Mengenal Tata Upacara Pengantin Adat Jawa

dilangsir dan disrankan membuka link berikut: http://situs.dagdigdug.com/2008/04/14/mengenal-tata-upacara-pengantin-adat-jawa/

Mengenal Tata Upacara Pengantin Adat Jawa

( Sebuah Pendekatan Semiotika )

Oleh: Najma Thalia, S.S.

A. PENDAHULUAN

Secara kodrati, manusia diciptakan berpasang-pasangan (Q.S. Ar-Ruum : 21) dengan harapkan mampu hidup berdampingan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dari sini tampak bahwa sampai kapan pun, manusia tidak mampu hidup seorang diri, tanpa bantuan dan kehadiran orang lain.

Salah satu cara yang dipakai untuk melambangkan “bersatunya” dua insan yang berlainan jenis dan sah menurut agama dan hukum adalah pernikahan. Masing-masing daerah mempunyai tata upacara pernikahannya sendiri-sendiri. Dalam bahasan ini, penulis akan mencoba mendeskripsikan tata upacara pernikahan adat Jawa dipandang dari sudut pandang semiotika.
B. PEMBAHASAN

Pernikahan adalah suatu rangkaian upacara yang dilakukan sepasang kekasih untuk menghalalkan semua perbuatan yang berhubungan dengan kehidupan suami-istri guna membentuk suatu keluarga dan meneruskan garis keturunan. Guna melakukan prosesi pernikahan, orang Jawa selalu mencari hari “baik”, maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli penghitungan hari “baik” berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah ditemukan hari “baik”, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup pernikahan, dengan cara diurut perutnya dan diberi jamu oleh ahlinya. Hal ini dikenal dengan istilah “diulik”, yaitu pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi yang tepat agar dalam persetubuhan pertama memperoleh keturunan, dan minum jamu Jawa agar tubuh ideal dan singset.

Sebelum pernikahan dilakukan, ada beberapa prosesi yang “harus” dilakukan, baik oleh pihak laki-laki maupun perempuan. Menurut Sumarsono (2007), tata upacara pernikahan adat Jawa adalah sebagai berikut :

  1. Babak I (Tahap Pembicaraan)

Yaitu tahap pembicaraan antara pihak yang akan punya hajat mantu dengan pihak calon besan, mulai dari pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan menentukan hari penentuan (gethok dina).

  1. Babak II (Tahap Kesaksian)

Babak ini merupakan peneguhan pembicaaan yang disaksikan oleh pihak ketiga, yaitu warga kerabat dan atau para sesepuh di kanan-kiri tempat tinggalnya, melalui acara-acara sebagai berikut :

1. Srah-srahan

Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara sampai hajat berakhir. Untuk itu diadakan simbol-simbol barang-barang yang mempunyai arti dan makna khusus, berupa cincin, seperangkat busana putri, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih dan uang. Adapun makna dan maksud benda-benda tersebut adalah :

a. Cincin emas

yang dibuat bulat tidak ada putusnya, maknanya agar cinta mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup.

b. Seperangkat busana putri

bermakna masing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain.

c. Perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian

mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa.

d. Makanan tradisional

terdiri dari jadah, lapis, wajik, jenang; semuanya terbuat dari beras ketan. Beras ketan sebelum dimasak hambur, tetapi setelah dimasak, menjadi lengket. Begitu pula harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya.

e. Buah-buahan

bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

f. Daun sirih

Daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. Hal ini bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan.

2. Peningsetan

Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan yang ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon pengantin.

3. Asok tukon

Hakikatnya adalah penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keuangan kepada keluarga pengantin putri.

4. Gethok dina

Menetapkan kepastian hari untuk ijab qobul dan resepsi. Untuk mencari hari, tanggal, bulan, biasanya dimintakan saran kepada orang yang ahli dalam perhitungan Jawa.

  1. Babak III (Tahap Siaga)

Pada tahap ini, yang akan punya hajat mengundang para sesepuh dan sanak saudara untuk membentuk panitia guna melaksanakan kegiatan acara-acara pada waktu sebelum, bertepatan, dan sesudah hajatan.

1. Sedhahan

Yaitu cara mulai merakit sampai membagi undangan.

2. Kumbakarnan

Pertemuan membentuk panitia hajatan mantu, dengan cara :

a. pemberitahuan dan permohonan bantuan kepada sanak saudara, keluarga, tetangga, handai taulan, dan kenalan.

b. adanya rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.

c. mencukupi segala kerepotan dan keperluan selama hajatan.

d. pemberitahuan tentang pelaksanaan hajatan serta telah selesainya pembuatan undangan.

3. Jenggolan atau Jonggolan

Saatnya calon pengantin sekalian melapor ke KUA (tempat domisili calon pengantin putri). Tata cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan, artinya memberi tanda di Kantor Pencatatan Sipil akan ada hajatan mantu, dengan cara ijab.

  1. Babak IV (Tahap Rangkaian Upacara)

Tahap ini bertujuan untuk menciptakan nuansa bahwa hajatan mantu sudah tiba. Ada beberapa acara dalam tahap ini, yaitu :

1. Pasang tratag dan tarub

Pemasangan tratag yang dilanjutnya dengan pasang tarub digunakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu dirumah yang bersangkutan. Tarub dibuat menjelang acara inti. Adapun ciri kahs tarub adalah dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan kadang disertai dengan ubarampe berupa nasi uduk (nasi gurih), nasi asahan, nasi golong, kolak ketan dan apem.

2. Kembar mayang

Berasal dari kata “kembar” artinya sama dan “mayang” artinya bunga pohon jambe atau sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Jika pawiwahan telah selesai, kembar mayang dilabuh atau dibuang di perempatan jalan, sungai atau laut dengan maksud agar pengantin selalu ingat asal muasal hidup ini yaitu dari bapak dan ibu sebagai perantara Tuhan Yang Maha Kuasa. Barang-barang untuk kembar mayang adalah :

a. Batang pisang, 2-3 potong, untuk hiasan. Biasanya diberi alas dari tabung yang terbuat dari kuningan.

b. Bambu aur untuk penusuk (sujen), secukupnya.

c. Janur kuning, ± 4 pelepah.

d. Daun-daunan: daun kemuning, beringin beserta ranting-rantingnya, daun apa-apa, daun girang dan daun andong.

e. Nanas dua buah, pilih yang sudah masak dan sama besarnya.

f. Bunga melati, kanthil dan mawar merah putih.

g. Kelapa muda dua buah, dikupas kulitnya dan airnya jangan sampai tumpah. Bawahnya dibuat rata atau datar agar kalau diletakkan tidak terguling dan air tidak tumpah.

3. Pasang tuwuhan (pasren)

Tuwuhan dipasang di pintu masuk menuju tempat duduk pengantin. Tuwuhan biasanya berupa tumbuh-tumbuhan yang masing-masing mempunyai makna :

a. Janur

Harapannya agar pengantin memperoleh nur atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa.

b. Daun kluwih

Semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang diperhitungkan.

c. Daun beringin dan ranting-rantingnya

Diambil dari kata “ingin”, artinya harapan, cita-cita atau keinginan yang didambakan mudah-mudahan selalu terlaksana.

d. Daun dadap serep

Berasal dari suku kata “rep” artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang tidak ada gangguan apa pun.

e. Seuntai padi (pari sewuli)

Melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan berlebih hidupnya, semakin ringan kaki dan tangannya, dan selalu siap membantu sesama yang kekurangan.

f. Cengkir gadhing

Air kelapa muda (banyu degan), adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta mereka tetap suci sampai akhir hayat.

g. Setundhun gedang raja suluhan (setandan pisang raja)

Semoga kelak mempunyai sifat seperti raja hambeg para marta, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

h. Tebu wulung watangan (batang tebu hitam)

Kemantapan hati (anteping kalbu), jika sudah mantap menentukan pilihan sebagai suami atau istri, tidak tengok kanan-kiri lagi.

i. Kembang lan woh kapas (bunga dan buah kapas)

Harapannya agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Selalu pas, tetapi tidak pas-pasan.

j. Kembang setaman dibokor (bunga setaman yang ditanam di air dalam bokor)

Harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga di taman.

4. Siraman

Ubarampe yang harus disiapkan berupa air bunga setaman, yaitu air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga. Tahapan upacara siraman adalah sebagai berikut :

- calon pengantin mohon doa restu kepada kedua orangtuanya.

- calon mantu duduk di tikar pandan tempat siraman.

- calon pengatin disiram oleh pinisepuh, orangtuanya dan beberapa wakil yang ditunjuk.

- yang terakhir disiram dengan air kendi oleh bapak ibunya dengan mengucurkan ke muka, kepala, dan tubuh calon pengantin. Begitu air kendi habis, kendi lalu dipecah sambil berkata “Niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku wadon”.

5. Adol dhawet

Upacara ini dilaksanakan setelah siraman. Penjualnya adalah ibu calon pengantin putri yang dipayungi oleh bapak. Pembelinya adalah para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng). Upacara ini mengandung harapan agar nanti pada saat upacara panggih dan resepsi, banyak tamu dan rezeki yang datang.

6. Midodareni

Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yaitu malam melepas masa lajang bagi kedua calon pengantin. Acara ini dilakukan di rumah calon pengantin perempuan. Dalam acara ini ada acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi pernikahan di hari berikutnya. Midodareni berasal dari kata “widodareni” (bidadari), lalu menjadi “midodareni” yang berarti membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari. Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin diibaratkan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya.

  1. Babak V (Tahap Puncak Acara)

1. Ijab qobul

Peristiwa penting dalam hajatan mantu adalah ijab qobul dimana sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, pinisepuh dan orang tua kedua belah pihak serta beberapa tamu undangan. Saat akad nikah, ibu dari kedua pihak, tidak memakai subang atau giwang guna memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa menikahkan atau ngentasake anak.

2. Upacara panggih

Adapun tata urutan upacara panggih adalah sebagai berikut :

a. Liron kembar mayang

Saling tukar kembar mayang antar pengantin, bermakna menyatukan cipta, rasa dan karsa untuk mersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.

b. Gantal

Daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu.

c. Ngidak endhog

Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.

d. Pengantin putri mencuci kaki pengantin putra

Mencuci dengan air bunga setaman dengan makna semoga benih yang diturunkan bersih dari segala perbuatan yang kotor.

e. Minum air degan

Air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem).

f. Di-kepyok dengan bunga warna-warni

Mengandung harapan mudah-mudahan keluarga yang akan mereka bina dapat berkembang segala-galanya dan bahagia lahir batin.

g. Masuk ke pasangan

Bermakna pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.

h. Sindur

Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar.

Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantar duduk di sasana riengga, di sana dilangsungkan tata upacara adat Jawa, yaitu :

i. Timbangan

Bapak pengantin putri duduk diantara pasangan pengantin, kaki kanan diduduki pengantin putra, kaki kiri diduduki pengantin putri. Dialog singkat antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi pernyataan bahwa masing-masing pengantin sudah seimbang.

j. Kacar-kucur

Pengantin putra mengucurkan penghasilan kepada pengantin putri berupa uang receh beserta kelengkapannya. Mengandung arti pengantin pria akan bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya.

k. Dulangan

Antara pengantin putra dan putri saling menyuapi. Hal ini mengandung kiasan laku memadu kasih diantara keduanya (simbol seksual). Dalam upacara dulangan ada makna tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng yang bermakna :

- tumpeng tunggarana : agar selalu ingat kepada yang memberi hidup.

- tumpeng puput : berani mandiri.

- tumpeng bedhah negara : bersatunya pria dan wanita.

- tumpeng sangga langit : berbakti kepada orang tua.

- tumpeng kidang soka : menjadi besar dari kecil.

- tumpeng pangapit : suka duka adalah wewenang Tuhan Yang Maha Esa.

- tumpeng manggada : segala yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi.

- tumpeng pangruwat : berbaktilah kepada mertua.

- tumpeng kesawa : nasihat agar rajin bekerja.

3. Sungkeman

Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada orang tua, serta mohon doa restu. Caranya, berjongkok dengan sikap seperti orang menyembah, menyentuh lutut orang tua pengantin perempuan, mulai dari pengantin putri diikuti pengantin putra, baru kemudian kepada bapak dan ibu pengantin putra.

C. TINJAUAN DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIKA

Pendekatan yang dipakai dalam makalah ini adalah pendekatan semiotika. Semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Keduanya mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain, Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan Saussure adalah Linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya ‘semiologi’ (semiology), sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya ‘semiotika’ (semiotics). Dalam perkembangan selanjutnya istilah ‘semiotika’ lebih popular dari pada ‘semiologi’.

Berdasarkan hubungan tanda dan objek, Peirce membagi tanda menjadi tiga, yakni ikon (icon), indeks (index) dan simbol (symbol). Ikon adalah sesuatu yang berfungsi sebagai tanda berdasarkan kemiripannya dengan sesuatu yang lain. Indeks adalah sebuah tanda yang dalam corak tandanya tergantung dari adanya sebuah ‘objek’ atau denotatum. Simbol adalah tanda yang hubungan antara tanda dan objeknya ditentukan oleh sebuah peraturan yang berlaku umum. Berikut penjelasan tanda berdasarkan kenyataan hubungan dengan jenis dasarnya :

1. Ikon

Ikon merupakan tanda yang menyerupai benda yang diwakilinya, atau suatu tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya. Dalam hal ini cincin emas, seperangkat busana putri dan uang merupakan ikon, karena benda-benda tersebut mewakili benda yang sebenarnya.

2. Indeks

Indeks adalah tanda yang sifat tandanya tergantung dari keberadaanya suatu denotasi, sehingga dalam terminologi Peirce merupakan secondness. Dengan kata lain, indeks adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan atau kedekatan dengan apa yang diwakilinya. Dalam hal ini tarub, kembar mayang, dan tuwuhan merupakan indeks. Hal ini dikarenakan item tersebut hanya ditemui dalam upacara pernikahan adat Jawa.

3. Simbol

Simbol adalah suatu tanda, dimana hubungan tanda dan denotasinya ditentukan oleh peraturan yang berlaku umum atau ditentukan oleh suatu kesepakatan bersama (konversi). Cincin emas, seperangkat busana putri, perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian; makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, peningset, janur, daun kluwih, daun beringin lengkap dengan ranting-rantingnya, daun alang-alang, daun dadap sirep, seuntai padi, cengkir gadhing, setandan pisang raja, batang tebu hitam, bunga dan buah kapas, bunga setaman dan sungkeman merupakan simbol. Hal ini dikarenakan masing-masing item tersebut memiliki makna simbolis yang terkandung di dalamnya.

D. PENUTUP

Demikianlah tata upacara pernikahan Jawa yang sampai saat ini masih digunakan dalam pernikahan di Jawa. Jika diamati secara detail, prosesi pernikahan di Jawa terkesan “njlimet atau rumit”. Hal ini dikarenakan banyaknya perlambang yang dipakai di dalamnya. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, karena sampai saat ini masyarakat Jawa masih senang menggunakan simbol atau perlambang dalam kehidupannya.

REFERENSI

__________. 2005. Adat Istiadat Jawa. http://www.karatonsurakarta.com (diakses 14 Januari 2008 pukul 15.15 WIB).

Mangun Hardjodikromo. 2005. Adat Istiadat Jawa : Manusia Jawa Sejak Dalam Kandungan Sampai Wafat. <http://http://www.semarasanta.wordpress.com> (diakses 14 Januari 2008 pukul 15.15 WIB).

Panuti Sujiman. 1992. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sumarsono. 2007. Tata Upacara Pengantin Adat Jawa. Jakarta: PT. Buku Kita.

58 Komentar »

  1. julya Said:

    tolong donk di kasih foto-foto pengantin jawa pada jaman dulu dan foto-foto pengantin jawa dari kalangan kraton,,,,,,,

    • Banyak juga ya tahapan-tahapan pernikahan adat jawa ini. terimakasih atas artikelnya, sehingga saya bisa mempelajari terlebih dahulu, semoga acara pernikahan saya lancar, Amin.

  2. Abi KAryanto Said:

    Tanpa sengaja saya menemukan tulisan “Mengenal Tata Upacara Pengantin Adat Jawa” saya senang sekali karena saya bisa mempelajari adat budaya jawa yang sangat terkenal bahkan sampai keluar negeri. terimakasih sekali kepada penulis yang sudah menyajikan tulisan ini, semoga adat budaya jawa tidak luntur oleh kemajuan zaman.
    Ingin rasanya saya belajar lebih jauh tentang Tata Upacara Pengantin Adat Jawa, kalau ada teks yang memakai bahasa jawa seperti yang di keraton.

  3. jizu Said:

    siap-siap neh,,,,,

  4. Pendek Said:

    trus kapan aku di undang…

  5. Lusy Ayu Widowati Said:

    he.he….
    ini tulisannya berdasarkan pengalaman apa “pengalaman”?

    • KALAU BUKAN ORANG JAWA DAN TIDAK INGIN TAU
      JANGAN BANYAK KOMENTAR !!!! INI KEINDAHAN BUDAYAKU,
      INI BUDAYA JAWAKU

  6. emi Said:

    good….really good information…

  7. toto Said:

    we..eeeee matur nuwun kang atas infonya. tapi kok ribet banget yooo…..

  8. Nur Kholik Said:

    Naj, ki kholik, wah ternyata kamu dah s2 ya, sekarang di mana?

  9. sumiyati Said:

    numpang promosi siap tau da yg suka.saya jual sanggul.bulu mata dlll dengan harga rosir/harga pabrik

  10. agustinus Said:

    Tlg dong dijelaskan, mengapa gayung untuk siraman pake bathok kelapa ?

  11. diana Said:

    matur nuwun infonya

  12. Wah artikelnya sangat bagus Mas. Di era modern ini memang banyak generasi yang belum memahami makna dan prosesi Pernikahan Adat Jawa yang begitu njlimet. Artikelnya sangat bagus dan memberikan pencerahan dan informasi yang sangat bermanfaat.

    Jika ada Sahabat yang akan melangsungkan pernikahan dan membutuhkan pelayanan dokumentasi profesional untuk Wedding, silahkan mengunjungi Website Wedding di http://www.hawila-organizer.com

    Ngaturaken Sungkem,

  13. Rifan Said:

    hmm…masih gak terlalu ribet yak dibanding tata cara pernikahan minang :P

  14. ayung Said:

    seneng bgt mempelajari adat jawa. ..lebih seneng lagi klo ada info adat jawa yang lain…hehehe..

  15. siswo, SLEMAN Said:

    saya pengen tahu yang dibwawa pada waktu nyerahkan calon penganten laki-laki ke (macamnya apa saja mis, pisang raja, ayam jago, … … … beserta maknanya

  16. ni meni Said:

    giiilllllllaaaaaaaaaa…….bnyak bgt yach yg hrs disiapin???????????hihihihihihihihii

  17. AGIL VIDHTRI Said:

    adat jawa sungguh menarik untuk disimak lebih lanjut………………..emmmmmmmmm btw wt yg nulis bisa diperjelas lg gk tuuuuucccchh yar qt2 yg pengen bljr bs tambah ngeh gtooooooo !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  18. Rama Z Said:

    Thanks infonya muda2an bermanfaat buat saya bulan depan saya akan melaksanakan pernikahan di jawa.

  19. Iqbal Zulfikar Said:

    Thank for your blog
    berkat anda saya bisa menyelesaikan tugas dari sekolah sekali lagi saya ucapin terimakasih

    Created By : Boz’e

  20. asfa Said:

    satu kata: ribet____nanti aq gmn yakk klo mo nikah???? hwaaa…

  21. ambeg para marta Said:

    Saat ini saya tengah menyelidiki mengapa dalam upara pengantin adat Jawa, di bawah tarub dipasang daun andong dan daun beringin. Informasi Anda sangat berarti bagi penyelidikan saya. Terima kasih.

  22. eci Said:

    alangkah sulitnya nak merit ma orang jawa ni

  23. trisetya Said:

    hatur nuhun :D

  24. DIAZ Said:

    ribet nian euiyyy…………………..,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,tapi asek banget,,,,,,,,,,,,,,,jadi pengen!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  25. indra ahmadi Said:

    sip baget artikelnya

  26. cacuk Said:

    oke bgt.. thanks… n ayo kita tambah lgliteraturnya…. msh byk upacara2 yg lain…..

  27. kang indra Said:

    Numpang Promo barang kali berkenan

    vipphotography
    Merupakan salah satu perusahaan perseorangan yang
    bergerak di bidang Dokumentasi yang mencakup Produk foto ,
    video package , design album dan design grafis (khususnya
    Pengantin jawa,Wedding eropa,dll)
    Dengan tenaga yang profesional dan ahli dalam
    bidangnya dan ditunjang alat yang memadai
    kami berkomitmen akan selalu memberikan service dan
    produk dengan hasil atau kualitas tinggi
    Konsep yang kami ciptakan adalah naturalist dengan
    tidak meninggalkan sisi seni dalam dunia photography

    http://photgraphypengantinjawa.blogspot.com/

    BISNIS PHOTOGRAPHY for further information call us: 031-70052139 + 031-7592747 (Kang indra)

  28. ok, makasih. infonya sangat berguna bagi kami

  29. Annafi Said:

    Senengnya bsa mdh ngerjkan tugas skul…

  30. suwun info babakan upocoro ngantenipun

  31. artav Said:

    Salam, ini merupakan kunjungan pertama saya, memang saya belum mengerti benar tentang topik yang anda bahas, namun stelah membaca tulisan anda, pengetahuan saya tentang adat istiadat di Indonesia semakin betambah, sungguh menakjubkan. Saya salut dengan blog anda, salam hormat saya artav 2011.

  32. Ewi Ni Loh Said:

    ku ingin menikah adat jawa,,,
    hheee…

  33. ribet O.O

  34. catur angga Said:

    gendeng ake temen seng harus disiapne !-!

  35. Wiwi Said:

    Tolong upload naskah dalang penganten.donk.

  36. arif m noor Said:

    sip…. and jos gandos……nanging langkung sae malih kadose diparingi gambar……ngapunten….

  37. biana azhari Said:

    saya menyadari budaya jawa itu baik, tapi hati sudah tidak cocok. Selain ribet, juga repot. Tapi sebagai keturunan jogja dan suami ABRI, saya pengin resepsi pedang pora dengan sambutan tari gambyong

  38. sukma Said:

    Thank’s atas infonya y…………..
    sangat membantu untuk menambah pengetahuan bagi calon2 yang akan melaksanakan pernikahan , kHususnya adat jawa seperti saya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  39. biana azhari Said:

    apa ada info mengenai lamaran tradisi jawa?

  40. rizky dwi lestari Said:

    ribet juga y ternyata tata caranya….
    tapi kalo gak dilakukan adat jawa bisa2 jadi pudar mungkin gk da lagi

  41. kta Said:

    Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya luhur Jawa

  42. ayu dewi Said:

    terima kasih atas artikelnya, sehingga dapat kami jadikan referensi untuk acara package weeding adat Jawa yang akan Kami tawarkan kepada customer Kami, tks for all

  43. djoko husodo Said:

    matur nuwun, saged kangge bahan sinau budaya jawi. Kula rantos artikel-artikel sanesipun. suwun

  44. I was curious if you ever thought of changing the layout of your website?
    Its very well written; I love what youve got to
    say. But maybe you could a little more in the way of content so people could connect
    with it better. Youve got an awful lot of text
    for only having one or two images. Maybe you could space it out better?

  45. I don’t even understand how I finished up right here, but I thought this submit used to be good. I do not realize who you might be but certainly you’re going to
    a famous blogger for those who are not already.
    Cheers!

  46. Box Athlena Said:

    Terimaksih info yang sangat berguna … karena putri saya akan menikah beberapa bulan lagi dengan menggunakan tata cara adat Jawa!
    Salam

    • bianafusco@gmail.com Said:

      (empty)

    • bianafusco@gmail.com Said:

      Bis,aq udh nikah n skg hamil 9 bln.rajabiana

  47. toto Said:

    Maturnuwun sanget,artikel panjenengan ndalem saged migunani dumateng kulo engkang nedeng ngasu kawruh bab puniki, nwun, sssiiiiip

  48. melanalif Said:

    maturnuwun,,,,,,,
    saking artikele puniko. ~_~

  49. Terima Kasih Atas Artikelnya :)

  50. Galih Angga Said:

    trimakasih, dgn ini saya dapat menjelaskan kepada mahasiswa universitas keislaman tentang adat jawa yg sarat dgn arti dan makana,
    Yg bertujuan menjelaskan bahwa kebudayaan Jawa memiliki nilai filosofi yg tinggi sehingga mereka tidak meremehkannya lagi.

  51. rieezky Said:

    artikelnya bgus bnget mas berkesan sekali
    moga2 kmi bsa mengerti

  52. Imam Said:

    Mau tnya bolehkah proses siraman dilakukan 4 hari sebelm akad.trimkasih.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: