MENGHASILKAN SASTRA BERKUALITAS

 

MENGHASILKAN SASTRA BERKUALITAS*

Kajian bahasa dan gaya penceritaam sebagai unsur Intrinsik

 

Oleh:

Lubis Grafura

 

A. Sistem Sastra

            Secara harfiah menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia  (KBBI) sistem diartikan sebagai seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk sebuah totalitas. Sementara pengertian sastra sendiri oleh Luxemburg didefinisikan sebagai ciptaan/sebuah kreasi yang merupakan luapan emosi dan bersifat otonom. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang dimaksud system sastra adalah segala elemen sastra yang secara bersama-sama saling mengisi dan membentuk sebuah keterpaduan.

Sistem sastra meliputi jenis sastra, cabang ilmu, bentuk sastra, teks dan komunikasi ilmu sastra, ilmu teks, genre sastra, dan unsur-unsur yang membentuk karya sastra baik dari dalam maupun yang dari luar. Untuk mempermudah pemahaman dalam makalah ini, sengaja sistem sastra hanya dibedakan menjadi empat bagian saja. Keempat sistem tersebut adalah (1) cabang ilmu sastra, (2) bentuk sastra, (3) jenis sastra, dan (4) unsur sastra.

            Cabang ilmu sastra dapat dibagi lagi menjadi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Ketiga cabang ilmu ini saling berkaitan erat sebagai perkembangan dan telaah sastra. Ketiganya adalah satu kesatuan yang saling berkaitan.

            Bentuk sastra dalam makalah ini dibedakan menjadi sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan adalah sastra yang biasanya dituturkan dari mulut ke mulut. Biasanya sastra yang bersifat lisan ini adalah anonim. Artinya, sastra tersebut tidak ada hak milik. Setiap orang bebas menceritakan secara runtutan kronologis maupun menambahi, bahkan mengurangi. Sastra tulis seperti yang kita ketahui sekarang ini telah berkembang menjadi berbagai jenis.

            Jenis sastra sangat bermacam-macam. Dalam makalah ini hanya dibatasi dua, yaitu prosa dan puisi. Hal ini hanya untuk mempermudah penjabaran semata. Sementara menurut KBBI bagian sastra dapat mencangkup prosa, puisi, drama, epik, dan syair.

            Unsur sastra meliputi dua aspek, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Adapun perincian unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam. Begitu pula unsur ekstrinsik yang membangun karya sastra dari luar. Kedua unsur ini selalu ada di dalam sebuah karya sastra. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Kedua unsur ini pula yang biasanya digunakan untuk menelaah sastra. Unsur-unsur ini pula yang sering menjadi bahan pengajaran di sekolah-sekolah, bahkan untuk soal di Ujian Akhir Nasional (UAN).

            Unsur intrinsik dapat berupa tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar, dsb. Unsur intrinsik ini membangun satu kesatuan sebuah sastra, khususnya prosa. Unsur-unsur tersebut dapat dianalisis baik secara tersirat maupun tersurat tanpa harus melibatkan pihak pengarang.

            Unsur yang untuk mengetahuinya harus melakukan observasi perbandingan dan mempelajari riwayat hidup penulis inilah yang tergolong dalam unsur ekstinsik. Artinya, kalau kita mau menilai sebuah karya sastra, kita juga harus mempertimbangkan konteks penulis atas karya yang dibuatnya. Apa latar belakangnya, bagaimana kehidupan sosialnya, bagaimana lokalitasnya, dsb.

Kedua unsur inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. Unsur inipun dibatasi  hanya pada unsur intrinsik yang meliputi bahasa dan gaya penceritaan beserta subunsur yang menyertainya. Hal ini disebabkan unsur dan subunsur sastra itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, unsur intrinsik salah satunya. Unsur-unsur inilah yang perlu dikuasai agar seorang penulis tidak hanya pandai berimajinasi saja, melainkan juga menyusun kronologis cerita yang menarik secara teknis.

Secara umum, makalah ini akan membahas bagaimana konotasi bahasa itu berperan dalam sastra dan bagaimana aliran sastra itu menjadi bagian penting untuk diketahui dalam menulis karya sastra. Oleh karena itu, makalah ini mengambil judul “Menghasilkan Sastra Berkualitas: Kajian bahasa dan gaya penceritaam sebagai unsur Intrinsik”

 

B. Konotasi Bahasa

            Apabila kita menyinggung mengenai konotasi bahasa, berarti kita masuk ke dalam dua pokok bahasan. Pertama adalah majas atau gaya bahasa dan yang kedua adalah makna. Makna di sini dapat berarti perluasan, penyempitan, peyorasi, ameliorasi, konotasi, denotasi, atau sinestesia. Kita tidak akan membahas banyak hal tentang istilah-istilah tersebut, melainakan hanya akan mencuplik beberapa bagian dari contoh-contoh yang sudah ada.

            Ketika kita menulis sebuah prosa atau puisi, secara tidak sadar, kita telah mempelajari berbagai macam gaya bahasa. Gaya bahasa atau sering disingkat majas sebenarnya hanya terdiri dari empat. Keempat majas tersebut adalah majas perbandingan, majas sindirian, majas penegasan, dan majas pertentangan.

            Dalam menulis sastra, seorang penulis harus menguasai dan memahami penggunaan majas yang tepat. Menguasai dan memahami dalam hal ini tidak harus menghafalkannya. Hal ini dapat berarti bahwa seorang penulis yang hafal gaya bahasa belum tentu dapat menerapkannya dalam tulisan.

            Menguasai dan memahami gaya bahasa, ada baiknya penulis juga mengembangkan gaya bahasa dari yang sudah ada. Hal ini berarti kita harus melakukan eksplorasi kepada gaya bahasa yang sudah ada. Eksplorasi ini dilakukan agar seorang penulis tidak terjebak pada ke-klise-an penggunaan gaya bahasa.

            Ambilah contoh gaya bahasa personifikasi. Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati , sehingga seolah-olah memiliki sifat seperti manusia atau benda hidup (Rustamaji, 2005: 105). Gaya bahasa personifikasi merupakan salah satu majas perbandingan yang sering sekali digunakan dalam berbagai tulisan sastra. Memang belum ada survai atau penelitian tentang kuantitas pemakaian majas terbanyak dalam karya sastra, tetapi secara sepintas kita dapat melihat betapa seringnya gaya bahasa personifikasi diaplikasikan ke dalam berbagai karya.

            Berikut adalah contoh penggunaan personifikasi.

               Aku berdiri di pinggir pantai. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia saat ini. Aku tak bisa melukiskan perasaanku secara tepat detik ini. Aku hanya dapat memandang ombak yang bergulung-gulung sebelum akhirnya pecah di antara kedua kakiku.

 

            Frase ombak yang bergulung-gulung sebelum akhirnya pecah adalah salah satu penggunaan majas personifikasi. Entah sudah berapa puluh personifikasi yang sama untuk ombak. Ombak selalu diperrsonifikasikan bergulung-gulung atau berlari. Seorang penulis harus berani melakukan eksplorasi dan eksperimen terhadap alat yang dimilikinya, yaitu gaya bahasa.

            Frase yang menyatakan personifikasi tersebut dapat diubah menjadi majas asosiasi. Adapun pengertian asosiasi adalah membandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat. Lantas, paragraf di atas dapat disulap mejadi seperti berikut.

Aku berdiri di pinggir pantai. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau bahagia saat ini. Aku tak bisa melukiskan perasaanku secara tepat detik ini. Aku hanya dapat memandang ombak yang terlipat seperti ibu menyisir permukaan keju dengan sendok.

 

            Eksploitasi semacam itulah yang harus bernai dilakukan oleh para penulis.

 

C. Aliran Sastra  

1. Beberapa aliran dalam puisi

a). Puisi Absurd

            pot apa pot itu kaukah pot aku

            pot pot pot

            yang jawab pot pot pot potkaukah kau itu

            yang jawab pot pot pot potkaukah pot aku

            potapa potitu potkaukah potaku

            pot

“pot” karya Sutardji Calzoum Bachri

 

b). Puisi Sufi

Tuhan,

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apiMu

Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainMu

“Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi W.M.

c). Puisi Mbeling

            Puisi mbeling muncul pada tahun 1970-an. Kata tersebut digunakan oleh Remy Silado. Puisi ini biasanya menekankan kepada kejenakaan. Sekalipun demikian, puisi tersebut terkadang memberikan makan kepada pembacanya.

 

 

 

2. Beberapa aliran prosa

Seperti halnya dalam seni lukis, seni sastra pun memiliki aliran yang kurang lebih sama, yaitu impresionisme, realisme, naturalisme, romantik, simboloik, dan sebagainya. Seorang pengarang tidak perlu terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Hal ini dikarenakan istilah-istilah tersebut masih diperdebatkan. Namun, sebagai dasar dari pengetahuan, tentang bentuk aliran kesusastraan, maka di bawah ini diberikan beberapa perumusan yang lazim dipakai. Disebutkan juga oleh Mochtar Lubis (1997) bahwa sebutan seperti romantik, realisme, impresionisme terkadang dapat dikaburkan batasan-batasannya seperti romantis-realistis, simbolis-naturalis, dan sebagainya.

 

Impressionisme

            Dalam berbagai cabang kesenian, impressionisme diartikan dalam garis besar sebagai pemberi kesan – kesan panca indera. Mochtar Lubis (1997) merumuskan impressionisme sebagai penjelmaan pikiran, perasaan, dan bentuk-bentuk secara sindirian. Misalnya sebuah cerita pendek (cerpen) yang menulis dengan gaya ini, bisalah disebutkan bahwa cerpen tersebut tidak dengan langsung menjelaskan sepenuhnya isi dan maksud cerita ini, tetapi dari totalitas cerita tersebut orang dapat mengambil kesimpulan apa yang dimaksudkan oleh pengarang. Karangan tersebut dapat berupa kalimat-kalimat yang di dalamnya tidak selesai, dialognya putus-putus, namun secara totalitas, karangan tersebut menunjukkan gambaran yang penuh.

 

Romantik

            Ketika kita menyebutkan kata romantik, tentu apa yang sedang terlintas adalah terang bulan, bunyi angina mengelus dedaunan, ombak pecah di karang, cerita gadis dan jejaka yang berakhir bahagia, dan sebagainya. Memang betul juga, Mochtar (1997) pun mengakuinya. Beliau menyebutkan bahwa aliran romatik adalah cara pengarang yang mewujudkan penghidupan dan pengalaman manusia, lantas meletakkan tekanan yang berat terhadap apa yang lebih baik dan lebih indah.

 

Realisme

            Realisme adalah apa yang dilihat oleh pengarang, di luar itu tidak termasuk realis. Artinya, penulis hanya menunjukkan manifestasi jasmani (materil) dan yang kelihatan dari luar kehidupannya. Boleh dikatakan bahwa penulis hanya melihat simptom, bukan sebab musabab kehidupan.

            Dalam realisme, manusia dilukiskan sebagai makhluk yang dikuasai oleh alam kebendaan di sekelilingnya dan memberi reaksi-reaksi terhadap alam kebendaan. Bertolak dari ini, dapat disimpulkan bahwa realisme tidak mempedulikan kenyataan-kenyataan alam penghidupan manusia lain.

 

Naturalisme

            Batas antara realisme dan naturalisme ini sangat kabur. Sama halnya dengan naturalisme pengarang melukiskan dengan cermat apa yang dilihat, dirasa oleh panca indera. Naturalisme meletakkan manusia sebagai makhluk alam, dengan hasrat dan kekurangan-kekurangan manusia.

            Dalam KBBI (1989: 610) disebutkan bahwa naturalisme adalah karya seni rupa yang memiliki sifat kebenaran fisik dari alam. Disebutkan juga bahwa naturalisme adalah ajaran yang tidak mengakui kekuatan lain selain alam, apa adanya.

 

Ekspressionisme

            Dalam hubungannya ralisme dan naturalisme ini, disebutkan juga istilah ekspressionisme. Karangan ekspressionisme semua apa yang menjadi tekanan batinnya menyembur dari dalam jiwa pengarang sendiri. Di dalam ekspressionisme, alam benda dikalahkan oleh alam jiwa dan manifestasi kejiwaan-kejiwaan.

 

Simbolisme

            Aliran ini banyak dipakai pada angaktan kesuastraan Jepang. Hal ini dikarenakan pada saat itu, segala bentuk perjuangan (melalui sastra) tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, para pengarang mencoba berjuang dengan menggunakan simbol-simbol.

            Sebuah karangan yang menggunakan simbol, acapkali simbol tersebut diulang-ulang. Disebutkan pengarang, lantas di dorongkan ke tengah-tengah perhatian pembaca. Namun, bisa juga simbol itu sesuatu yang dikandung di dalam keselauruhan cerita.

 

 

 

 

 

D. Kesimpulan

            Secara umum, sistem sastra dapat diterjemahkan menjadi segala unsur yang bertalian dengan sastra dan menunjang satu sama lain untuk keutuhan sastra itu sendiri. Untuk menghasilkan sastra yang berkualitas, dalam makalah ini, disimpulkan bahwa seorang penulis tidak perlu mempelajari “teori sastra” terlebih dahulu sebelum dirinya memiliki produk sastra. Kebalikannya, pengarang yang sudah menghasilkan karya, lambat laun, dirinya akan menguasai apakah “ilmu sastra” itu. Lantas, pengarang tersebut akan mengidentifikasikan karya-karyanya dengan teori yang ada. Dari sinilah, tanpa sengaja, pengarang tersebut dapat belajar tentang “teori sastra” dan secara perlahan akan menguasai “bagaimana sistem sastra secara keseluruhan itu”

 

*) makalah ini dibacakan pada Seminar Sastra di Universitas Islam Negeri Malang pada tanggal 3 Maret 2007.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Lubis, Mochtar. 1997. Sastra dan Tekniknya (hal.87-92). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

 

Pradopo, Joko Rachmat. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

 

Pusat Bahasa Depatemen Pendidikan Nasional. 2000. Buku Praktis Bahasa Indonesia: 2. Jakarta: Pusat Bahasa.

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

 

About these ads

18 Komentar »

  1. Fida Said:

    Tulisan ini memberi penyegaran kembali kpd saya. Mengingatkan saya kpd pelajaran Bahasa & Sastra Indonesia sewaktu di bangku SMA.

    Terima kasih.

  2. wawan Said:

    kang lubis, tulisannya sangat terang benderang. terima kasih sekali atas tulisannya. saya jadi mikir nih kang lubis. bagaimana nasib kepenulisan saya… apakah saya memutuskan untuk menjadi penerjemah sastra dulu tahun ini sambil belajar kritik sastra ya?
    makasih,
    salam,
    wawan

  3. Pramono Said:

    Menurut saya tulisan ini adalah penyegaran untuk generasi muda jaman sekarang bisa menjadi patokan dalam berkarya dan membantu pembuatan karya ilmiah saya.

  4. karmika Said:

    Tulisan ini sangat menarik untuk dipelajari dan sangat membantu kita, terutama pelajar kls X sma untuk mempelajari karya sastra.Tulisan ini juga bisa menjadi referensi untuk karya tulis saya.
    Terima kasih

  5. ruddy Said:

    makalah ini sangat membantu sekali ketika pacar saya mencoba menyelesaikan makalah tugas kuliah teori sastra. terimakasih mas lubis grafura…

  6. RisViaNa Said:

    menurut saya karya-karyaNya sangatlah bagus..memberikan inspirasi dan pengalaman yang berbeda

  7. prass Said:

    terima kasih saya akhirya bisa mengetahui aliran aliran dalam sastra itu sendiri. Thanks ya? yang mo kenal ak di e_mail ku aja ya? the_pras@plasa.com. ok ta tunggu yaaaaaaaaaaaaa? wassalamualaikum.

  8. aphinx Said:

    Mas, saya mau tanya dong, nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam sebuah karya sastra/ film itu termasuk unsur apa?
    mas bisa tolong ngga untuk bahan skripsi, nilai-nilai pendidikan (amanat) yang bisa di dapat dari sebuah film/karya sastra itu berupa apa saja?mungkin nilai pendidikan itu salah satunya adalah etika.selain itu apa lagi ya?beserta contohnya…kira-kira mas tahu ngga ya sumber-sumber atau buku yang menjelaskan hal itu?thx…tolong balas di email saya saja…thx bgt untuk bantuannya.

  9. gyna Said:

    makasiyh yah,,, tulisan ini anyak mbantu saya untuk mengerjakan tugas2 saya..

  10. IZza . . . Said:

    terlalu vasif bagi anak muda yang tidak suka dengan materi ini.
    tapi ini menarik bagi yg suka sekali dfngan mteri ini,misalnya seperti saya, yan sangat suka dengan materi

  11. Anek Said:

    eh q punya yang lebih lengkap lagi mw gk

  12. @nggg@ Said:

    THANK’S BANGET kepada yang telah membuat makalah dan menampilkannya di internet. saya jadi terbantu untuk mengerjakan tugas makalah seni rupa saya.thank’s

  13. titta iank selalu tampil fresh Said:

    okkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    bangets

  14. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  15. aciy_moedz Said:

    saya butuh penjelasan tentang teori sastra yang lebih mudah untuk dimengerti oleh saya selaku anak SMA yang masih duduk di bngku sekolah kelas x….

  16. celak Said:

    emng bguz,, tapi kurang ngesex……^_^

  17. sip udah..(sastraperjaka.wordpres

  18. snsdthebest Said:

    terima kasih atas tulisannya ini sangat membantu saya sekali,,,
    terima kasih ^^


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: