Mengajar Berdasarkan Model Dimensi Belajar

Mengajar Berdasarkan Model Dimensi Belajar

Waras Kamdi

Dimensi belajar yang amat penting tetapi belum tersentuh secara serius dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah kita adalah kecakapan berpikir produktif. Sebagian besar pendidik belum menyusun secara serius pembelajaran yang didasarkan pada premis proses belajar. Kita belum banyak membangun sistem pembelajaran yang mendukung apa yang kita ketahui tentang proses belajar itu. Paparan ringkas ini adalah sebuah kiat mengembangkan pembelajaran dengan berdasarkan model Lima Dimensi Belajar (Marzano, 1992), yang berorientasi pada kebiasaan berpikir produktif. Sebagai ilustrasi, disajikan contoh terapan pengembangan pembelajaran IPA Sekolah Dasar.

Rendahnya kecakapan berpikir produktif anak-anak Indonesia masih menjadi keprihatinan masyarakat, terutama kalangan pendidik (Mangunwijaya, 1998; Drost, 1998; Marpaung, 1998). Para ahli pendidikan mengatakan bahwa proses pembelajaran tradisional yang sampai sekarang masih dominan di sekolah-sekolah belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir produktif; satu dimensi yang paling esensial dari dimensi belajar. Sebagian besar pendidik belum menyusun secara serius pembelajaran yang didasarkan pada premis proses belajar, karena memang kita masih kekurangan pengetahuan tentang proses belajar (Drost, 1998). Hasil belajar anak pun tak dapat tercapai seperti yang diharapkan, yakni hasil belajar tingkat pemahaman, melainkan hanya sebatas pada tingkat penyerapan informasi.
Hampir semua pendidik mengetahui dan menyadari bahwa pembelajaran yang efektif mencerminkan belajar siswa yang efektif pula. Kita sudah lama menyadari bahwa pembelajaran berpikir agar anak menjadi cerdas, kritis, dan kreatif, serta mempu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari adalah penting. Kesadaran ini juga telah mendasari pengembangan kurikulum, sehingga kurikulum kita lebih mengedepankan pembelajaran yang kontekstual dengan lingkungan kehidupan sehari-hari anak (konteks sosial) dan kontekstual dengan proses belajar anak (konteks kognitif). Akan tetapi, sebagian besar pendidik kita belum banyak berbuat; belum menyusun secara serius pembelajaran yang didasarkan pada premis proses belajar (Drost, 1998; Mangunwijaya, 1998). Kita masih berkutat dengan cara-cara mengajar yang lama, yang cenderung mematikan potensi kreatif anak. Kita belum banyak melakukan kajian tentang proses belajar dan kemudian membangun sistem pembelajaran yang mendukung apa yang kita ketahui tentang proses belajar itu. Dengan demikian, kita masih membutuhkan pengetahuan tentang proses belajar, yang kemudian dapat membantu kita menyusun sistem pembelajaran, dan sistem administrasi yang mendukung apa yang kita ketahui tentang proses belajar tersebut.
Tulisan ini adalah paparan kiat mengembangkan pembelajaran berdasarkan model Lima Dimensi Belajar yang diformulasikan oleh Robert J. Marzano (1992). Tulisan ini disertai contoh terapan pada pengembangan pembelajaran IPA SD.

Apa Model Dimensi Belajar?

Model Dimensi Belajar merupakan metafora tentang bagaimana otak bekerja selama orang belajar. Dimensi belajar ini terdiri atas lima tipe berpikir yang bersifat interaktif, yaitu sikap dan persepsi positif terhadap belajar, pemerolehan dan pengitegrasian pengetahuan, perluasan dan penghalusan pengetahuan, penggunaan pengetahuan secara bermakna, dan kebiasaan berpikir produktif. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan model Dimensi Belajar adalah pembelajaran yang menggunakan dimensi-dimensi belajar itu sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu, niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik. Model Dimensi Belajar tersebut dilukiskan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Model Dimensi Belajar (Adaptasi dari Marzano, 1992)

Fase I: Mengembangkan Sikap dan Persepsi Positif

Mudah untuk dipahami bahwa sikap dan persepsi si belajar sangat mempengaruhi proses belajar. Sikap dapat mempengaruhi belajar secara positif, sehingga belajar menjadi mudah, sebaliknya sikap juga dapat membuat belajar menjadi sangat sulit.
Ada dua kategori sikap dan persepsi yang mempengaruhi belajar: (1) sikap dan persepsi tentang iklim (suasana) belajar, dan (2) sikap dan persepsi terhadap tugas-tugas kelas. Guru yang efektif memberikan penguatan terhadap kedua kategori itu dengan teknik yang jelas dan sesuai.
Guru seyogyanya membantu menumbuhkan sikap dan persepsi siswa yang positif terhadap iklim belajar dengan menekankan aspek-aspek internal siswa (suasana mental yang kondusif) daripada aspek-aspek eksternal. Aspek-aspek internal ini meliputi dua hal, yaitu (1) penerimaan oleh guru dan teman sekelas (kontak mata, penguatan, dll), dan (2) kenyamanan suasana fisik di dalam kelas (perabot yang nyaman, aturan-aturan yang menyenangkan, dll). Guru dapat membantu menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap tugas-tugas kelas dengan cara memberikan pemahaman akan nilai tugas, kejelasan tugas, dan kejelasan sumber.
Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu guru dalam mengambil keputusan-keputusan siatuasional/transaksional di dalam kelas, yaitu:
a. Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak mengembangkan sikap dan persepsi positif tentang iklim belajar? Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak merasa diterima oleh guru dam teman sejawatnya? Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak mempersepsi kelas sebagai tempat yang nyaman dan menyenangkan?
b. Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak mengembangkan sikap dan persepsi positif tentang matapelajaran? Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak mempersepsi mata pelajaran sebagai sesuatu yang bernilai/berguna? Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak yakin mereka dapat mengerjakan tugas-tugas kelas? Apa yang akan dilakukan untuk membantu anak memahami tugas-tugas kelas?
Belajar tentang topik “Perilaku Air” pada IPA kelas V SD misalnya, guru dapat mengembangkan sikap dan persepsi posotif terhadap belajar dengan memberikan gambaran betapa pentingnya air dalam kehidupan kita, dan betapa pentingnya memahami perilaku air sehingga manusia dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya.

Fase II: Belajar untuk Pemerolehan
dan Pengintegrasian Pengetahuan
Ahli psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses interaksi yang tinggi dalam membangun makna secara personal dari informasi yang diperoleh dengan pengetahuan yang sudah ada menjadi pengetahuan baru. Menerima pengetahuan melibatkan proses interaksi antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dipelajari, dan setelah itu mengintegrasikan informasi tersebut menjadi langkah-langkah sederhana yang mudah digunakan.
Menurut E.D. Gagne (1985), pengetahuan dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Banyak ahli yakin bahwa pemerolehan tipe pengetahuan yang berbeda memerlukan proses yang berbeda pula. Misalnya belajar membaca peta, melakukan eksperimen, mengedit esei, dan sejenisnya, akan berbeda prosesnya dengan belajar jenis pengetahuan seperti: nama-nama ibukota, jenis bakteri, dan sejenisnya. Contoh kelompok pertama mencakup proses. Proses tersebut terbentuk di dalam mode linier. Dalam melakukan eksperimen, misalnya menguji benda padat yang larut dalam air, siswa melakukan dengan tahapan-tahapan tertentu. Mungkin menyiapkan lembar catatan, menyiapkan perangkat eksperimen, mencari bermacam-macam bahan, memberi label bahan-bahan yang akan diuji, menyiapkan air dalam gelas-gelas, melakukan pelarutan benda-benda yang diuji, mengamati hasil larutan, dst. Pengetahuan yang demikian ini disebut pengetahuan prosedural. Contoh kelompok kedua tidak menunjukkan proses atau seperangkat tahapan. Pemerolehan pengetahuan tipe ini mencakup pemahaman komponen-komponen dan mengingatnya kembali tatkala diperlukan. Misalnya, pengetahuan konsep “air minum” meliputi pemahaman tentang air yang bersih, air yang tidak mengadung bahan-bahan beracun, air untuk keperluan rumah tangga, dan sebagainya. Tipe pengetahuan ini secara umum disebut pengetahuan deklaratif.
Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat memandu kita (para guru) dalam mengambil keputusan transaksional di dalam kelas, yaitu:
a. Mengajarkan Pengetahuan Deklaratif: Apa topik umumnya? Apa topik khususnya? Bagaimana anak akan mengalami informasi? Bagaimana anak akan dibantu mengkonstruksi makna? Bagaimana anak akan dibantu dalam pengorganisasian informasi? Bagaimana anak akan dibantu dalam menyimpan informasi dalam ingatan jangka panjang?
b. Pengetahuan Prosedural: Keterampilan dan proses apa yang perlu dikuasai anak? Bagaimana anak dibantu mengkonstruksi model? Bagaimana anak dibantu dalam pembentukan keterampilan atau proses? Bagaimana anak dibantu dalam penginternalan keterampilan atau proses?
Berikut ini adalah contoh Panduan Pembelajaran untuk Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan tentang topik belajar Perilaku Air (Tabel 1).

Tabel 1. Pembelajaran untuk Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan
Konsep yang dipelajari Apa yang khusus? Bagaimana infromasi dialami siswa? Bagaimana siswa dibantu mengkonstruksi makna? Bagaimana siswa dibantu mengorganisasi infromasi? Bagaimana siswa dibantu menyimpan informasi?
Air menempati ruang Air tak punya bentuk yang tetap.
Percobaan menuang air; membaca buku teks hal. 5-6. Siswa dimbimbing melakukan brainstorming sebelum membaca. Diajukan pertanyaan –pertanyaan kepada siswa. Siswa dibimbing membuat kesimpulan.
Air mengalir Air megalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Membaca buku teks hal. 7-8; eksplorasi ke lingkungan sekitar sekolah Siswa dibantu membuat pertanyaan “mana tempat yang lebih tinggi?” Siswa dibantu mengaitkan konsep mengalir dengan konsep menempati ruang.
Air meresap Gejala kapilaritas Membaca buku teks, hal.6 Siswa melakukan brainstorming tentang kerja sumbu kompor. Diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa. Siswa dibimbing membuat kesimpulan.
Benda padat yang dimasukkan ke dalam air mengalami peristiwa tertentu Beberapa benda padat larut, mengapung, melayang, tenggelam dalam air
Membaca buku teks hal. 8-10. Siswa dibimbing melakukan diskusi kelompok Diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
Air berubah wujud Air menguap; mengembun; dan membeku Membaca buku teks Siswa dibimbing melakukan diskusi kelompok Diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
Air memiliki tekanan Air menekan ke segala arah Melakukan percobaan, hal. 16 Siswa dibimbing melakukan diskusi kelompok Diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.

Fase III: Perluasan dan Penghalusan Pengetahuan
Pada dimensi ini aspek-aspek belajar melibatkan pengujian apa yang diketahui agar mencapai tingkat yang lebih dalam dan analitis. Kegiatan memperluas dan memperhalus pengetahuan ini dilakukan dengan: (1) comparing (identifikasi dan artikulasi hal-hal atau benda-benda yang mirip dan berbeda), (2) classifying (pengelompokan jenis-jenis benda ke dalam kategori berdasarkan atribut dasarnya), (3) inducing (pendugaan prinsip-prinsip atau generalisasi yang belum diketahui dari observasi atau analisis), (4) deducing (pendugaan kondisi yang belum ternyatakan dari prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu), (4) analyzing error (identifikasi dan artikulasi kesalahan di dalam pikiran sendiri maupun orang lain), (5) constructing support (pengkostruksian sistem dukungan kebenaran atau bukti untuk suatu pernyataan yang tegas), (6) abstracting (identifikasi dan artikulasi tema penting atau pola umum suatu informasi), dan (7) analyzing perspetive (identifikasi dan artikulasi perspektif personal tentang berbagai macam isu).
Cara membantu anak agar dapat memperluas dan menghaluskan pengetahuan dilakukan dengan memberikan kerangka langkah-langkah secara eksplisit tentang suatu proses, atau dengan menggunakan tugas-tugas terstruktur. Kegiatan belajarnya bisa berupa proses-proses membandingkan, klasifikasi, menginduksi, mendeduksi, menganalisis kesalahan, dst. Yang dilakukan guru adalah begitu ia mempersiapkan aktivitas untuk membantu siswa dalam menerima dan mengintegrasikan pengetahuan (Dimensi 2), begitu pula segera dipersiapkan untuk membantu siswa dalam memperluas dan menghaluskan pengetahuan (Dimensi 3).
Pertanyaan-pertanyaan pemandu untuk mengembangkan pembelajaran atau mengambil keputusan transaksional di dalam kelas, antara lain:
a. Apa informasi yang akan diperluas dan diperhalus?
b. Kegiatan apa yang digunakan untuk membantu anak memperluas dan memperhalus pengetahuan?
Panduan Pembelajaran untuk perluasan dan penghalusan pengetahuan disajikan dalam lembar-lembar percobaan yang dimuat dalam buku teks. Kegiatan melakukan percobaan ini dirancang mengandung muatan untuk pemerolehan pengetahuan prosedural (fase II). Jabaran Informasi yang diperluas dan perencanaan unit pembelajarannya sebagaimana dalam Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Jabaran Informasi yang Diperluas
Informasi Pembandingan Klasifikasi Induksi Lembar Kerja
Permukaan Air Siswa membuat kesimpulan dari percobaan Halaman 13, dan halaman 14
Benda larut Mengklasifikasi jenis benda yang larut dan tidak larut dalam air Halaman 15
Benda mengapung, melayang, dan tengelam Mengklasifikasi benda-benda yang mengapung, melayang, dan tenggelam Halaman 18
Siklus perubahan air Membandingkan dua percobaan pengembunan air Menarik kesimpulan dari hasil percobaan Halaman 17

Fase IV: Belajar Menggunakan Pengetahuan secara Bermakna
Pada umumnya kita belajar dengan baik jika pengetahuan yang kita pelajari itu diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Keberadaan tujuan umum akan dicapai dengan cara-cara umum di mana kita menggunakan pengetahuan itu secara bermakna.
Cara guru membantu siswa agar dapat menggunakan pengetahuan secara bermakna dilakukan dengan: (1) Decision making, yaitu suatu proses menjawab pertanyaan seperti “Apa cara yang paling baik untuk ….?” atau “mana yang paling cocok untuk ….?”; (2) Investigation; ada tiga tipe dasar investigasi, yakni definitional investigation yang meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan seperti “apa yang menjadi ciri khas dari…..?”; historical investigation meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan seperti “bagaimana ini terjadi?” atau “mengapa ini terjadi?”; dan projective investigation yang meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan “apa yang akan terjadi, jika….?; (3) Experimental inquiry, yaitu proses memperoleh jawaban atas pertanyaan seperti, “bagaimana saya menjelaskan ini?” atau “berdasarkan penjelasan saya, apa yang dapat saya prediksi?”; (4) Problem solving, yaitu menjawab pertanyaan “bagaimana saya akan memecahkan masalah ini?”; dan (5) Invention, yaitu proses penciptaan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan; menjawab pertanyaan seperti “apa cara baru yang …? atau “apa cara yang paling baik ….? Dalam menjadikan pengetahuan bermakna, penerapan kelima cara tersebut dalam tugas-tugas kelas dapat dikategorikan menjadi application-oriented task, long-term task, dan student-directed task.
Pertanyaan-pertanyaan pemandu yang dapat membantu guru dalam mengembil keputusan-keputusan transaksional di dalam kelas:
a. Apa isu besarnya
b. Berapa banyak isi yang akan diangkat?
c. Siapa yang akan menstruktur tugas?
d. Produk apa yang akan dibuat oleh anak?
e. Apa yang akan dikerjakan anak dalam kelompok kooperatif?
Panduan Pembelajaran untuk menggunakan pengetahuan secara bermakna dirancang menyatu dengan lembar kerja untuk fase pembelajaran IV. Di bagian akhir kegiatan percobaan untuk perluasan dan penghalusan pengetahuan di berikan tugas yang mengarah pada pengembangan keterampilan pemecahan masalah (problem solving), dan keterampilan pengambilan keputusan (decision making) (tersedia dalam lembar kerja; buku teks).

Fase V: Mengembangkan Kebiasaan Berpikir Produktif
Dimensi ini menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara produktif yang ditandai dengan: (1) self-regulated thinking and learning, yakni kebiasaan mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, tindakan yang terencana, mengetahui sumber-sumber yang penting, sensitif terhadap umpan balik, dan evaluatif terhadap keefektifan tindakan; (2) critical thinking and learning, yang dicirikan oleh tindakan yang cermat, jelas, terbuka, bisa mengendalikan diri, sensitif terhadap tingkat pengetahuan; dan (3) creative thinking and learning, yang ditandai oleh semangat tinggi, berusaha sebatas kemampuan, percaya diri, teguh, dan menciptakan hal-hal atau cara-cara baru. Cara membantu siswa mengembangkan dan memelihara kebiasaan berpikir produktif adalah dilakukan dengan: menumbuhkan sikap kebiasaan berpikir produktif dengan mengembangkan dimensi 1 s.d. 4, kebiasaan berpikir yang diantarkan dengan mengintegrasikan ke dalam tugas-tugas di kelas, menggunakan contoh-contoh khusus dari kehidupan orang yang memiliki kebiasaan mental unggul, misalnya kegigihan orang yang mempelajari perilaku air sehingga menjadi ahli konstruksi bendungan, seperti Ir. Sutami yang merancang bendungan Karangkates, misalnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat memandu guru dalam mengembangkan keputusan-keputusan transaksional di dalam kelas:
a. Kebiasaan mental yang mana yang akan ditekankan?
b. Kebiasaan mental yang mana yang akan diintrodusir?
c. Bagaimana memberi penguatan terhadap kebiasaan mental?

Berikut ini contoh apa yang akan dilakukan guru atau orang tua untuk membantu anak dalam berpikir pengatur diri sendiri, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.

Berpikir Mengatur diri sendiri:
—- Membantu siswa menyadari apa yang sedang mereka pikirkan.
—- Mendorong siswa merencana
–- Mendorong siswa menggunakan sumber
—- Mendorong siswa sensistif terhadap umpan balik
—- Mendorong siswa mengevaluasi tindakan sendiri

Kegiatan:
Guru mendorong siswa mengidentifikasi bermacam-macam kemanfaatan air.
Berpikir Kritis:
— Mendorong siswa bertindak akurat.
— Mendorong siswa berpikir terbuka
— Mendorong siswa sensistif terhadap yang lain. Berpikir Kreatif:
–- Mendorong siswa untuk gigih menyelesaikan tugas
— Mendorong siswa untuk menghasilkan cara-cara baru.

Kepustakaan
Drost, J.I.G.M. 1998. Sekolah: Mengajar atau Mendidik. Yogyakarta: Kanisius & Universitas Sanata Dharma.
Gagne, E.D. 1985. The Cognitve Psychology of School Learning. Boston: Little, Brown, and Company.
Mangunwidjaya, Y.B. 1998. Beberapa Gagasan tentang SD Bagi 20 Juta Anak dari Keluarga Kurang Mampu. Dalam Sumaji (Ed.), Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisius & Universitas Sanata Dharma
Marpaung, Y. 1998. Pendekatan Sosio-kultural dalam Pembelajaran Matematika dan Sains. Dalam Sumaji (Ed.), Pendidikan Sains yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisius & Universitas Sanata Dharma, 239–264.
Marzano, R.J. 1992. A Different Kind of Classroom: Teaching with Dimensions of Learning. Alexandria, Verginia: ASCD.

—————————
Penulis adalah dosen FT Universitas Negeri Malang, mahasiswa Program Doktor Teknologi Pembelajaran.

About these ads

3 Komentar »

  1. juned Said:

    oke, saya setuju. Memang perlu diupayakan pembelejaran yang berdimensi belajar. Diperlukan sarana dalam mempraktekkannya

  2. supian Said:

    ya memang pembelajaran puisi perlu ada kreasi bagi siswa dan guru sehingga termotivasi dalam belajar sastra apalagi kreator dari seorang pengajar banyak dibutuhkan oleh siswa. oc baik kita tingkatkan penagaaran puisi yang berdimensi oc..oc…lam kenal

  3. anik novianti Said:

    saya mau tanya, apakah model dimensi belajar ini cocok untuk pembelajaran matematika….??
    berkenaan dengan model ini, saya ingin ajukan sebagai skripsi saya, tapi saya mengalami kesulitan mengenai referensi bukunya….
    mohon sarannya…
    trimakasihhh….


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: