Arsip untukMaret, 2007

Budaya Laptop

JAUH sebelum laptop dipopulerkan oleh Tukul, budaya laptop dalam berbagai acara di televisi sudah sering ditemui. Baik acara hiburan seperti gosip, bicang-bincang, reality show, dsb hingga acara informasi seperti berita. Penggunaan laptop dalam berbagai acara televisi tersebut terkadang tidak memiliki fungsi yang jelas. Selebihnya, hanya berupa prestise saja.

            Tidak mengherankan kalau budaya laptop di negara kita masih sebatas prestise. Hal ini sangat tampak dalam berbagai acara di televisi yang menyuguhkan laptop di meja pembawa acara. Ironisnya, laptop tersebut sama sekali tidak difungsikan. Lantas timbul pertanyaan, untuk apakah fungsi laptop bagi pembawa acara tersebut? Kalaupun untuk memandu acara sepertinya kurang begitu tampak. Barangkali di sinilah bahwa budaya laptop di negara kita masih berupa prestise semata.

            Keberadaan laptop sangat menunjang hadirnya teknologi internet nirkabel, yang sering kita sebut dengan hot spot. Pengguna internet tidak perlu lagi repot-repot menggunakan kabel untuk melakukan aktivasi internet. Dimanapun mereka dapat melakukan aktivasi, asalkan terdapat layanan hot spot dan memiliki wireless.

            Wireless yang kini sudah diterapkan dalam laptop memungkinkan orang untuk memiliki teknologi ini setelah handphone (HP). Kebutuhan akan teknologi komputer dewasa ini sudah tidak dapat kita pandang sebelah mata lagi. Hal ini tampak ketika setiap instansi atau perusahaan selalu menggunakan komputerisasi untuk transaksi informasi atau pendokumentasian data.

            Kebutuhan akan laptop inilah yang akhirnya menetaskan ide pejabat pemerintah kita untuk menginventarisasikan laptop. Jumlah yang dianggarkan satu laptop adalah seharga dua puluh satu juta rupiah. Tentu saja banyak polemik yang dapat ditarik dari wacana ini. Namun, kita harus melihat sisi lain dari fenomena yang menjadi isu di negara kita ini.

            Secara positif, ide inventarisasi laptop tersebut sangatlah menunjang kinerja para pejabat kita. Artinya, keberadaan laptop telah memberikan satu sumbangan untuk peningkatan sumber daya manusia di negara kita. Dengan adanya laptop, para pejabat di negara kita dapat melakukan akses informasi yang cepat dengan internet. Perlu juga ditambahkan perlunya kursus beberapa bahasa untuk pejabat kita agar dapat mengikuti perkembangan berbagai ragam informasi yang sedang terjadi. Di sisi lain, jumlah yang dianggarkan untuk inventarisasi laptop itu jauh lebih tinggi. Tentu saja ini membuat beberapa kalangan merasa ada ketimpangan.

            Terlepas dari kedua spekulasi di atas, perlunya juga pemerintah mempertimbangkan pendidikan untuk masyarakat. Pendidikan ini dimaksudkan agar sumber daya manusia masyarakat Indonesia secara luas dapat dibangun. Konkritnya, perlunya pengadaan komputerisasi dan internetisasi di setiap daerah. Selain masyarakat Indonesia dapat menikmati fasilitas ini, masyarakat Indonesia diharapkan nantinya dapat lebih terdidik dan tidak tertinggal dari negara-negara lainnya.

            Akan sangat lebih optimal lagi apabila setiap daerah membuat sebuah situs untuk daerahnya masing-masing. Tentu saja akan sangat banyak manfaat yang diperoleh. Daerah tersebut dapat menampilkan berbagai macam kekayaan alam, budaya, dan sebagai sarana pengenalan daerah kepada dunia secara luas. Dengan adanya internetisasi di masing-masing daerah akan mendidik masyarakat kita menjadi masyarakat yang kritis. Selanjutnya, dengan adanya pertukaran informasi melalui internet, diharapkan dapat menumbuhkan semangat nasionalisme antarsuku, agama, ras di negara kita.

            Kita kembali ke laptop! Kini banyak kita jumpai di beberapa tempat umum di kota-kota. Kehadiran laptop bukan lagi hal yang asing bagi kita. Bukan lagi sesuatu yang musti kita beri nilai prestise, melainkan sebagai pentingnya akan kebutuhan informasi. Kehadiran teknologi di negara kita diharapkan dapat membawa faedah yang siginifikan daripada sekedar budaya ikut-ikutan atau tren semata.

            Kehadiran laptop, sekali lagi, hanyalah sebagai wadah pertukaran informasi. Semakin tinggi akan kebutuhan informasi sekaligus menjadi penanda kemajuan sebuah zaman. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan juga ketika kita pernah mendengar sebuah slogan future is here. Dan memang, modern itu terjadi hari ini.

 

Lubis Grafura

Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM)

Mengelola situs sastra, pendidikan, dan humaniora

di www.lubisgrafura.wordpress.com

 

Surat dari Prancis tentang penyebaran penyakit HIV

Surat dari Prancis tentang penyebaran penyakit HIV
 
 
 
From: S.Abdurrahman.M 
 
Dear Friends, 
 
Kawan kawan sekalian ,
 
Kindly take a couple of minutes to go thru this mail. If useful may advise 
others also .... Please pass this on to others This happened 
 
Mohon luangkan sedikit waktu anda terhadap mail ini , jika perlu untuk nasihat 
kepada yang lain .... mohon forward ke kawan2 lain 
 
in Paris recently and may happen elsewhere also. 
 
karena hal ini terjadi di PARIS , FRANCH baru baru ini dan kemungkinan terjadi 
di manapun di Dunia ini. 
 
A few weeks ago, in a movie theatre, a person felt something poking from her 
seat. When she got up to see what it was, she found 
 
beberapa minggu yang lalu , dalam sebuah teater Film, seseorang merasa ada yang 
menusuk di bagian bawah tempat duduknya, 
 
ketika dia berdiri dari tempat duduk nya , dia menemukan sebuah jarum melekat 
pada tempat duduk nya denga adanya catatan yang 
 
a needle sticking out of the seat with a note attached saying "You have just 
been infected by HIV". 
bertuliskan " kamu baru saja ter-infeksi HIV" 
The Disease Control Center (in Paris ) reports many similar events in many 
other cities recently. All tested needles were HIV 
 
Kantor Pusat pengawasan  penyakit (di PARIS ) melaporkan banyaknya peristiwa
serupa di beberapa kota akhir akhir ini , semua jarum 
 
Positive.. 
 
y ang menjadi media di kejadian tsb , telah di test dan dinyatakan ada VIRUS 
HIV POSITIF .
 
 
The Center also reports that needles have been found in cash dispensers at 
public banking machines. We ask everyone to use 
 
Kantor tsb juga melaporkan bahwa jarum ter-infeksi HIV serupa juga ditemukan di 
kotak pengambi uang di MESIN ATM bank, 
 
extreme caution when faced with this kind of situation. All public chairs/seats 
should be inspected with vigilance and caution 
 
di sarankan pula pada para pengguna mesin ATM untuk "SANGAT WASPADA" ketika 
menghadapi situasi seperti ini. 
 
before use. A careful visual inspection should be enough. In addition, they ask 
that each of you pass this message along to all 
 
semua BANGKU / TEMPAT DUDUK umum harus di PERIKSA dengan TELITI sebelum di 
gunakan. PEMERIKSAAN secara VISUAL 
 
dengan penuh ke-TELITIAN & KEHATI-HATIAN sangat perlu di butuhkan dengan 
kecukupannya,  mohon forward kepada anggota
 
members of your family and your friends of the potential danger. 
keluarga anda serta kepada semua rekan akan potensi bahaya hal ini. 
Recently, one doctor has narrated a somewhat similar instance that happened to 
one of his patients at the Priya Cinema in Delhi . A 
 
Saat ini , seorang Dokter menyatakan sebagaimana kejadian serupa menimpa salah 
satu pasiennya yang terkena hal ini di 
 
Bioskop PRIYA Cinema , New Delhi , India . 
 
young girl, engaged and about to be married in a couple of months, was pricked 
while the movie was going on. The tag with the 
 
seorang gadis muda yang berencana akan menikah beberapa bulan lagi , terkena 
tusukan duri saat Film berlangsung, ada sebuah 
 
needle had the message " Welcome to the World of HIV family". Though the 
doctors told her family that it takes about 6 months 
 
catatan yang berbunyi "Selamat Datang di Dunia Keluarga penderita HIV" ... 
Dijelaskan pula oleh sang Dokter kepada keluarga gadis 
 
before the virus grows strong 
 
tersebut bahwa memerlukan ? 6 bulan untuk VIRUS tersebar di tubuh gadis itu 
menjadi cukup kuat untuk mulai merusak Jaringan 
 
enough to start damaging the system and a healthy victim could survive about 
5-6 years, the girl died in 4 months, perhaps more 
 
system & kekebalan tubuh korban dan sang korban cukup bisa bertahan selama 5~6 
tahun , tetapi si Gadis korban tsb, meninggal 
 
because of the "Shock thought". We all have to be careful at public places, 
rest God help! 
 
di 4 bulan setelah tertusuk jarum tersebut mungkin karena "SHOCK BERAT". Mulai 
saat ini KITA HARUS lebih berhati-hati 
 
dan WASPADA di tempat umum. 
 
Just think about saving a life by forwarding this message. Please, take a few 
seconds of your time to pass along. 
 
Mulailah berfikir untuk menyelamatkan sebuah JIWA dengan men-Forward pesan ini, 
mohon luangkan sedikit waktu anda untuk ini. 
 
 
With Regards,
S. Dinesh Gopinath,
I.A.S, Director of Medical & Research Div, Chennai. 

 

Info Dasar Penyakit Menular Seks, HIV dan AIDS

Info Dasar Penyakit Menular Seks, HIV dan AIDS

Dilangsir dari www.depkes.com (Official Sites

Oleh web02

  1. Penyakit Menular Seksual (PMS):

Penyakit umumnya terjadi pada alat kelamin dan ditularkan terutama melalui hubungan seksual

  1. Beberapa organisme penyebab:
  • Bakteri : Nesseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, Treponema pallidum, Gardanella vaginalis,
  • Haemophilus ducreyi, Donavania granulomatis, Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealycum.
  • Virus : Herpes simplex, Human papilloma, Hepatitis, Cytomegalovirus
  • Protozoa : Trichomonas vaginalis
  • Jamur : Candida albicans
  • Ektoparasit : Phtirus pubis, Sarcoptes scabei
  1. Apakah PMS hanya ditularkan melalui hubungan seksual ?

Tidak, beberapa PMS juga dapat ditularkan dari ibu yang menderita ditularkan ke janin atau bayinya serta lewat kontak darah.

  1. Perilaku apa saja yang dapat mempermudah penularan PMS ?
  • Berhubungan seks yang tidak aman dengan penderita PMS (tanpa menggunakan pelindung/kondom)
  • Ganti-ganti pasangan seks
  • Pelacuran
  • Melakukan hubungan seks secara anal, karena hubungan ini mudah menimbulkan luka
  1. Apa sajakah gejala dari PMS ?
  • Keluar cairan tidak normal dan atau sakit pada atau dari vagina (keputihan)
  • Keluar cairan tidak normal dan atau sakit dari penis
  • Luka pada dan sekitar alat kelamin
  • Nyeri perut bagian bawah pada perempuan
  • Pembengkakan testis/skrotum
  • Radang mata pada bayi baru lahir
  1. Bagaimana hubungan penularan HIV dan PMS ?
  • PMS merupakan ko-faktor penularan HIV
  • Penderita PMS lebih rentan terhadap HIV
  • Penderita PMS serta HIV akan lebih mudah menularkan ke orang lain
  • Pengidap HIV menjadi rentan terhadap berbagai penyakit termasuk PMS
  • Pengidap HIV yang juga PMS akan lebih cepat menjadi AIDS
  1. AIDS ?

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala/penyakit akibat menurunnya kekebalan tubuh yang didapat dari infeksi HIV.

  1. HIV ?

HIV (Human Immuno deficiency Virus) merupakan kuman / virus penyebab AIDS.

  1. Bagaimana gejala dan tanda-tandanya ?

Menurut CDC (Center for Diseases Control and revention) Atlanta, AS, biasanya dimulai dengan demam 100,4 derajat Fahrenheit atau 38 derajat Celcius. Demam kadang-kadang disertai menggigil, sakit kepala dan perasaan lesu, serta nyeri tubuh. Pada awal penyakit mungkin terjadi gangguan pernafasan ringan. Setelah tiga sampai tujuh hari, penderita mungkin mengalami batuk kering tidak berdahak yang lama kelamaan menimbulkan kekurangan oksigen dalam darah. 10 – 20 % penderita memerlukan nafas bantuan mengunakan alat bantu nafas (ventilator).

  1. HIV/AIDS tidak menular karena :
  • Makan, minum bersama
  • Memakai peralatan makan/minum mereka
  • Bersentuhan, berjabat tangan
  • Berpelukan, berciuman
  • Hidup serumah
  • Menggunakan wc/toilet bersama
  • Berenang bersama
  • Bergantian pakaian, handuk, saputangan
  • Hubungan sosial lainnya
  • Gigitan serangga
  • HIV tidak mudah menular
  1. Apakah seorang pengidap HIV dapat dibedakan dari orang lainnya ?

Tidak! Seorang pengidap HIV terlihat biasa saja seperti halnya orang lain karena tak menunjukkan gejala klinis. Hal ini bisa terjadi selama 5-10 tahun.

  1. Apakah seorang pengidap HIV dapat menularkan dan siapa saja yang dapat tertular ?

Walaupun pengidap HIV belum menunjukkan gejala sudah dapat menularkan kepada orang lain
Siapa saja dapat tertular melalui cara tertentu, tak peduli kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksualnya.

Info Dasar Penyakit Menular Seks, HIV dan AIDS

 

Nabi Muhamad dalam Pandangan Agama-Agama Terdahulu

Nabi Muhamad dalam Pandangan Agama-Agama Terdahulu

Diambil secara mentah dari http://indonesian.irib.ir/perspektif/2007/02februari/nabi.htm

Berbagai sumber ilmu kalam dan filsafat menyebutkan banyak dalil dan bukti kebenaran nubuwwah atau kenabian Muhammad SAWW. Di antara argument terpenting ini, dalam pandangan ulama dan cendekiawan muslimin, ialah kesaksian para Nabi terdahulu dan ulama serta tokoh masyarakat zaman lalu, demikian pula ulama Ahli Kitab, berkenaan dengan risalah dan nubuwwah Muhammad SAWW. Dalam acara kita kali ini kita akan berusaha mempelajari ucapan para Nabi dan ulama di kalangan umat terdahulu berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad SAWW.

            Al-Quranul karim mengatakan:

 

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ

“Orang-orang yang mengikuti Rasulk ini, Nabi yang Ummi, yang mereka dapatkan namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.” (Al-A’raf 157).

Dalam pandangan Al-Quranul Karim, kaum dan para Nabi terdahulu berkewajiban beriman kepada risalah Nabi Besar Muhammad SAWW, dan Allah swt telah mengambil perjanjian tegas dengan mereka semua bahwa jika Nabi tersebut lahir dan muncul dengan risalahnya, maka mereka harus beriman dan menerima ajaran yang ia bawa. Berkenaan dengan perjanjian yang Allah berikan kepda para Nabi terdahulu ini, Allah swt berfirman dalam Al-Quran:

 

وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

 

Yang artinya, “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan para Nabi bahwa semua Kitab dan hikmah yang Aku berikan kepada kalian, kemudian datang kepada kalian seorang utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian, maka kalian harus beriman kepadanya dan membantunya.” Kemudian Allah berkata, “Apakah kalian berikrar dan menerima perjanjian-Ku berkenaan dengan masalah ini?” Mereka menjawab, “Kami berikrar.” Lalu Allah berkata, “Maka saksikanlah, dan Aku bersama kalian ikut pula menyaksikan.”

Tampak sekali dari gaya bahasa dalam Ayat tersebut bahwa perjanjian yang Allah buat dengan para Nabi terdahulu ini sangat tegas dan ketat; bahwa mereka akan beriman dan membantu Nabi yang dijanjikan ini, yang tak lain adalah Nabi Besar Muhammad SAWW. Pada hakekatnya, Rasul Allah Muhammad SAWW adalah Nabi penutup, yang paling tinggi dan pemimpin  semua Nabi dan Rasul. Berdasarkan berbagai riwayat terpercaya, di akherat pun seluruh umat bersama para Nabinya akan bergabung di bawah bendera Islam. Sangat dikenal kisah tentang isra’ dan mi’raj, dimana ketika Nabi Muhammad SAWW tiba di Masjid Al-Aqsha, beliau bertemu dengan para Nabi besar terdahulu, termasuk Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa alaihimussalam. Kemudian mereka melakukan salat berjamaah dimana Rasul Allah Muhammad SAWW tampil sebagai imam dan mereka semua bermakmum kepada beliau.

Imam Ali as juga pernah berkata, “Allah swt tidak pernah mengutus seorang Nabi pun, sejak Adam hingga Isa as, kecuali mengambil perjanjian dengannya bahwa jika ia bertemu dengan Nabi terakhir, maka ia dan semua pengikutnya harus beriman kepadanya dan membantunya.” Pada saat Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah di Makkah, beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah. Dalam doa dan munajatnya ini, beliau menyinggung tentang Nabi Besar Muhammad SAWW, sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 129, yang artinya, “Ya Allah, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan Ayat-Ayat-Mu kepada mereka, dan mengajarkan Al-Kitab dan hikmah serta mebersihkan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Agung dan Maha Bijaksana.”

Dalam berbagai kitab sejarah disebutkan seorang bernama Ka’ab bin Ghalib, salah seorang alim dari Ahli Kitab, yang hidup dimasa sebelum kelahiran Nabi Besar Muhammad SAWW. Dikatakan bahwa dia ini memiliki pengetahuan luas tentang ajaran tauhid Nabi Ibrahim as, juga Nabi Musa dan Isa as. Dia membaca kitab-kitab dan mempelajari ajaran-ajaran para Nabi Besar tersebut, termasuk yang berkenaan dengan berita tentang kedatangan seorang Nabi akhir zaman, dan penutup segala Nabi dan Rasul. Karena mempelajari kitab-kitab para Nabi terdahulu itulah, ia juga menyatakan beriman kepada Nabi terakhir ini, padahal Nabi tersebut belum lahir ke dunia. Kisah tentang Ka’ab bin Ghalib ini dapat dibaca dalam kitab Subulul Huda war Rasyaad, jilid satu halaman 96, juga kitab Hayaatul Quluub, tulisan Allamah Majlisi, jilid 2 halaman 62.

Hampir mirip dengan kisah Ka’ab bin Ghalib ini, ialah kisah tentang Rahib Bukhaira, yang melihat Rasul Allah SAWW ketika masih kecil. Rahib Bukhaira adalah seorang yang selalu menunggu dan menanti kedatangan seorang Nabi yang ia ketahui dari Kitab-Kitab suci para Nabi terdahulu, bahwa ia akan datang di salah satu tempat di jazirah Arab. Ciri-ciri fisik dan sifat-sifat serta perangai Nabi terakhir ini pun ia pelajari dania hafal dengan baik.

MENGHASILKAN SASTRA BERKUALITAS

 

MENGHASILKAN SASTRA BERKUALITAS*

Kajian bahasa dan gaya penceritaam sebagai unsur Intrinsik

 

Oleh:

Lubis Grafura

 

A. Sistem Sastra

            Secara harfiah menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia  (KBBI) sistem diartikan sebagai seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk sebuah totalitas. Sementara pengertian sastra sendiri oleh Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan/sebuah kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang dimaksud system sastra adalah segala elemen sastra yang secara bersama-sama saling mengisi dan membentuk sebuah keterpaduan.

Sistem sastra meliputi jenis sastra, cabang ilmu, bentuk sastra, teks dan komunikasi ilmu sastra, ilmu teks, genre sastra, dan unsur-unsur yang membentuk karya sastra baik dari dalam maupun yang dari luar. Untuk mempermudah pemahaman dalam makalah ini, sengaja sistem sastra hanya dibedakan menjadi empat bagian saja. Keempat sistem tersebut adalah (1) cabang ilmu sastra, (2) bentuk sastra, (3) jenis sastra, dan (4) unsur sastra.

            Cabang ilmu sastra dapat dibagi lagi menjadi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Ketiga cabang ilmu ini saling berkaitan erat sebagai perkembangan dan telaah sastra. Ketiganya adalah satu kesatuan yang saling berkaitan.

            Bentuk sastra dalam makalah ini dibedakan menjadi sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan adalah sastra yang biasanya dituturkan dari mulut ke mulut. Biasanya sastra yang bersifat lisan ini adalah anonim. Artinya, sastra tersebut tidak ada hak milik. Setiap orang bebas menceritakan secara runtutan kronologis maupun menambahi, bahkan mengurangi. Sastra tulis seperti yang kita ketahui sekarang ini telah berkembang menjadi berbagai jenis.

            Jenis sastra sangat bermacam-macam. Dalam makalah ini hanya dibatasi dua, yaitu prosa dan puisi. Hal ini hanya untuk mempermudah penjabaran semata. Sementara menurut KBBI bagian sastra dapat mencangkup prosa, puisi, drama, epik, dan syair.

            Unsur sastra meliputi dua aspek, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Adapun perincian unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam. Begitu pula unsur ekstrinsik yang membangun karya sastra dari luar. Kedua unsur ini selalu ada di dalam sebuah karya sastra. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Kedua unsur ini pula yang biasanya digunakan untuk menelaah sastra. Unsur-unsur ini pula yang sering menjadi bahan pengajaran di sekolah-sekolah, bahkan untuk soal di Ujian Akhir Nasional (UAN).

            Unsur intrinsik dapat berupa tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar, dsb. Unsur intrinsik ini membangun satu kesatuan sebuah sastra, khususnya prosa. Unsur-unsur tersebut dapat dianalisis baik secara tersirat maupun tersurat tanpa harus melibatkan pihak pengarang.

            Unsur yang untuk mengetahuinya harus melakukan observasi perbandingan dan mempelajari riwayat hidup penulis inilah yang tergolong dalam unsur ekstinsik. Artinya, kalau kita mau menilai sebuah karya sastra, kita juga harus mempertimbangkan konteks penulis atas karya yang dibuatnya. Apa latar belakangnya, bagaimana kehidupan sosialnya, bagaimana lokalitasnya, dsb.

Kedua unsur inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. Unsur inipun dibatasi  hanya pada unsur intrinsik yang meliputi bahasa dan gaya penceritaan beserta subunsur yang menyertainya. Hal ini disebabkan unsur dan subunsur sastra itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, unsur intrinsik salah satunya. Unsur-unsur inilah yang perlu dikuasai agar seorang penulis tidak hanya pandai berimajinasi saja, melainkan juga menyusun kronologis cerita yang menarik secara teknis.

Secara umum, makalah ini akan membahas bagaimana konotasi bahasa itu berperan dalam sastra dan bagaimana aliran sastra itu menjadi bagian penting untuk diketahui dalam menulis karya sastra. Oleh karena itu, makalah ini mengambil judul “Menghasilkan Sastra Berkualitas: Kajian bahasa dan gaya penceritaam sebagai unsur Intrinsik”

 

B. Konotasi Bahasa

            Apabila kita menyinggung mengenai konotasi bahasa, berarti kita masuk ke dalam dua pokok bahasan. Pertama adalah majas atau gaya bahasa dan yang kedua adalah makna. Makna di sini dapat berarti perluasan, penyempitan, peyorasi, ameliorasi, konotasi, denotasi, atau sinestesia. Kita tidak akan membahas banyak hal tentang istilah-istilah tersebut, melainakan hanya akan mencuplik beberapa bagian dari contoh-contoh yang sudah ada.

            Ketika kita menulis sebuah prosa atau puisi, secara tidak sadar, kita telah mempelajari berbagai macam gaya bahasa. Gaya bahasa atau sering disingkat majas sebenarnya hanya terdiri dari empat. Keempat majas tersebut adalah majas perbandingan, majas sindirian, majas penegasan, dan majas pertentangan.

            Dalam menulis sastra, seorang penulis harus menguasai dan memahami penggunaan majas yang tepat. Menguasai dan memahami dalam hal ini tidak harus menghafalkannya. Hal ini dapat berarti bahwa seorang penulis yang hafal gaya bahasa belum tentu dapat menerapkannya dalam tulisan.

            Menguasai dan memahami gaya bahasa, ada baiknya penulis juga mengembangkan gaya bahasa dari yang sudah ada. Hal ini berarti kita harus melakukan eksplorasi kepada gaya bahasa yang sudah ada. Eksplorasi ini dilakukan agar seorang penulis tidak terjebak pada ke-klise-an penggunaan gaya bahasa.

            Ambilah contoh gaya bahasa personifikasi. Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati , sehingga seolah-olah memiliki sifat seperti manusia atau benda hidup (Rustamaji, 2005: 105). Gaya bahasa personifikasi merupakan salah satu majas perbandingan yang sering sekali digunakan dalam berbagai tulisan sastra. Memang belum ada survai atau penelitian tentang kuantitas pemakaian majas terbanyak dalam karya sastra, tetapi secara sepintas kita dapat melihat betapa seringnya gaya bahasa personifikasi diaplikasikan ke dalam berbagai karya.

            Berikut adalah contoh penggunaan personifikasi.

               Aku berdiri di pinggir pantai. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia saat ini. Aku tak bisa melukiskan perasaanku secara tepat detik ini. Aku hanya dapat memandang ombak yang bergulung-gulung sebelum akhirnya pecah di antara kedua kakiku.

 

            Frase ombak yang bergulung-gulung sebelum akhirnya pecah adalah salah satu penggunaan majas personifikasi. Entah sudah berapa puluh personifikasi yang sama untuk ombak. Ombak selalu diperrsonifikasikan bergulung-gulung atau berlari. Seorang penulis harus berani melakukan eksplorasi dan eksperimen terhadap alat yang dimilikinya, yaitu gaya bahasa.

            Frase yang menyatakan personifikasi tersebut dapat diubah menjadi majas asosiasi. Adapun pengertian asosiasi adalah membandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat. Lantas, paragraf di atas dapat disulap mejadi seperti berikut.

Aku berdiri di pinggir pantai. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia saat ini. Aku tak bisa melukiskan perasaanku secara tepat detik ini. Aku hanya dapat memandang ombak yang terlipat seperti ibu menyisir permukaan keju dengan sendok.

 

            Eksploitasi semacam itulah yang harus bernai dilakukan oleh para penulis.

 

C. Aliran Sastra  

1. Beberapa aliran dalam puisi

a). Puisi Absurd

            pot apa pot itu kaukah pot aku

            pot pot pot

            yang jawab pot pot pot potkaukah kau itu

            yang jawab pot pot pot potkaukah pot aku

            potapa potitu potkaukah potaku

            pot

“pot” karya Sutardji Calzoum Bachri

 

b). Puisi Sufi

Tuhan,

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apiMu

Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainMu

“Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi W.M.

c). Puisi Mbeling

            Puisi mbeling muncul pada tahun 1970-an. Kata tersebut digunakan oleh Remy Silado. Puisi ini biasanya menekankan kepada kejenakaan. Sekalipun demikian, puisi tersebut terkadang memberikan makan kepada pembacanya.

 

 

 

2. Beberapa aliran prosa

Seperti halnya dalam seni lukis, seni sastra pun memiliki aliran yang kurang lebih sama, yaitu impresionisme, realisme, naturalisme, romantik, simboloik, dan sebagainya. Seorang pengarang tidak perlu terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Hal ini dikarenakan istilah-istilah tersebut masih diperdebatkan. Namun, sebagai dasar dari pengetahuan, tentang bentuk aliran kesusastraan, maka di bawah ini diberikan beberapa perumusan yang lazim dipakai. Disebutkan juga oleh Mochtar Lubis (1997) bahwa sebutan seperti romantik, realisme, impresionisme terkadang dapat dikaburkan batasan-batasannya seperti romantis-realistis, simbolis-naturalis, dan sebagainya.

 

Impressionisme

            Dalam berbagai cabang kesenian, impressionisme diartikan dalam garis besar sebagai pemberi kesan – kesan panca indera. Mochtar Lubis (1997) merumuskan impressionisme sebagai penjelmaan pikiran, perasaan, dan bentuk-bentuk secara sindirian. Misalnya sebuah cerita pendek (cerpen) yang menulis dengan gaya ini, bisalah disebutkan bahwa cerpen tersebut tidak dengan langsung menjelaskan sepenuhnya isi dan maksud cerita ini, tetapi dari totalitas cerita tersebut orang dapat mengambil kesimpulan apa yang dimaksudkan oleh pengarang. Karangan tersebut dapat berupa kalimat-kalimat yang di dalamnya tidak selesai, dialognya putus-putus, namun secara totalitas, karangan tersebut menunjukkan gambaran yang penuh.

 

Romantik

            Ketika kita menyebutkan kata romantik, tentu apa yang sedang terlintas adalah terang bulan, bunyi angina mengelus dedaunan, ombak pecah di karang, cerita gadis dan jejaka yang berakhir bahagia, dan sebagainya. Memang betul juga, Mochtar (1997) pun mengakuinya. Beliau menyebutkan bahwa aliran romatik adalah cara pengarang yang mewujudkan penghidupan dan pengalaman manusia, lantas meletakkan tekanan yang berat terhadap apa yang lebih baik dan lebih indah.

 

Realisme

            Realisme adalah apa yang dilihat oleh pengarang, di luar itu tidak termasuk realis. Artinya, penulis hanya menunjukkan manifestasi jasmani (materil) dan yang kelihatan dari luar kehidupannya. Boleh dikatakan bahwa penulis hanya melihat simptom, bukan sebab musabab kehidupan.

            Dalam realisme, manusia dilukiskan sebagai makhluk yang dikuasai oleh alam kebendaan di sekelilingnya dan memberi reaksi-reaksi terhadap alam kebendaan. Bertolak dari ini, dapat disimpulkan bahwa realisme tidak mempedulikan kenyataan-kenyataan alam penghidupan manusia lain.

 

Naturalisme

            Batas antara realisme dan naturalisme ini sangat kabur. Sama halnya dengan naturalisme pengarang melukiskan dengan cermat apa yang dilihat, dirasa oleh panca indera. Naturalisme meletakkan manusia sebagai makhluk alam, dengan hasrat dan kekurangan-kekurangan manusia.

            Dalam KBBI (1989: 610) disebutkan bahwa naturalisme adalah karya seni rupa yang memiliki sifat kebenaran fisik dari alam. Disebutkan juga bahwa naturalisme adalah ajaran yang tidak mengakui kekuatan lain selain alam, apa adanya.

 

Ekspressionisme

            Dalam hubungannya ralisme dan naturalisme ini, disebutkan juga istilah ekspressionisme. Karangan ekspressionisme semua apa yang menjadi tekanan batinnya menyembur dari dalam jiwa pengarang sendiri. Di dalam ekspressionisme, alam benda dikalahkan oleh alam jiwa dan manifestasi kejiwaan-kejiwaan.

 

Simbolisme

            Aliran ini banyak dipakai pada angaktan kesuastraan Jepang. Hal ini dikarenakan pada saat itu, segala bentuk perjuangan (melalui sastra) tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, para pengarang mencoba berjuang dengan menggunakan simbol-simbol.

            Sebuah karangan yang menggunakan simbol, acapkali simbol tersebut diulang-ulang. Disebutkan pengarang, lantas di dorongkan ke tengah-tengah perhatian pembaca. Namun, bisa juga simbol itu sesuatu yang dikandung di dalam keselauruhan cerita.

 

 

 

 

 

D. Kesimpulan

            Secara umum, sistem sastra dapat diterjemahkan menjadi segala unsur yang bertalian dengan sastra dan menunjang satu sama lain untuk keutuhan sastra itu sendiri. Untuk menghasilkan sastra yang berkualitas, dalam makalah ini, disimpulkan bahwa seorang penulis tidak perlu mempelajari “teori sastra” terlebih dahulu sebelum dirinya memiliki produk sastra. Kebalikannya, pengarang yang sudah menghasilkan karya, lambat laun, dirinya akan menguasai apakah “ilmu sastra” itu. Lantas, pengarang tersebut akan mengidentifikasikan karya-karyanya dengan teori yang ada. Dari sinilah, tanpa sengaja, pengarang tersebut dapat belajar tentang “teori sastra” dan secara perlahan akan menguasai “bagaimana sistem sastra secara keseluruhan itu”

 

*) makalah ini dibacakan pada Seminar Sastra di Universitas Islam Negeri Malang pada tanggal 3 Maret 2007.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Lubis, Mochtar. 1997. Sastra dan Tekniknya (hal.87-92). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

 

Pradopo, Joko Rachmat. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

 

Pusat Bahasa Depatemen Pendidikan Nasional. 2000. Buku Praktis Bahasa Indonesia: 2. Jakarta: Pusat Bahasa.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

 

Fenomena Tukul

Fenomena Tukul


Kita kembali ke lap…top!

Disetiap pembicaraan baik di kantor, di kafe atau warung, di kampus, sekolah, bahkan anak TK pun sudah biasa mengucapkan kalimat tersebut. Bicara tentang Tukul, tak bisa kita lepaskan dari peran televisi. Peran televisi ibarat istilah klise, yaitu bagai pisau. Artinya, televisi dapat berperan positif dan sebaliknya.

             Apabila kita kembalikan ke peran dasar televisi adalah sebagai media pendidikan. Kalau seluruh televisi di Indonesia bersedia menyiarkan acara-acara yang bertendensi ke pendidikan, tentu moral bangsa ini dapat ditata mulai dari sini. Para programer televisi selalu mengelak dan berlindung di balik alasan “seni” kalau acara mereka dianggap jauh dari nilai-nilai moral.

            Televisi swasta yang selalu mengejar reting iklan telah menghasilkan acara televisi yang “sembrono”. Asal jadi. Sebagai contoh di sini adalah sinetron yang berkepanjangan dan tak berkesudahan. Hampir selalu dipastikan sinetron di Indonesia selalu berkutat pada perebutan harta, perselingkuhan, pengkhianatan, dsb. Begitu pula dengan sinetron-sinetron yang berbumbu “edukasi basis Islami”. Kalau memang diniatkan sebagai sinetron “eduksi basis Islami” kenapa musti ada adegan pemerkosaan atau menonjolkan sensualitas.

Kita kembali ke lap…top!

            Boleh dibilang Tukul adalah pelawak yang sedang naik daun tahun ini. Kepandaiannya dalam mengemas acara menjadikannya sesosok pelawak yang cerdas. Cerdas dalam hal ini berarti ketika dirinya cukup pintar memberikan umpan balik kepada lawan. Kalau Tukul kalah dalam berargumen, ia sering menganekdotkan diri sendiri sambil berkata “Puas? Puas?”. Kembali para penonton tertawa.

            Tak jarang Tukul menertawakan diri sendiri, sebagai eksploitasi kelucuan. Mulut, bentuk bibir, raut muka, apapun ekspresinya selalu membuat para penonton mengakak. Kelebihan ini justru menjadi bumerang bagi esensi program Empat Mata.

            Betapa tidak, topik yang diangkat menjadi buram. Pesan yang hendak tersampaikan justru kabur oleh lawakan. Tak jarang pula, para “bintang tamu” menjadi kikuk di depan Tukul. Apalagi hampir setiap pertanyaan tak dapat dijawab secara tuntas. Lantaran Tukul sudah menebak jawabannya lewat ekspresi yang mengocok perut para penonton.

Kembali ke lap…top!

            Tukul, yang konon, honornya mencapai 20 juta setiap kali tayang adalah sosok yang sederhana. Kesederhanaan inilah yang musti ditunjukkan kepada publik sebagai media edukasi. Hal ini membawa kembali ke peran televisi. Harusnya, para selebritis yang menjadi “panutan” pemirsa televisi tidak “mendidik” mengenai keglamouran, hidup boros, dan bersemangat ketika membicarakan produk luar negeri.

            Tukul adalah sosok selebritis yang musti ditiru kelebihannya. Pandai membawa suasana, murah senyum, dan hidup sederhana. Nilai-nilai itulah yang mustinya kita tiru dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya Tukul lebih menonjolkan kelebihannya ini daripada sekedar guyonan yang sepintas lalu.

            Empat Mata sudah menjadi totonan “wajib” bagi ribuan mata di Indonesia. Mungkin, selanjutnya, televisi swasta yang lain juga akan mengikuti ketenaran acara ini. Konsep yang sama dengan pengemasan yang berbeda barang kali. Seperti halnya dulu, dapat kita amati maraknya berita kriminal yang akhirnya hampir setiap stasiun televisi swasta menyiarkannya. Lantas, selanjutnya diikuti, cerita misteri, sinetron misteri, reality show, hingga saat ini sinetron yang bernuansa Islami. Kesemuanya itu adalah tayangan acara yang memiliki rating tinggi.

            Televisi seharusnya mengimbanginya dengan acara-acara pendidikan yang bermutu selain mengejar rating. Sebagai contoh di beberapa stasiun tv swasta ada yang menayangkan keindahan bahari, kekayaan alam nusantara, dsb. Acara-acara semacam ini patut untuk dirintis sebagai pemersatu bangsa dan mewujudkan rasa nasionalisme.

            Nah, mungkin Tukul dapat mengawali perannya sebagai pelawak yang selain bisa menghibur juga bisa mendidik. Mungkin pula, Tukul nanti akan mengundang para “bintang tamu” dari seantero nusantara untuk menasionalismekan persatuan bangsa. Hal tersebut untuk mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia adalah Sabang dari Merauke (dikurangi Timor-Timor dan dua pulau yang direbut Malaysia). Itulah peran Tukul yang diharapkan bangsa, daripada hanya sekedar mempopulerkan frase “kembali ke lap…top!”

Lubis Grafura

Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Pengamat Sastra di Bengkel Imaji Malang

Tuhan dalam Personifikasi

Tuhan dalam Personifikasi

SALAH seorang siswa kelas 3 SMAbertanya kepada saya “Pak, apakah kita boleh mempersonifikasikan Tuhan?” Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang mengajar matapelajaran bahasa Indonesia, yaitu tentang gaya bahasa (majas).

            Sejenak saya teringat tentang cerpen Langit Makin Mendung (1968) karya Kipanjikusmin. Cerpen yang yang melahirkan buku “Heboh Sastra 1986” oleh H.B. Jassin tersebut menjadi polemik lantaran melakukan personifikasi terhadap Tuhan. Selain itu juga mempersonifikasikan secara sinisme malaikat dan para rosul.Hal inilah yang menjadikan dasar polemik, khususnya oleh umat Islam dan para sastrawan.

            Adapun pembelaan Jassin terhadap karya tersebut adalah pengarang memiliki kebebasan yang luas dalam mengapresiasikan segala bentuk ide atau gagasannya. Selain itu, Jassin juga mengetengahkan alasan bahwa memahami sebuah karya sastra tidak dapat secara parsial. Artinya sebuah karya sastra tidak dapat dipahami hanya dengan sepotong-sepotong, melainkan secara keseluruhan. Alasan lain, Jassin menyatakan bahwa gaya bahasa personifikasi terhadap Tuhan pun juga terdapat dalam Al-Quran.

            Di dalam Al-Quran, Allah juga dipersonifikasikan sebagai zat yang menduduki arsy. Di samping itu juga terdapat frase Tuhan Maha Penyayang, Maha Pengasih, dsb. Menurut hemat saya, kata-kata tersebut adalah sah sebagai personifikasi. Hal ini disebabakan bahwa manusia tidak memiliki ungkapan khusus untuk Tuhan.

Alasan tersebut tak lebih dari sekedar memudahkan pemahaman manusia sebagai sosok zat yang Maha dari Segala Maha. Oleh karena keterbatasan-keterbatasan inilah, termasuk keterbatasan bahasa, akhirnya manusia mempermudahnya dengan mempersonifikasikannya. Bukankah di dalah Al-Quran sendiri dikatakan bahwa kalaupun air di lautan dijadikan tinta, maka tak akan cukup untuk menuliskan Rahmat Tuhan.

            Ada beberapa garis besar dalam cerpen Langit Makin Mendung yang menjadikan cerpen ini heboh. Pertama, adanya penyebutan kata “pensiun” kepada para nabi. Kedua. Tuhan digambarkan sebagai Zat yang tidak tahu menahu. Ketiga penghinaan kepada Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril yang mengendarai buroq dan bertabrakan dengan pesawat sputnix milik Rusia. Buroq digambarkan hancur menjadi debu, sementara Nabi Muhammad dan Jibril tersangkut di awan.

            Bagi saya, penggambaran yang dilakukan oleh Kipanjikusmin adalah berlebihan. Dengan kata lain, personifikasi yang dimaksudkan adalah tidak tepat. Ketidaktepatan inilah yang memicu adanya “Heboh Sastra” pada tahun cerpen tersebut terbit di Majalah Sastra No.8 Tahun VI, bulan Agustus. Ketidaktepatan itu pulalah yang mendorong saya untuk berasumsi bahwa Kipanjikusmin telah melakukan pelecehan tokoh suci agama Islam secara tidak langsung. Pendek kata, personifikasi Tuhan dapat dilakukan apabila dalam batas-batas kewajaran

Lampiran cerpen LMM

(majalah Sastra, th. VI. No. 8, edisi Agustus 1968./sumber: dok. PDS H.B Jassin)

LANGIT MAKIN MENDUNG

Lama-lama mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di sorga loka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang bisa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal dan kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia….Dipanggil penanda-tangan pertama: Muhammad dari Madinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad S.A.W.

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di sorgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu. Buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana, bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang maha kaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

“Tengok permadani sutera yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladdin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”

Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. Ia ingat waktu sowan ke sorga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenarnya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset.” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk sorga.”

“Ah, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, Kau memang Maha Tahu.”

“Kemarau lewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh ” kata Tuhan sambil meletakkan kacamata model kuno dari emas yang diletakkannya di atas meja yang terbuat dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan sinar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat-Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” (kening sedikit mengerut)

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan? Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka?”

Muhammad S.A.W nampaknya gusar sekali. Sambil tinjunya mengepal ia memberi perintah,

“Usman, Umar dan Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jeddah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba (turun ke bawah- red )ke bumi?”

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Soleman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai polisi-polisi dan hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibrail serta supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” kata Muhammad sambil bersujud penuh sukacita.

***

Sesaat sebelum mereka berangkat sorga sibuk sekali. Timbang terima jabatan ketua kelompok grup muslimin di sorga telah ditandatangani naskahnya. Abu Bakar tercantum sebagai pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Malaikat Jibrail bertanya dengan takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Madinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Disini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak terhingga.”

Seluruh penghuni sorga menghantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut dan bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad S.A.W harus berjabat tangan. Nabi Adam a.s sebagai pinisepuh tampil depan mikropon. Dikatakan bahwa penurbaan Muhammad merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni sorga dan bumi.

“Akhir kata Saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad S.A.W harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, Saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif agar mereka semua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad! Hidup persatuan Rakyat Sorga dan Bumi!”

“Ganyang!!!” (Berjuta suara menyahut serempak).

Muhammad segera naik ke punggung buraq – kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mi’raj. Secepat kilat buraq terbang ke arah bumi dan Jibrail yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang. Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” tanyanya keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku?” (Gembira)

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang. Semoga Tuhan mengampuni mereka. Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo buraq!”

Buraq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibrail memberi isyarat sputnik berhenti sejenak. Namun, sputnik Rusia memang tidak ada remnya. Tubrukan tak dapat dihindarkan lagi. Buraq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala-kepala botak di lembaga aeronautic di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi…” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibrail terpental ke bawah. Mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang-sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Bisik Muhammad sedih. Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibrail, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi baigan bumi yang paling durhaka, Jakarta namanya. Ibu kota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas buta huruf.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodom dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, Paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 90% dari rakyatnya orangnya Islam juga.”

“90% (sambil wajah Nabi berseri), 90 juta ummatku! Muslimin dan muslimat tercinta. Tapi tak kulihat masjid yang cukup besar. Di mana mereka bersembahyang Jum’at?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abu Bakar di sorga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh! Gilakah mereka?”

“Memang aneh!”

“Ayo Jibrail, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku selalu rindu kepada Madinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini. Rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya Paduka nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah.” Sahutnya dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu?”

“Umat Paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu: Nasakom!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsens!”

“Ya, Islam terancam. Tidakkah Paduka prihatin dan sedih?”

(Terdengar suara iblis, disambut tertawa riuh rendah)

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betatapun Islam, ia ada dan tetap ada walau bumi hancur sekalipun!”

Suara nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi; di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, kebun karet dan berpusat-pusat di laut lepas. Gaungnya terdengar sampai ke sorga disambut takzim ucapan serentak :

“Aamin, amin, amin.”

Neraka guncang. Iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Baiklah, mari kita berangkat ya, Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri kanannya. Jibrail menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influenza, pusing-pusing dan muntah-muntah. Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip. Kata orang sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen naspro mati kutu. Hanya apotik-apotik Cina dan tukang catut orang dalam leluasa mencomot jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bhakti menulis: di Bangkok 1000 orang mati kena flu tapi terhadap flu Jakarta Menteri Kesehatan bungkam. Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkam dipanggil menghadap Presiden alias PBR (Pemimpin Besar Revolusi).

Zeg, Jenderal. Flu ini bikin orang mati apa tidak?”

“Tidak, Pak. Komunis yang berbahaya, pak.”

“Ah, kamu. Komunisto phobi ya?”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya, flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-Nyonya Menteri-sampai Presiden diterjang semna-mena. Pelayan istana geger. Menko-Menko menarik muka sedih dan pilu, Panglima terbalik petnya karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejab mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking:

“Mohon segera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, pemimpin besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgahsananya tersenyum-senyum. Dengan wajah penuh welas asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratul maut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara. Terlampir obat kuat akar Jinsom umur 1000 tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao.”

(Pada tabib-tabib ia titipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit.)

Rupanya berkat khasiat obat kuat si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap syukur pada Tuhan yang telah mengkaruniai seorang sahabat sebaik kawan Mao. Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kiai-kiai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara, pers Nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (hadirin tertawa mentertawakan kebodohan Nekolim). Wah, Saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-mudu (keburu jamuran/keburu nunggu sampai berjamur-red) melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia akan gampang digilas, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negerinya Tengku.

Padahal, (sambil menunjuk dada) lihat badan saya, Saudara-saudara! Soekarno tetap segar bugar. Soekarno belum mau mati, kataku. (tepuk tangan gegap gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan) Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum pojok Nekolim Malaysia hancur lebur jadi debu!” (tepuk tangan lagi)

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang sudah tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng yang spesial diundang. Patih-patih dan Menteri tak mau kalah gaya. Tinggal para hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.

Dokter pribadinya berbisik,

“Tak apa. Baik buat ginjalnya. Biar kencing batu PJM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi, dong Pak!” (gadis-gadis merengek)

“Baik, baik. Tapi kalian yang mengiringi, ya!” (sambil bergaya burung onta)

Siapa bilang Bapak dari Blitar

Bapak ini dari Prambanan

Siapa bilang rakyat kita lapar.

Malaysia yang kelaparan…!

Mari kita bergembira! (Nada-nada sumbang bau aroma champagne).

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik seorang Menteri,

“Gembira sekali nampaknya dia.”

“Itu tandanya hampir mati.”

“Mati?”

“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”

“Tapi kami belum siap.”

“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”

“Tunggu saja tanggal mainnya!”

“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram (berpendar-red) satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam Kembang Kacang yang dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.

“Kawan lama Presiden.” (bisik orang-orang)

Tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas. Beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir…Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah. Anjing-anjing istana mendangkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!

***

Desas-desus Soekarno hampir mati-lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api di kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina. Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibrail yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas-bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Kata Jibrail sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku.” Kata Muhammad sambil mendengus kesal.

“Apa benar yang Paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk ummatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Ah, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu jibrail. Mari kita keliling lagi. Betatpun durhaka kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka tercium asap knalpot dari beribu mobil. Diatas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum. Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas gerbong-gerbong kereta daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal asyik berdandan. Bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan. Di bawah gerbong beberapa sundal tua mengerang-lagi palang merah-kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta menghisap nanah. Senja terkapar menurun diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, hasil main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik main pompa di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan tak acuh dihimpit, sibuk cari tuma dan nyanyi lagu melayu. Hansip repot-repot mengontrol, cari uang rokok.

“Apa yang Paduka renungkan?”

“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” (menggelengkan kepala).

“Mungkin pengaruh ajaran Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.

“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai disini? Berzina, langkah kotor bangsa ini. Batu mana batu!”

“Batu-batu mahal disini. Satu kubik dua ratus rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”

“Cari di sungai dan di gunung-gunung!”

“Batu-batu di seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan mesjid saja masih saja kekurangan. Paduka lihat?”

“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” (Nabi merentak).

“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”

“Astaga! Sudahlah Iblis menguasai dirimu Jibrail?”

“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba.kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :

Pelacur-pelacur kota Jakarta

Naikkan tarifmu dua kali

dan mereka akan kelabakan

mogoklah satu bulan

dan mereka akan puyeng

lalu mereka akan berzina

dengan istri saudaranya

“Penyair gila! Cabul!”

“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka. (Muhammad membisu, wajah muram durja). Di depan toko buku Remaja suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli mentertawakan kebodohannya sendiri: hari nahas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari nahas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan. Tapi itu rutin belaka. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana. Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.

“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”

“Orang tadi mencuri tidak?” (pandangan Nabi penuh selidik).

“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”

“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

“Sama jahat keduanya pasti!”

“Dunia sudah berobah gila!” (mengeluh).

“Ya, dunia sudah tua!”

“Padahal kiamat masih lama.”

“Masih banyak waktu ya, Nabi!”

“Banyak waktu untuk apa?”

“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”

“Betul-betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”

Kedua elang jelmaan terbang Nabi dan Jibrail itu terbang di gelap malam.

“Jibrail! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak…”

“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”

Sebentar kemudian diatas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.

“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”

“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”

“Sebetulnya siapa dia menurut kamu?”

“Dia hanya Togog, begundal-begundal raja angkara murka.”

“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”

“Dokumen.”

“Dokumen?”

“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”

“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”

“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”

“Ooh.”

Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu. Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.

“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengraman baginda raja.”

Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.

“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”

Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya. Pintu markas BPI (badan pusat intelijen) ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!

“Apa kabar Yang Mulia Togog?”

“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”

“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris?”

“Baik, baik yang mulia” (pura-pura ketakutan)

“Nah, kan begitu. BPI Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”

“Betul, Pak; eh, yang mulia.”

“Jadi kapan selesai?”

“Seminggu lagi, pasti beres.”

“Kenapa begitu lama?”

“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”

“Bagus, kau rajin meng-up-grade diri. Soalnya begini saya mesti lempar copy-copy itu depan hidung para panglima waktu briefing dengan PBR (Pemimpin Besar Revolusi-red). Gimana?”

“Besok, juga bisa asal uang lembur dibayar dimuka.”

Togog meluruskan seragam dewanya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.

“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”

“Siapa mereka?”

“Siapa lagi? Natuurlijk de zogenaamde ‘our local army friends’. Jelas toh?”

Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas Badan Pusat Intelijen secara gelap sejak bertahun-tahun. Syhadan, desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kekerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.

“Soekarno hampir mati lumpuh; Jenderal kafir mau kup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”

***

Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit Cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.

Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.

Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu beruda di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.

“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” (PBR marah-marah).

“Ah, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya jimat tulen.”

“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”

“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”

“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”

“Lebih dari itu! Jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”

“Apa katanya?”

“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid!”

“Ah, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel Menko Hankam-Kasab. Dia tidak berbahaya lagi.

“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”

“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA campur adukkan?”

“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita nuruti kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”

“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”

“Kenapa begitu?”

“Formil kita berhadapan dengan Inggris Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”

“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRT?” (RRT= Republik Rakyat Tjina; ejaan lama dari ‘Cina’-red).

“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “

Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran. Kiriman bom atom, upah mengganyang Malaysia tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. PBR naik pitam.

“Togog, panggil Duta Cina kemari, sekarang!”

“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”

Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia Cuma pakai piyama mulutnya berbau ang ciu dan daging babi.

“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rezeki nih!” (Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya).

“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti toh?”

“Buat apa bom atom, sih?” (Duta Cina menghafal kembali instruksi dari peking. Tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Ah, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”

“Gimana ini, Togog?”

“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini.” (Togog mendongkol).

“Jelasnya?” (tanya PBR dan Duta Cina serentak).

“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk).

“Dan sampai sekarang pemerintahmu Cuma nyokong dengan omong kosong!”

“Kami tidak memaksa, bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”

“Tak mungkin!” (PBR meradang). Betul or tidak, Gog?”

“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”

“Nekad bagaimana?” (Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.)

“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-Cina WNA.” (menggertak).

“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”

“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”

“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”

PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkulan.

“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”

“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”

“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”

“Maaf PJM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRT.”

“Yani ragu-ragu?”

“Begitulah. Sebba PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”

“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”

“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”

“Bagaimana itu?”

“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”

Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisa buatan Togog. Hari berikutnya berkicaulah Togog depan rakyat jembel yang haus sensasi. Seperti penjual obat pinggir jalan, ia sering lupa mana propaganda jiplakan dan mana hasil gubahan sendiri.

“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PJM Presiden/PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah mengkomando barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.

“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”

Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap  atas kekurangajaran nekolim.

Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempaun-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.

Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.

Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti milik politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.

“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”

“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”

“Pak Yani, tentu.”

“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”

“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” (Suara sember.)

“Untung menteri luar negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”

“Dia nggak takut mati?”

“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup-hidup. Berapa perawan dia ganyang!” (suara sember menyela lagi).

Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.

***

Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.

“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang: Jenderal-Jenderal asyik ngobyek cari rezeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong. Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya textil, korek api, senter, sandal, Pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.

Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot dan bahkan kadal, obat eksim paling manjur.

“Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini Cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”

“Itu Pak Leimena disana (menunjuk seorang kurus kering) dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”

Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan potretnya sekali. Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di Hotel Indonesia. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tidak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.

Namun rkayat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang. Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***

Nilai UAN dan Korupsi yang Makin Tinggi

Nilai UAN dan Korupsi yang Makin Tinggi

 

Pertanyaan:

YAHOO.Shortcuts.hasSensitiveText = true; YAHOO.Shortcuts.doUlt = false; YAHOO.Shortcuts.location = “us”; YAHOO.Shortcuts.lang = “us”; YAHOO.Shortcuts.document_id = -176188549; YAHOO.Shortcuts.document_type = “”; YAHOO.Shortcuts.document_title = “”; YAHOO.Shortcuts.document_publish_date = “”; YAHOO.Shortcuts.document_author = “”; YAHOO.Shortcuts.annotationSet = { lw_1173144143_0: { text: ‘gie_gurlzmutz@yahoo.com’, startchar: 688, endchar: 710, weight: 1, type: ['shortcuts:/us/instance/identifier/email_address']} }; YAHOO.Shortcuts.overlaySpaceId = “97546169″; YAHOO.Shortcuts.hostSpaceId = “97546168″; dUh kK yanG caeM,,, emg bnr yuphz gosip klo UAN tch soal’a beda”,, jd gini antara bngku dpan n blkg g sma,, mkn repot dunk!!!!!!!!!!!!!!!!! bnr g????

K mnta bocoran Soal MTK n B. Ing,,, oYa pMrnTah tch knpa doyan bgt nyiksa masyarakat’a??? kta’a biar negara mju lah mkannya nilai UAN diTinggiin pdhal pmerintah ja mash bnyaK bgT yg KORUPSI,,,,, Bwt Depdiknas tolong dunk ada remedialnya, knp ko repot syi, g ush ikt” luar negeri dulu, ursn dch msyarakat n pendidikan jgn bisanya naekin nilai mulu,, oY KK yg caem, please ya kisi”nya akurat,tajam, dan terpercya g????

 

ReplY pLease

gie_gurlzmutz@yahoo.com

Jawaban:

Dear Anggi Rizki Fajarani Nitiamidjaya,

Apa yang Dik Anggi rasakan itu hampir dirasakan oleh siswa tingkat SMP hingga SMA. Dan itu sangat wajar. Pemerintah yang hendak meningkatkan mutu pendidikannya, saya rasa adalah sebuah komitmen yang perlu kita dukung, kita hargai. Lantas, kita jalani sepenuh hati. Kita musti berfikir positif bahwa kebijakan pemerintah adalah sepenuhnya digunakan untuk kebaikan masyarakat juga. Dalam hal ini adalah pendidikan.

Namun, kebijakan untuk membuat soal tidak sama antara satui bangku dengan bangku yang lainnya, saya rasa adalah kebijakan yang kurang tepat. Bagi saya, kebijakan yang semacam itu sudah memberikan pemaknaan bahwa guru/pemerintah sudah tidak percaya lagi kepada siswa. Kalau hal ini terus berlanjut, bagaimana siswa dapat juga menghargai guru atau pemerintah.

Kebijakan yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk pendidikan ke depan adalah memberikan rasa jujur mulai dari tingkat SD atau TK. Ini pun tak terlepas dari dukungan para guru dan wali murid. Mulailah sikap ini dari hal-hal yang terkecil. Misalnya, ketika ulangan harian, kita sebagai guru, seharusnya memberikan kebebasan kepada siswa. Tidak perlu tas ditaruh di luar, tidak ada alas untuk lembar jawaban, dsb. Guru seharusnya memberikan pengarahan apa makan dari ujian. Hasil memuaskan sebuah ujian bukanlah sesuatu tujuan akhir. Proses untuk menjadi tahu inilah yang perlu dikembangkan dari saat ini.

Hal tersebutlah yang menggelitik saya memberikan judul tulisan ini Nilai UAN dan Korupsi yang Makin Tinggi. Secara asumsi saja, bahwa korupsi di Indonesia ini adalah berawal dari pola pikir dan pendidikan yang keliru. Kita selama belajar hanya diberitahu yang “benar” dan “salah” bukan diberi “kenyataan”

Sebagai contoh, kalau ada soal seperti ini:

jika kamu menemukan uang Rp100.000,00, apa yang akan kamu lakukan?

a.       lapor ke polisi

b.      dibawa pulang

c.       biarkan saja

d.      dibagi ke teman-teman

jawaban apa yang akan dipilih oleh anak didik kita? Tentu saja akan memilih jawaban “A”. Kita selama ini telah dijejali oleh pernyataan “terpuji” dan “tidak terpuji” . Kita tidak diajari proses menuju “terpuji” dengan “sebuah alasan” Kalau saja ada siswa yang memilih jawaban “B” tentu akan dipersalahkan. Padahal ia punya alasan tertentu, misalnya ia akan memberikan uang itu kepada pembangunan masjid di samping rumahnya. Sementara, jika ia lapor polisi, tentu saja polisi akan “mencatut” uang tersebut. Lantas, jika seperti itu, ketika suatu saat mereka menjabat sebagai pejabat, tidak menutup kemungkinan mereka akan korupsi. Lantas, berdalih pembangunan itu-ini, kalau kepepet akhirnya pura-pura sakit.

Terakhir, mengenai kisi-kisi yang ada di blog ini adalah valid. Artinya, kisi-kisi yang berjudul Standar Kompetensi Lulus (SKL) adalah saya cuplik dari depdiknas, jadi keakuratannya dapat dipertanggungjawabkan. Sementara, prediksi saya untuk bahasa Indonesia akan saya revisi dalam waktu dekat ini.

Oke, buat Anggi dan teman-teman di seluruh nusantara selamab belajar dan berjuang. Masa depan bangsa berada di ujung jemari kalian.

 

Salam Hangat,

Lubis Grafura

 

 

GAMBARAN UMUM UJIAN AKHIR NASIONAL SMA/MA (Bahasa)

GAMBARAN UMUM UJIAN AKHIR NASIONAL SMA/MA (Bahasa)

 

Pada ujian nasional tahun 2006/2007, tes Bahasa Indonesia

SMA/MA (Bahasa) berupa tes tertulis berbentuk pilihan ganda

sebanyak 50 soal dengan alokasi waktu 120 menit.

 

 Acuan yang digunakan dalam menyusun tes ujian nasional

adalah standar kompetensi lulusan tahun 2007 (SKL–UN–2007).

 

Materi yang diujikan untuk mengukur kompetensi tersebut

meliputi: pemahaman bacaan/teks berbagai jenis wacana tulis

(artikel, tajuk rencana, karya ilmiah, tabel/grafik) dan berbagai

jenis paragraf, penulisan/pengungkapan gagasan, informasi,

perasaan dalam bentuk teks paragraf, surat (dinas, dagang,

memo), karya tulis, notulen, penyuntingan berbagai jenis

wacana, dan penguasaan komponen kebahasaan dalam bahasa

lisan dan tulis.

 

 

©Hak Cipta pada Pusat Penilaian Pendidikan – BALITBANG – DEPDIKNAS

 

Email dari Dian Hartati

Email dari Dian Hartati

Salam,

Apa kabar teman?
Lama tak menyapa. Semoga limpahan karunia selalu kalian dapatkan,
kemudahan berpijak, dan segala kebaikan.

Teman, aku percaya kalian masih menulis.
Kalau pun ada yang tak menulis, mungkin ada pekerjaan lain
yang harus diselesaikan. Tidak ada mood?
Ah, jangan jadikan dia penghalang.

Beberapa kejadian sempat membuat aku khawatir.
Ya, sesuatu yang membuat detak jantung berdetak cepat.
Beberapa hal pun harus dipaksakan untuk sebuah keharusan.
Melawan arus, berpikir, dan menulis adalah kegiatan-kegiatan
yang kulakukan dalam paruh waktu akhir-akhir ini.

Sampai saat ini, aku merasakan suasana tegang.
Ya, ada sesuatu yang kutunggu dan harus kuselesaikan.
Maka tak salah kan jika aku meminta kalian
untuk berdoa. Mendoakan aku tentunya, agar detak jantung ini
berirama tenang, agar kepala ini bersuhu hangat.
dan setiap kata-kata yang kuucapkan mudah dicerap lawan bicara.
Doakan aku, agar nanti tgl 14 Maret, sidang skripsiku berjalan
lancar. Doakan aku agar berbagai kemudahan mengiring setiap
langkah.

Karena setiap doa adalah harapan, tepat rasanya jika
kita saling mendoakan. Senang rasanya jika kabar-kabar yang kudengar
adalah prestasi-prestasi yang telah kalian torehkan.

Terima kasih untuk doa-doa kalian, sesuatu yang baik pastilah akan
kembali pada diri kalian.

Salam,

Dian Hartati

Dian, selamat ya telah menyelesaikan skripsinya. Kudoakan sukses dan dapat lulus dengan nilai yang baik. Aku sekarang pun sedang menyelesaikan tugas akhir tersebut. Tapi sayang, aku kalah selangkah denganmu. Aku terpaksa harus membuang waktu satu semester lagi untuk wisuda. Tapi, tak apalah kabar gembira dari dirimu yang hendak ujian telah cukup memberiku semangat untuk tetap melangkah.

 

Dian, akhir-akhir ini juga aku sibuk sekali dengan kerja, skripsi, kerja, skripsi, lantas kerja lagi. Plus ke perpus. Begitulah. Banyak sekali yang pingin aku tulis, tetapi semuanya menguap begitu saja kepada kelelahan dan waktu yang terus memburu.

 

Alhamdulilah Dian, ini tadi aku baru pulang dari konsultasi lantas mengetikkan email kepadamu untuk melengkapi bahagiaku. Alhamdulillah, 98 % sudah selesai. Tetapi lagi-lagi aku menyesali keterlambatan yudisiumku. Ohya, kabar Tyas bagaimana? Kok tidak ada sinyal sama sekali?

 

Dian, maaf ya kalau aku jarang balas SMS kamu. Aku jarang mengisi pulsa. Soalnya, jujur saja, aku ingin membiyayai kuliahku sendiri. Aku malu minta ort uterus. Aku juga mau nabung untuk ke S-2 nanti. Beri aku semangat ya. Kalau email insyaAllah akan selalu setia kubalas, wlaupun datang pada waktu yang cukup lambat.

 

Sekian, Dian. Terus berusaha. Torehkan terus prestasimu, karena senyummu adalah mekarnya kembangku. Kutunggu namamu di kotaku lagi. Selalu.

 

Satu lagi Dian, acap kali aku menuliskan email atau apapun tentang dirimu entah kenapa aku selalu rindu. Kupandang fotomu, ternyata tak cukup bisa mengobatinya. Tetapi, aku masih punya satu keyakinan dan aku akan pastikan. Jika di suatu senja pintu rumahmu terketuk, dan saat kau membuka pintu, kau akan menemukanku.

 

 

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com