tapi yang namanya lomba tentunya pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Untuk yang terakhir, itu yang saya dapat di CWI tahun 2006.

 

Saya dapat SMS dari Bang Denny Prabowo kalau CWI tahun 2006 ini tidak ada workshop ke Jakarta lagi. Apalagi di dukung dengan adanya tak keikutsertaan Bang Maman Mahayana dan Hamsad Rangkuti dalam penjurian. Entah karena alasan apa. Berkali-kali saya search di Google dan cari di Koran kok tidak menemukan pengumuman lomba CWI 2006. Entah karena apa. Mungkin saja panitianya sedang sangat amat suibuuuk sekali. Hai, Halo Hudan Hidayat? Senang bertatap muka dengan kamu di CWI 2005.

 

Akhirnya, Bang Abid dengan senang hati memposting tiga besar juara CWI tahun 2006 ke blog saya. Berikut nama-namanya:

  1. Juara Satu M. Badri (Bogor)
  2. Zizi (Malang) hayo traktir, kalau nggak tak doain jelek lho
  3. Bang Abid sendiri deh…(Jogja) selamat ya Bang Abid. Traktir dong….?

 

Usut punya usut lagi, ke-27 juara yang lainnya juga masih misteri. Di internet kok belum ada ya. Tetapi saya sudah mendapatkan informasi dari salah satu rekan saya yang bernama Hefi mengatakan bahwa ke-27 juara yang lainnya itu ternyata di SMS untuk dimintai alamat rumah guna proses pengiriman buku antologi CWI tahun 2006. Nah, untungnya (?) saya tidak mendapatkan SMS tersebut. Adakah diantara Anda yang mendapatkan SMS tersebut? Kalau jawabannya “ya” berarti Anda menjadi salah satu pemenangnya. Satu bocoran lagi, kalau ternyata dari salah satu ke-27 nominator tersebut adalah adik kelas saya sendiri…. J yang tak lain dan tak bukan adalah mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM).

 

Oke deh, salam buat teman-teman CWI 2005 dan terus berkarya. Semoga pengumuman ini bermanfaat buat teman-teman yang selama ini search di Google dan tak mendapatkan informasi tentang CWI 2006.

 

Lubis Gitu Loch

 

FFI, Festifal “Fools” Indonesia

FFI, Festifal “Fools” Indonesia

Keputusan dewan juri Festifal Film Indonesia (FFI) 2006 yang memenangkan film thriller, Ekskul mengundang berbagai polemik tentang keberadaan FFI itu sendiri. FFI 2006 yang dewan jurinya beranggotakan Rima Melati, Noorca M Massardi, WS Rendra, Eddy D Iskandar, Remy Silado, Chaerul Umam, dan Embi C Noer (Suara Pembaruan) harus menghadapi para nominator yang mengembalikan pialanya.

 

Ketidak puasan tersebut dipicu oleh kemenangan film Ekskul yang disinyalir telah menjiplak film asing, terutama pada musik pengiringnya. Tentu saja hal ini perlu dibuktikan dengan pertanyaan “apakah buktinya?” dalam hal nada atau musik, sebuah musik dikatakan menjiplak apabila sedikitnya terdapat delapan bar sama. Kalau tidak memenuhi syarat itu berarti bukan plagiat (suara pembaruan). Apakah sudah dibuktikan?

 

Lebih lanjut, para sineas yang tidak puas dengan hasil FFI 2006 menghendakaki bubarnya FFI. Mereka memandang kinerja FFI tidak begitu signifikan. Lantas, mereka mengembalikan piala yang sudah diperoleh.

 

Bagi saya, dalam sebuah festifal atau dalam lomba, urusan kalah menang itu mutlak hak juri. Makanya, dalam lomba (biasanya cerpen) dicantumkan embel-embel “keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, tidak ada surat menyurat” Artinya, siapapun yang menang atau yang kalah harus menerima itu semua dengan lapang dada. Juri kan tidak hanya satu orang, mereka tentu sudah bekerja keras dan berdebat sana berdeat sini untuk menentukan pemenang dari berbagai dimensi pandangan.

 

Usul untuk membubarkan FFI menurut saya adalah sesutu hal yang “fools”, lha bagaimana kita bisa tahu film mana yang baik dan yang kurang baik. Bolehlah dikatakan bahwa FFI adalah salah satu, bukan satu-satunya, penentu film terbaik setiap tahunnya. Kalau membubarkan FFI ya sama saja dengan sastra tanpa kritikus, atau permainan sepak bola tanapa komentator. Gimana ya jadinya?

 

Biarlah mereka membuang atau menyimpan piala tersebut. Itu hak mereka, seperti halnya dewan juri yang berhak memutuskan menang atau kalah.

 

Lantas, untuk dewan juri saya juga mengharapkan adanya penilaian yang objektif. Bukan maksud saya untuk bersuudzon, tetapi alangkah baiknya kalau dewan juri itu tidak hanya terdiri dari beberapa kalangan seniman saja, tetapi kalau bisa melibatkan banyak aspek seni bahkan kalau perlu diikutkan juga orang yang awam terhadap intrinsic dan ekstrinsik film, tetapi penggemar film.

 

Saran saya, semoga tahun depan ada FFI yang lain, yaitu Festifal “Fools” Indonesia yang juga memberikan sumbangan dari kaca mata lain tentang film, dewan juri, dan sineas di Indonesia. Mungkin, dari tulisan ini pembaca dapat memberikan nominasi kepada siapakah predikat “fools” itu layak diberikan!

Sumber: Ari Wijayanti

 

 

Lubis Grafura

Pecinta film (bukan film indonesia – yang murahan)

www.lubisgrafura.wordpress.com

 

Jejak Rasulullah 1: Cobaan dan Kebahagiaan Hidup

Jejak Rasulullah 1: Cobaan dan Kebahagiaan Hidup

 

“Orang yang benar-benarmelakukan hakikat penghambaan (ubudiyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya. Melihat keadaan dirinya dengan riya’. Melihat keadaan dirinya dengan curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan.” (Syaikh Abi Madiin)

 

Sebuah riwayat bahwa Abu Said Al Khudri pernah menemui Rasul SAW di saat beliau mengalami demam. Diletakannya tangan Abu Said Al Khudri di atas badan Rasul. Ia merasakan panas di telapak tangannya di atas selimut Rasul. Lalu ia berkata:

“Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini.”

“Begitulah kami (para nabi),” begitu jawab Rasul “cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan kepada kami.”

“Lantas, siapakah orang yang paling berat cobaannya?”

“Para nabi.”

“Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?”

“Kemudian orang-orang shalih. Apabila diantara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (mantel) tambalan yang dia himpun. Tapi, bila diantara mereka diberi cobaan, justru merasa senang, sebagaimana salah satu diantara kamu yang senang akan kemewahan.”

(HR. Ibnu Majah)

 

Kisah di atas dikutip dan digubah dari majalah Donatur YPU/Edisi 10/Th.IV Ramadhan 1427 H/ Oktober 2006. Majalah ini menerima donatur yang dapat dialamatkan di:

  1. Sidoarjo

Singogalih, RT 07/ RW 03, Tarik-Sidoarjo 61265

Telp. (031) 8970704

  1. Surabaya

Jl. Brawijaya 30 Surabaya

Telp./Fax (031) 5633536

  1. Malang

Jl. Kaliurang 28 Malang

Telp. (0341)7333362

Selain itu dapat dikunjungi sites www.ypu-online.org

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com

 

Saya Hanya Ingin Menuliskan Klausa “Betapa Hidup itu, Hanya Segitu Saja”

Ya Allah, jika hidup itu kejam, tapi kenapa aku tak bisa

Ya Allah, jika hidup itu musti saling menikam, tapi kenapa aku tak bisa

Kalau memang sudah ketentuan, tunjukan saja aku jalan pulang yang benar

_Lubis Grafura_

Setelah saya terjun di berbagai belahan dunia, ada sesuatu yang bagi saya masih jengah, kenapa ya orang-orang kok tega dengan sesamanya. Klakson-klakson di jalan saling memaki. Orang-orang dengan arogannya ingin terakui eksistensi. Gelandangan-gelandangan dan pengemis yang dibuat profesi, lantas suatu saat pasti kau temui seorang gelandangan yang berdasi.

Begitulah, berikut akan saya curhatkan bagaimana saya memandang kehidupan, termasuk kehidupan politik di Negara kita.

 

Kehidupan Beragama di Sekitar Saya

Hal ini adalah kehidupan yang sangat krusial. Sementara itu kehidupan beragama adalah kehidupan yang sifatnya pribadi. Hak setiap orang. Tak perlu menghakimi atas nama agama untuk tujuan tertentu. Tapi, yang membuat saya kecewa adalah pernyataan sebagian orang yang menjadikan “atribut” agama sebagai dalih untuk memetak-metakkan kehidupan. Begini konkritnya:

Pada sutu kali di kantor Primagama, pimpinan saya pernah berkata kepada saya, yang saat itu saya sedang berbincang dengan dua orang murid. Lantas pimpinan saya yang bernama Imam Zainuri tersebut ikut masuk ke dalam pembicaraan kami.

“Mas Lubis itu seorang seniman, Dik.” Begitu katanya kepada dua orang murid saya.

Kedua murid saya tersenyum.

“Kalau orang-orang yang kayak gini,” sambil menunjukkan jenggotnya “bukan temannya.”

Ia sambil tertawa. Saya tahu itu kelakar belaka. Memang Pak Imam itu orangnya suka berkelakar. Saya juga seperti itu. Dan saya tahu itu tidak ada maksud apa-apa sama sekali. Tetapi, kalau boleh menganalisis perkataannya, kalimat Pak Imam sangat memiliki arti yang sangat signifikan dan secara langsung di dalam otaknya selama ini sudah jelas-jelas. Ia membedakan mana yang golongannya dan mana yang bukan.

Dalm kata lain, Pak Imam yang nota bene adalah panutan saya selama ini, guru saya, pimpinan saya, ternyata hanya segitu kepekaan sosialnya dalam memandang kehidupan itu secara universal. Ia sama sekali tidak punya kepekaan itu. Apalagi ia adalah seorang pemimpin.

Kalau memang begitu, betapa kita hidup di atas daun kelor saja. Kita hanya berteman dengan orang yang berjenggot saja. Orang yang pakai celana cingkrang saja. Berteman dengan orang yang seagama saja? Betapa pola pikir kita sangat sempit. Dan saya merasa sangat kecewa dengan Pak Imam, pimpinan Primagama cab. Blimbing. Mungkin saya akan mengkomunikasikan ini dengannya Minggu depan.

Tapi bagaimanpun, ia juga sudah memberikan banyak sumbangan ilmu kepada saya. Mungkin memang ada benarnya pepatah mengatakan” tak ada gading yang tak retak”

Kehidupan Politik di Sepasang Kaca Kacamata Saya

Mendengar kata “politik” saja saya seperti sedang makan sate di kandang babi. Entah dari dulu say abenci itu. Tapi memang harus bagaimana lagi. Lha wong hidup tanpa itu ya kita tak akan pernah bisa kok.

Saya kok ketawa mendengar DPR yang ingin naik gaji, sementara mereka ta pernah melihat sekelilingnya masih banyak anak-anak yang mebutuhkan pendidikan, kemiskinan yang belum terentaskan.

Lantas, isu yang sudah hampir ditinggalkan orang, adalah masalah sekandal. Menurut saya langkah A.A Gym benar. Sepertinya A.A Gym sudah memberikan teladan yang baik di tengah percaturan politik, bahkan hingga urusan “konak”

Ah, apapun lah soal politik. Aku merasa jenuh saja membicarakannya.

Kehidupan Seni di Sekitar Saya

Tak ada bedanya juga. Lagi-lagi kulihat arogansi saja. Biarlah mereka juga berorientasi ke seni untuk seni atau ke masyarakat. Mereka merasa diri ini begitu hebat dari pada yang lain….

 

Dan tiba-tiba kata-kata saya hilang bersama bersin. Saya enggan melanjutkan tulisan yang makin lama terasa membosankan. Lantas, hidup itu ya hanya segitu saja di mata beberapa orang yang dungu.

 

 

Lubis Grafura

Pecinta Wanita

 

 

Tulisan untuk Lubis Rahman “Sesama Lubis nggak boleh saling meringis”

hai kenalkan sy rahman lubis
asli lubis. tanpa sari manis
memang semua itu terasa berarti dan tak sinis
melihat saudara semarga menunjukkan jenis
jenis manusia yang luar biasa, dan ini bukan cauvinis.

(Lubis Rahman)

 

Ha ha ha J, sesama Lubis deh kita jadinya. Mas Rahman, semoga sampean bukan saudara saya yang hilang saat di kandung bunda….

 

Aduh, makasih udah mengunjungi blog yang ala kadarnya ini. Ohya, sebenarnya ini merupakan balasan email buat sampean, tetapi buat ngisi blog saya posting deh (SILAKAN KLIK di www.lubisgrafura.wordpress.com).

 

Perlu sampean ketahui, saya tiadak ada unsure bataknya, walau hanya setetes darah. Saya asli Kediri, Indonesia. Mungkin sampean juga punya pengalaman yang sama dengan saya dikira orang batak (ups, tetapi saya belum tahu sampean orang mana?)

 

Oke deh, apapun yang telah terjadi, blog telah mempertemukan saudara saya yang hilang saat dikandungan bunda. Salam kenal buat keluarga, teman dekat, pacar, atau hewan kesayangan…

 

Lubis Grafura

 

NB: Salam buat Muram Batubara yang dulu salah mengira kalau kita sekampung halaman. Aku nggak menang di CWI tahun ini….capek dech.

« Tulisan sebelumnya