Re: Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba

Re: Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba

 

Kepada: sidiknugroho@yahoo.com

 

Salam kenal Mas Sidik, perkenalkan nama saya Lubis Grafura. Sampean bisa lihat keseluruhan tentang saya (mengenal lebih jauh tentang saya) di http://www.lubisgrafura.wordpress.com . Masalah yang sedang sampean hadapi mungkin banyak dirasakan oleh penulis-penulis lain. Bahkan diri saya dulu juga merasa seperti itu. Pernah juga saya mendapatkan balasan yang sangat menyakitkan plus mematahkan semangat. Begini:

MAAF, CERPEN ANDA TIDAK COCOK DI KIRIM KE—

Begitu, balasannya. Akhirnya saya tak putus asa. Terus menulis mengirm menulis membaca, mengirim lagi, menulis lagi dan sampai hari ini belum di terima juga. Akhirnya saya ikut lomba macam-macam, eh alhamdulilah ketiga cerpen saya masuk dalam La Runduma CWI 2005. Di sana saya banyak ketemu banyak penulis dan saya dapat resep jika mengalami masalah yang seperti sampean rasakan (semoga saya juga tidak narsis). Begini:

  1. Beranggaplah bahwa menulis itu seperti orang kencing, kita tak pernah mengharapkan kencing itu kembali mengencingi kita to? Yang sudah dikirim atau dibuang biarkan saja. Seiolah kita tak pernah berbuat apa-apa.
  2. Buat daftar pengiriman. Biasanya Koran kan 2 bulan nggak dimuat, berarti kan gak layak muat. Kita revisi lalu kita kirim aja lagi ke Koran yang lain. InsyaAlloh ada jalan deh. Kita kan tahu ada berapa banyak Koran di Indonesia yang menawarkan cerpen setiap Minggu?

Nah, semoga sampean juga tidak merasa sendirian. Ok, yang penting bersemangat.

Mari, Menulis Hingga Titik Tinta Penghabisan!

 

Dan, sebuah komentar balik dari Milis Apresiasi Sastra (apsas) yang membuat kepalaku besar, mungkin juga aku harus beli topi yang ukurannya lebih besar dari pada yang sebelumnya. Berikut uraian Wawan Eko Yulianto kepada saya:

Memang, Bis,
Kalau ditanya siapa orang yang paling semangat menaklukkan rubrik
budaya koran, pasti saya akan jawab LUBIS GRAPURA. Dan untungnya
semangatmu sudah menular ke teman-teman (yang paling terinspirasi
adalah aku).
Mas Sidik,
Nasib kita sama, Mas. Kalau saya, saya malah semangatnya masih naik
turun. Masih butuh banyak sekali bantuan untuk memaksa diri menulis
cerpen. Ikut APSAS ini salah satunya. Waktu ada proyek menulis KERETA
API, saya langsung ikut, dengan harapan itu bisa memacu saya menulis.
Cara lain menyemangati diri ya… kumpul-kumpul sama teman-teman yang
masih berjuang, seperti misalnya Lubis GRafura ini. Dengan kumpul
bersama mereka,kita jadi bisa membicarakan tentang surat penolakan
dari kompas dengan cengengesan. He he he.
Terakhir,
Meskipun masih kerepotan menyarangkan tulisan saya ke media, saya
selalu berpegang satu hal: MENULIS SAJA ITU SUDAH SORGA. Ini
dikatakan Natalie GOldberg, guru menulis saya. Yah, sudah bisa
menulis dan menuangkan gagasan-gagasan gila saja sudah sorga. Itulah
yang layak disyukuri.
Dan saya ingin mengutip kata istri saya dulu dalam sebuah sms:
success comes to those with extraordinary determination.
Mas Sidik (yang pastinya sudah jauh lebih senior daripada saya), mari
saling menyemangati. Istilahnya anak-anak Bengkel Imajinasi di
Malang, “Mari saling membakar!”
Sepenuh hormat,
wawan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: