PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
(PROBLEM-BASED LEARNING)

I Wayan Dasna dan Sutrisno
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang
Telp. 0341-567 382; e-mail: idasna@telkom.net

APAKAH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBL) ITU?

Untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar, para ahli pembelajaran telah menyarankan penggunaan paradigma pembelajaran konstruktivistik untuk kegiatan belajar-mengajar di kelas. Dengan perubahan paradigma belajar tersebut terjadi perubahan pusat (fokus) pembelajaran dari belajar berpusat pada guru kepada belajar berpusat pada siswa. Dengan kata lain, ketika mengajar di kelas, guru harus berupaya menciptakan kondisi lingkungan belajar yang dapat membelajarkan siswa, dapat mendorong siswa belajar, atau memberi kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajarinya. Kondisi belajar dimana siswa/mahasiswa hanya menerima materi dari pengajar, mencatat, dan menghafalkannya harus diubah menjadi sharing pengetahuan, mencari (inkuiri), menemukan pengetahuan secara aktif sehingga terjadi peningkatan pemahaman (bukan ingatan). Untuk mencapai tujuan tersebut, pengajar dapat menggunakan pendekatan, strategi, model, atau metode pembelajaran inovatif.
Pembelajaran berbasis masalah (Probelem-based learning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Ward, 2002; Stepien, dkk.,1993). Lebih lanjut Boud dan felleti, (1997), Fogarty(1997) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pebelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar. PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) belajar dimulai dengan suatu masalah, (2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa, (3) mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada pebelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut pebelajar untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja. Berdasarkan uraian tersebut tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.
Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok, disamping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuat kesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa. Dengan kata lain, penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.

MENGAPA MENGGUNAKAN PBL?

PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga pebelajar tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, pebelajar tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan ketrampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.
Bila pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah, apalagi kalau masalah tersebut bersifat kontekstual, maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri pebelajar. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacam-macam pertanyaan disekitar masalah seperti “apa yang dimaksud dengan….”, “mengapa bisa terjadi….”, “bagaimana mengetahuinya…” dan seterusnya. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri pebelajar maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan pebelajar tentang “konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah”, “apa yang harus dilakukan” atau “bagaimana melakukannya” dan seterusnya. Dari paparan tersebut dapat diketahi bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong siswa/mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya.
Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh pebelajar yang diajar dengan PBL yaitu: (1) inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah, (2) belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors), dan (3) ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning). Inkuiri dan ketrampilan proses dalam pemecahan masalah telah dipaparkan sebelumnya. Siswa yang melakukan inkuiri dalam pempelajaran akan menggunakan ketrampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skill) dimana mereka akan melakukan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan reasoning. PBL juga bertujuan untuk membantu pebelajar siswa/mahasiswa belajar secara mandiri.
Pembelajaran PBL dapat diterapkan bila didukung lingkungan belajar yang konstruktivistik. Lingkungan belajar konstruktivistik mencakup beberapa faktor yaitu (Jonassen dalam Reigeluth (Ed), 1999:218): kasus-kasus berhubungan, fleksibelitas kognisi, sumber-sumber informasi, cognitive tools, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi, dan dukungan sosial dan kontekstual.
Kasus-kasus berhubungan, membantu pebelajar untuk memahami pokok-pokok permasalahan secara implisit. Kasus-kasus berhubungan dapat membantu siswa/mahasiswa belajar mengidentifikasi akar masalah atau sumber masalah utama yang berdampak pada munculnya masalah yang lain. Kegiatan belajar seperti itu dapat membantu pebelajar meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Fleksibelitas kognisi merepresentasi materi pokok dalam upaya memahami kompleksitas yang berkaitan dengan domain pengetahuan. Fleksibelitas kognisi dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan bagi pebelajar untuk memberikan ide-idenya, yang menggambarkan pemahamannya terhadap permasalahan. Fleksibelitas kognisi dapat menumbuhkan kreativitas berpikir divergen didalam mempresentasikan masalah. Dari masalah yang siswa/mahasiswa tetapkan, mereka dapat mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah, mereka dapat mengemukakan ide pemecahan yang logis. Ide-ide tersebut dapat didiskusikan dahulu dalam kelompok kecil sebelum dilaksanakan.
Sumber-sumber informasi, bermanfaat bagi pebelajar dalam menyelidiki permasalahan. Informasi dikonstruksi dalam model mental dan perumusan hipotesis yang menjadi titik tolak dalam memanipulasi ruang permasalahan. Dalam konteks belajar sains (kimia), pengetahuan sains yang dimiliki siswa terhadap masalah yang dipecahkan dapat digunakan sebagai acuan awal dan dalam penelusuran bahan pustaka sesuai dengan masalah yang mereka pecahkan.
Cognitive tools, merupakan bantuan bagi pelajar untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan tugas-tugasnya. Cognitive tools membantu pebelajar untuk merepresentasi apa yang diketahuinya atau apa yang dipelajarinya, atau melakukan aktivitas berpikir melalui pemberian tugas-tugas.
Pemodelan yang dinamis, adalah pengetahuan yang memberikan cara-cara berpikir dan menganalisis, mengorganisasi, dan memberikan cara untuk mengungkapkan pemahaman mereka terhadap suatu fenomena. Pemodelan membantu mahasiswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, “apa yang saya ketahui” dan “apa artinya”.
Percakapan dan kolaborasi, dilakukan dengan diskusi dalam proses pemecahan masalah. Diskusi secara tidak resmi dapat menumbuhkan suasana kolaborasi. Diskusi yang intensif dimana terjadi proses menjelaskan dan memperhatikan penjelasan peserta diskusi dapat membatu siswa mengembangkan komunikasi ilmiah, argumentasi yang logis, dan sikap ilmiah.
Dukungan sosial dan kontekstual, berhubungan dengan bagaimana masalah yang menjadi fokus pembelajaran dapat membuat pebelajar termotivasi untuk memecahkannya. Dukungan sosial dalam kelompok, adanya kondisi yang saling memotivasi antar pebelajar dapat menumbuhkan kondisi ini. Suasana kompetitif antar kelompok juga dapat mendukung kinerja kelompok. Dukungan sosial dan kontekstual hendaknya dapat diakomodasi oleh para guru/dosen untuk mensukseskan pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa PBL sebaiknya digunakan dalam pembelajaran karena: (1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa/mahasiswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa/mahasiswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi PBL, siswa/mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung; dan (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa/mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Gejala umum yang terjadi pada siswa dan mahasiswa pada saat ini adalah “malas berpikir” mereka cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau bahan pustaka lain tanpa mengemukakan pendapat atau analisisnya terhadap pendapat tersebut. Bila keadaan ini berlangsung terus maka siswa atau mahasiswa akan mengalami kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, pelajaran di kelas adalah untuk memperoleh nilai ujian dan nilai ujian tersebut belum tentu relevan dengan tingkat pemahaman mereka. Oleh sebab itu, model PBL mungkin dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong siswa/mahasiswa berpikir dan bekerja ketimbang menghafal dan bercerita.

BAGIMANA MENGIMPLEMENTASIKAN PBL DALAM PEMBELAJARAN ?

Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini mulai dengan adanya masalah yang diharus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa/mahasiswa. Masalah tersebut dapat berasal dari siswa/mahasiswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. Siswa/mahasiswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya.
Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian siswa/mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Oleh sebab itu, penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa/mahasiswa. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen, 2001), yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan data, (3) menganalisis data, (4) memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya, (5) memilih cara untuk memecahkan masalah, (6) merencanakan penerapan pemecahan masalah, (7) melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan (8) melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. Empat tahap yang pertama mutlak diperlukan untuk berbagai kategori tingkat berfikir, sedangkan empat tahap berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berfikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Dalam proses pemecahan masalah sehari-hari, seluruh tahapan terjadi dan bergulir dengan sendirinya, demikian pula keterampilan seseorang harus mencapai seluruh tahapan tersebut.
Langkah mengidentifikasi masalah merupakan tahapan yang sangat penting dalam PBL. Pemilihan masalah yang tepat agar dapat memberikan pengalaman belajar yang mencirikan kerja ilmiah seringkali menjadi ”masalah” bagi guru dan siswa. Artinya, pemilihan masalah yang kurang luas, kurang relevan dengan konteks materi pembelajaran, atau suatu masalah yang sangat menyeimpang dengan tingkat berpikir siswa dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu, sangat penting adanya pendampingan oleh guru/dosen pada tahap ini. Walaupun guru/dosen tidak melakukan intervensi terhadap masalah tetapi dapat memfokuskan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan agar siswa/mahasiswa melakukan refleksi lebih dalam terhadap masalah yang dipilih. Dalam hal ini guru/dosen harus berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran tetap pada bingkai yang direncanakan.
Suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam PBL adalah pertanyaan berbasis why bukan sekedar how. Oleh karena itu, setiap tahap dalam pemecahan masalah, keterampilan mahasiswa dalam tahap tersebut hendaknya tidak semata-mata keterampilan how, tetapi kemampuan menjelaskan permasalahan dan bagaimana permasalahan dapat terjadi. Tahapan dalam proses pemecahan masalah digunakan sebagai kerangka atau panduan dalam proses belajar melalui PBL. Namun yang harus dicapai pada akhir pembelajaran adalah kemampuannya untuk memahami permasalahan dan alasan timbulnya permasalahan tersebut serta kedudukan permasalahan tersebut dalam tatanan sistem yang sangat luas. Apalagi jika PBL digunakan untuk proses pembelajaran di perguruan tinggi.
Lebih lanjut Arends (2004) merinci langkah-langkah pelaksanaan PBL dalam pengajaran. Arends mengemukakan ada 5 fase (tahap) yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan PBL. Fase-fase tersebut merujuk pada tahap-tahapan praktis yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran dengan PBL sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Sintaks Problem Based Learning
Fase Aktivitas guru
Fase 1:
Mengorientasikan mahasiswa pada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang diperlukan, memotivasi mahasiswa terlibat aktif pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
Fase 2:
Mengorganisasi mahasiswa untuk belajar Membantu mahasiswa membatasi dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi
Fase 3:
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Mendorong mahasiswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari untuk penjelasan dan pemecahan
Fase 4:
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Membantu mahasiswa merencanakan dan menyi-apkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Fase 5:
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Membantu mahasiswa melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang digunakan selama berlangusungnya pemecahan masalah.

Fase 1: Mengorientasikan mahasiswa pada masalah

Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru/dosen harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa/mahasiswa dan juga oleh dosen. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting juga dijelaskan bagaimana guru/dosen akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Sutrisno (2006) menekankan empat hal penting pada proses ini, yaitu: (1) Tujuan utama pengajaran ini tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi mahasiswa yang mandiri, (2) Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan, (3) Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), mahasiswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, namun mahasiswa harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya, dan (4) Selama tahap analisis dan penjelasan, mahasiswa akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. Semua mahasiswa diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.

Fase 2: Mengorganisasikan mahasiswa untuk belajar

Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong siswa/mahasiswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru/dosen dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru/dosen sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah mahasiswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan mahasiswa menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua mahasiswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar mahasiswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu mahasiswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang massalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Setelah mahasiswa mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelesan, dan pemecahan. Selama pengajaran pada fase ini, guru mendorong mahasiswa untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat mahasiswa berfikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. Pertanyaan-pertanyaan berikut kiranya cukup memadai untuk membangkitkan semangat penyelidikan bagi mahasiswa. “Apa yang Anda butuhkan agar Anda yakin bahwa pemecahan dengan cara Anda adalah yang terbaik?” atau “Apa yang dapat Anda lakukan untuk menguji kelayakan pemecahanmu?” atau “Apakah ada solusi lain yang dapat Anda usulkan?”. Oleh karena itu, selama fase ini, guru harus menyediakan bantuan yang dibutuhkan tanpa mengganggu aktivitas mahasiswa dalam kegaitan penyelidikan.

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya

Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu videotape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan mahasiswa-mahasiswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.

Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah

Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu mahasiswa menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan kete-rampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta mahasiswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh pemahaman yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam pemecahan tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap dibanding yang lain? Mengapa mereka menolak beberapa penjelasan? Mengapa mereka mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah pikiran tentang situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa penyebab perubahan itu? Apakah mereka akan melakukan secara berbeda di waktu yang akan datang? Tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.
PBL telah banyak diterapkan dalam pengajaran sains. Gallagher, dkk. (1995) menyatakan bahwa PBL dapat dan perlu termasuk untuk eksperimentasi sebagai suatu alat untuk memecahkan masalah. Mereka menggunakan suatu kerangka kerja yang menekankan bagaimana para mahasiswa merencanakan suatu eksperimen untuk menjawab sederet pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Gallagher berbasis pada “what do I know”, “what do I need to know”, “what do I need to learn”, dan “how do I measure or describe the result”. Selama fase merancang eksperimen berbasis masalah, para mahasiswa mengembangkan suatu protokol yang mendaftar setiap tahap dalam eksperimen itu. Dalam protokol ini, tampak ada kecenderungan yang khas seperti standar perencanaan laboratorium, menjadi suatu tuntunan metakognitif bagi para mahasiswa untuk digunakan dalam pengembangan eksperimen selanjutnya. Penerapan dengan model ini cukup berhasil serta mendukung bahwa PBL dapat mempelopori penggunaan perencanaan laboratorium melalui metode nontradisional.
Model problem based learning telah digunakan oleh para ahli dalam pembelajaran kimia dan turunannya, antara lain pengajaran Biokimia oleh Dods (1996), pembelajaran kimia sintesis bahan alam kompleks oleh Cannon dan Krow (1998), Yu Ying (2003) dalam pengajaran elektrokimia, dan Liu Yu (2004) dalam pengajaran kimia analitik.
Liu Yu (2004, Dosen Jurusan Kimia Univ. Tianjin China) menggunakan PBL dalam pengajaran Kimia Analitik. Menurut Liu Yu, PBL adalah suatu pembelajaran yang didorong atau ditandai oleh adanya masalah, bukan oleh konsep yang abstrak. Idealnya, masalah tersebut dapat ditemukan atau diperoleh dalam kehidupan nyata, dan tidak cepat terselesaikan tetapi dapat diselesaikan dengan mudah. Dalam merancang kegiatan perkuliahan ini Liu Yu memerlukan waktu 40 jam kuliah dan 32 jam kerja laboratorium. Tujuan perkuliahan adalah: (1) Meningkatkan pengertian lebih mendalam tentang prinsip kimia analitik yang meliputi: sampling, preparasi sampel, separasi, teknik klasik, teknik instrumentasi: spektroskopi, kromatografi, elektrokimia, dan jaminan mutu, (2) Meningkatkan keterampilan teknis kimia analitik dan keterampilan lain pada umumnya, dan (3) Membantu mahasiswa mengembangkan suatu pengertian dan pemahaman yang lebih (mendalam) dan apresiasi terhadap sains.
Prosedur pengembangan PBL yang dilakukan Liu Yu sebagai berikut:

Langkah-langkah/tahapan dalam PBL yang dilalui sbb:

• Problem/Masalah: orientasi permasalahan seperti diuraikan pada bagian berikut.
• Perkuliahan: mahaiswa dibekali prinsip-prinsip dasar metode analitik, dan pengantar menggunakan internet dan perpustakaan untuk menemukan bahan-bahan yang relevan. Tentunya: bagi yang sudah familier dengan internet yang kedua ini tidak terlalu bermanfaat, dan mereka boleh menghindarinya.
• Melacak literatur: berlangsung di luar kelas, mahasiswa menggunakan perpustakaan dan internet untuk memperoleh sumber informasi dalam rangka pemecahan masalah
• Seminar: mahasiswa menyampaikan informasi/gagasan/ide yang telah ditemukan, mendisikusikan masalah dan tukar gagasan.
• Tutorial: apabila mahasiswa mempunyai berbagai pertanyaan, mereka dapat menanyakan kepada dosen selama sesi tutorial ini. Tutor bertindak untuk mengobesrvasi, membimbing, dan mendukung. Setelah mahasiswa menemukan suatu pemecahan, selanjutnya mereka dapat mempersiapkan untuk eksperimen
• Demonstrasi: sebelum mahasiswa melaksanakan eksperimen, dosen dapat mendemonstrasikan (dihadapan mahasiswa) bagaimana mengoperasikan instrumen yang akan digunakan, dan mengenalkan aspek mana yang mendapat perhatian lebih.
• Eksperimen: mahasiswa memperoleh data dari eksperimen, menginterpretasikan hasil, dan menulis laporan. Kegiatan laboratorium menekankan keterampilan teknik dan problem solving.

Dasna (2005) menerapkan model PBL untuk matakuliah Metodologi penelitian Kimia dengan modifikasi langkah-langkah yang dilakukan oleh Liu Yu (2004). Modifikasi dilakukan terkait dengan sifat materi kuliah yang tidak memungkinkan secara langsung mengacu pada masalah nyata. Langkah-langkah pembelajaran dimulai dari ”telaah masalah” untuk memberikan wawasan umum pada mahasiswa tentang apa yang mereka pelajari. Mahasiswa mula-mula diajak berdiskusi untuk membahas suatu karya ilmiah (artikel hasil penelitian) untuk mengidentifikasi ”apa masalah yang dipecahkan pada karya ilmiah tersebut, bagaimana metode pemecahannya, bagaimana hasilnya, relevansinya terhadap teori yang ada, dan pertanyaan yang relevan lainnya. Mahasiswa bekerja berkelompok dan mempresentasikan hasil kerjanya. Kemudian mahasiswa diminta untuk membuat masalah baru dari artikel yang dibacanya.
Untuk menghindari kedangkalan masalah yang dibuat, kemudian diberikan ”kuliah” dimana mahasiswa diberikan bahan kuliah dan pertanyaan-pertanyaan untuk didiskusikan berhubungan dengan materi metode penelitian. Misalnya untuk mengembangkan masalah penelitian diberikan materi ”Apa itu masalah, bagaimana mengembangkan masalah, bagaimana menuliskan rumusan masalah, dan bagaimana mengembangkan latar belakang masalah. Mahasiswa diminta menelusuri literatur lebih lanjut tentang materi yang diberikan.
Setelah pembahasan teori, mahasiswa kemudian mengembangkan masalah yang akan mereka gunakan sebagai judul skripsi. Mula-mula mahasiswa melakukan studi literatur sesuai dengan minat penelitiannya, memilih dan mendiskripsikan masalahnya, mempresentasikan pada kelompok, masukan dari kelompok, diskusi kelas, masukan dari dosen, dan akhirnya penetapan masalah. Masalah yang ditetapkan sebagai judul proposal penelitian tersebut dilanjutkan dengan langkah-langkah masalah berikutnya yaitu kajian teori, perancangan metode penelitian, prosedur kerja, teknik analisis dan pengumpulan data. Masing-masing tahap dilakukan dengan pengembangan oleh mahasiswa, kuliah, lacak literatur, diskripsi oelh mahasiswa, diskusi kelompok, diskusi kelas, presentasi, masukan oleh dosen, dan revisi produk. Langkah-langkan umum pembelajaran disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Model PBL yang dikembangkan Dasna (2006) untuk matakuliah dengan materi berurutan

Model yang dikembangkan pada Gambar 2 adalah PBL untuk suatu materi perkuliahan yang mempunyai sequence yang erat. Dalam hal ini, mahasiswa harus mempunyai ”masalah yang akan diteliti dulu” setelah mengkaji hasil penelitian dan kuliah. Penetapan masalah harus dibuat.dipilih oleh mahasiswa kemudian dipresentasikan di kelompoknya (setiap anggota kelompok presentasi), kemudian dipilih satu masalah untuk dipresentasikan di kelas. Dalam hal ini ada masukan dari kelompok lain dan dosen. Setelah itu dilakukan tutorian individual oleh dosen untuk menyempurnakan produk mahasiswa. Mahasiswa melakukan revisi. Kemudian mahasiswa mengerjakan materi pokok pada tahap berikutnya. Mahasiswa diberikan paparan terori melalui kegiatan diskusi, kemudian mereka melakukan kaji literatur, membuat diskripsi sesuai dengan masalahnya sendiri, presentasi dalam kelompok, diskusi kelas, bimbingan dosen, dan revisi. Kemudian mahasiswa mengembangkan materi berikutnya sesuai langkah-langkah tersebut.
Produk akhir dari kuliah ini adalah proposal penelitian yang merupakan gabungan/kompilasi dari tahap-tahap kerja dalam perkuliahan. Produk akhir keseluruhan (berupa proposal penelitian skripsi) dipresentasikan oleh masing-masing mahasiswa pada seminar kelas.

CONTOH IMPLEMENTASI PBL

RENCANA PERKULIAHAN I
MATAKULIAH : Metodologi Penelitian Kimia
MATERI : Pengembangan Masalah penelitian
SEMESTER : Ke 6
PROGRAM STUDI : Kimia
ALOKASI WAKTU : 2 x Pertemuan @ 100 menit

I. Kompetensi
Memahami prinsip-prinsip pengembangan masalah penelitian kimia dan perumusan masalah penelitian
II. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
1. menjelaskan perbedaan isu, masalah, dan fakta.
2. Mengidentifikasi masalah dari suatu kasus
3. Mengembangkan masalah dari hasil penelitian
4. Menjelaskan fisibilitas masalah untuk penelitian
III. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Dosen Waktu
Pendahuluan
1. Menjelaskan tujuan perkuliahan, kegiatan perkuliahan, dan jenis evaluasi yang akan dilakukan
2. Membagi kelompok mahasiswa berdasarkan kriteria yang ditetapkan dosen ( 1 kelompok 4 orang)
3. Memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk membahas artikel hasil penelitian kimia yang diberikan oleh dosen

Kegiatan Inti
1. Meminta perwakilan kelompok untuk mendiskripsikan artikel yang dibaca/dibahas meliputi: apa yang diteliti, mengapa orang tersebut melakukan penelitian itu (alasan teoritisnya), bagaimana langkah-langkah yang dilakukan, apa hasilnya, dan bagaimana kesesuaian dengan hasil penelitian lain atau teori yang ada.
2. Setelah semua kelompok selesai, dilakukan diskusi kelas. Dosen memfasilitasi diskusi tentang apa yang disebut masalah, bagaimana membedakan dengan isu, dan fakta, bagaimana teknik mengembangkan masalah penelitian, bagaimana merumuskan masalah, dan fisibilitas penelitian.
3. Menugaskan kepada kelompok untuk mengembangkan masalah baru dari hasil penelitian yang dibaca. Masing-masing kelompok presentasi dan kelompok lain menilai fisibilitas masalah yang dikembangkan.
4. Menugaskan kepada masing-masing mahasiswa mengumpulkan referensi tentang tema penelitian yang akan dipilihnya dan membuat resume masalah yang dipilih.
5. Menugaskan mahasiswa mempresentasikan masalahnya pada kelompok, anggota kelompok menilai fisibilitas dan originalitasnya. Masing-masing kelompok memilih satu masalah yang dipresentasikan di kelas.
6. Presentasi masalah oleh masing-masing kelompok, kelompok lainnya memberikan tanggapan, dan masukan dari dosen.
7. Masing-masing mahasiswa mendiskusikan masalah yang ditulisnya secara personal (bimbingan individual).
8. Mahasiswa mengumpulkan judul dan latar belakang masalah serta rumusan masalah, untuk ditukarkan antar kelompok (diberikan format penilaian).
9. Mahasiswa melakukan revisi produk dan mengumpulkan tugasnya pada dosen.
10. Dosen menugaskan masing-masing mahasiswa untuk melakukan kajian teori/kepustakaan tentang masalah yang dibuat (langkah berikutnya mulai dari langkah 5 sampai 9).
Penutup
1. Dosen memberikan umpan balik pada tugas yang dikumpulkan untuk diperbaiki pada akhir kuliah (proposal).
2. Diberikan umpan balik penilaian kinerja kelompok .
3 – 4 kali pertemuan

Dalam kegiatan diskusi kelompok, dosen melakukan penilaian kelompok untuk masing-masing mahasiswa, menggunakan rubrik sebagai contoh berikut.

RUBRIK AKTIVITAS DISKUSI

SKOR SKALA KRITERIA
4 Sangat baik Mahasiswa mengajukan pertanyaan penting berhubungan dengan masalah yang dibahas, frekuensi lebih dari dua kali dalam satu pertemuan, memberikan tanggapan atas pertanyaan temannya, mengambil inisiatif dalam diskusi kelompok
3 Baik Mahasiswa mengajukan pertanyaan penting berhubungan dengan masalah yang dibahas, frekuensi kurang dari 2 kali, memberikan tanggapan, ada inisiatif walau tidak penting
2 Cukup Mengajukan pertanyaan yang kurang fokus, frekuensi 1 kali, kurang memberikan tanggapan, kurang inisiatif
1 Kurang Pasif dalam diskusi, tidak ada pertanyaan dan tanggapan

PENILAIAN JUDUL, LATAR BELAKANG DAN RUMUSAN MASALAH

Bacalah usulan Judul, latar belakang, dan Rumusan masalah penelitian teman Anda dalam satu kelompok, kemudian berikan penilaian dan saran perbaikan!

JUDUL:………………………………………………………………………………
PENULIS:……………………………………………………………………………

Berikan tanda silang pada skor:
1 bila aspek yang dimaksud sangat kurang 3 baik
2 kurang 4 sangat baik

Aspek SKOR Alasan/
bisa tuliskan dibawah
1 2 3 4
Judul Penelitian
1. Menunjukan variabel yang akan diteliti
2. Menunjukan metode yang digunakan secara jelas
3. Dinyatakan dalam FRASE bukan dalam bentuk kalimat
4. Tidak mengarah pada kesimpulan (Contoh: Makin banyaknya rendeman zat X pada isolasi……)
5. Jelas, informative, tidak bias, menarik
Latar Belakang
1. Mendiskripsikan alasan-alasan dipilihnya masalah penelitian secara jelas
2. Menginformasikan hasil-hasil penelitian sejenis yang telah ada
3. Memberi perbandingan/telaah terhadap hasil-hasil penelitian yang telah ada
4. Mendiskripsikan masalah dan fokus masalah yang akan diteliti
5. Penyajian dari fakta umum, masalah factual, fokus masalah yang diteliti (Paparan secara PIRAMIDA terbalik)
6. Penulisan kalimat mengacu pada bahasa formal ilmiah
7. Tata tulis pengutupan/rujukan benar
Rumusan Masalah
1. Berhubungan dengan masalah
2. Memuat hubungan antar variabel
3. Dapat diukur/diuji dengan metode yang jelas
4. Dalam bentuk kalimat tanya
Catatan lain:
………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Dosen Pembina Penelaah/Reviewer

PENILAIAN KAJIAN TEORI

JUDUL:…………………………………………………………………………………
PENULIS:………………………………………………………………………………

Berikan tanda silang pada skor:
1 bila aspek yang dimaksud sangat kurang 3 baik
2 kurang 4 sangat baik

Aspek SKOR Alasan/
bisa tuliskan dibawah
1 2 3 4
Urutan Paparan
1. Pokok-pokok yang dibahas berhubungan dengan variable dan aspek lain penelitian
2. Paparan pada tiap bagian didukung dengan bacaan literatur dan hasil penelitian
2. Pembahasan komprehensif, menyeluruh
3. Penyajian dimulai dari fakta umum, masalah factual, fokus masalah
6. Menjelaskan alasan mengapa variable penelitian dipilih
7. Memberikan alas an pemilihan masalah dan metode pemecahannya
Tata Tulis
1. Cara pengutipan sesuai dengan PPKI
2. Tata kalimat menggunakan bahasa Indonesia formal
3. Frase/paparan mudah dimengerti
4. Penulisan daftar rujukan sesuai PPKI
Daftar Rujukan
1 Daftar rujukan sesuai dengan yang digunakan dalam teks atau masalah
2 Sumber pustakan primer lebih dominan
3 Rujukan dalam bahasa Inggris
4 Rujukan relatif up to date

Catatan lain:
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Dosen Pembina Penelaah/Reviewer

………………………………….. ………………………………………

Contoh PBL sesuai dengan metode yang dikembangkan oleh Arends (2004) dikembangkan Sutrisno dan Dedek Sukarianingsih untuk Pembelajaran Penentuan Struktur Senyawa Organik di Jurusan Kimia FMIPA UM.

RENCANA PEMBELAJARAN I
MATAKULIAH : Penentuan Struktur Senyawa Organik
MATERI : SPEKTROSKOPI MASSA
SEMESTER : Ke 7
PROGRAM STUDI : Pendidikan Kimia dan Kimia
ALOKASI WAKTU : 10 x Pertemuan @ 100 menit

I. Kompetensi
Memahami prinsip dasar spektroskopi massa dan mampu menginterpretasikan spektrum massa
II. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
5. memahami prinsip dasar spektroskopi massa
6. menjelaskan metode produksi ion
7. menjelaskan corak utama puncak-puncak khas dalam spektrum massa
8. menginterpretasikan spektrum massa untuk menduga atau menurunkan struktur senyawa organik dan sebaliknya
9. menjelaskan pola umum aturan fragmenatsi dalam spektra massa
III. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Dosen Kegiatan Mahasiswa Waktu
Pendahuluan
11. Meminta pada mahasiswa untuk mengungkap kembali “pemahamannya” (dari ikatan kimia, Kimia Organik I, II, III dan Kimia Organik Fisik): sifat ikatan senyawa organik, penamaan, isomerik, dan lain-lain yang dimiliki mahasiswa
12. Merekam (memperhatikan dan menulis ungkapan yang dikemukakan mahaiswa di papan tulis), memberikan sedikit ulasan.
13. Menyampaikan tujuan pembelajaran tentang Spektroskopi Massa: prinsip dasar, interpretasi spektra, dan manfaatnya untuk menetapkan struktur (informasi diberikan secara garis besar, melalui transparansi atau hand-out). Sumber bahan ajar lain berupa buku ajar.
14. Mengungkapkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki tentang gugus fungsi karbonil, seperti diharapkan oleh dosen
15. Diharapkan ada diskusi antar teman yang duduk bersebelahan
16. Menerima informasi

3 – 4 kali pertemuan
INTI
Fase 1: Mengorientasikan mahasiswa pada masalah
• Meminta mahasiswa untuk menghayati dan merenungkan kembali apa-apa yang yang telah disampaikan pada tahap pendahuluan.
• Meminta kepada mahasiswa untuk memperhatikan suatu kasus sebagai berikut:
“………………………………………………….”
• Dengan memperhatikan kasus tersebut mahasiswa diharapkan dapat menyusun masalah dan memecahkannya, serta mengembangkannya. Permasalahan diarahkan pada metode produksi ion, fragmentasi, dan interpretasi spektra massa
• Pemecahan masalah diselasaikan melalui forum diskusi kelompok (kecil dan kelas) pada fase selanjutnya.

Fase 2 : Mengorganisir mahasiswa untuk belajar
• Meminta mahasiswa untuk membagi diri dalam beberapa kelompok (penentuan kelompok ditetapkan oleh dosen berdasarkan IP semester sebelumnya). Tiap kelompok terdiri 4–5 orang.
• Membagikan bahan bacaan tambahan kepada mahasiswa untuk bahan diskusi
• Meminta mahasiswa mencermati bahan bacaan (yang dibagikan, hasil informasi, dan dari buku/modul ajar yang ada).

Fase 3 : Membantu mahasiswa memecahkan masalah

Pada fase ini dosen berkeliling dan terkadang masuk ke dalam kelompok secara bergiliran dengan:
• Meminta mahasiswa memahami isi wacana dalam bahan bacaan, hand-out, buku ajar, dan lainnya.
• Memotivasi/mendorong mahasiswa untuk diskusi dalam kelompoknya tentang apa-apa yang diharapkan.
• Meminta mahasiswa untuk menuliskan hasil pekerjaanya pada catatan kuliah (untuk masing-masing mahasiswa) dan pada plastik transparansi (untuk masing-masing kelompok: satu kelompok cukup satu perwakilan) yang telah disediakan dengan kreatifitas masing-masing.
• Memantau jalannya diskusi
• Meminta kepada masing-masing kelompok untuk mengumpulkan hasil-hasil diskusinya yang telah dituliskan untuk digunakan sebagai bahan pada fase berikutnya

Fase 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah

• Meminta perwakilan kelompok untuk menyajikan/mempresentasikan hasil-hasil diskusi (karyanya) di depan kelas
• Meminta mahasiswa untuk memperhatikan sajian/paparan hasil karya dari kelompok yang mempresentasikan, mencermati, dan membandingkan dengan hasil dari kelompoknya sendiri.
• Membimbing mahasiswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
• Membimbing mahasiswa untuk melakukan diskusi kelas
• Mencatat hal-hal yang menyimpang atau tumpang tindih atau “unik” antara kelompok yang satu dengan yang lain.
• Menilai keaktifan siswa (individu dan kelompok) dalam kelas saat presentasi berlangsung
Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
• Dosen membantu mahasiswa mengkaji ulang proses/hasil pemecahan masalah
• Dosen memberikan penjelasan mengenai hal yang tumpang tindih atau “unik” dan mengulas hal yang baru dan berbeda pada tiap kelompok.
• Merekam jalannya pembelajaran

• Mencermati arahan dan penjelasan dosen
• Mengikuti perkembangan proses pembelajaran

• Membentuk kelompok
• Menerima bahan bacaan untuk diskusi
• Menindaklanjuti arahan dosen

• Menanyakan hal-hal yang kurang dipahami.
• Diskusi kelompok.
• Menuliskan hasil diskusi

• Mempresentasi hasil diskusi
• Tiap kelompok memperoleh kesempatan yang sama dalam presentasi
• Melakukan diskusi kelas / tanya jawab

• Mencermati penjelasan dosen
• Bertanya tentang hal yang kurang dipahami

1 – 2 kali pertemuan

1 – 2 kali pertemuan

1 – 2 kali pertemuan

2 kali pertemuan
Penutup
• Dosen bersama mahasiswa menyimpulkan apa yang telah dipelajari secara bersama tentang golongan senyawa turunan asam karboksilat
• Merencanakan ujian bagian.
• Mengikuti langgam dosen dalam pembelajaran ½ kali pertemuan

DAFTAR PUSTAKA

Brown, J.S., Collins, A., dan Duguid, P. 1989. Situated Cognition and The Culture of Learning. Educational Researcher, 18,32-42.
Brown, A.L., dan Palincsar, A.S.1986. Guided, Cooperative Learning and Individual Knowledge (Report No. 372). Urbana, IL: Center for the Study of Reading.
Boud, D. Dan Felleti, G.I. 1997. The challenge of problem based learning. London: Kogapage
Cannon, K.C dan Krow, G, R. 1998. Synthesis of Complex Natutal Product as a Vehicle for Student-centered, Problem-based Learning. Journal of Chemical Education, 75(10), 1259-1260.
Dasna, I Wayan. 2004. Analisis kesalahan proposal dan hasil Ujian Mahasiswa Kimia peserta Matakuliah Metode Penelitian 2001 – 2004. Artikel. Belum dipublikasikan.
Dasna, I Wayan. 2005. Penggunaan Model Pembelajaran Problem-based Learning dan Kooperatif learning untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar kuliah metodologi penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UM.
Damon, W., dan Pelps, E. 1989. Critical Distictions Among Three Approaches to Peer Education. International Journal of Educational Research, 13,9-19.
De Porter, B., Reardon, M., dan Sarah Singer-Nourie. 2001. Quantum Teaching. Bandung:Kaifa.
Dods, R. F., 1996. A Problem-Based Learning Design for teaching Biochemistry. Journal of Chemical Education, 73(3), 252-258.
Fogarty, R. 1997. Problem-based learning and other curriculum models for the multiple intelligences classroom. Arlington Heights, Illionis: Sky Light.
Forman, E.A., Cordle, J., Carr, N., dan Gregorius, T. 1991. Expertise and the Construction on Meaning in Colaborative Problem Solving. Paper presented at the 21st Annual Symposium of the Jean Peagget Society.
Mayer, R.E. 1983. Thinking, Problem Solving, and Cognition. New York: Freeman.
Olivier, K. M., 2000. Methods for develoving constructivist learning on the web. Educational Technology, Novemver-Desember 2000, pp. 5-18.
Jonassen, D.H. 1999. Designing constructivist learning environments. Dalam Reigeluth, C.M. (Ed): Instructional-design theories and models: A new paradigm of instructional theory, volume II. Pp. 215-239. New Jersey: Lawrence Erlbaum associates, Publisher.
Johnson, D.W., dan Johnson, R.T., 1989. Cooperative and Competitive: Theory and Research. Edina, MN: Interaction Book Co.
Salomon, G., dan Globerson, T. 1989. When Teams Do Not Function the Way They Ought To. International Journal of Educational Research. 13, 89-99.
Slavin, R.E. 1990. Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Slavin, R. E. 1986. Learning Together. American Educator. VII/002. Summer 1986, 1-7.
Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology, Theory and Practice. Fourth Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publisher.
Sutrisno. 2006. Problem-based Learning. Dalam monograf Model-model pembelajaran Sains (kimia) inovatif. Malang:Jurusan Kimia
Tuckman, Bruce, W. 1978. Conducting Educational Research. Second Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich.
Nur, M., Wikandari, Prima, R., Sugiarto. 1998. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: IKIP Surabaya.
Nur, M., Wikandari, Prima, R.,. 1998. Pendekatan-pendekatan Konstruktivis dalam Pembelajaran. Surabaya: IKIP Surabaya.
Woods, D. R. 1996. Problem-based learning: how to gain the most from PBL. Canada: McMaster University Bookstore.

About these ads

57 Komentar »

  1. agus_irsyad Said:

    saya sangat senang dengan artikel ini dan bisa juga buat bahan tuk tugas-tugas saya. thanks.

  2. soetarno bin said smadajoe Said:

    artkel menarik, bisa dikembangkan untuk pembelajaran kimia dan PTK untuk guru

  3. trulli arviansyah Said:

    mohon bantuan kisi – kisi penyusunan skripsi dengan menggunakan metode PBL pada jurusan matematika.
    saya masih bingung dan belum dapat pegangan untuk skripsi semester depan. karena saya ingin mengangkat judul skripsi dengan metode tersebut.
    terima kasih atas bantuan yang diberikan.
    semoga bapak – bapak tidak keberatan atas permohonan bantuan saya ini.
    terima kasih

    • erna Said:

      trima kasih untuk artikelnya yah…saya mohon ijin untuk copas sbg bahan skripsi saya.karena saya akan mengangak tema ini…mohon juga informasi mengenai buku yang membahas topik ini sbg bahan referensi untuk saya…

  4. susanto,s.... Said:

    saya senang mendapat petunjuk secara teoritis dalam penyusunan PTK yang menggunakan strategi PBM

  5. rbaryans Said:

    mohon ijin untuk di copy mas….nuwun… :)

  6. LUKMAN Said:

    artikel ini sangat bagus dapat menambah wawasan tentang model pembelajaran.
    Saya tunggu kabar selanjutnya.

  7. yustiandi Said:

    saya merasa terbantu dengan adanya artikel ini…PBM dapat dikatakan sebagai model dan juga dapat dikatakan sebagai pendekatan, yang jadi pertanyaan saya, kapan PBM dikatakan sebagai model dan kapan PBM dikatakan sebagai pendekatan?terima kasih….

  8. July Said:

    tulisan ini baik sekali dan sangat membantu saya. PBL selayaknya harus sudah diterapkan di yunior atau high school. tapi bagaimana jika PBL mulai diterapkan di primary school ? tentunya dengan level yang berbeda…karena jika dari SD siswa sudah di latih berpikir kritis akan sangat baik dalam perkembangan pendidikannya. Bagaimana pendapat bpk ? atau mungkin bpk memiliki kerangka PBL yang sesuai ? saya tunggu kabar selanjutnya. Trimah kasih.

  9. radha Said:

    Thx bngat y..udh bantu, xeesaikan tgas q…. alx q perlu banget artikel ttg PBL nie………

  10. yusuf Said:

    sangat menarik. tolong tambahi buat fisika ya mas. because I’m mhswa pend. fisika. wassalam.

  11. cici Said:

    wow…terimakasih dengan makalah ini.
    tlg krm makalah manfaat PBL terhadap komunikasi matematika…ke email saya.thx

  12. boy Said:

    bagus,tolong kasih contoh tentang mata pelajaran TIK y

  13. [...] Oleh : I Wayan Dasna dan Sutrisno [...]

  14. Ode Said:

    aku lagi nyari tugas seminar neh……………
    aku mo ngucapin terima kasih banyak yah, atas bantuannya karena dengan membuka blog bapak saya jadi tertolong,,,,,,,,,,,,,,,

  15. Diah Said:

    bisakah PBL ini diterapkan dalam mata pelajaran agama?

  16. heny Said:

    duh!!bagus banget………… n aq tertarik dg PBL ini. minta kisi-kisi donx ttg PBL u/ mapel Matematika. terus, minta contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajarannya sekalian u/ mapel matematika SMA. LZZZ ke email aq y………….. !!! thanks

  17. tantra Said:

    bagus banget pak,aq juga ngambil skripsi tentang PBL n hal ini membantu banget dalam penulisanku………….makasih banyak pak

  18. indah Said:

    bsa ga ya, PBL ini diterapkan pada mata pelajaran Kekuatan Konstruksi Bangunan Sederhana utk SMK? Soalnya aq mo nulis skripsi ttg PBL ini.. minta kisi2-a donk bwt mapel KKBS ini.. tolog y maz blz k email aq..
    thnx sblm-a….

  19. kadek Said:

    Apakah sistem pembelajaran ini bisa diterapkan pada pelatihan anak buah dari atasannya dalam suatu perusahaan sehinnga anak buah memahami pekerjaannya

  20. vitry Said:

    bagus, sangat membantu saya dlam membuat laporan

  21. AL-FATH LATUCONSINA WAKAL Said:

    terimah kasih untuk tulisannya yach……………..

    bagus n lengkap……………..

    maaf yach …………
    soalnya saya sudah copy……………….

  22. masdar Said:

    makasih atas tulisannya.saya barusan copy. GOOD LUCK

  23. lusy Said:

    Aslm. Wr Wb

    terima kasih atas bahannya, boleh dak lusy minta juga daftar buku dan tesis ttg pbl bidang ips? tlg kirim keemail lusy ya.

    wslm wr wb

  24. wah bacaaannya panjang banget sih, capek deh, but makasih ya bos

  25. martha Said:

    saya pengen judul thessis tentang PBL untuk kimia…kira2 judul yang cocok apa yah???

    mohon bantuan teman2 smua….thx yah

  26. Muhammad Nurudin Said:

    saya berencana melakukan penelitian skripsi tentang PBL pada materi usaha dan energi di kelas XI SMA, mohon bantuannya kasih tau masalah yang bagus buat diangkat apa ya???
    trims…

  27. Puspita W Said:

    terima kasih ilmunya. Mohon diperbolehkan copy artikel, untuk dipelajari.

  28. Moh. Nurudin Said:

    Bagus banget artikelnya, kebetulan lagi nyususn proposal skrispi ni.
    ada saran untuk masalah yang bagus diangkat pada fisika materi Hukum Newton tentang Gravitas?…..
    Trims.

  29. jia Said:

    assalamualaikum…..
    saya bisa minta tolong kirimkan contoh proposal atau skripsi yang mengangkat tema pembelajaran berbasis masalah sebagai bahan reerensi skripsi saya makasih wassalamwrwb

  30. shinta Said:

    izin mgopy yachhh

  31. sirruun Said:

    trima kasih, artikelnya menarik. mohon minta dikirim. tank’s

  32. J.F. Lama Mana Said:

    Tolong minta dikirimin dong! artikelnya bagus buat referensi.

  33. uce Said:

    uce bilang makalanya gak mensarik

  34. astryrestari Said:

    makasih banget untuk tulisannya
    akhirnya kelar jg tugasku.
    kalau pbl ini bisa untuk pelajaran IPS di SD atau SMP gak ?

  35. benita Said:

    thank s

  36. mery Said:

    thx bgt artikelnya..
    ngebantu bgt nich buat tugas..
    di copy ya.

  37. elha Said:

    artikel ni sgt membantu z,apaLg saat ni z lg baxk tgs yg sperti ini..UUuuuuuGghhhhhhh…………….SENANGX.

  38. Ridhno Elganova M. Said:

    izin mngcopy ya

  39. setyo Said:

    artikel metode pengajrny sngat berguan skli bg sy,,,, saya mohon ijin untuk mengcpy….. terima kasih.

  40. aluh Said:

    bagus…..

  41. wahyudin SMP N 1 Sukamakmur Kab. Bogor Said:

    Makasih ya, saya jadi punya gambaran tentang PBL, boleh cp ga?

  42. veronica Said:

    mhon ijin utk copy yaw,…mkcih..

  43. Imam hanafi Said:

    BAGUS BRO

  44. dila Said:

    tolong bantu saya, saya butuh contoh rpp + LKS PBL,tlng kirim k email saya y,mksh byk

  45. Aldo Said:

    Asslmkm,,minta tolong materi yg cocok untuk model ini dalam matematika dan contoh rppnya gmna?mohon kirim ke emailq,makasih sebelumx,wassalam

  46. Amin Said:

    Assalam.. Terima kasih atas rencana nya..
    Saya mahu bertanya.. PBL ne kalau saya gunakan untuk pengajaran pendidikan agama, sesuai atau tidak..
    Saya masih kurang paham bentuk masalah bagi pelajaran agama bagi kaedah PBL ne? Mohon kirim ke email saya.. Terima kasih banyak2 sumbangannya.. Assalam..

  47. Amin Said:

    Satu lagi mohon di copy artikelnya ye buat rujukan saya.. terima kasih..

  48. widi Said:

    saya suka dengan artikel ini….
    oy kalau PBM ni kita kaitkan dngn pelajaran pkn bisa gx??????????

  49. Ara Said:

    Assalamu alaikum…
    Saya suka artikelx….
    Oh ya,,tolong bantuannya, saya butuh RPP PBL matematika kelas VII semester genap dengan KD Mendefinisikan sifat-sifat persegi panjang, persegi, jajar genjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium. Sampai materi terakhir semester genap…
    Tolong ya…krim ke alamat email saya ara_yuki88@yahoo.com
    Terima kasih sebelumnya.

  50. Saya sangat senang dengan adanya artikel ini, alhamdulillah bsa sedikit membantu saya dalam penulisan skripsi. sukses selalu……

  51. makasih atas artikel yang sangat bermanfaat ini………

  52. mohon kirimkan contoh proposal / skipsi tentang pengaruh penggunaan pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar siswa kelas iv dan v mata pelajaran IPS. trima kasih.

  53. ghanaweb.Com Said:

    Excellent, what a webpage it is! This weblog provides useful facts to us, keep
    it up.

  54. saya bisa dapet bukunya model-mdel pembelajaran konstruktivistik dalam pembelajaran kimia itu di mana yaa? terimakasih. mohon bantuannya..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: