Aku Ingin Melukis Wajahmu

NARATOR
(Pembuka: Menyanyikan satu bait lagu) Ada sebuah kisah yang akan kututurkan. Kisah tentang seorang gadis. Seorang yang cukup manis. Dan, ia adalah seorang pelukis. Baru saja ia mengenal seorang pemuda. Belum setahun yang lalu. Berkali-kali ia memaknai senyumnya: seolah lagu yang tak usai dinyanyikan, seolah satu kalimat yang tak selesai di eja.

Ia adalah matahari yang mengintip di balik celah tebing hati. Wajahnya mengundang rindu dendam yang terus tersimpan. Bagi gadis itu, ia adalah kekasihyang tiada membawa kembang ke atas altar pemujaan dalam tiap-tiap semedinya. Ia tak pernah usai pendarkan warna-warni tiap kerjapan mata. Ia pun yang membawa lari gadis itu dari sepi rimbanya hutanku.

Bersamanya, gadis itu mencoba merasakan madu-madu di taman bunga, tapi dahaganya tak pernah usai. Justru pahit yang mengecap dan tertinggal di sudut hati. Hanya kalut yang mau singgah dan membayang di bibir perjumpaan itu. Mengapa? (memetik gitar)

PEMUDA
Mengapa? (dari belakang penonton, perlahan maju ke depan). Mengapa gadisku belum mengusaikan dahaga walau beribu gelombang madu di dihirupnya?  Mengapa ia merasa kalut dengan denganku? (mengangkat ponsel dan menelpon tetapi beberapa kali tak ada yang menjawab)

Bukankah aku adalah mata yang tiba-tiba menggantikan pusaran jiwanya? Bukankah aku adalah mata yang  sempat remukkan kuasa dan sendi-sendi raganya? Hingga ia lemah dan dan ingin rebah di dadaku? Lesap pada peluk dekapku?

Gadisku perlu tahu. Aku tidak butuh lukisan yang baru diselesaikannya. Apalagi lukisanku sendiri. Aku hanya butuh dirinya. Hai musafir, katakan kepadaku, kenapa ia begitu?

NARATOR
Kenapa ia begitu? Jangan tanya aku. Aku hanyalah pemain gitar. Tanyalah yang lain, kenapa bisa begitu? (Lelaki itu berlari ke arah belakang panggung dan menghilang). Jangan tanya aku, kenapa bisa begitu?

GADIS
(Ponsel berbunyi, gadis keluar dari penonton) Kenapa bisa begitu? Dan dedaunan yang terbakar matahari kecoklatan satu satu meranggas dikejari angin pekarangan. Dedaun itu tak memberi jawabanapa-apa pada tanyaku. Begitu juga kusen jendela, pintu, dan langit semua tetap adanya. Tak ada jawaban di sana. (ponsel mati)

(ponsel berdering) Tanyaku sederhana: kenapa jiwaku selalu saja dahaga? Aku kelelahan mencari sumber mata air jernih nan segar. Setiap pengembaraanku untuk menuntaskan dahaga selalu berakhir pada mata air yang mengering. Dan…

NARATOR
Dan…ada sayup-sayup melantun. Ah, gitarku pun tak kuasa mencari kunci untuk mengiringinya. Suara itu tak bisa kutali dengan nada-nada gitarku. Suara itu…Allahuakbar…(musafir mencoba memainkan gitarnya, tetapi tetap saja tak bisa)

Identifikasi tokoh:
Aku
1.    Aku ingin melukis wajahmu yang hilang di rembang petang (lantun ayat sebelum maghrib maghrib)
2.    Aku belum lama mengenalnya
a.    Dia adalah kekasih yang tiada henti bawakan bunga2 di atas altar pemujaan semediku
b.    Ia tak pernah usai undangkan pendar warn-warni dalam setiap kejapan mataku
c.    Tapi, dahaga ini tak puas walau telah menghirup berarus gelombang madu
d.    Hanya pahit yang mengecap dan tertinggal di sudut hati
e.    Mengapa hanya kalut yang membayang di bibir perjumpaanku dengannya
f.    “Indah sekali, seperti bukan diriku.”
3.    Mata itu kemudian menggantikan pusaran jiwa yang sejenak lalu mengombak badai di benakku
a.    Mata yang dulu redup buai jiwaku buat aku sejenak lupa akan penat masa yang mengalir tiada henti
b.    Aku hinggap dan rebah pada pundak dan dadanya, lesap pada peluk dekapnya. Mata lelakiku.
4.    Seorang perempuan meminta pendapat terhadap seorang lelaki dan yang sudah lama menunggunya barulah ia menemukan
5.    Aku sedang berdiri di beranda. Aku merasankali ini aku kurang bisa mencintainya seperti malam-malam sebelumnya. Jiwaku seolah (16)
6.

About these ads

1 Komentar »

  1. mio Said:

    ck ck

    ms blog nya udah aku link ya

    mari mampir =)


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: