Desa Para Dukun, Desa Para Korban Lumpur

Desa Para Dukun, Desa Para Korban Lumpur

 

“Aktual, tajam, nan realis!”

            Itulah gambaran mengenai cerpen yang ditinggalkan oleh Wawan—eko—yulianto yang berjudul Desa Para Dukun (DPD) di sebuah ruangan tempat saya menjala imajinasi. Sejujurnya, di samping banyak garapan yang musti saya selesaikan, cerpen ini telah memberikan sedikit nuansa untuk mengisi waktu istirahat saya.

            Saya tidak keberatan mengacungi dua jempol ibu jari saya untuk cerpen DPD —  bahkan saya tambah satu lagi untuk jempol kaki! Mungkin, lebih enak kalau saya rinci saja komentar saya mengenai cerpen ini.

 

Segi Penceritaan

            Cerpen DPD merupakan salah satu cerpen yang turut menyumbangkan gaya penceritaan yang “baru” di dunia penulisan sastra kita. Penceritaan yang “baru” tersebut adalah penceritaan yang bergaya features yang banyak terdapat di koran Kompas. Artinya, penulis tak begitu mementingkan bahasa yang meliuk-liuk atau diksi yang berirama. Tetapi soal makna, juga mengena.

            Mungkin, gaya penceritaan yang seperti berita ini adalah salah satu kelebihan dari cerpen DPD. Tetapi untuk membuat cerpen ini tidak mudah, saya kira. Kenapa? Karena ada banyak kecenderungan cerita tersebut datar. Tanpa klimaks. Namun, dalam cerpen ini secara teknis (dalam membawakan ceritanya) sungguh jujur dan mengalir apa adanya. Tanpa paksaan baik dari plot atau endingnya.

            Aktual, tajam, nan realis. DPD bagi saya adalah aktual, karena memang dari segi terjadinya peristiwa tidak begitu lama, bahkan samapai saat ini masih terjadi. Masih dibahas banyak media.  Ketajaman penulis menangkap fenomena tersebut juga sangat kentara: penderitaan rakyat, sikap pemerintah yang lamban, sekaligus kini banyak orang yang beralih ke hal-hal yang tidak masuk akal (membuat sesajen, mengorbankan binatang). Dan, bagi saya, para dukun itupun justru memperparah keadaan bukan memberikan jalan keluar. Hanya pelarian!

 

 

Amanat Sastra

            Kalau boleh dengan lancing, saya ingin mengartikan makna dari cerpen ini adalah tentang “pelarian yang salah atas penderitaan”. Maksudnya, seharusnya orang-orang –teramsuk dukun- tidak memperparah keadaan.  Begitu juga masyarakat yang lain, sebegitu mudah percaya dengan omong kosong para duku.

            Logisnya begini, kalau semisal ada sapi dikorbankan untuk lumpur, kenapa tidak dikorbankan saja untuk para korban bencana. Dimakan bareng-bareng kan lebih enak dari pada dibuang ke lumpur. Pembodohan yang sebodoh-bodohnya. Atau saya lebih sepakat yang dikorbankan bukan hewan (karena masih ada segi manfaatnya), bagaimana kalau yang dikorbankan itu pejabat yang koropsi? Dilempar saja ke sana. Toh, masyarakat juga tidak butuh daging pejabat yang korupsi. Kan lebih enakan daging sapi?

 

Kekurangan Cerpen

            Terlepas dari kelebian tersebut, bagi saya DPD juga memiliki beberapa kekurangan yang sedikit banyak menggangu kenikmatan saya membaca. Pertama, dari segi editing. Saya tidak tahu cerpen ini sudah diedit beberapa kali. Ada sebuah kalimat pada paragraf 9 baris ke 2, yang bagi saya sangat ambigu.

…Entah bagaimana caranya, kami mencoba datangnya hujan….mungkin kalimat ini dapat diperbaiki menjadi  Lantas, kami mencoba berbagai cara agar hujan segera turun…. Bagi saya, keambiguitasan kalimat seperti ini sangat mengganngu. Tapi, mungkin tidak bagi orang lain.

            Terlepas dari keberhasilan penulis yang membawa DPD ke medan alur yang tidak membosankan, saya merasa kurang mendapatkan klimaks yang benar-benar “ngeh!” saya akui juga, mungkin saya belum bisa memberikan solusi klimak yang benar-benar sreg itu. Tetapi, tak apalah, kekurangan cerpen ini tidak ada lagi artinya ketika ending yang ditawarkan DPD sebegitu enak bagi saya. Mantap

            …menyusuri jalan…dan hujan pun turun, tetapi dari air mata kami sendiri.

Begitulah,

 

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: