puisi: Tuhan Ku Diam

Tuhan Ku Diam

ku memeluk kakiku pada pojok

ruang, detak jam dinding memakiku

hanya pada gelap yang ku cipta

nafas-nafas yang tersisa

mencekik leher leher berwajah pucat

tuhan ku hanya diam

pada ruang yang ku kunci dari dalam

ku hanya diam

pada rantai yang ku jerat pada hasrat

hanya diam

pada ketukan seseorang di balik pintu

tuhan entah sedang kutaruh di mana

ku lupa

ku hanya diam

pada ku

Kediri, 6 November 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Air Mata Ku Berkarat

ada jejak kaki yang digambar oleh darah

mengikuti jengkal langkah seperti bayang-bayang

jejak kaki siapakah, yang berlumur darah

tanyaku tak terjawab oleh pecahan kaca yang bersarang di dada

sementara pisau berkarat makin dalam menancap

darahku beku membusuk di dalam jantung

lantas rambutku berubah kaku menjadi paku-paku

aku semakin ragu dengan jejak kaki itu

adakah jejak itu digambar oleh kaki pada langkah-langkahku

ada pula peluh yang jatuh,

membeku, membiru, dan membatu

di samping sepasang kakiku yang ditembus oleh paku-paku

Kediri, 5 November 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kereta Maut

Seperti seorang anak yang menunggu semut

keluar dari sarang. Aku pun menunggumu, maut

kau akan datang dengan kereta tak berkuda

ataukah hanya dengan tandu

semua tak ada beda,

 

suatu kali kau mampir di halaman rumahku

ketika kuberikan tiketku, seseorang menolakku

“tiketmu belum berlaku” katamu

Seorang anak lelaki yang sedang menaiki sepeda barunya

kau panggil, dan anak itu senang bersamamu

kini, aku termangu menunggumu

apakah aku hanya diam saja menunggu

menatap sepeda baru anak kecil yang tergeletak di jalan

tanpa harus berbuat sesuatu?

Kediri, 5 November 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemana Ku Taruh Matahari Lagi

Tuhan, aku mengeluh padamu

aku lelah memikul matahari seberat ini

aku lelah setiap hari mesti meniup dan menyalakan

nyala api pada mataharimu

aku lelah setiap hari mesti melihat kenistaan dan ketakadilan

aku lelah melihat nyala api mata duka

yang seseorang menyulutnya

pada sumbu-sumbu ketakberdayaan

pada lampu-lampu kekuasaan

apa yang sebenarnya terjadi

apapun rencanamu, aku enggan lagi

memikul matahari seberat ini

Kediri, 5 November 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nyala Api

Entah siapa yang telah menyulut secuil

api, pada lahan-lahan keringku

mendidihkan nanahku, menguapkan darahku

dan pada ubun-ubunku niscaya kau lihat

ada neraka yang membara, berkilat

pada ujung belati yang di sebelah tanganku

iblis telah meminjami sepatu-sepatunya

untuk setiap langkahku, ada wajah malaikat

sebetulnya, menempel di sepatu

aku tak peduli

hingga aku hampir menusukkan sebilah belati

pada jantung yang berdetak di balik selimut

tetapi kuurungkan ketika seorang gadismu

sedang lelap memelukmu

Kediri, 5 November 2006

Kembang Setaman

Aku belajar menterjemahkan bahasamu lewat

isyarat tarian kembang, yang didendang angin

dan kumbang-kumbang

pinjamilah aku air mata, pinjamilah aku embun

agar aku bisa menangis melihat derita

agar aku tak bangga melihat duka

pinjamilah aku iba, pinjamilah aku rasa

dan kumbang-kumbang yang terbang

dan angin yang bertiup

dan kembang yang mekar

pada taman-taman di mana kakiku berdiri

ajari aku hidup kembang, agar kubenar-benar

menjadi orang

Kediri, 5 November 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi Pada Berakhir

Mari bersama-sama pergi menari

meninggalkan kota ini, kota yang kita benci

sambil bergandeng tangan, kita menyanyi

meninggalkan kota ini, kota yang kita benci

 

puisi-puisi yang ditulis penyair

kini semua telah terbakar dan berakhir

apa lagi yang masih kau cari

mari tinggalkan kota ini, kota yang kita benci

bairkan saja burung bangkai

yang bersendagu di tiang listrik kelaparan

menatap kota yang ia cintai telah sepi

karena mereka telah meninggalkan kota ini,

kota yang dibenci

biarkan penguasa-penguasa memperoleh

kota yang ia cintai

tapi kita terus menari dan bernyanyi

toh, kalau kita sudah sampai

siapa yang akan membawa kota sebesar ini?

Kediri, 5 November 2006

 

7 Komentar »

  1. haq Said:

    ass. bagus banget puisinya. apalagi yang berjudul “ke mana kutaruh matahari lagi”. dakem bener maknanya. gimana bisa belajar gak sama anda? sebelumnya makasih. balas ya wasalamu’alaikum

  2. ri2n Said:

    ehem.. assalamualaikum..
    saya temangu lihat tulisan-tulisan anda..
    saya tertarik belajar diksi pada anda..
    saya mahasiswi unibraw.. jurusan kimia..
    tp suka menulis hal2 yang berbau puisi.. ajari ya pak.

    terima kasih… wassalam

  3. WAHYU N ELOK Said:

    Om Swastiastu
    WAAAUUUU……
    Puisinya bagus banget….
    pilihan katanya, buatku tersentuh..,.
    ajarin dong….

  4. dino Said:

    aku boleh copy puisinya kan?

  5. Grace Said:

    eh, aku jadiin puisi yg Tuhan Ku Diam itu jadi sebuah lagu yah..
    thx much

  6. yasta Said:

    ekhhhhhhhhh gw minta kamu bikin lagi puisi tentang tuhan………..

  7. pujono slamet Said:

    wah…apek tenan puisinya,menyentuh sekali hati. Diksinya mudah di pahami. Boleh kan saya belajar tentang pusi yang berkarakter seperti puisi bapak. Maklum saya punya banyak puisi tapi belum berkarakter.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: