puisi: Lebaran Ini Sunyi

Lebaran Ini Sunyi

Siapa yang mengira

atau mungkin sepasang mataku

yang telah menua

ketika kutatap lebaran ini

seperti merayakan lebaran di kota mati

tak lagi kulihat bara-bara api menari dari ujung bambu

hanya musik-musik bersahutan bersaing menggebu

tak satupun yang mendendangkan namaMu

hanya botolbotol pecah di aspal

sisanya menancap di kelopakku

aku seperti mayat yang bangkit dari mati

tak lagi merasa mengenal dunia ini

Bengkel Imaji Kediri, Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Botol

Biji mataku kelereng di ujung botol

menatap asap dari ujung botol

atau aku sedang mabuk oleh air di dalam botol

atau hanya dunia memang seluas botol

asap itu menggumpal seperti awan dari ujung botol

seperti jin dari dalam botol

“kau bisa mengajukan satu permintaan”

kata jin dalam botol

aku tak minta banyak duhai jin dalam botol,

aku hanya minta gadis bahenol

keluarkan dari ujung botol

“tolol!”

Itu jawaban jin dalam botol

Bengkel Imaji Kediri, Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelambu

Ternyata, hari ini dan masa lalu

hanya sebatas kain kelambu

 

dan kutiupkan udara pada bukubuku berdebu

saat kutemukan terjatuh di lantai kamarku

kamarku masa lalu

engsel-engsel jendela yang berkarat

gitar tua dengan dua dawai yang tersisa

jam dinding yang berheti berdetak

tetapi ibuku masih sering merapikan kasur

mengganti seprei

di atas meja belajar masih ada foto mantan kekasih

hanya debu-debu yang menempel di kaca

membuatku hampir tak mengenalinya lagi

kini, aku hanya berteman sunyi

dan menghadapi roda yang terus bergulir

hingga tak lagi kuingat kamar itu

aku hanya diam terpaku di luar pagar

menatap kamarku yang kini entah seperti apa

Bengkel Imaji Kediri, Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seusai Lebaran

Semua berakhir seperti persetubuhan yang tak memuaskan. Berakhir seperti moncong pestol yang baru saja memuntahkan peluru dan menembus jantung hatimu. Bibir-bibir saling berucap manis. Seperti ketika aku mengulum bibir perempuan lacur yang pernah kukencani. Setelah usai seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hanya kenangan yang terkadang pun enggan untuk diceritakan. Lantas kita masing-masing kembali berbuat kesalahan.

Bengkel Imaji Kediri, Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelacur Perempuan Perawan

Bahkan pelacur pun

kau masih seorang perawan

 

Akulah yang pernah menyematkan

setangkai bunga sepatu di telingamu

ketika kau pejamkan matamu

yang menata rambutmu ketika angin

memperkosa tubuhmu

lantas meninggalkanmu dalam keadaan telanjang

dan angin tak pernah berhenti menjamahmu

dan duhai perempuan, akulah yang selalu datang

mengelap keringatmu

merapikan bajumu

mengancingkan kancing bajumu

ketika matahari diam-diam mengintip

dadamu di balik kain yang salah satu kancing bajunya lepas

sementara kau hanya menelan ludah menghela nafas

dan membiarkan diri menjadi selendang yang di tendang angin

kau hanya mengikuti

mereka hanya bisa menilai

aku tak mampu berbuat banyak lagi

mari gandeng tangan, satukan jemari

lantas kita pergi dari sini

Bengkel Imaji Kediri, Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

Perawan

Tak habis kubaca isyarat yang kau berikan

lewat denyut nadi lewat rindu

bersama gugusan bintang seperti seorang pelaut

aku mencari dirimu kemana langkah sampanku

sampai pada pulau perawan

lewat dengus badai lewat hantam karang

lewat debur ombak lewat puting beliung

hingga perompak yang mengacungkan parang

dan sampanku hanya bisa lari dari beruntung

sementara kau di sana duduk di atas karang

sepasang kaki telanjang kau ayunkan

di atas air mengacaukan ikan-ikan yang tengah berenang

menunggu sampan siapa yang berhasil datang

lantas meminangmu dengan segenggam kembang

Bengkel Imaji Kediri,Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perawan II

 

Seorang perempuan sedang termenung sendirian di atas karang

mungkin sedang menghitung debur ombak

bersama ikan-ikan yang berenang

lantas sembunyi dari ayunan sepasang telapak kaki telanjang

seorang perawan yang duduk di atas karang

Aku hanya menjelma menjadi ikan

yang bersembunyi di balik karang

mungkin juga sedang menghitung debur ombak

seperti seorang lelaki yang mencoba mengadu

keberuntungan dengan mencabut kelopak kembang

“cinta tidak cinta tidak …”

sedang ombak tak pernah berhenti memintal muka laut

aku hanya dibuat bimbang olehnya

Bengkel Imaji Kediri, Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 Komentar »

  1. Lysa Said:

    keren banged….!!!!
    rencana pengen tak masukin fs jugak…bolekah????=p

  2. Selny Said:

    UAN sekarang kira-kira peljran IPA(fska,kimia,bio)msuk ga yaa??

  3. andi Said:

    sesepi apapun lebaran, hati kita akan selalu ramai olehkalimatNya

  4. aldy Said:

    pada lebaran kalau kita jauh dari keluarga n orng yg kita cinta ……………hanya air mata yg bisa menemani……..memang sepi


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: