mahfud, Dosen yang Tak Berkeprimanusiaan

mahfud, Dosen yang Tak Berkeprimanusiaan

 

“Yang membedakan antara manusia dan bintang adalah manusia memiliki perasaan yang digunakan untuk menghargai sesamanya, apabila seseorang tak pernah menggunakan sifat universal ini, saya dengan lantang di garis paling depan dengan nyawa sebagai taruhan akan menyatakan bahwa orang tersebut tak layak menjadi manusia!”

(Lubis Grafura)

 

 

Puisi-puisi ini kutulis untuk engkau, mahfud, ketika darahku mendidih pada ubun-ubunku, jantungku yang menyala-nganga, dan darahku yang mengalir panas. Merasuk ke dalam setiap senti pori-pori….

“jangan sekali-kali kau bangunkan singa yang sedang tidur di tubuhku!”

 

 

mahfud

 

Demi semesta, sebelum kuteteskan darahmu di atas tanah, hidupku akan terus meresah!

 

Pojok Sunyi Atap Kamar, November 2006

 

mahfud #2

 

Lepaskan mata iblis yang bersarang di balik kacamatamu

Sebelum kutancapkan belati di kerut wajah tuamu

Dan mencongkel wajah asli di balik topengmu!

Pojok Sunyi Atap Kamar, November 2006

 

 

mahfud #3

 

ketahuilah, aku adalah dedaunan kering

jika kau masih juga mencoba melempar secuil api

dari

sebatang korek, niscaya aku akan membakar sisa hidupmu

tak bersisa, menjadi abu!

Pojok Sunyi Atap Kamar, November 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

mahfud #4

 

Tuhan jadikan saja aku planet yang paling jauh dari bumi

Agar aku tak melihat kenistaan, tak keadilan, tak keberdayaan

Aku sudah terlalu banyak resah Tuhan, darahku mengalir gelisah

Hidupku mungkin mengonggok basi seperti sampah

Tapi sumpah Tuhan, aku tak bisa diam melihat ketakadilan

Tapi sumpah Tuhan, aku tak bisa diam melihat kenistaan

Dan sumpah Tuhan, aku tak bisa diam menyaksikan ketakberdayaan

Tuhan jadikan saja aku bebatuan yang tersembunyi jauh di dasar lapisan bumi

Sebagai manusia yang kau bekali rasa, aku tak sanggup membawanya

Cabut saja Tuhan, nuraniku. Agar aku tak diam. Agar aku bisa menindas setiap orang

Hapuskan belas kasihan di dadaku, agar aku tertawa melihat orang menangis

Tutuplah pintu kemanusiaanku, biar kubabat setiap leher yang kulihat

Dan jangan laknat aku ketika aku berteriak lantang:

“Tuhan menciptakan bumi ini hanya untukku saja. Selain aku, akan kubabat lehernya!”

Tuhan, izinkan aku membunuh, izinkan aku berzina, izinkan aku memperkosa

Izinkan aku merampas, izinkan aku membuat lautan darah….

Tuhan, dipintumu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling lagi (Amir Hamzah)

Pojok Sunyi Atap Kamar, November 2006

 

 

 

 

 

 

mahfud #5

 

Ketahuilah, malam ini aku akan mendatangi mimpi-mimpimu

Aku akan hadir dengan sebilah pisau di tangan kiri dan parang

Di tangan kanan. Akan ku libas kau, seperti seseorang memakan bistik di restoran istimewa di kota tengah kota ini

Pojok Sunyi Atap Kamar, November 2006

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: