Aku Mati Memeluk Boneka

Novel ini sudah cetak sebanyak 10.000 eksemplar lebih. Berani baca sendiri?

Ada sesuatu di balik kaca jendela. Ada seorang gadis berwajah pucat. Mengawasi dirinya! Pemuda itu mencoba memperhatikan dengan detail lagi: itu hanya gerakan dedaunan yang menciptakan bayangan.

Pemuda itu terus berjalan. Di jendela yang lain, tepat di balik kelambu ada seorang gadis yang mendekap sebuah boneka yang kehilangan satu tangan. Kali ini, matanya tak berbohong. Lagi-lagi ia berhenti untuk mengamati dengan detail. Itu masih sama: kelambu yang tertiup angin.

Di langkah berikutnya, kakinya menginjak sesuatu. Sebuah lengan boneka! Saat ia mencoba mengambilnya, ada seorang gadis berwajah pucat, mata berlubang dengan darah kering, meringis, sambil membawa boneka yang kehilangan lengan. “Mau bermain?”

Aaaaaaa!

***

Nang ning nang gung. Namaku Putri, usiaku 7 tahun. Tahun 1967 seluruh keluargaku mati dibantai. Aku mati saat memeluk boneka. Temani aku malam ini. Jika tidak mau, kirim pesan ini ke tujuh nomor lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> blogger menyukai ini: