Curhat: Pertemuan dengan Sahabat Lama yang Mengingatkan Aku Dengan Masa Lalu

Curhat: Pertemuan dengan Sahabat Lama yang Mengingatkan Aku Dengan Masa Lalu

Yah, hari ini tanggal 7 bulan sebelas tahun sembilan enam, aku bertemu dengan sahabat lamaku. Dia datang ke kosanku tadi sore, entah kenapa saya seperti membaca ada sebuah cermin yang kulihat di setiap tutur-lakunya. Aku seperti melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Kesendirian, keterasingan, dan rendah diri.

Semenjak ditinggal bapak, aku seperti orang buta yang kehilangan tongkat. Hidupku pas-pasan. Apalagi ketika beranjak kuliah. Aku tak berani meminta apa-apa dari ibu saya. Aku sudah sangat prihatin dengan gaji guru SD –walau negeri – dan mengandalkan pensiunan bapak. Ketika SMP hingga SMA teman-temanku pergi ke mal, pesta, dan bersenang-senang, sedang diriku hanya bisa tersenyum ketika diajaknya, lantas berkata “maaf, aku ada janji dengan teman” padahal, aku tak pernah memiliki janji dengan siapa-siapa.

Sepulang sekolah, aku sama sekali tak pernah bergaul dengan siapapun. Aku hanya berteman brung perkutut peninggalan bapak, gitar tua, seekor kucing, dan buku-buku. Bahkan, aku pernah menciptakan sahabat khayalan. Aku memimpikan memiliki banyak teman yang mereka benar-benar mengerti saya. Dan inilah masa yang benar-benar suram.Ketika aku bangun, teman-teman yang kubangun dalam imajikupun menghilang. Hingga suatu hari aku membenarkan sebuah syair yang berbunyi “benda mati di sekitarku lebih mengerti hatiku daripada manusia yang memiliki hati nurani.”

Bertahun-tahun lamanya aku hidup dalam kegelapan. Merenung di pojok kamar yang gelap, menangis di pojok ruangan dengan merangkul sepasang kakiku, dan aku tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Cuma, satu hal yang mendasari aku kenapa aku mampu bertahan: cinta ibuku dan adikku. Aku tak ingin membuat ibu kecewa, bahkan menangis. Aku akan mewujudkan semua cita-cita ibuku agar aku menjadi anak yang berhasil.

Kepedihanku memuncak, ketika suatu kali ada seorang teman yang berbicara kepadaku. Dimana bicaranya itu adalah sangat menyakitkan hatiku. Aku hapal betul kalimat itu:

“Gara, kamu seharusnya bermasyarakat. Kamu harus bergaul. Kamu itu kuper!”

Kalau ada pisau, niscaya kutancapkan tepat dijantungnya yang tengah berdetak. Aku melangkah pulang dengan segenggam tangisan. Malamnya aku bermimpi ketemu bapak. Ia bilang kepadaku bahwa aku harus keluar dari rumah untuk berjalan-jalan. Tepatnya ia menyuruhku untuk pergi bergaul. Bapakku memberiku sebuah kunci sepeda motor sambil berkata “jangan takut, aku selalu di sini!” Aku pun pergi. Beteul, kemanapun aku pergi aku selalu bertemu dengan bapak. Seolah ia mengawasi setiap langkahku. Dan ketika sadar, semua itu hanya mimpi. Dan esok paginya, seorang lelaki yang usdah membuatku menangis itu kutemui sedang sakit jiwa. Seluruh kampung gempar.

Hingga saat ini, aku bersyukur dan meyakinkanku bahwa kehidupan musti berputar. Kini aku sudah bekerja, pun menjadi seorang penulis yang sudah menajdi cita-citaku dari dulu. Aku mendapatkan penghargaan dari berbagai prestasi. Aku dapat membuat ibuku bangga. Satu hal yang dapat kita lakukan: berusaha, berdoa, dan bermimpi. Tak lupa kuucapkan kepada Ari Wijayanti untuk segala dukungannya dan yang telah menjadi kandil dalam ruang gelapku. Terima kasih YA Alloh!

Lubis Grafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: