Politik Karya Dalam Sastra Indonesia

Politik Karya Dalam Sastra Indonesia

Pebengkel Imaji yang saya hormati, rasa keputusasaan saya kian menggebu. Pun semangat saya untuk bermain “politik” dalam dunia sastra makin membuka pintu lebar buat diri saya.

Betapa tidak, cerpen Teguh Winarso yang dimuat pada Suara Karya pada 10 September ternyata pernah dimuat pada Suara Karya On Line pada beberapa bulan yang lalu. Dari sini saya teringat perkataan Mukhlis lagi bahwa tidak ada sastrwan yang punya iktikad baik. Soal nama masih menjadi pertimbangan besar dalam pemuatan karya. Hal ini sekaligus membuat diri saya tidak lagi percaya dengan buku-buku yang memberikan petunjuk teknis serta etika dalam pengiriman naskah ke media. Mungkin saya juga tidak akan lagi percaya kepada kritik sastra. Semuanya bohong belaka!!!!

Dan, mulai dari saat ini saya tidak separuh-separuh lagi untuk bermain politik dalam karya sastra di Indonesia. Jika kita tidak mengikuti arus, atau paling tidak memberikan gebrakan baru pada dunia sastra, maka selamanya sastra Indonesia akan menjadi permainan dan boneka oleh penulis-penulis yang sudah punya nama. Bisa saja kita, yang merintis dari awal, tidak akan pernah menemukan ujung keberhasilan, tanpa mengikuti aturan yang sudah mereka buat.

Lantas, mari kita mengikuti aturan. Menggebrak. Memukul saat lengah. Dan hanya satu kata, bukan? LAWAN!!!

Dari Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com

4 Komentar »

  1. lubisgrafura Said:

    saya setuju dengan Lubis yang sangat jelek sekali dan suka memaksakan kehendaknya

  2. kakakakakaakk Politik tai Kucing, jangan telat mas kalo engar kata politik itu yang terbayang dipikiranku malah Birokrat2 yang bau kucing gitu. Beh bosen emang bis kalo hidup direpublik ndak beres bis..!!ayoo bis maju peruutt pantat munduuurr..!!!!yuuukkk yakkk yuuukkk!!!!!!!!

  3. ALBATEGNIUS ALZANJABIL Said:

    memang, bis, politik sastra itu bikin jengkel. so, kita nulis saja, aku lebih memilih untuk tidak tergantung pada koran, bis. aku juga pingin masuk koran sekedar membuktikan kompetensi bersastra. tapi, ada yang lebih penting, setidaknya buatku:
    KITA MENULIS, KITA MENYUARAKAN OPINI, KITA BERBAGI PENGETAHUAN, KITA MENGUPAYAKAN PERKEMBANGAN!
    memang, masuk koran membuat kita lebih didengar, tapi alangkah lebih baiknya jika kita juga tetap berjuang, meskipun tidak masuk koran.
    sudahlah, biarkan mereka yang terlibat politik sastra itu membusuk bersama ulat-ulat jaman yang pasti akan menyortir mana karya yang bagus (tahan hama) dan mana karya yang abadi, kanon, dan dibaca orang–meskipun bukan orang yang ada di jaman kita!

  4. Riri S TyaW Said:

    Biar aku masih 16 boleh kan kasih komentar???Buat aku Politik jika dikaitkan dalam sastra bisa jadi ledakan dari dunia sastra itu sendiri…..bila politik masuk sastra buat aku ngga masalah.Malah kemungkinan sebagai orang-orang yang bergelut didunia sastra kita harus membudayakan politik sastra itu.Bukankah politik selalu ada dalam semua sendi kehidupan?????????


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: