Archive for 2008

Kemampuan Membaca dan Menulis Arab-Indonesia Melalui Metode Klasifikasi

ABSTRAK

Grafura, Lubis. 2008. Kemampuan Membaca dan Menulis Arab-Indonesia Melalui Metode Klasifikasi. Jurnal, Pendidikan Bahasa Indoensia. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Mujianto. M.Pd

Kata Kunci: membaca, menulis, rabindo, metode klasifikasi

Arab-Indonesia (rabindo) merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa SMA jurusan bahasa. Kompetensi rabindo terdapat pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang terpisah dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk mengukur kemampuan kognitif siswa, kompetensi rabindo dimunculkan dalam soal Ujian Nasional.

Rabindo memiliki aturan penulisan yang kompleks dan rumit sehingga membuat siswa merasa kesulitan. Aturan dalam penulisan rabindo berbeda dengan penulisan bahasa Arab dan Arab Pegon atau Arab Gundul. Rabindo juga memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh aturan penulisan bahasa Arab lainnya. Selain itu, tidak semua siswa menguasai huruf Arab dengan baik.

Penelitian yang mengarah kepada peningkatan kemampuan membaca dan menulis rabindo masih jarang dilakukan. Literatur yang membahas permasalahan rabindo juga jarang ditemukan dalam toko-toko buku. Keterkaitannya dengan permasalahan tersebut, penelitian mengenai metode pembelajaran membaca dan menulis rabindo perlu dilakukan.

Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kemampuan membaca rabindo siswa SMA jurusan bahasa berdasarkan aspek ketepatannya, (2) mendeskripsikan kemampuan menulis rabindo siswa SMA jurusan bahasa berdasarkan aspek ketepatannya, dan (3) mendeskripsikan penggunaan metode kemampuan membaca dan menulis rabindo melalui Metode Klasifikasi.

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah karangan narasi siswa. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data skor hasil membaca dan menulis siswa SMA jurusan bahasa. Data yang dibutuhkan berupa nilai produk tentang (1) kemampuan membaca rabindo siswa SMA jurusan bahasa berdasarkan aspek ketepatannya, (2) kemampuan menulis rabindo siswa SMA jurusan bahasa berdasarkan aspek ketepatannya, dan (3) metode kemampuan membaca dan menulis rabindo melalui Metode Klasifikasi.

Sebelum mengetahui Metode Klasifikasi, perlu diketahui tentang pilar dasar penulisan rabindo. Pilar dasar tersebut adalah (1) menguraikan suku kata, (2) memberi nomor dari kanan ke kiri, (3) menganlisis saksi, dan (4) merangkaikan huruf.

Metode klasifikasi rabindo dapat dilakukan dengan menggolongkan aturan penulisan rabindo ke dalam empat klasifikasi. Klasifikasi tersebut didasarkan pada bentuk suku kata, saksi, pemakaian kaf, dan imbuhan khusus.

Suku yang dimaksud dalam rabindo adalah pemenggalan suku atas kata-kata yang hendak ditulis atau dibaca. Suku dalam rabindo dapat digolongkan menjadi dua, yaitu suku terbuka dan suku tertutup. Suku tertutup adalah pemenggalan setiap suku kata yang berakhiran dengan huruf konsonan. Suku terbuka adalah pemenggalan setiap suku kata yang berakhiran dengan huruf vokal. Suku terbuka terbagi lagi menjadi dua, yaitu suku terbuka tunggal dan suku terbuka kompleks. Suku terbuka tunggal adalah kata yang memiliki kurang dari atau sama dengan dengan dua suku kata. Suku terbuka kompleks adalah kata yang memiliki lebih dari dua suku kata.

Saksi dalam rabindo dibedakan menjadi tiga. Ketiga saksi tersebut adalah alif (), ya (), dan waw (). Huruf alif () digunakan untuk suku terbuka a. Huruf ya () digunakan untuk suku terbuka i, e, dan ai. Huruf waw () digunakan untuk saksi suku terbuka u, o, dan au.

Pemakaian kaf dipilah menjadi dua kategori. Kedua kategori tersebut adalah pemakaian kaf kecil( ) dan kaf besar (). Kaf kecil () digunakan apabila suku kata yang hendak ditulis ke dalam rabindo berakhiran ik dan ek. Kaf besar ( ) digunakan apabila suku kata yang hendak ditulis dalam rabindo berakhiran uk, ak, ok, dan dik.

Imbuhan khusus adalah pemakaian imbuhan –i yang digunakan secara berbeda dengan aturan suku terbuka kompleks. Penulisan kata yang berimbuhan –i adalah dengan menuliskan kata dasarnya terlebih dahulu, kemudian menuliskan imbuhan –i yang diberi saksi ya ().

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan kepada guru, siswa, dan peneliti lain. Bagi guru, khususnya adalah guru sastra Indonesia SMA, penelitian ini bisa menjadi sumbangan untuk memberikan satu metode pembelajaran yang efektif untuk penguasaan kompetensi rabindo. Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan satu metode untuk menguasai rabindo dengan efektif serta dapat menerapkannya baik untuk membaca naskah kuno atau menjawab soal UN. Bagi peneliti lain, penelitian dengan menggunakan Metode Klasifikasi ini dapat digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian dalam bidang yang sama.

METODE PENELITIAN SASTRA

METODE PENELITIAN SASTRA

I. PROBLEM DAN MAJEMEN PENELITIAN SASTRA

A. Problem Penelitian Sastra

1. Ketimpangan penelitian sastra

2. Kemiskinan teori dan ilmu sastra

3. Kerancuan istilah penelitian sastra

4. Persoalan metode, teknik, dan pendekatan

a. Pentingnya metode

b. Pendekatan antara makro sastra dan mikro sastra

B. Manajemen Penelitian Sastra

1. Peranan penelitian sastra

2. Penelitian sastra yang kreatif

3. Kemitraan penelitian sastra

4. Diseminasi penelitian sastra

II. EPISTOMOLOGI, ALIRAN, DAN MODEL BARU PENELITIAN SASTRA

A. Epistomologi Penelitian Sastra

1. Seluk beluk epistomologi sastra

2. Penelitian sastra sebagai ilmu

3. Antara subyektivitas dan objektivitas

4. Positivisme dan Konstruk penelitian sastra

B. Aliran Penelitian Sastra

1. Ciri aliran penelitian klasik

2. Penelitian beraliran ekspresivisme

a. Munculnya ekspresivisme

b. Kritik ekspresivisme

c. Aspek yang diungkap

3. Penelitian beraliran romantisme

4. Penelitian beraliran romantisme dan mistisme

C. Model Baru Penelitian Sastra

1. Grounded Research

2. Kajian Fenomenologi

a. Titik tolak fenomenologi

b. Ruang Lingkup pembahasan

3. Kajian Hermeneutik Sastra

a. Pentingnya hermeneutik

b. Langkah kerja dan aspek penelitian

III. PENELITIAN FORMALISME DAN STRUKTURALISME MURNI

A. Model Formalisme Sastra

Rampai Sekar Tentang Menulis Cerpen*

Rampai Sekar Tentang Menulis Cerpen*

Sama halnya dengan besi yang dapat berkarat karena jarang digunakan, maka berdiam diri bisa merusak kecerdasan (Leonardo Da Vinci).
Kenapa kita harus menulis? Adalah retorika yang perlu kita refleksikan ke dalam diri kita masing-masing. Pengertian menulis di sini adalah menulis yang berdasarkan ide-ide atau gagasan orisinalitas kita, bukan menulis karena kita merangkum atau menulis dalam hal pengerjaan tugas. Lebih spesifik lagi, yaitu menulis dengan estetika, menulis sastra.
Berapakah usia kita? Itulah retorika kedua yang perlu juga kita refleksikan. Agatha Christie menghasilkan sekitar 85 judul novel. Dan, Agatha Christie meninggal pada usia yang sama dengan jumlah novel yang dihasilkan. Hal ini berarti setiap tahunnya, sepanjang hidup Agatha Chrstie, menghasilkan satu novel. Konon, sampai tahun 2003, semua novelnya terjual sekitar 2 milyar eksemplar. Angka ini merupakan angka penjualan buku tertinggi di dunia (Tanudi: 2008).
Kenapa harus menulis sastra, dalam hal ini adalah cerpen. Sebab, sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan, sebagai cermin, sastra memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya (Giyardi: 2008:1). Bisa diperjelas bahwa sastra tidak akan lekang oleh waktu karena sastra adalah bagian dari perjalanan waktu itu sendiri.
***
Orang bisa mati, bangsa bisa bangkit dan runtuh, tapi ide hidup terus. Ide punya daya tahan tanpa kematian (John. F. Kenedy).
Menulis di awali dari saat ini. Sepulang dari acara ini. Bahkan saat acara ini berlangsung. Kalau perlu dari detik ini. Mari, kita menulis. Menulis sesuatu yang berada dalam benak kita. Menulis sesuatu yang masih menjadi gagasan. Membayangkannya, menghubungkannya dengan realita, lantas menuliskannya!
Bagaimana harus memulai menulis? Adalah pertanyaan yang sering diajukan ketika kita hendak menuliskan sesuatu. Begitu banyak metode dan memang tidak ada metode yang paling baik, yang ada hanya teknik yang cocok buat masing-masing individu.
Coba kita pinjam tulisan Lukito (2008) tentang Teknik Jika saya. Teknik ini memperkaya dan melatih daya imajinasi dalam membuat suatu tulisan yang kreatif. Misalnya: Jika saya menjadi seorang bayi dalam kandungan yang tiba-tiba ada semacam alat yang mengeluarkan kita secara paksa karena seseorang tak menginginkan kelahiran kita. Lanjutkan cerita tersebut dalam dua sampai tiga atau lebih paragraf.
Sementara Aleinikov (37:2004) menyarankan untuk mendaftar lima hal paling bodoh yang pernah atau barangkali akan Anda lakukan. Misalnya: Resleting yang terbuka saat presentasi di depan kelas, mengirim sms ke kekasih gelap tetapi salah pencet sehingga terkirim ke kekasih betulan, dst. Setelah merasa ada lima hal yang bodoh baik yang pernah atau akan dilakukan, maka tuliskan dalam dua sampai tiga atau lebih paragraf.
Seorang teman pernah menyarankan untuk menulis dengan cara begini: siapkan kertas dan pensil atau buka ms.word. Selanjutnya, ingat-ingat lagi kejadian lima atau sepuluh jam yang lalu. Ingat-ingat Anda berada dai mana lantas kemana saja dan hingga sampai pada posisi Anda sekarang. Jika tidak ada yang menarik, coba Anda ingat-ingat lagi beberapa waktu yang lalu mengenai sesuatu yang paling menarik (bisa konyol, lucu, romantis, sedih, dsb) untuk dituliskan.
***
Suatu saat aku mesti mati, tetapi karya-karyaku akan menjadi mantra untuk membangkitkan aku kembali (www.lubisgrafura.co.cc)
Jangan hanya menulis untuk diri kita sendiri. Masalah dimuat atau tidaknya di koran atau dibukukan itu persoalan lain. Masalah ini sastra canon ini sastra ecek-ecek itu urusan kedua. Masalah dibaca orang atau tidak, yang penting menulis dan kirimkan.
Yang menjadi pokok persoalan adalah kemana kita mengirimkannya. Begitu banyak media di Indonesia baik lokal maupun nasional. Buka laman koran yang hendak dituju, lantas cari redaksi dan emailnya. Kirim karya Anda!
Pada sebuah pasar sastra Jawa Timur di Surabaya yang dilaksanakan pada 22-23 Agustus 2008 ada seorang penyair millis (dirinya menyebut begitu karena tidak pernah masuk koran dan hanya menerbitkan puisi-puisinya di millis-millis) yang “marah” karena puisinya tidak pernah dimuat di koran. Lantas, pada suatu kesempatan, saya bertanya “Berapa puluh puisi yang sudah Anda kirim, sudah adakah sekitar 80 puisi?” Penyair millis itu menggelengkan kepala. Selanjutnya saya jawab “Oleh karena itu, menulislah kembali.”
Dr. Djoko Saryono, Mpd pernah juga mengatakan bahwa sebuah karya itu setidaknya indah dan berguna, sedangkan karya di dalam millis-millis dan di cybersastra adalah karya-karya yang barangkali tidak indah dan juga tidak berguna. Kecuali, puisi tersebut ditulis pada laman-laman seorang yang berprofesi penulis.
Hal ini mencerminkan bahwa untuk menghasilkan karya yang bagus, maka kita juga harus memiliki referensi yang bagus juga. Misalnya, jika hendak menembus cerpen dalam koran, maka disarankan untuk membaca cerpen-cerpen koran tersebut. Hal ini disebabkan agar diri kita membentuk suatu pemahaman akan “rasa” dari karakteristik koran tersebut. Sebab, setiap koran memiliki gaya dan ”rasa” yang berbeda-beda.
***
Kalau ada keyakinan yang bisa memindahkan gunung, itu adalah keyakinan pada kekuatan Anda sendiri (Marie Von Ebner-Eschenbach).
Artinya apa? Keyakinan dan tanpa patah arang adalah salah satu kunci untuk menuju suatu kesuksesan. Kalau kita yakin, seluruh sel dalam diri kita akan menuntun alam bawah sadar, bahkan seluruh alam semesta akan mendukung langkah kita menuju impian kita. Gagal dan berhasil bukanlah hasil akhir. Selama dalam proses itulah kita akan menemukan banyak hal. Singkat kata: menulis, kirimkan, menulis, kirimkan, menulis lagi, kirimkan lagi…ingatlah Tuhan tidak pernah tidur dan selalu melihat usaha kita.

DAFTAR RUJUKAN
Alenikov G. Andrei. 2004. Mega Kreativitas. Yogyakarta: Niagara.
Giyardi, R. 2008. Dunia Sastra Ibarat Pasar. Katalogus VII/VIII/08 Artcentre Taman
Budaya Jawa Timur
Lukito, AM. Semua Bisa Menulis. Makalah Makalah Dicari Guru Penulis 2008 Malang
Tanudi. 2008. Belajar Menulis dari Sejarah. Makalah Dicari Guru Penulis 2008 Malang

*Lubis Grafura. Mahasiswa pascasarjana UM. Beberapa kali memenangkan kejuaraan lomba antara lain: Juara I menulis Puisi IRIB Kerjasama Indonesia-Irak bertema “Keagungan Rasulullah” 2007, mendapatkan penghargaan atas nominasi cerpen tingkat nasional dari Menpora dan CWI 2005, Juara III kolom kita.com 2008, Juara III All About Women Unibra 2005, dan Nominator cerpen STIS Jakarta 2005. Karyanya terampai dalam Puisi Cinta Webersis (2008), Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra 2008), La Runduma (2005). Karyanya pernah dimuat di Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Koran Pendidikan, Kreativa, Jurnal Bahasa dan Sastra Surabaya, Siar, dan Komunikasi. Mengelola http://www.lubisgrafura.co.cc dan bisa dihubungi di lubisgrafura@ymail.com

Bunga dari Jepara

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Bunga dari Jepara

Europese Lagere School (ELS), Jepara, 1891

Gemerisik daun bambu diterpa angin pagi menanggalkan beberapa helai daun keringnya. Helai-helai daun itu menikmati masa terakhir di udara sebelum jatuh ke tanah. Dan, ada sehelai daun yang tersangkut dahan sebelum luruh bukan ke atas tanah, melainkan di rambut seorang gadis yang tengah berlari.

“Letsy, tunggu!”

Seorang gadis berlari setelah ia membuang daun kering yang luruh di atas kepalanya. Jarit yang membebat tubuhnya hampir tak bisa dikatakan ia tengah berlari. Sementara temannya yang berambut pirang menunggu di depan.

“Letsy, kita duduk di sana yuk bercerita-cerita”

Keduanya memilih duduk di bawah pohon waru yang rindang. Rerantingnya berdesik. Menciptakan hawa semilir di bawahnya. Letsy mengeluarkan bukunya. Sementara dirinya memandang aneh kepada sahabatnya akrabnya itu.

“Letsy ceritakanlah sesuatu kepadaku”

Letsy membuka bukunya. Namun bukan buku cerita yang ia tunjukkan kepada gadis pribumi itu, melainkan buku pelajaran bahasa Perancis. Gadis pribumi itu masih menunggu jawaban dari sahabatnya itu.

”Ni,” Kata Letsy ”Aku sekarang harus menghafal pelajaran Perancis”

“Ah, itukan dapat kau kerjakan di rumah, sebab itu bukan pekerjaan sekolah.”

“Benar katamu Ni, tapi kalau saya tidak belajar bahasa Prancis baik-baik, dua tahun lagi saya belum boleh pergi ke negeri Belanda. Karena saya ingin masuk sekolah guru. Kalau kelak nanti saya tamat, barangkali saya akan ditempatkan di sini. Dan saya tidak akan duduk di dalam kelas, tetapi di depan kelas. Nah, sekarang katakan kepadaku Ni, kamu kelak ingin jadi apa?”

Sepasang mata gadis Jawa itu menatap dengan penuh rasa heran. Sebab, yang baru saja terucap dari bibir karibnya itu sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Dan hati kecilnya membenarkan apa yang ditanyakan oleh sahabatnya. Ingin jadi apakah dirinya?

“Ayolah Ni katakan sekarang.”

Letsy mendesak Ni dan menggoyang tangan karibnya yang masih mematung. Gadis pribumi itu memutar otaknya, mengumpulkan seluruh tenaganya. Menyusun kata-kata untuk menjawabnya, tapi sia-sia. Ia tak kunjung mendapatkan jawabannya.

“Ayolah. Kau ingin jadi apa?”

Tanda masuk kelas sudah dibunyikan, sementara Ni belum juga menemukan jawabannya. Ni kecil sungguh tak memiliki jawaban untuk pertanyaan sesederhana itu. Dengan nada yang polos dan penuh kejujuran ia menggelengkan kepala sambil berkata pendek.

“Tidak tahu.”

***

”Tidak tahu?”

Ni bertanya pada cermin. Ia melihat wajah yang tampak begitu bodoh. Betapa tidak, otak yang bersemayam di dalam kepalanya tidak bisa menjawab pertanyaan yang sederhana. Pertanyaan itu tak kunjung juga berlalu. Hampir setiap malam sebelum dirinya tidur, pertanyaan itu selalu dipikirkannya. Begitu pula saat sepasang matanya yang masih sayu menatap fajar, pertanyaan itu juga tak kunjung pudar.

”Hendak jadi apakah aku?”

Ni kembali bertanya kepada cermin di depannya. Pertanyaan itu seharusnya tak menjadi mendung untuk pagi-paginya. Tapi, gadis seusianya musti menanggung pertanyaan sederhana yang hampir tak dapat ditemukan jawabnya.

Ia masih ingat kemarin, saat ia sepulang sekolah, ia segera menemui ayahnya. Nafas Ni membuat dadanya turun naik, sebab ia berlari tanpa henti dari sekolah menuju rumah. Hanya ingin mendengar jawaban dari ayahnya.

“Hendak jadi apakah aku nanti ayah?”

Dengan penuh harap cemas, Ni kecil menunggu jawaban ayahnya. Ayahnya tidak mengatakan sesuatu. Beliau hanya tersenyum dan mencubit pipi Ni. Namun, gadis Jawa itu tetap merengek-rengek meminta jawaban dari sang ayah.

“Harus jadi apakah gadis-gadis? Ya, menjadi Raden Ayu, tentu saja.”

Jawaban itu keluar begitu saja dari sepasang bibir. Tapi, itu bukan kata-kata milik ayahnya. Perkataan itu adalah milik kakaknya yang kebetulan mendengar pertanyaan Ni. Kakaknya menghampiri Ni dan mengatakan sekali lagi bahwa Ni kelak akan menjadi Raden Ayu yang memiliki budi pekerti dan nilai-nilai perempuan yang berderajat.

”Raden Ayu?,” Tanya Ni kepada cermin kembali ”Apa enaknya jadi Raden

Ayu?”

“Ni, Letsy sudah menunggumu!”

Ada suara ibunya di balik pintu kamarnya. Ni segera merapikan dandannya. Ia tak mau Letsy menunggu dirinya terlalu lama. Tapi tentu saja ia tidak akan mengatakan kepada karibnya bahwa dirinya kelak akan menjadi Raden Ayu. Ni memilih menyimpannya.

***

Ni memilih menyimpan semua keinginannya dalam hati. Air matanya mengiringi mimpi-mimpinya yang baru saja dikubur. Dan harapannya tinggal nisan bertuliskan kepupusan. Ni benci menjadi dewasa, sebab dewasa hanya akan membuatnya menderita.

Hal yang membuatnya menderita adalah ketakutannya. Ketakutan akan sebuah pintu kamar menguncinya dari luar. Menjauhkannya dari buku-buku. Menjauhkan dari segala kehausan akan ilmu. Ni musti menghadapi kenyataan. Sebuah pingitan.

Ni kecil kemarin berjalan dari sekolah ke rumah untuk terakhir kalinya. Matanya menjadi basah. Hatinya piluluka. Bibirnya mengatup kering dan gemetar. Tapi apa yang dirasakan oleh gadis polos kecil itu tak dapat disembunyikan lagi. Kedua matanya terlalu muda untuk menyimpan air mata. Ia uraiakan air mata itu sebisanya. Dia sadar, bahwa dengan tertutupnya pintu sekolah, berarti segala sesuatu yang dicintainya juga telah tertutup.

Sementara, pikiran kritis yang pernah diajarkan oleh pikiran Barat telah meletup-letup bersemangat, tetapi pada kedua tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai budaya Timur. Sedangkan otot-ototnya sangat lemah. Ia belum sanggup melepaskan diri dari belenggu yang mengikat itu. Kini pintu sekolah sudah tertutup rapat di belakangnya, sedangkan pintu rumahnya terbuka lebar untuk dirinya. Ia akan berada di sana selamanya. Ruangan itu juga kelak akan menjadi dunianya, alam semestanya yang dikelilingi oleh tembok tebal. Ia musti menikmati dunianya dalam sangkar.

Hari-hari Ni adalah hari-hari yang suram dan dia harus melaluinya. Seolah pasir waktu itu tersendat dan berhenti mengalir. Baginya matahari tak pernah bersinar mengisi pagi-paginya. Namun, diantara kebosanannya melihat lingkungan yang sama, orang-orang yang sama, Ni Kecil mendapatkan sedikit hiburan ketika Letsy datang mengunjunginya. Ia merasa menjadi Ni Kecil yang dulu lagi. Menjadi masa anak-anak yang penuh dengan kegembiraan. Ia melupakan pingitan yang senantiasa membelenggu dirinya.

Tentu saja Letsy tidak akan berlama-lama disangkarnya. Titik terang itu kembali padam. Kini di matanya hanyalah kegelapan dan belenggu itu makin kuat mengikat dirinya. Hidup yang penuh dengan kebosanaan itu akan terus berlangsung dan makin sunyi. Namun, sunyi itu pula yang mengajarkan Ni tetap terus membaca. Membaca dan memetik detik kehidupan yang terus mengalir bersama surat-suratnya.

Holland, 7 Juni 1898.

…Ni, Anda adalah pelopor semangat muda wanita bangsamu. Lebih dari itu Andapun telah meretas jalan kemuliaan rakyat sini…Ya Ni, kudoakan semoga Anda bisa merealisasikan apa yang selama ini hidup sebagai buah mimpimu….

Ni melipat surat yang baru saja diterimanya. Lantas, ia melihat dunia luar lewat jendela. Ada angin yang menerpa rambut di keningnya. Ni berharap apa yang ada di surat itu benar. Sepertinya ia sudah tahu hendak jadi apakah dirinya. Ia hanya ingin menjadi wanita yang dihargai. Hanya itu, tidak kurang dan tidak lebih.

Terinspirasi dari Surat Abendanon, 2008

Anakon II

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

C. Analisis Kontrastif

1. Sejarah Analisis Kontrastif

Penemuan dasar teori yang sekarang dikenal dengan analisis kontrastif (contrastive analiysy) dirumuskan di Lintas Budaya Linguistik Lado (Lado’s Cultural Across Linguistic) pada tahun 1957 (wikipedia, 2007).

Dalam buku tersebut, Lado mengklaim bahwa those elements which are similar to (the learners) native language will be simple for him, and those elements that are different will be difficult. Dari klaim tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajar akan menemukan kemudahan apabila dalam bahasa yang dipelajarinya memiliki kesamaan komponen dengan B1. Sebaliknya, jika komponen tersebut berbeda, maka pembelajar akan menemukan kesulitan.

Dr. Robert Lado, adalah seorang linguis yang cukup terkenal. Lado mula-mula memunculkan teori perbandingan. Hal ini meliputi pendeskripsian bahasa, membandingkannya, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan berbahasa.

Selama tahun 1960-an, teknik tersebut menyebarluas dan mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari berbagai kalangan. Selanjutnya, Center of Applied Linguistic di Wasington, DC menyeponsori perkembangan teori ini. Dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan bahwa kesulitan-kesulitan dalam mepelajari B2 telah dipetakan dengan Analisis Kontrastif. Hal ini memungkinkan untuk menciptakan kursus-kursus bahasa yang lebih efisien. Analisis Kontrastif yang berpijak pada behaviorisme diharapkan juga dapat memberikan sumbangan kepada desain kurikulum yang efektif untuk pemerolehan bahasa kedua.

2. Kritik terhadap Analisis Kontrastif

Analisis kontrastif mengklaim bahwa semua kesalahan terjadi dalam pembelajaran dan B2 diinterferensi oleh B1. Bagaimanapun juga, klaim ini tidak dibuktikan oleh bukti empiris yang terakumulasi sepanjang pertengahan dan akhir tahun 1970-an.

Hal ini justru menunjukkan bahwa prediksi kesalahan-kesalahan (errors predicted) analisis kontrastif yang tak terjelaskan tidak diobervasi dalam pembelajar bahasa. Dengan kata lain, beberapa bentuk kesalahan justru dibuat oleh pembelajar yang tidak mengindahkan B1-nya.

Telah menjadi jelas bahwa analisis kontrastif tidak dapat memprediksikan kesulitan-kesulitan pembelajar bahasa, dan analisis kontrastif hanya berfungsi untuk melihat ke belakang penjelasan mengenai kesalahan-kesalahan. Perkembangan ini, akhirnya memberikan penolakan terhadap paradigma behavioristik yang mendukung adanya analisis kontrastif.

3. Hakikat Analisis Kontrastif

Pengertian analisis kontrastif dapat ditelusuri dengan melihat dua kata yang menjadikkannya satu frasa. Kedua kata tersebut adalah kata analisis (analisys) dan kata konstrastif (contrast) yang berasal dari kata kontras.

Secara harfiah, kata analisis dan kontras menurut KBBI online adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dan memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila diperbandingkan. Sedangkan kamus Oxford menyebutkan bahwa analisys adalah study of something by examining its parts (penyelidikan terhadap sesuatu dengan cara menguji bagian-bagiannya). Contrast dipaparkan sebagai compare two things so that differences are made clear (memperbandingkan dua hal agar perbedaan diantara keduanya tampak jelas).

Menurut Musthofa (2008), analisis kontrastif adalah atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa analisis kontrastif adalah pemahaman antardua bahasa, yaitu bahasa pertama (B1) dengan bahasa kedua (B2), dengan cara membandingkannya, mencari persamaan, kemiripan, dan perbedaan guna memberikan peta konsep kepada pembelajar agar lebih mudah dalam mempelajari B2.

3.1 Konstrastif sebagai Ranah Kebahasaan (Linguistik)

Istilah kontrastif lebih dikenal dalam ranah kebahasaan (linguistik). Perbandingan dalam lingustik terbagi menjadi dua bagian, yaitu linguistik historis-komparatif dan linguistik kontrastif. Jika linguistik historis komparatif membandingkan bahasa dari periode ke periode, maka linguistik kontrastif hanya membatasi diri pada periode tertentu.

Linguistik kontrastif membandingkan dua bahasa dari segala komponennya dalam satu periode sehingga ditemukan perbedaan-perbedaan dan kemiripan-kemiripan yang ada. Dari hasil temuan itu, dapat diduga adanya penyimpangan penyimpangan, pelanggaran-pelanggaran,atau kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan para dwibahasawan.

Sebuah tindakan disebut tindakan analisis apabila dwibahasawan membandingkan dua bahasa antara B1 dengan B2. Tindakan membandingkan tersebut akan menghasilkan faktor persamaan, kemiripan, dan perbedaan. Metode membandingkan bahasa yang sedang dipelajari seseorang (B2) dengan bahasa yang telah dimiliki lebih dahulu (Bl) dikenal dengan metode linguistik kontrastif.

3.2 Analisis Kontrastif sebagai Prosedur Kerja

Sudah diterangkan di atas bahwa analisis kontrastif merupakan pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara Bl dengan B2. Perbandingan tersebut akan menghasilkan persamaan, kemiripan, dan perbedaan sehingga guru dapat memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan belajar, menyusun bahan pengajaran, dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.

Di dalam pembelajaran B2 kepada siswa akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan B1 digunakan ke dalam B2. Kebiasaan ini bisa berupa sistem B1 yang digunakan ke dalam B2. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki sitem yang berbeda. Pentransferan ini disebut sebagai transfer negatif atau lebih dikenal dengan interferensi.

Transfer bahasa terbagi atas dua bagian. Apabila B1 dengan B2 memiliki kesamaan dalam beberapa hal dan dapat digunakan seorang pembelajar, maka pembelajar tersebut akan menemukan kemudahan. Transfer ini disebut transfer positif. Sedangkan jika B1 dan B2 memiliki sistem yang jauh berbeda dan pembelajar menerapkan sistem B1 ke B2 maka akan terjadi transr negatif.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab kesalahan berbahasa bersumber pada transfer negatif. Transfer negatif ini sendiri terjadi sebagai akibat penggunaan sistem yang berbeda antara Bl dan B2. Perbedaan sistem bahasa itu dapat diidentifikasi melalui Bl dengan B2. Kesalahan berbahasa dapat dihilangkan dengan berbagai cara, antara lain menanamkan kebiasaan ber-B2 melalui latihan, pengulangan, dan penguatan.

Dengan demikian, analisis kontrastif dapat disebut sebagai prosedur kerja. Hal ini disebabkan karena analisis kontrastif meliputi suatu kegiatan membandingkan struktur B1 dengan struk B2 untuk menemukan perbedaan-perbedaan.

4. Dasar Utama Analisis Kontrastif

Dasar utama dari analisis kontrastif adalah behaviorisme. Behaviorisme adalah ilmu jiwa tingkah laku. Kaitannya dengan pemerolehan bahasa, behaviorisme adalah aliran yang mempercayai bahwa seorang telah memiliki dasar kebahasaan sebelum dirinya mempelajari bahasa lainnya.

Terdapat dua hal yang menjadi titik tolak dari behaviorisme ini, yaitu kebiasaan dan kesalahan. Kaitannya dengan bahasa, kebiasaan dan kesalahan yang dimaksudkan adalah kebiasaan berbahasa dan kesalahan berbahasa.

Aliran psikologi tingkah laku menjelaskan pengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi, atau rangsangan yang menghasikan tanggapan (respon). Rangsangan yang berbeda menghasilkan tanggapan yang berbeda pula. Hubungan antara rangsangan tertentu dengan tanggapan tertentu menghasilkan kebiasaan. Kebiasaan ini dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan.

Ada dua karakteristik kebiasaan. Pertama kebiasaan yang dapat diamati. Kebiasaan ini berupa kegiatan atau aktivitas yang dapat dilihat atau diraba. Kedua, kebiasaan yang bersifat mekanis atau otomatis. Kebiasaan ini terjadi secara spontan, tanpa disadari dan sukar dihilangkan.

Di dalam pemerolehan Bl, anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan ini biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan menirukan, anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur dan pola bahasa ibunya. Peristiwa semacam ini terjadi pula dalam pemerolehan B2. Melalui peniruan dan penguatan para siswa mengidentifikasi hubungan antara rangsangan dan tanggapan yang merupakan kebiasaan dalam ber-B2.

5. Hipotesis Analisis Kontrastif

Setelah memahami apa sebenarnya analisis kontrastif, akan memasuki pembicaraan hipotesis analisis kontrastif. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu persoalan.

Perbandmgan antara struktur Bl dengan B2 yang akan dipelajan oleh para siswa menghasilkan identifikasi perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Perbedaan itu merupakan dasar untuk memperkirakan butir-butir yang menimbulkan kesulitan belajar bahasa dan kesalahan berbahasa yang dihadapi oleh para siswa. Berpijak dari timbulnya kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa inilah muncul bipotesis analisis kontrastif.

Dulay (1982:97) memaparkan beberapa hipotesis. Hipotesis tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

Tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa performasi B2 melakukan mayoritas kesalahan gramatikal yang mereflesksikan B1.

Pembelajar B2 membuat banyak kesalahan di lingkup tatakata yang bisa diperbandingkan antara B1 dan B2 – kesalahan tidak akan terjadi apabila terdapat transfer postif.

Ada dua jenis hipotesis analisis kontrastif (Musthafa, 2008). Pertama, hipotesis bentuk lemah. Hipotesis ini menyatakan bahwa analisis kontrastif hanyalah bersifat diagnostik Karena itu analisis kontrastif dan analisis kesalahan harus sating melengkapi. Analisis kontrastif menetapkan kesalahan mana termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan Bl dan B2. Analisis kesalahan berbahasa mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa siswa. Kedua, hipotesis bentuk kuat. Hipotesis ini menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara Bl dengan B2 yang dipelajan oleh siswa. Hipotesis ini didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut.

Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan dalam pengajaran B2 adalah interferensi Bl (bahasa ibu).

Kesulitan belajar itu sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh perbedaan antara Bl dan B2.

Semakm besar perbedaan antara Bl dengan 62 semakin besar kesulitan belajar yang timbul.

Hasil perbandingan antara Bl dan B2 diperlukan untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar B2.

Unsur-unsur yang serupa antara Bl dan B2 akan menimbulkan kesukaran bagi siswa.

Bahan pengajaran dapat disusun secara tepat dengan membandingkan kedua bahasa itu, sehingga apa yang harus dipelajan siswa merupakan sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan analisis kontrastif.

Ada tiga sumber yang digunakan sebagai penguat hipotesis analisis kontrastif, yakni (1) pengalaman guru B2, (2) telaah kontak bahasa di dalam situasi kedwibahasaan, (3) dan teori belajar.

1). Pengalaman Guru B2

Setiap guru B2 yang sudah berpengalaman pasti mengetahui bahwa kesalahan yang cukup besar dan selalu berulang dapat dipulangkan kembali pada Bl siswa. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat berupa pelafalan, susunan kata, pembentukan kata, susunan kalimat. dan sebagainya. Sebagai contoh anak Jawa (Bl bahasa Jawa) berbahasa Indonesia (B2). Kesalahan-kesalahan itu akan tampak dengan jelas pada contoh kalimat di bawah ini.

Bapaknya ada? (Bapak Rudi ada?)

Duitnya Dimas hilang (Duit Dimas hilang)

2). Telaah Kontak Bahasa di dalam Situasi Kedwibahasaan

Dwibahasawan yang mengenal dua bahasa atau lebih merupakan wadah tempat terjadinya kontak bahasa. Semakin besar kuantitas dwibahasawan semakin intensif pula kontak antara dua bahasa atau lebih itu. Kontak bahasa mengakibatkan timbulnya fenomena saling mempengaruhi. Bila seorang dwibahasawan lebih menguasai Bl, maka Bl itulah yang banyak mempengaruhi B2. Demikian pula sebaliknya

3). Teori Belajar

Teori belajar terutama teori transfer sangat mendukung hipotesis analisis kontrastif. Transfer adalah suatu proses yang melukiskan penggunaan tingkah laku yang telah dipelajari secara otomatis dan spontan dalam usaha memberikan balikan baru. Transfer dapat bersifat negatif dan dapat pula bersifat positif. Transfer negatif terjadi jika tingkah laku yang telah dipelajari berbeda dengan tingkah laku yang sedang dipelajari. Sebaliknya, transfer positif terjadi apabila pengalaman masa lalu sesuai dengan tingkah laku yang sedang dipelajari.

Jika pengertian kedua macam transfer itu dikaitkan dengan pengajaran bahasa, transfer negatif terjadi kalau sistem Bl yang telah dikuasai digunakan di dalam B2. Padahal sistem kedua bahasa itu berbeda. Sebaliknya, jika sistem itu sama maka terjadi transfer positif. Transfer negatif dalam pemerolehan bahasa kedua (B2) disebut interferensi. Interferensi menimbulkan penyimpangan. Penyimpangan menimbulkan kesalahan berbahasa.

6. Manfaat Analisis Konstrastif

Apakah analisis kontrastif dapat menyelesaikan masalah-masalah kesulitan belajar siswa dalam hal belajar bahasa? Jawaban yang paling mudah adalah belum tentu. Sebagai suatu ilmu analisis kontrastif mempunyai kelemahan-kelemahan di samping kelebihannya. Bertolak dari kelebihannya, bagaimanapun analisis kontrastif tetap memiliki manfaat. Manfaat yang dimaksud sebagai berikut.

Analisis kontrastif dapat membantu mengatasi kesulitan siswa dalam proes belajar B2.

Dengan metode analisis kontrastif akan ditemukan butir-butir kesulitan belajar siswa.
Pembuktian kesulitan akan diperoleh melalui kegiatan belajar secara teratur di kelas.

E. Perbedaan Mendasar Antara Kesaahan Berbahasa dengan Analisis Kontrastif

Setiap pembelajar yang hendak mempelajari bahasa kedua (B2) tentu akan melakukan kesalahan-kesalahan. Tugas dari seorang guru adalah mencoba menganalissis kesalahan-kesalahan tersebut dengan cara membuat kategore kesalahan, sifat, jenis, dan daerah kesalahan. Analisis inilah yang kemudian disebut dengan analisis kesalahan (error analisys).

Analisis kesalahan memiliki perbedaan dalam beberapa aspek dengan analisis kontrastif. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari aspek permasalahan, batasan kognitif, ruang lingkup, objek, dan tujuannya. Kedua analisis tersebut seyogyanya tidak dipisahkan antara satu dengan yan lainnya, sebab keduanya menjadi dua sisi yang saling melengkapi.

1. Perbedaan Analisis Kontrastif dengan Analisis Kesalahan

1.1 Dari segi permasalahan

Analisis kesalahan sering juga disebut dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis jenis ini memiliki segi permasalahan dalam kompetensi membaca, menyimak, menulis, dan mendengarkan. Selain empat kompetensi itu, analisis kesalahan berbahasa juga meliputi wilayah tata bunyi, tata bentuk kata, dan tata kalimat. Denagn demikian, permasalahan analisis berbahasa meliputi permasalahan bidang keterampilan dan bidang linguistik.

Anakon atau analisis kontrastif memiliki asumsi bahwa B1 akan mempengaruhi B2. Pengaruh itulah yang selanjutnya menjadi pembelajar melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut juga dapat terjadi pada wilayah tata bunyi, tata bentuk kata, dan ada pula yang berhubungan dengan tata kalimat.

Pengaruh dari B1 ke dalam B2 inilah yang harus diberantas atau setidaknya dikurangi oleh seorang guru. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membandingkan kedua bahasa tersebut melalui analisis kontrastif.

1.2 Batasan Kajian

Ellis memberi batasan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa, mengumpulkan data, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam data, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu. Dengan kata lain, batasan kajian dari analisis kesalahan adalah memberikan kategori, sifat, jenis, dan daerah kesalahan.

Sementara itu, analisis kontrastif hanya membatasi dirinya pada perbandingan antara B1 dengan B2. Dari perbandingan itu, pengajaran B2 dapat mengaju kepada perbandingan anatara B1 dengan B2 tersebut dan guru dapat meramalkan apa saja kesalahan yang akan dibuat oleh siswa.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup analisis kesalahan dapat meliputi wilayah tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi) tata kalimat (sintaksis), dan tataran tata makna (semantik). Analisis kesalahan bidang tata bunyi berhubungan dengan kesalahan ujaran atau pelafalan, grafemik, pungtuasi, dan silabisasi. Analisis kesalahan dalam tata bentuk tentu saja kesalahan dalam membentuk kata terutarna pada afiksasi. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Dan yang berikutnya analisis kesalahan bidang semantik berkaitan dengan ketepatan penggunaan kata, frase atau kalimat yang didukung oleh makna baik makna gramatikal maupun makna leksikal.

Analisis kontrastif terbatas hanya menganalisis dua bahasa dengan jalan membandingkannya, yakni membandingkan B2 dengan Bl atau antara bahasa yang dipelajari dengan bahasa ibu. Hasilnya terutarna perbandingan unsur kebahasaan yang berbeda akan membantu guru bahasa untuk meramalkan kesalahan yang kemungkinan dilakukan siswa dan sekaligus menolong siswa agar segera menguasai bahasa sasaran (B2).

1.4 Objek Analisis

Objek merupakan sasaran yang digarap suatu kegiatan. Analisis kesalahan dan analisis kontrastif memiliki objek yang sama, yaitu bahasa. Namun, keduanya berbeda pada titik tekannya. Analisis kesalahan menitikberatkan objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Meskipun yang menjadi objek adalah bahasa, tetapi hasil analisisnya bukan untuk kepentingan bahasa itu sendiri melainkan untuk kepentingan pengajaran bahasa.

Analisis kesalahan dalam pembicaraan ini identik dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan menitikberatkan analisisnya pada bahasa ragam formal. Seperti kita ketahui dilihat dari ragam pemakaiannya bahasa itu dibedakan atas bahasa ragam santai dan bahasa ragam formal. Bahasa ragam formal digunakan orang pada situasi formal seperti berpidato, berceramah, khotbah, berdiskusi, berseminar, berkongres, berkonferensi, bermusyawarah, dosen memberikan kuliah, guru mengajar di depan kelas, dan sebagainya yang jelas bahasa yang digunakan dalam situasi resmi.

Analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar B2 (termasuk bahasa asing). Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, dan tata makna.

Bahasa sebagai objek, dalam analisis kontrastif, dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran. Sebagai bahan pengajaran berkaitan erat dengan guru dan siswa, sebab guru yang bertindak sebagai pelaksana pengajaran bahasa dan siswa sebagai sasaran yang mempelajari bahasa.

Dilihat dari sudut bahasa, bahasalah yang dibandingkan. Dilihat dari guru, guru sebagai pelaksana perbandingan. Dan dilihat dari siswa diharapkan siswa segera menguasai bahasa yang dipelajarinya, sebab kesalahan-kesalahan yangmungkin akan dibuatnya segera dapat diramalkan berdasarkan perbandingan bahasa sebelumnya

1.5 Tujuan

Analisis kesalahan dapat membantu guru untuk mengetahui jenis kesalahan yang dibuat, daerah kesalahan, sifat kesalahan, sumber kesalahan, serta penyebab kesalahan. Bila guru telah menemukan kesalahan-kesalahan, guru dapat mengubah metode dan teknik mengajar yang digunakan, dapat menekankan aspek bahasa yang perlu diperjelas, dapat menyusun rencana pengajaran remedial, dan dapat menyusun program pengajaran bahasa itu sendiri. Dengan demikian jelas bahwa antara analisis kesalahan dengan bidang kajian yang lain, misalnya pengelolaan kelas, interaksi belajar-mengajar, perencanaan pengajaran, pengajaran remedial, penyusunan ujian bahasa, dan bahkan pemberian pekerjaan rumah ada hubungan timbal balik.

Khusus untuk guru, analisis kesalahan dapat digunakan untuk (1) menentukan urutan sajian, (2) menentukan penekanan-penekanan dalam penjelasan dan latihan, (3) memperbaiki pengajaran remedial, (4) memilih butir-butir yang tepat untuk mengevaluasi penggunaan bahasa siswa

Seperti halnya analisis kesalahan memiliki tujuan, demikian pula analisis kontrastif. Pateda (1989:20) menjelaskan bahwa analisis kontrastif bertujuan:

menganalisis   perbedaan antara Bl (bahasa ibu) dengan B2 (bahasa yang sedang dipelajari) agar pengajaran bahasa berhasil baik;

menganalisis   perbedaan   antara Bl   dengan B2 agar kesalahan berbahasa siswa dapat diramalkan dan pengaruh Bl  itu dapat diperbaiki;

hasil analisis digunakan untuk memmtaskan keterampilan berbahasa siswa;

membantu    siswa untuk    menyadari kesalahannya Jalam berbahasa sehingga siswa dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajarinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

2. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, tampaklah perbedaan antara analisis kesalahan dengan analisis kontrastif. Terlepas dari perbedaaan diantara keduanya, tternyata analisis kesalahan dengan analisis kontrastif sangat erat hubungannya. Analisis kontrastif merupakan salah satu bagian dari analisis kesalahan. Jika analisis kesalahan melihat kesalahan itu secara umum, analisis kontrastif melihat kesalahan itu secara khusus. Dikatakan demikian sebab analisis kontrastif melihat kesalahan dengan cara membandingkan antara Bl dengan B2. Hasil membandingkan itu dapat diketahui adanya pengaruh (in-terferensi) Bl ke dalam B2 yang sedang dipelajari siswa.

Pembelajaran B2 – Kesalahan – analisis

ANALISIS KESALAHAN

ASPEK

ANALISIS KONTRASTIF

Keterampilan dan linguistik

PERMASALAHAN

Pengaruh B1 terhadap B2

Membuat kategori, sifat, jenis, dan daerah kesalahan

BATASAN KAJIAN

Membandingkan B1 dan B2

Fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik

RUANG LINGKUP

Dua bahasa yang dianalisis dengan cara membandingkan

- Bahasa ragam formal

- Bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing

OBJEK

Bahasa sebagai objek, dalam analisis kontrastif, dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran

Analisis kesalahan dapat membantu guru untuk mengetahui jenis kesalahan yang dibuat, daerah kesalahan, sifat kesalahan, sumber kesalahan, serta penyebab kesalahan

TUJUAN

Agar pengajaran bahasa berhasil baik;

Agar kesalahan berbahasa siswa dapat diramalkan dan pengaruh Bl  itu dapat diperbaiki

Memmtaskan keterampilan berbahasa siswa;

Siswa menguasai dalam waktu singkat

PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA

MAKALAH

Disusun dalam rangka melengkapi

Tugas matakuliah Pemerolehan Bahasa Kedua

yang dibina oleh

oleh:

PENDIDIKAN PASCASARRJANA

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

SEPTEMBER 2008

DAFTAR PUSTAKA

Dulay, Heidi. 1982. Language Two. New York: Oxford University Press

Kamus Besar Bahasa Indonesia On Line. (www.kbbi.web.id/frase.htm)

Oxford Learner’s Pocket Dictionary. 2008. New York: Oxford University

Wikipedia. Contrastive Analisys. 2008. (http://www.wikipedia.org/2Fwiki/2F/Contrastive_analisysy.htm)

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Artikel

Artikel adalah karya tulis yang berisi opini seseorang mengupas tuntas suatu masalah (137)

  1. Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatui masalah tertentu yang sifatnya actual dan terkadang controversial dengan tujuan memberitahu, mempengaruhi, menyakinkan dan menghibur khalayak pembaca (Sumadira, 2004:1) (137).

  2. Karya tulis yang sifatnya sederhana. Pemilihan kata dan bahasanya lebih santai, namun kandungannya harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (137).

  3. Topik kajiannya harus topik kajian sebuah ilmu tertentu atau masalah yang ramai dibicarakan di masyarakat (138).

  4. Jenis-jenis artikel berdasarkan cara penyampaian dan tingkat kesulitan

    1. Artikel Praktis

Artikel ini seeperti petunjuk cara membuat atau memperbaiki sesuatu. Artikel ini lebih menitikberatkan pada keterampilan daripada pengembangan pengetahuan atau analisis (138). Misal: Cara Merawat Muka

    1. Artikel Ringan

Artike ini biasanya terdapat pada majalah remaja. Artikel ini berupa hiburan atau informatif saja. Misalnya artikel film.

    1. Artikel Halaman Opini

Artikel ini terdapat pada surat pembaca, biasanya yang menulis adalah orang-orang yang ahli di bidangnya.

    1. Artikel Analisis Ahli

Orang yang menulis artikel ini adalah orang yang berdisiplin ilmu sesuai dengan topik. Artikrl ini setidaknya ditulis dengan menggunakan bahasa ilmiah. Artikel ini secara tajam mengulas dengan luas suatu masalah yang sedang berlangsung di dalam masyarakat. Misalnya: Aran dan Tujuan Pendidikan Indonesia

Makalah

  1. Makalah adalah karya tulis yang bersifat resmi tentang suatu pokok yang dimaksud untuk dibacakan di muka umum dalam suatu persidangan untuk diterbitkan.

  2. makalah merupakan karya ilmiah yang palinh sederhana (149)

  3. masalah pada makalah tidak harus aktual atau kontroversial

Paper

Paper dan makalah pada intinya sama. Hal yang memberdakannya adalah unsur dan tujuannya. Unsur paper lebih banyak. Orang membuat paper untuk memenuhi tugas dari dosen dalam rangka mengetahui tingkat pengetahuan yang diperoleh mahasiswa pada matakualiah tertentu.

Unsur paper meliputi halaman sampul, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, simpulan dan dan daftar pustaka.

Laporan

Laporan bisa disusun oleh dosen atau pun mahasiswa. Fungsinya adalah untuk mempertanggungjawabkan hasil kegiatan. Hasil laporan yang biasanya dikerjakan adalah laporan buku, laporan penelitian, laporan KKN, dan laporan teknik.

Karya Ilmiah

Karakter

Artikel

Proposal

Laporan

Makalah

Bentuk

Sederhana dan bebas

Formal

Formal

formal

Bahasa

Bisa populer atau ilmiah

Ilmiah

Ilmiah

Ilmiah

Tema

Peristiwa faktual dan hangat dibicarakan

Tidak harus faktual

Tidak harus faktual

Tidak harus faktual

Tujuan

Mengupas suatu masalah yang hangat dibicarakan

Kegiatan, syarat melakukan penelitian atau kegiatan

Melaporkan hasil penelitian, buku, atau kegiatan

Untuk mendiskusikan suatu permasalahan

Media

Koran, majalah

Instansi

Instansi

Instansi

Jumlah lembar

Satu atau dua

Bisa lebih dari 10

Bisa lebih dari 10

Bisa lebih dari 10

Saussure untuk Pemula

Saussure untuk Pemula

  1. Ferdinan de Saussure (1857 s.d. 1913) disebut sebagai bapak linguistik dunia

  2. Tahun 1916, tiga tahun setelah kematiannya, para mahasiswa berhasil menyusun dan menerbitkan Cours of Linguistic General

  3. Tanda adalah apappun yang menyatakan kepada kita tentang sesuatu yang lain daripada yang lain (hal.14), misalnya grafik, trrafic light, dsb

  4. Ketika kata pertama (tanda) mulai ada, bunyi atau rangkaian bunyi apapun (signifier) dipilih untuk mengungkapkan konsep apapun (sign).

  5. Perincian kata, signifier, dan bunyi.

    TOP

    AT THE TOP OF THE MONTAIN

    Satu kata

    Enam kata
    Satu signifier Enam signifier
    Tiga bunyi Tujuh belas bunyi
  6. Analisis diakronis adalah tidak memandang pada keseluruhan sistem, tetapi pada elemen-elemen individual pada waktu yang berbeda

  7. Language (apa yang bisa kita lakukan dengan bahasa), parole (apa yang kita lakukan dengan bahasa ketika kita berbicara) (hal.16).

  8. Saussure menolak NOMENKLATUR (daftar istilah yang menamai benda-benda), tanda lingusitik tidak mengaitkan sebuah nama dengan sebuah benda, namun sebuah konsep dengan sebuah gambaran akustik

  9. Saussure menggunakan istilah konsep (signified) dan gambaran akustik (signifier) atau entitas mental

  1. Terjadi strukturalisasi di Eropa pada 1920 oleh Roman Jakakobson (1896 s.d. 1982) dan diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya untuk mengembangkan konsep Saussure.

Daftar Rujukan

Bordon, W. Terrence. 2002. Saussure untuk Penula. Yogyakarta: Kanisius.

Jakarta di Kepala Totilawai Tjitrawasita

Jakarta di Kepala Totilawai Tjitrawasita

Saat menyelesaikan sebuah kisah berjudul Jakarta seolah kita akan dibawa oleh pengarang ke dalam sebuah tamasya melihat sebuah akuarium. Di dalam akuarium tersebut terdapat tiga ekor ikan besar lengkap dengan aksesorisnya. Tiga ekor ikan itu adalah tokoh-tokohnya, sedangkan aksesorisnya adalah alur, tema, latar, dan amanat.

Ketiga tokoh yang dipilih pengarang setidaknya cukup mewakili sebuah kota yang sering disebut sebagai kota metropolitan di Indonesia. Ketiga tokoh tersebut memetaforkan lapisan sosial di masyarakat. Pun, mereka memberikan sebuah dikotomi lapisan masyarakat kota besar tersebut.

Pak Jenderal alias Paijo adalah lapisan sosial atas sekaligus adalah pejabat. Si pembaca tentu perlu mencatat: banyak pejabat negara berada di Jakarta! Si Penjaga adalah manifestasi dari strata sosial bawah. Keduanya adalah gambaran sosial di dalam masyarakat Jakarta dimana kehidupan orang yang kaya makin kaya, dan sebaliknya. Pak Pong? Pak Pong adalah budaya dari luar yang terbentur padanya dan berakhir melompong.

Sekilas Gambaran Politik

Tidak ke situ, ke Paprika. Tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu!”

Tjitrawasita perlahan menusukkan jarum kritiknya melalui tokoh si penjaga kepada Pak Pong. Dari dialog tersebut tersirat sebuah pernyataan bahwa sebagian pejabat di negara kita menghabiskan waktunya di night club. Sebagai seorang pejabat, seharusnya memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakatnya.

Jika melihat tahun terbitnya cerpen tersebut, 1979, cukup mengindikasikan kondisi politik pada jaman itu. Pada saat itu, sering kita dengar istilah te es te, yaitu sebuah kepanjangan dari tahu sama tahu (tst). Pernyataan tersebut tampak pada dialog yang diungkapkan oleh tokoh si penjaga: Tidak! asal Bapak Jenderal mau teken, biasanya urusan selesai.

Jakarta sebagai karya sastra

Jakarta diungkapkan Tjitrawasita dengan bahasa yang sederhana. Unsur kedetilan pendeskripsian sangat tampak ketika tokoh Pak Pong mengisikan biodata. Dari kedetilan tersebut, pengarang mampu mengalirkan suasana yang apa adanya tanpa ada kesan artifisial yang berlebihan.

Adegan dimana Pak Pong larut dalam angan membayangkan dirinya bertemu Paijo juga menarik. Terlebih saat Pak Pong sudah menggumam dalam hati membayangkan kata-kata yang akan muncul dari adik misannya. Pengarang cukup cerdas saat membalik angan tokoh rekaan menjadi sesuatu yang diluar dugaannya.

“Kakak, Ibu, Dik Tinah?” dia sempat mencatat kata-kata baru. “Bukankah kata-kata itu dulu berbunyi, “Kakang, simbok, dan gendukku Tinah?”

Pengakhiran dari Jakarta dirasa juga cukup menarik saat Pak Pong memberikan sebuah kain yang dibatik orang tuanya. Kain yang di dalamnya terukir cinta ibu dan coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan tersebut akhirnya di berikan kepada penjaga yang dengan baik menerima Pak Pong.

Bagaimanapun juga, Jakarta tetaplah sebuah kota besar dengan ribuan kisah dan Jakarta mengambil salah satu sisinya. Itulah setidaknya yang ada di kepala Tjitrawasita.

Jakarta di Kepala Totilawai Tjitrawasita

Tugas Pra Pasca

Lubis Grafura

Analisis Kontrastif

Analisis Kontrastif

Analisis kontrastif dapat ditelusuri dari kedua kata tersebut. Analisis disebut sebagai suatu pembahasan atau uraian. Adapun yang dimaksud dengan pembahasan itu sendiri adalah proses atau cara membahasa yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu dan memungkinkan dapat menemukan inti permaslaahnnya. Permasalahan yang dikenmukaakan itu kemudian dikupas, dikritikm diulasm dan akhirnya disimplkan untuk dipahami. Moliono (1988:32) menjelakan bahwa analisi sadalah suatu kegiatan menguraiakan suatu pokok atas berbagai bagiannya dan hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang teoat danb oenahaman arti secara menyeluruh.

Kontrastif dapat diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan antar dua hal. Analisis kontrastif (anakon) merupakan kegiatan membandingkan struktur bahasa ibu (B1) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebihdikenal dengan (B2)Untuk mengidentifikasi kedua bahas atersebut lebih deikenal dalam ranah kebahasaan linguistik. Sehubungan dengan hla ini maka muncullah istilah linguistik kontrastif. Linguistik kontrastif membandingkan dua bahasa dari segala komponennnya secara sinkronik sehingga doitemukan perbedaan-perendaan dan keriripan-kemiripan yang ada. Dari hasil temuan itu dapat diduga adanya penyimpangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh dwibahasawan.

Dwibahasawan adalah orang yange mnguasai dua bahasa secara baik, sedangkan kedwibahasanan adalah suatu alter(Tarigan, 1990:10) natif menggunakan dua bahasa aytau lebih. Ada beberapa jenis kedwibahasaan, yaitu :

  1. Kedwibahasaan terpadu dan koordinatif

Kedwibahasaan ini didsarkan pada kaitan anatara B1 dengan B2yang dikuasai oleh kedwibahsawan Kedua bahasa dikuasai oleh dwibahwan tetapi berdiri sendiri-dendiri. Orang ini tidak dapat emadukan kedua sistemnya bahasa yang dikuasainya karena olrang tersebut merupalan penerjemah yang jelek.

  1. Kedeibahasaan Seimbang

Kedwibahasaan seimbang dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2. Orang yang sama mahirnya dalam dua bahasa. Dwibahawana jenis ini akan sangat bagus menjadi penerjemah.

  1. Kedwibahasaan Minoritas

Kedwibahsaan ini dihunungkan dengan situasi uang dihadapi B1. Adalah sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini dimungkinkan dapat kehilangan B1-nya

  1. Kedwibahasaan Tambahan

Hal ini dikaitkan dengan gensi atau wibawadwibahsawan.

  1. Dwibahasawan terpadu adlaah orang yang dapat mendudukkan kedua sisitem bahasa yang dikuasainya. Dwibahawana jenis terakhir ini serng menggunakan sistem B2 di saat seseorang sedang menggukan B1. Setiap berbicara menggunan B2, pola pikirnya selalu di terjemahkan dulu ke dalam B1. Pembicara yang dapat menggunakan dua bahasa yang bergengsi dan bermanfaat. Kedua bahasa tersebut saling melengkapi dan memperkaya.

Tindakan di atas itulah disebut dengan tidnakan analisis. Merode membandingkan bahasa yang sedang dipelajari seseorang (B2) dengan bahas ayang sudah dimiliki (B1) dikelan dengan moetode lingustik kontraktif.

Dasar utama analisis kontrastif adalah teori belajar ilmu jiwa tingkah laku. Oleh karena itu perlud ip[ahami bahasa yang berdasarkan tingkah laku ini. Ada dua hal yang perlu dikehketahu saat berlajar mengenai ilmu jiwa tingkah laku ini, yaitu kebiasaan dan kesalaham.

Kebiasan dan kesalahan adalah kebiasan berbahasa dan kesalahan berbahasa. Aliran psikologi tingkah laku menjelaskan oengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi atau rangsanaagn yang menghasilkan tanggapan. Rangsanagan yang berbeda akan menghasilkan ytanggapan yang bebeda pula.Hunungan anatara rangsanagan tertntu dengan tanggapan menghasilkan kebiasan. Kebiasaan ini adadua, yaitu kebiasana yang dapat dilihat dan dapat diraba, kedua kebiasan yang bersigfat mekanis atau otomatis

Benang Putih dari Benang Hitam

Benang Putih dari Benang Hitam

AKU masih teringat pertanyaanku ketika aku masih kecil kepada bapak tentang siapakah yang membentangkan layar fajar di langit biru dan menutupnya kembali menjadi kelam. Juga bagaimana seorang bayi itu berada di perut ibu dan dari mana mereka keluar. Hingga pertanyaanku itu ditanyakan kembali oleh anakku.

“Tanyakan saja kepada ayahmu” kata istriku ketika ia sibuk menonton sinetron di tivi.

“Siapa yang melakukannya Yah?”

Kulepas kacamataku. Kuajak anakku duduk di teras rumah. Aku menceritakan kepadanya tentang kisah Syeikh Juha dan Tiga Orang Cendikiawan untuk mengalihkan perhatiannya atas pertanyaan yang dulu tidak pernah kudapatkan jawabannya dari bapak.

“Aku belum pernah mendengar cerita itu” kata anakku antusias untuk mengetahuinya.

Kuawali ceritaku dengan frasa “pada suatu hari” Syeikh Juha melakukan perjalanan dengan seekor keledainya menuju pasar. Ia bertemu dengan tiga orang berjubah yang hendak menguji kepandaian Syeikh Juha yang sudah terkenal itu. Salah satu dari mereka bertanya dimanakah letak tengah-tengah bumi. Kemudian, dengan tenang Syeikh Juha menjawabnya terletak di bawah telapak kaki keledainya.

“ Benarkah itu Yah?” tanya anakku.

Awalnya orang yang bertanya itu tidak percaya dan menganggap jawaban Syeikh Juha hanya sebagai gurauan. Dengan muka tenang Syeikh Juha menjawab pertanyaan orang yang sedang menguji kepandaiannya itu. Syeikh Juha menyuruh orang itu untuk berjalan dimulai dari telapak kaki keledainya berdiri menuju arah barat. Dengan yakin Syeikh Juha mengatakan bahwa lelaki itu akan kembali ke arah telapak kaki keledainya berdiri.

Setelah merasa kalah, lelaki itu mundur. Berikutnya, seorang laki-laki lain mencoba bertanya lagi kepada Syaikh Juha tentang jumlah bintang di langit. Dengan muka yang masih tenang, Syeikh Juha menjawab bahwa jumlah bintang di langit sama dengan jumlah bulu keledainya.

“Kok bisa Yah?”

Seperti lelaki yang bertanya sebelumnya, orang itu juga tidak percaya. Kemudian Syeikh Juha menyuruh lelaki yang bertanya jumlah bintang di langit itu untuk menghitung jumlah bulu di keledainya.

Anakku tertawa. Aku yakin kali ini, ia akan melupakan pertanyaan itu. Seperti halnya aku dulu juga memikirkan hal lain setelah aku bertanya tentang pertanyaan yang sama.

“Lalu orang yang ketiga?”

Dua orang sudah merasa kalah, maka mereka pergi ke belakang. Kini, tinggal satu orang lagi yang memiliki jenggot yang lebat. Iapun bertanya berapa jumlah helai jenggot di dagunya itu. Lelaki itu manggut-manggut melihat Syeikh Juha tidak bisa menjawabnya.

Namun, tak lama kemudian Syeikh Juha memegang ekor keledainya dan mengatakan bahwa jumlah helai jenggot di dagu orang itu sama dengan jumlah helai bulu di ekor keledainya. Mereka bertanya-tanya.

Syeikh Juha menjelaskan bahwa jika bulu di ujung ekor keledainya dan jenggot lelaki itu dicabuti hingga bersih, maka keduanya akan gundul. Kedua lelaki yang sebelumnya, tertawa terpingkal-pingkal. Lelaki yang memiliki jenggot hanya tersenyum, karena ia malu. Betapa jenggotnya yang lebat itu disamakan dengan ujung ekor keledai.

Anakku tertawa terpingkal-pingkal.

“Lalu siapa yang membuat langit menjadi malam dan siang, dan bagaimana aku dulu lahir dan dari mana aku keluar?”

Aku tertegun sesaat. Dulu, bapakku selalu bisa mengalihkan perhatianku ketika aku menanyakan hal itu. Tapi, kali ini kurasa cara yang pernah diajarkan bapak tidak lagi manjur untuk anak zaman sekarang.

“Ah, nanti kalau sudah dewasa akan mengerti sendiri!”

Itu jawaban bapak ketika aku mendesaknya dulu, karena keingintahuanku sangat besar tentang bagimana dua orang, lelaki dan perempuan, menikah lalu punya anak. Bagaimana membuatnya?

“Hus! Tidak boleh bertanya seperti itu.”

Dan itu jawaban yang kudapat dari ibu waktu itu, setelah kurasa ayah tidak bisa memberikan jawaban yang tepat.

“Bagaimana Yah?”

Desak anakku. Di sepasang matanya kulihat sorot kepolosan yang menginginkan keingintahuannya tentang dunia yang baru saja dikenalnya lima tahun yang lalu.

Kucari jawaban seadanya, aku menceritakan kepadanya bahwa yang membentangkan langit menjadi siang, senja, malam, dan kembali membentangkan benang putih dari benang hitam, yaitu fajar dan seterusnya adalah kehendak Allah. Alam semesta ini tunduk kepada perintahNya.

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atasnya, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini Keesaan dan Kekuasaan Allah.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi dari kekeringan. Dia juga yang menyebarkan di bumi ini segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

“Dari sinilah anakku, sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang mau memikirkan.”

Kulihat dari sorot sepasang matanya yang lugu, sebuah pengertian yang mungkin masih baru baginya. Tapi, paling tidak apa yang kukatakan mewakili jawaban dari apa yang menjadi keresahan hatinya untuk selalu bertanya sesuatu tentang dunia ini.

“Lalu bagaimana orang bisa memiliki bayi dan bagaimana mereka keluar?”

Pertanyaan ini mudah, tetapi aku sulit mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskannya. Kalau saja yang bertanya adalah orang dewasa, tentu aku dapat menjelaskannya. Tapi, bagaimanapun anak bertanya, aku harus mengatakan kepadanya tentang makna kejujuran dan kebenaran.

Aku kembali mencari-cari penjelasan yang tepat. Awalnya aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa bayi itu dibuat dari segumpal tanah liat yang kemudian dibentuk mirip dengan tubuh manusia. Tapi, aku tidak ingin ketika anakku dewasa ia akan berfikir bahwa ayahnya adalah seorang penipu.

Mungkin ada baiknya kuceritakan yang sebenarnya. Aku masih menggaruk-garuj rambut di kepala, ketika anakku mengulangi pertanyaannya. Kuceritakan kepadanya bahwa manusia berasal dari tanah dan mereka akan kembali ke tanah. Kemudian setetes air, menjadi gumpalan darah, gumpalan daging yang sempurna kejadiannya dan ada pula yang tidak sempurna.

Anakku yang menatapku dengan sorot lugu itu tampak tak mengerti. Kukatakan lagi kepadanya bahwa bayi itu akan lahir dari rahim ibu. Entah apa yang berada dalam benaknya. Kukatakan bahwa seorang perempuan memiliki rahim untuk keluarnya bayi. Tentu saja semuanya adalah ketetapan Allah seperti apa yang telah kukatakan kepadanya.

“Lalu bagaimana bayi itu bisa berada dalam perut ibu?”

“Itu adalah ketentuan Allah anakku. Allah yang telah menghidupkannya”

“Jadi setiap orang bisa punya bayi?”

“Tentu saja, tetapi ada aturannya. Mereka harus menikah lebih dahulu.”

“Jadi, kalau belum menikah belum bisa memiliki anak?”

Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya. Kumengira bahwa pertanyaan dalam hatinya mungkin sudah separoh terjawab. Paling tidak, aku tidak membohongi dirinya. Aku tak ingin dia tersesat di kemudian hari.

Tak lama kemudian istriku menyusul ke teras rumah. Ia menyuruh kami masuk, karena udara malam semakin dingin.

“Ibu, aku mau tanya.” Kata anakku sambil mendekatkan tubuhnya ke istriku “Perkosa itu apa sih seperti yang ada di tivi-tivi itu lho? Kenapa orang perempuan kok tidak mau diperkosa?”

Kami tertegun. Istriku mengelus-elus kepala anakku untuk menutupi keterkejutannya. Betapa terkejut dan kalutnya pikiranku untuk mencari strategi baru mengalihkan perhatian anakku yang memiliki begitu besarnya rasa ingin tahu.

Dalam hati aku memaki-maki pembuat cerita anak dan sinetron di tv yang tidak lagi memperhatikan sikap mental dan perkembangan anak. Dan, mungkin aku juga musti membicarakan kebiasaan istriku menonton televisi yang berpengaruh besar terhadap anak.

“Yuk … kita masuk ke kamar dengan mama. Di sini sudah mulai dingin. Besok kita cerita lagi.” Kataku memotong keingintahuan anak dengan gaya kekuasaan orang tua.

“Betul lho Pak ya, besok. Jangan bohong.”

“Ya!” Jawabku sekenanya sambil menerawang ke langit mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang ayahku sendiri pun dulu belum pernah memberikan jawaban itu kepada diriku.

PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DEPARTEMEN LUAR NEGERI TINGKAT SARJANA (GOLONGAN III) DAN DIPLOMA 3 (GOLONGAN II) TAHUN ANGGARAN 2008


DEPARTEMEN LUAR NEGERI
REPUBLIK INDONESIA

P E N G U M U M A N

NOMOR : 00854/KP/VII/2008/19/02
PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
DEPARTEMEN LUAR NEGERI
TINGKAT SARJANA (GOLONGAN III) DAN DIPLOMA 3 (GOLONGAN II)
TAHUN ANGGARAN 2008

Departemen Luar Negeri Republik Indonesia membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia, pria dan wanita:
1. Lulusan S1, S2, dan S3 menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III untuk dididik menjadi Pejabat Diplomatik dan Konsuler (Diplomat/PDK);
2. Lulusan Diploma 3 (D3) menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan II untuk dididik menjadi:
a. Bendaharawan dan Penata Kerumahtanggaan Perwakilan (BPKRT); dan
b. Petugas Komunikasi (PK).
I. PERSYARATAN UMUM
a. Warga Negara Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian.
c. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai PNS/Anggota TNI/Polri atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta.
d. Tidak berkedudukan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Negeri Sipil dan tidak sedang terikat perjanjian/kontrak kerja dengan instansi lain.
e. Tidak bersuami/beristrikan seorang yang berkewarganegaraan asing atau tanpa kewarganegaraan.
f. Sehat jasmani dan rohani.
g Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia atau negara lain yang ditentukan oleh Pemerintah.
II. PERSYARATAN KHUSUS
A. PEJABAT DIPLOMATIK DAN KONSULER (DIPLOMAT/PDK)
a . Berijazah Sarjana (S1), Magister/Master (S2) atau Doktor (S3):
1. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Jurusan Ilmu Politik, Hubungan Internasional, Studi Kawasan, Ilmu Komunikasi, Sosiologi, Ilmu Pemerintahan dan Administrasi Negara).
2. Ilmu Hukum (Hukum Internasional, Hukum Bisnis, Hukum Perdata, Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara).
3. Ilmu Ekonomi (Jurusan Studi Pembangunan, Manajemen, Akuntansi).
4. Sastra/Ilmu Pengetahuan Budaya (Arab, China, Inggris, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol).
b. Lulusan Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta atau Perguruan Tinggi Luar Negeri yang terakreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, dengan persyaratan IPK:

  • Sarjana (S1) minimal 2,75 (dua koma tujuh lima);
  • Magister (S2) minimal 3,00 (tiga koma nol nol);dan
  • Doktor (S3) minimal 3,00 (tiga koma nol nol).
c. Menguasai bahasa Inggris dengan baik (lisan dan tulisan) dan/atau bahasa PBB/asing lainnya (Arab, China, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol).
d. Berusia maksimum:
  • 28 tahun pada tanggal 1 Desember 2008 (lahir setelah 30 November 1980) untuk tingkat Sarjana (S1).
  • 32 tahun pada tanggal 1 Desember 2008 (lahir setelah 30 November 1976) untuk tingkat Magister (S2).
  • 35 tahun pada tanggal 1 Desember 2008 (lahir setelah 30 November 1973) untuk tingkat Doktor (S3).
B. BENDAHARAWAN DAN PENATA KERUMAHTANGGAAN PERWAKILAN (BPKRT)
a. . Berijazah Diploma 3 (D3):
1. Jurusan Akuntansi.
2. Jurusan Manajemen Keuangan.
b.
Lulusan Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta atau Perguruan Tinggi luar negeri yang terakreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, dengan persyaratan IPK: minimal 2,75 (dua koma tujuh lima).
c.
Menguasai bahasa Inggris dengan baik (lisan dan tulisan) dan/atau bahasa PBB/asing lainnya (Arab, China, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol).
d. Berusia maksimum 28 tahun pada tanggal 1 Desember 2008 (lahir setelah 30 November 1980).
C. PETUGAS KOMUNIKASI (PK)
a. Berijazah Diploma 3 (D3):
1. Jurusan Teknik Telekomunikasi;
2. Jurusan Teknik Informatika;
3. Jurusan Teknik Komputer;
4. Jurusan Teknik Elektronika; dan
5. Jurusan Matematika.
b.
Lulusan Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta atau Perguruan Tinggi luar negeri yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dengan persyaratan IPK: minimal 2,75 (dua koma tujuh lima).
c.
Menguasai bahasa Inggris dengan baik (lisan dan tulisan) dan/atau bahasa PBB/asing lainnya (Arab, China, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol).
d. Berusia maksimum 28 tahun pada tanggal 1Desember 2008 (lahir setelah 30 November 1980).
III. PENDAFTARAN
a.
Melakukan REGISTRASI ONLINE melalui website www.deplu.go.id dan mencetak formulir registrasi beserta pernyataan menyetujui ketentuan dan syarat yang ditetapkan.
b.
Registrasi online harus disertai dengan pengiriman berkas lamaran yang disampaikan kepada Panitia Penerimaan CPNS Deplu Tahun Anggaran 2008.
c.
Setiap Pelamar hanya diperkenankan mengirimkan satu berkas lamaran dan mendaftar hanya untuk satu kategori seleksi PDK atau BPKRT atau PK.
d.
Registrasi online baru akan diproses setelah Panitia menerima berkas lamaran yang disampaikan melalui Pos Tercatat mulai tanggal 11s/d 31 Juli 2008 (CAP POS) dan sudah diterima Panitia selambat-lambatnya tanggal 4 Agustus 2008, ditujukan kepada:
Ketua Panitia Penerimaan CPNS Deplu TA 2008

PO BOX 3206
JKP 10032
(UNTUK PDK)

PO BOX 3221
JKP 10032
(UNTUK BPKRT)

PO BOX 3235
JKP 10032
(UNTUK PK)


e.
Panitia hanya menerima berkas lamaran yang disampaikan melalui PO BOX tersebut di atas dan tidak menerima format penyampaian lamaran lainnya.
f. Formulir Registrasi harus dilengkapi dengan lampiran:
i. Surat Pernyataan Menyetujui Ketentuan dan Syarat yang telah dicetak dibubuhi meterai Rp.6.000;
ii. Fotokopi KTP yang masih berlaku/Fotokopi Paspor bagi pelamar dari luar negeri;
iii. Daftar Riwayat Hidup terakhir;
iv.

Satu lembar fotokopi ijazah (D3, S1, S2, dan/atau S3) berikut transkrip nilai yang sudah dilegalisir (cap dan tanda tangan asli) oleh Dekan/Direktur Program atau Ditjen Dikti Depdiknas bagi lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri (Surat Keterangan Kelulusan/Ijazah Sementara dapat diterima, dengan syarat Pelamar dapat menyertakan Surat Pernyataan dari Pimpinan Universitas yang menyatakan bahwa pihak Universitas sudah dapat mengeluarkan Ijazah Asli yang bersangkutan pada saat akan mengikuti Ujian Tahap Akhir (Tes Pemeriksaan Psikologi dan Wawancara Substansi, serta Tes Penguasaan Teknologi Informasi/Komputer), yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Oktober 2008. Bagi Pelamar yang tidak dapat menunjukkan Ijazah Asli, maka yang bersangkutan dinyatakan gugur dan tidak dapat mengikuti Ujian Tahap Akhir);

Catatan: bagi lulusan luar negeri yang memiliki transkrip nilai tidak berskala 4.0 harap melampirkan konversi transkrip nilai dengan skala 4.0 yang disahkan oleh Ditjen Dikti Depdiknas.

v. Fotokopi Akte Kelahiran;
vi. Surat Keterangan Sehat dari dokter (terbaru);
vii. Fotokopi tanda pencari kerja (kartu kuning Depnaker) yang masih berlaku;
viii. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang masih berlaku;
ix. Pas foto terakhir ukuran 3×4 (berwarna) sebanyak 3 lembar: 1 lembar foto ditempel di formulir lamaran dan 2 lembar lainnya ditulisi nama pelamar di bagian belakang foto.
g. Lamaran beserta lampiran tersebut pada butir (e) disusun rapi sesuai urutan di atas dalam map kertas jepit berlubang dengan warna:

i. Biru untuk S1 – PDK;
ii. Kuning untuk S2 – PDK;
iii. Putih untuk S3 – PDK;
iv. Hijau untuk D3 – BPKRT; dan
v. Merah untuk D3 – PK.
h. Map lamaran beserta lampiran dimasukkan ke dalam amplop warna coklat dan ditulis pada pojok kiri atas kode lamaran PDK atau BPKRT atau PK.
i. Berkas lamaran yang tidak memenuhi persyaratan tersebut di atas tidak akan diproses.
j. Berkas lamaran yang diterima Panitia menjadi milik Panitia dan tidak dapat diminta kembali oleh Pelamar.
IV. TAHAPAN DAN JADWAL SELEKSI
Seleksi penerimaan PDK, BPKRT dan PK dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Seleksi Administratif;
2.
Ujian Tulis Substansi dalam Bahasa Indonesia dan Inggris (meliputi masalah nasional, internasional dan pengetahuan umum) dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 6 September 2008 (PDK) dan 7 September 2008 (BPKRT dan PK). Tempat pelaksanaan ujian akan ditentukan kemudian;
3.
Ujian Kemampuan/Penguasaan Bahasa Inggris atau Bahasa Asing Lainnya (Arab, China, Inggris, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol) berdasarkan pilihan peserta, dijadwalkan akan dilaksanakan pada awal bulan Oktober 2008. Tempat pelaksanaan ujian akan ditentukan kemudian;
4.
Tes Pemeriksaan Psikologi dan Wawancara Substansi serta Tes Penguasaan Teknologi Informasi/Komputer dijadwalkan akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Oktober 2008. Tempat pelaksanaan ujian akan ditentukan kemudian;
5.
Peserta yang lulus pada setiap tahapan ujian akan diumumkan melalui website Deplu www.deplu.go.id.
6. Seleksi dilakukan dengan sistem gugur dan keputusan Panitia tidak dapat diganggu gugat.
V.PENGUMUMAN HASIL SELEKSI ADMINISTRATIF DAN PENGAMBILAN KARTU TANDA PESERTA UJIAN
1.
Hanya Peserta yang telah melakukan registrasi online dan memenuhi seluruh persyaratan untuk melamar/persyaratan pendaftaran, yang akan diloloskan dalam tahapan Seleksi Administratif. Hasil Seleksi Administratif dijadwalkan akan diumumkan pada tanggal 23 Agustus 2008 melalui website Deplu www.deplu.go.id.
2.
Pelamar yang telah dinyatakan lolos tahapan Seleksi Administratif diwajibkan untuk mengambil Kartu Tanda Peserta Ujian sebagai syarat mengikuti Ujian Tulis Substansi.
3.
Kartu Tanda Peserta Ujian harus diambil sendiri oleh peserta ujian di Pusdiklat Deplu, Jalan Sisingamangaraja No. 73, Jakarta Selatan, dengan menunjukkan kartu identitas diri. Apabila Peserta mewakilkan pengambilan Kartu Tanda Peserta Ujian kepada pihak ketiga, maka diperlukan Surat Kuasa bermeterai dengan menunjukkan kartu identitas diri Peserta dan Penerima Kuasa, serta menyerahkan fotokopi kartu identitas diri dimaksud.
4. Jadwal pengambilan Kartu Tanda Peserta Ujian dijadwalkan akan diumumkan kemudian melalui website Deplu www.deplu.go.id.
VI. LAIN-LAIN
1. Seleksi masuk Calon Pegawai Negeri Sipil Departemen Luar Negeri tidak dipungut biaya.
2.
Departemen Luar Negeri tidak bertanggung jawab atas pungutan atau tawaran berupa apapun oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan Departemen Luar Negeri atau Panitia, sehingga Peserta diharapkan tidak melayani tawaran-tawaran untuk mempermudah penerimaan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Departemen Luar Negeri.
3.
Bagi mereka yang telah dinyatakan lulus hingga tahapan terakhir seleksi, tetapi mengundurkan diri diwajibkan mengganti biaya yang telah dikeluarkan Panitia sebesar Rp 15.000.000,- (Lima Belas Juta Rupiah) untuk PDK dan Rp 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) untuk BPKRT dan PK.
4.
Lamaran yang dikirimkan kepada Departemen Luar Negeri sebelum pengumuman ini dianggap tidak berlaku.
5.
Informasi resmi yang terkait dengan seleksi CPNS Deplu 2008 hanya dapat dilihat dalam website Deplu www.deplu.go.id. Para pelamar disarankan untuk terus memantaunya.

Jakarta, Juli 2008
A.n. MENTERI LUAR NEGERI
SEKRETARIS JENDERAL

IMRON COTAN

REKRUTMEN PEGAWAI PT PLN (PERSERO)

TINGKAT S1 – D3  TAHUN 2008

PT PLN (Persero) dengan visi diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh-kembang, unggul dan tepercaya dengan bertumpu pada potensi insanimembuka kesempatan kepada putra-putri Indonesia terbaik untuk bergabung dan berkembang bersama menjadi Pegawai PT PLN (Persero) melalui program Rekrutmen Pegawai PT PLN (Persero) Tingkat S1 – D3 tahun 2008.

Peserta rekrutmen yang lolos seleksi penerimaan akan dididik untuk menempati posisi sebagai assistant / junior analyst, assistant / junior officer, assistant / junior engineer dan assistant / junior operator sesuai dengan kompetensinya dan ditempatkan di seluruh Unit dan Wilayah Kerja PT PLN (Persero) di luar Jawa – Bali.

Proses Rekrutmen Pegawai PT PLN (Persero) menggunakan sistem gugur, meliputi tahapan :

1. Pendaftaran melalui Registrasi Online

2. Verifikasi Dokumen

3. Tes / Seleksi

4. Diklat Prajabatan

Tes / Seleksi meliputi :

a. General Aptitude Test (GAT).

b. Tes Akademis dan Bahasa Inggris.

c. Tes Psikologi dan Diskusi Kelompok.

d. Wawancara.

e. Tes Kesehatan.

Diklat Prajabatan dilaksanakan selama + 12 bulan meliputi :

a. Orientasi Lapangan

b. Pengenalan Perusahaan.

c. Pembidangan.

d. On The Job Training (OJT).

Selama mengikuti Diklat Prajabatan status peserta adalahSiswa Diklat Prajabatan”.  Siswa yang lulus Diklat Prajabatan akan diangkat sebagai Pegawai PT PLN (Persero) dan ditempatkan pada posisi jabatan di seluruh Unit dan Wilayah Kerja PT PLN (Persero) di luar Jawa – Bali.

PERSYARATAN

1.  UMUM

a. Tes/Seleksi penerimaan dilaksanakan di : Medan, Palembang, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar.

b. Batas Usia :

S1 : Kelahiran 1982 dan sesudahnya

D3 : Kelahiran 1985 dan sesudahnya.

c. Bidang Studi sesuai dengan jabatan yang dilamar.

d. IPK : 2,75 untuk S1/D3 Teknik dan 3,00 untuk S1/D3 non teknik.

e. Satu pelamar hanya diperbolehkan memilih 1 (satu) kode jabatan saja sesuai bidang studi yang dimiliki.

f. Pelamar hanya diperkenankan mendaftar pada posisi jabatan yang sesuai dengan tingkat pendidikan yang dipersyaratkan.

g. Sehat jasmani dan rohani untuk melaksanakan tugas pekerjaan di PT PLN (Persero) di seluruh Indonesia.

h. Tidak dipungut biaya apapun untuk mengikuti tes/seleksi dan Diklat Prajabatan yang diselenggarakan oleh PT PLN (Persero).

i. Semua pengumuman/panggilan yang berkaitan dengan rekrutmen ini menggunakan website PT PLN (Persero). Pelamar wajib memantau secara terus menerus pengumuman yang akan ditayangkan di website PT PLN (Persero).

j. Tidak ada korespondensi berkaitan dengan rekrutmen ini.

k. Keputusan Panitia tidak dapat diganggu gugat.

2. JABATAN DAN BIDANG STUDI YANG DIPERLUKAN.

KODE JABATAN

JABATAN

BIDANG STUDI

S1

1. EC

Assistant Engineer/Assistant Operator di bidang Scadatel

Klik disini

2. ED

Assistant Engineer/Assistant Operator di bidang Distribusi Tenaga Listrik

Klik disini

3. EP

Assistant Engineer/Assistant Operator di bidang Pembangkit Tenaga Listrik

Klik disini

4. ES

Assistant Engineer/Assistant Operator di bidang Sistem Tenaga Listrik

Klik disini

5. PE

Assistant Engineer Konstruksi/Pemeliharaan di bidang Pembangkit, Gardu Induk, Transmisi dan Distribusi Tenaga Listrik

Klik disini

6. AK

Assistant Analyst di bidang Akuntansi

Klik disini

7. HR

Assistant Officer di bidang SDM

Klik disini

8. HK

Assistant Analyst di bidang Hukum

Klik disini

9. KU

Assistant Analyst di bidang Keuangan

Klik disini

10. NG

Assistant Officer di bidang Niaga Tenaga Listrik

Klik disini

D3

1. TSC

Junior Engineer/Operator di bidang Scadatel

Klik disini

2. TDT

Junior Engineer/Operator di bidang Distribusi Tenaga Listrik

Klik disini

3. TPL

Junior Engineer/Operator di bidang Pembangkit Tenaga Listrik

Klik disini

4. TSO

Junior Engineer/Operator di bidang Sistem Operasi Tenaga Listrik

Klik disini

5. TPE

Junior Engineer Konstruksi/Pemeliharaan di bidang Pembangkit, Gardu Induk, Transmisi dan Distribusi Tenaga Listrik

Klik disini

6. TPD

Junior Analyst di bidang Pengolah Data

Klik disini

7. PAK

Junior Analyst di bidang Akuntansi

Klik disini

8. PAS

Junior Officer di bidang SDM & Kesekretariatan

Klik disini

9. PKU

Junior Analyst di bidang Keuangan

Klik disini

10. PNG

Junior Officer di bidang Niaga Tenaga Listrik

Klik disini

3. PROSES DAN PROSEDUR LAMARAN

a. Lakukan registrasi lamaran melalui situs http://rekrutmen.pln.co.id:8080. Saat pengisian agar dipastikan untuk mengisi formulir dengan benar dan lengkap karena pelamar hanya bisa mengisi formulir satu kali dan tidak dapat diubah setelah menekan tombol Daftar.

b. Kesalahan pengisian sehingga mengakibatkan pelamar tidak lolos pada tahap registrasi ini menjadi tanggung jawab masing-masing pelamar dan pelamar tidak berhak untuk mengikuti tahap berikutnya.

c. Setelah tombol Daftar di klik, akan muncul halaman untuk mencetak kelengkapan berkas lamaran bagi pelamar yang dinyatakan lolos. Berkas ini diperlukan pada tahap selanjutnya (Verifikasi Dokumen).  Pelamar yang tidak lolos/gugur tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.

d. Cetak kelengkapan berkas lamaran tersebut, yaitu:

1. Surat Lamaran.

2. Daftar Riwayat Hidup.

3. Surat Pernyataan tentang bersedia ditempatkan di Unit dan Wilayah Kerja PT PLN (Persero) di seluruh Indonesia dan tidak terlibat penyalahgunaan narkoba.

e. Isi dan tanda tangani seluruh berkas lamaran tersebut di atas. Khusus untuk Surat Pernyataan, agar ditandatangani di atas materai Rp. 6.000,00.

f. Lengkapi berkas lamaran dengan seluruh dokumen pendukung yang dipersyaratkan, yaitu:

1. Surat Keterangan sehat dan tidak buta warna;

2. Foto kopi akte/surat kelahiran

3. Foto kopi ijazah terakhir atau surat keterangan lulus yang dilegalisir

4. Foto kopi transkrip nilai yang dilegalisir

5. Foto kopi KTP yang masih berlaku

6. Pasfoto berwarna terbaru ukuran 4X6 sebanyak 3 (tiga) lembar

g. Masukkan semua berkas lamaran dan dokumen pendukung ke dalam satu map untuk diserahkan pada saat verifikasi dokumen.  Waktu dan tempat verifikasi dokumen akan diberitahukan sewaktu-waktu melalui e-mail atau melalui website PT PLN (Persero).

h. Apabila pada saat verifikasi dokumen ada ketidak sesuaian antara dokumen dan data pelamar yang diisikan pada formulir Registrasi Online, maka pendaftar dinyatakan tidak lolos atau gugur.

i. Pelamar yang tidak lolos seleksi Registrasi Online, tidak perlu menyerahkan dokumen untuk verifikasi.

4. PERSIAPAN SEBELUM MENGAJUKAN LAMARAN

Untuk menghemat waktu akses dan mengurangi kesalahan data pada saat pelamar mengisi formulir di Registrasi Online, pelamar dihimbau untuk mempersiapkan seluruh data dan dokumen pendukung yang diperlukan. Pelamar dapat juga memasukkan file scan pas foto dengan besar file maksimal 200 Kb.

5.  LAIN – LAIN.

a. Tes/Seleksi bersifat nasional untuk seluruh lokasi tes, dilaksanakan dengan metoda dan ketentuan / persyaratan yang sama.

b. Pelamar yang sudah pernah mengirimkan lamaran sebelumnya dinyatakan tidak berlaku dan diwajibkan mengajukan kembali sesuai ketentuan di atas.

c. Surat lamaran yang telah dikirim/diterima tidak dapat ditarik kembali.

sumber :

http://datalowongankerja.com/pln/

E. HALAMAN IKLAN

Karyamu ingin ditampilkan secara online?

engumuman, Kami saat ini sedang membangun sebuah blogs kompilasi untuk para pengguna blogs di internet yang ingin bergabung dengan kami, blogs kompilasi tersebut dapat anda kunjungi di: http://www.sebuahgudangtua.wordpress.com

Didalam gudang tua itu anda dapat turut menampilkan segala bentuk karya anda, baik itu berupa cerpen, puisi, novel, opini, laporan perjalanan, dan lain sebagainya…

Setiap karya yang masuk akan kami tampilkan tanpa membedakan baik itu karya dari seorang penulis pemula maupun karya dari penulis ternama…

Jika anda berminat untuk turut berpartisipasi dalam http://www.sebuahgudangtua.wordpress.com ini, silahkan mengirimkan karya-karya anda disertai dengan profil/riwayat penulis ke redaksi gudang tua di: gudang_tua@yahoo.com atau sebuahgudangtua@gmail.com

Redaksi Gudang Tua tidak akan mengurangi atau menambahi sedikitpun isi didalam karya yang ditampilkan, namun segala karya tersebut sepenuhnya tetap menjadi tanggung jawab penulis.

Catatan: Karya yang dikirimkan diharapkan merupakan karya asli dari penulis

Redaksi Gudang Tua

Melestarikan Bahasa Indonesia dengan UKBI

Suatu saat akan ada persyaratan khusus yang akan dilampirkan oleh pelamar kerja selain tes TOEFL. Lampiran tersebut adalah kemampuan seseorang tentang penggunaan bahasa Indonesia atau lebih dikenal dengan Uji Kemampuan Bahasa Indonesia (UKBI).

Menurut sejarahnya, UKBI sudah digagas pada Kongres Bahasa Indonesia IV tahun 1993. Selanjutnya, pada tahun 1983, yaitu pada Kongres Bahasa Indonesia V sarana tes bahasa Indonesia dibentuk. Barulah pada tahun 1990 instrumen evaluasi diwujudkan yang dinamai dengan UKBI.

Layaknya TOEFL, UKBI juga memiliki serangkaian materi yaitu mendengar, membaca, menulis, berbicara, dan merespon kaidah kebahasaan. UKBI yang memiliki surat keputusan Mendiknas nomor 152/U/2003 tersebut memiliki kategori istimewa, sangat unggul, unggul, madya, semenjana, marginal, dan terbatas.

UKBI hadir untuk menevaluasi kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia baik secara tulis maupun lisan. Dalam realisasinya memang masih terbatas untuk para pekerja asing yang hendak bekerja di Indonesia. Ternyata banyak dari mereka yang berhasil menguasai instrumen bahasa Indonesia, termasuk di dalamnya adalah pemakaian ejaan dan tanda baca.

Ironisnya, masyarakat kita justru menunjukkan pemahaman yang rendah terhadap pemakaian bahasa.. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesalahan yang berterima. Artinya, pemakaian bahasa tersebut salah tetapi karena banyak pemakai di masyarakat akhirnya diterima.

Kesalahan yang berterima tersebut tampak pada papan-papan iklan yang dibuat oleh masyarakat. Misalnya, sebuah toko di pinggir jalan yang menjual ulat untuk makanan burung menuliskan ”Ulat Ada” di depan tokonya. Contoh lainnya adalah minyak tanah ada, pulsa ada, lumut ada dsb. Seharusnya papan iklan tersebut diganti dengan ”Sedia Ulat” atau sedia minyak tanah, sedia pulsa, sedia lumut dsb.

Media massa tentunya juga memiliki andil yang cukup besar terhadap pemakaian bahasa. Masyarakat banyak yang menganggap bahwa kaidah di dalam media massa adalah kaidah yang benar. Padahal dalam kenyataannya banyak media massa yang tidak mengikuti kaidah kebahasaan yang baik dan benar.

Pejabat atau para politisi juga harus bertanggung jawab atas pemakaian bahasa. Sebab mereka adalah figur masyarakat yang perilakunya bisa jadi ditiru oleh masyarakat. Salah seorang pejabat pernah mengatakan tentang kenaikan BBM: ”Keputusan naiknya BBM sudah jelas, tinggal menunggu when-nya.”

Tidak kita pungkiri, kosa kata tertentu masih terdengar asing di pemakai bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan kata download, upload, error, web site. Hal itu akan sangat tidak biasa ketika kita harus mengucapkan unduh, unggah, galat, laman. Belum lagi untuk kata peterana, branwir, kelindan dan sebagainya.

Media massa (termasuk media elektronik) dan para figur masyarakat (pejabat, artis dsb) seharusnya memberikan contoh pemakaian bahasa secara benar kepada masyarakat. Oleh karena itu, Pusat Bahasa membentuk pusat kebahasaan di daerah-daerah untuk meluruskan pemakaian bahasa yang benar.

Kehadiran UKBI untuk warga Indonesia memang nantinya akan menimbulkan polemik dari berbagai kalangan. Di samping itu, kita juga harus memikirkan nasib bahasa kita di tengah riuhnya bahasa asing agar kita tidak mengikuti jejak Malaysia, yang konon sudah kehilangan kemelayuannya.

Itulah kenyataan yang harus kita terima. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sudah mulai tersisihkan. Namun, bukan berarti kita harus tinggal diam tanpa berbuat apa-apa. Hal terdekat yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar serta mendukung program UKBI.

Lubis Grafura*)

Guru bahasa dan Sastra Indonesia SMU Darul Quran Singosari Malang. Pernah mendapatkan penghargaan dari Irak atas juara I menulis sajak untuk Nabi Muhammad SAW (2008), mendapatkan penghargaan dari Menpora atas penulisan cerpen (2005), dan berbagai lomba lainnya. Karyanya tersebar di Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Saat ini membuka layanan bahasa Indonesia dan sastra di www.lubisgrafura.wordpress.com. Bergiat di komunitas Padepokan Film Malang.

Daftar Materi Semester Gasal 12 SMA

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Daftar Materi

Semester Gasal 12 SMA

Gagasan Utama, Fakta dan Opini

Resensi, Kritik, Esai, Artikel

Daftar Pustaka, Kutipan

Surat lamaran Kerja, Karya Ilmiah

Pidato, Kalimat Majemuk

Frase, Klausa, Puisi

Download soal www.lubisgrafura.wordpress.com

Konsultasi/PR : lub_hi@yahoo.com

Daftar Materi

Semester Gasal 12 SMA

Gagasan Utama, Fakta dan Opini

Resensi, Kritik, Esai, Artikel

Daftar Pustaka, Kutipan

Surat lamaran Kerja, Karya Ilmiah

Pidato, Kalimat Majemuk

Frase, Klausa, Puisi

Download soal www.lubisgrafura.wordpress.com

Konsultasi/PR : lub_hi@yahoo.com

Daftar Materi

Semester Gasal 12 SMA

Gagasan Utama, Fakta dan Opini

Resensi, Kritik, Esai, Artikel

Daftar Pustaka, Kutipan

Surat lamaran Kerja, Karya Ilmiah

Pidato, Kalimat Majemuk

Frase, Klausa, Puisi

Download soal www.lubisgrafura.wordpress.com

Konsultasi/PR : lub_hi@yahoo.com

Daftar Materi

Semester Gasal 12 SMA

Gagasan Utama, Fakta dan Opini

Resensi, Kritik, Esai, Artikel

Daftar Pustaka, Kutipan

Surat lamaran Kerja, Karya Ilmiah

Pidato, Kalimat Majemuk

Frase, Klausa, Puisi

Download soal www.lubisgrafura.wordpress.com

Konsultasi/PR : lub_hi@yahoo.com

Daftar Materi

Semester Gasal 12 SMA

Gagasan Utama, Fakta dan Opini

Resensi, Kritik, Esai, Artikel

Daftar Pustaka, Kutipan

Surat lamaran Kerja, Karya Ilmiah

Pidato, Kalimat Majemuk

Frase, Klausa, Puisi

Download soal www.lubisgrafura.wordpress.com

Konsultasi/PR : lub_hi@yahoo.com

Daftar Materi

Semester Gasal 12 SMA

Gagasan Utama, Fakta dan Opini

Resensi, Kritik, Esai, Artikel

Daftar Pustaka, Kutipan

Surat lamaran Kerja, Karya Ilmiah

Pidato, Kalimat Majemuk

Frase, Klausa, Puisi

Download soal www.lubisgrafura.wordpress.com

Konsultasi/PR : lub_hi@yahoo.com

Panitia Pusat Penyaringan/Penerimaan Calon PNS Tingkat Sarjana departemen keuangan republik indonesia

Selengkapnya, kunjungi Persyaratan Umum:

  1. Warga Negara Indonesia;
  2. Berusia minimal 18 tahun pada tanggal 30 Juni 2008;
  3. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan Pengadilan, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan;
  4. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai PNS, anggota TNI/POLRI, pegawai BUMN/BUMD atau pegawai swasta;
  5. Tidak berkedudukan sebagai PNS atau CPNS;
  6. Mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian, dan keterampilan yang diperlukan;
  7. Berkelakuan baik;
  8. Sehat jasmani dan rohani;
  9. Bersedia bekerja pada instansi-instansi dalam lingkungan Departemen Keuangan, dan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Persyaratan Khusus:

  1. Mempunyai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sekurang-kurangnya 3.00 dalam skala 4 bagi lulusan Sarjana (S1) dan 3.25 dalam skala 4 bagi lulusan Pasca Sarjana (S2);
  2. Umur pada tanggal 30 Juni 2008, tidak lebih dari 27 tahun bagi pelamar lulusan S1 non Akuntan beregister (batas tanggal lahir 30 Juni 1981 dan setelahnya), dan 30 tahun bagi pelamar lulusan S1 Akuntan beregister dan S2 (batas tanggal lahir 30 Juni 1978 dan setelahnya).

Selengkapnya Kunjungi: http://ppns.depkeu.go.id/Persyaratan.asp

Konsultasi Gratis Bahasa Indonesia: Kalimat Minor

Yth alfaroby_rizqy@yahoo.co.id
alfaroby.wordpress.com

Konsultasi Gratis Bahasa Indonesia: Kalimat Minor

Assalamualaikum wr.wb.

Mau nanya nih…bisa menjelaskan masing masng “SPOK”
“hayo… mati kau”
“kabur”
Roby, boleh saya memanggil seperti itu? Di dalam bahasa Indonesia kita menemukan pembagian kalimat berdasarkan kelengkapan unsurnya. Berdasarkan hal tersebut, kalimat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kalimat mayor dan minor. Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri dari atas unsur pusat S (Subjek) dan P (Predikat), sedangkan kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu unsur pusat saja. Misalnya:
”Kemana ia pergi?” (1)
”Ke Bandung” (2)
”Siapa yang pergi” (3)
”Didik” (4)
Dari percakapan di atas, kita bisa menganalisis bahwa pada kalimat ke (1) dan (3) merupakan kalimat yang masing-masing terdiri lebih dari satu unsur pusat. Pada kalimat (2) dan (4) adalah kalimat yang ”pendek” dan merupakan bagian dari jawaban. Bagian jawaban dari suatu pertanyaan yang ”pendek” tersebut bisa disebut sebagai kalimat minor.

Kata ”hayo, mati kau” dan ”kabur” merupkan kalimat minor. Bagaimana tidak? Coba saja buat kalimat yang lebih panjang. Misal:

Hayo, mati kau, kau ketahuan mengambil barang itu.
K            S               P         O

atau
Kau ketahuan mengambil barang itu, hayo mati kau!
S               P        O        K

Frasa ”hayo, mati kau!” merupakan keterangan karena posisinya yang bisa dibolak-balik. Ketika frasa tersebut (yang juga sebagai anak kalimat) digunakan terpisah, maka ia bisa disebut sebagai kalimat minor.

Mungkin itu adalah penjelasan dari saya, apabila ada kekeliruan atau kekurangan jelas silakan di komplain pada postingan http://www.lubisgrafura.wordpress.com atau email ke lubis_friends@mailcity.com.

Mari, kita cerdaskan kehidupan bangsa sekecil dan sedekat yang bisa kita lakukan. Satu blog segala ilmu.

Hormat saya,

Lubis Grafura, S.Pd
http://www.lubisgrafura.wordpress.com

NASKAH (SKENARIO) FILM INDEPENDENT: “SANDAL JEPIT”

SEPASANG sandal japit berada di bawah telapak kaki yang hitam nan legam. Sepasang kaki dengan segores luka di salah satu sisinya. Sebuah luka yang menunjukkan betapa kerasnya sebuah perjuangan hidupnya.
Sepasang kaki itu berjalan pada sebuah tiang bendera di suatu sekolahan.  Sepasang kaki itu berhenti sejajar. Membiarkan sepasang tangannya, yang membawa bendera, menalikan pada tiang bendera. Seusai menarik bendera merah putih ke ujung tiang, sepasang kaki itu berjalan kembali menuju sebuah rumah.

Sebuah karya dari BengkelFilm memresentasikan:
SENDAL JEPIT
Mari Mendengarkan Bahasanya Tentang Indonesia

Sepasang kaki yang sama dengan sebelumnya tengah mengambil air wudlu. Sandal jepit tersebut membawa sepasang kaki tuannya yang terbungkus sarung tersebut menuju halaman rumah. Menuju sebuah jalan. Gang. Hingga sampilah pada sebuah masjid. Sepasang sandal japit tersebut berhenti di teras masjid. Menunggu pemiliknya menuntaskan sujud dluhur pada Rab-nya.
Sepasang sandal itu masih menunggu di antara sandal-sandal yang lainnya. Dirinya tak peduli. Biarpun hanya sepasang sandal japit, namun ia tetap setia menunggu pemiliknya.
Tanpa disangka ada seseorang – di dadanya ada beberapa sandal curian – mencuri sandal yang berada di samping sandal japit. Tentu saja sandal japit tersebut diam tak berteriak. Tak lama berselang, datanglah sepasang kaki lain – bukan sepasang kaki tuannya.
Sepasang kaki tersebut adalah sepasang kaki yang mencari sandal yang hilang. Di curi! Sepasang kaki itu mencari-cari sandalnya, namun ia tidak menemukan.
MASTER
Waduh, sandalku nang ndi rek? Jangkrik! Wis karepmu, tak gae sandale!
***
Sepasang kaki yang menjadi tuan sandal japit itu tampak resah mencari-cari sandal japitnya yang sudah tidak ada.
FUNI
Lho, sandalku nang ndi?
***
Sandal japit itu kini memeliki tuan baru. Sepasang kaki milik Master. Sepasang kaki itu terus berjalan hingga sampai pada sebuah gerombolan beberapa pemabuk sekaligus penjudi. Sayup-sayup seorang pengamen menyanyikan lagu kritikan tentang bangsa Indonesia.
Belum lama Master bermain judi sekaligus mabuk, tiba-tiba pengamen berteriak bahwa ada operasi oleh satuan polisi pamong praja. Master tak sempat berfikir lebih jauh, dirinya segera berlari menyelamatkan sendiri. Sepasang sandal japit tersebut terpisah satu dengan lainnya. Sandal sebelah kanan terinjak sepatu milik polisi pamong praja.
Sandal jepit sebelah kanan tersebut berharap bertemu dengan pasangannya kembali. Ia berharap memiliki tuan yang baru lagi. Dan, setelah lama menunggu, seorang dengan sepasang kaki telanjang berhenti di depan sandal japit tersebut. Menjatuhkan sandal japit, tepat, di samping sandal jepit sebelah kanan.
Sepasang kaki menjadi tuannya yang baru. Sandal japit tersebut terus berjalan. Berjalan melewati gang. Melewati trotoar. Kemudian masuk ke dalam gerbang sebuah rumah yang mewah.
***
Pada sebuah halaman rumah yang mewah sandal japit itu diam memunggu pemiliknya yang sedang mencuci sebuah mobil. Sandal japit itu berada di samping timba yang berisi air dan slang. Pembantu itu, tuannya yang baru, mencelupkan lap ke dalam ember. Beberapa percikan air mengenai sepasang sandal jepit tersebut. Hingga datanglah sepasang sepatu membawa sepasang kaki dengan celana yang bersih.
AGUNG
Udah beres?
LUBIS
Tinggal ngelap sedikit. Ok, dah selesai. Kinclong!
AGUNG
Sip, sip (sambil melihat-lihat)
JENG RINI
(seketika datang) Gimana Pa? Jadi belanja?
AGUNG
Ok, Ma. Ini mobil juga sudah bersih.
JENG RINI
Ohya, nanti jangan lewat balai kota ya Pa? Soalnya tadi saya dengar di radio ada orang demo BBM. Mereka itu kurang kerjaan aja. Dasar orang-orang malas bekerja! Kita itu harusnya dukung kebijakan pemerintah. Betul tho Pa?
AGUNG
Iya (dengan agak malas). Ohya, nanti mama jadi beli baju?
JENG RINI
Iya dong Pa. Kan lagi ada diskon. Ada kacamata murah-murah Pa, sepatu, tas kulit, sendal, wah pokoknya lengkap dan murah Pa. Ntar kita beli baju juga ya Pa. Buat Papa juga ada kok. (Jeng Rini membuka jendela) Danu?
DANU
Ya Ma? (suara Danu dari dalam)
JENG RINI
Mama sama papa mau belanja dulu ya! (Danu tidak menjawab)

Mobil perlahan mundur melewati sepasang sandal jepit. Lubis membantu Agung memberi aba-aba saat mobilnya mundur. Mobil pun perlahan mengecil dan hilang. Sepasang kaki Lubis hendak membereskan timba, dsb. Namun, tak lama kemudian Danu berada di teras.
DANU
Pak Lubis, tadi mama dah berangkat ya?
LUBIS
Lho, baru saja berangkat
DANU
Wah!

Selanjutnya Lubis membereskan ember, dan menggulung selang. Sementara sandal japitnya masih berada di halaman. Dua orang teman Danu, Said dan Hesti, masuk ke halaman rumah.
SAID
Halo Dan!
HESTI
Dah lama nunggu ya Dan?
DAN
Ah, enggak. Kita ke rumah Andreyas sekarang?
HESTI
Enggak, tahun depan! Ya iyalah. Sekarang.
DANU
Ya udah, sekarang aja. Jalan kaki aja ya, kan dekat. Cuma beberapa blok.
SAID
Boleh-boleh.
HESTI
Ok, deh.
Sepasang kaki Danu telanjang saat turun dari halaman rumah. Ia menemukan sepasang sandal japit di depannya. Danu tahu kalau sandal itu pasti milik Lubis. Lantas, ia memiliki ide:
DANU
Pak Lubis, pinjam sandalnya ya. Malas ke belakang nih.
LUBIS
Silakan. Monggo.
Sepasang sandal japit tersebut selanjutnya meninggalkan sebuah halaman rumah. Melewati pintu gerbang.
***
Di trotoar.
DANU
Eh, kata radio, di balai kota ada demo. Para mahasiswa menuntut agar pemerintah menurunkan harga BBM.
SAID
Betul itu! Sebagai generasi muda, sebagai ruhnya reformasi, mahasiswa harus berada di baris depan. Kamu tahu nggak? Rektor itu takut sama mentri, mentri takut sama presiden, presiden takut sama mahasiswa!
HESTI
Dan, mahasiswa takut sama polisi. Sebab, polisi bawa senjata buat mukulin mahasiswa! Mendingan mahasiswa gak usah demo. Belajar yang rajin, ke perpus, ke warnet, biar cepat lulus.
SAID
Gak bisa begitu dong. Mahasiswalah yang murni memperjuangkan rakyat kecil. Bukan janji-janji belaka. Mahasiswa, selain cerdas secara akademik juga harus tanggap terhadap nasib bangsanya. Sebab, dari mahasiswalah kelak akan lahir penerus-penerus bangsa! Pembawa gelombang perubahan!
DANU
Sepakat! Mahasiswa harus bangun. Membuka mata hatinya. Dan melanjutkan langkah bangsa untuk mengejar ketertinggalan. (seketika sandal Danu copot)
SAID dan HESTI
Tertawa.
HESTI
Kalau sandal japitnya copot, bagaimana mengejar ketertinggalan?
SAID dan HESTI
Kembali tertawa
DANU
Tetap harus melangkah! (dengan tegas)

Sandal japit tersebut di taruh pada sebuah tempat sampah. Mereka terus berjalan sambil menikmati sore yang perlahan merangkak di atas kota. Hingga gelak tawa mereka lenyap terbawa angin yang menggoyangkan pucuk dedaunan.

KREDIT TITEL

Seorang pemulung sedang mengais di tempat sampah. Ia menemukan sepasang sandal jepit yang sudah copot ujungnya, namun ia mencoba menalinya kembali dengan rafia dan menjatuhkan tepat di depan sepasang kaki telanjangnya. Pemulung itu berjalan seiring matahari yang perlahan sayup oleh kelamnya senja.

SANDAL JEPIT
http://www.bengkelfilm.wordpress.com/sandaljepit
bengkelfilm@gmail.com

How to be A Great Writer – Especially Short Story Writer

How to be A Great Writer – Especially Short Story Writer

Writing is a work to make youR  life ever after (Pramudya Ananta Toer)

…UNDERCONTRUCTION POST

« Previous entries
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.