Nilai Agama dalam Karya-karya Saya: Lubis Grafura (agak narsis sih)

Nilai Agama dalam Karya-karya Saya: Lubis Grafura

Bismillahirrahmanirrokhiim

Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah ulasan bertajuk Refleksi Agamis yang Manis dari Karya Cerpen oleh Bapak (Mas?) M. Fitran Salam yang kini tinggal di Martapura. Sekaligus tulisan ini saya buat untuk beliau. Duh, besok kalau beli topi kayaknya harus agak besar sedikit, karena kepalaku juga ikut gede J

Pertama, saya ucapkan banyak terima kasih karena telah mencantumkan nama sekaligus cerpen saya dalam pembahasan di RadarBanjarmasin bebrapa bulan yang lalu. Saya sangat terharu. Berarti misi saya sudah berhasil. Berikut cuplikan dari artikel beliau:

Pada cerpen Tangisan Tak Berpeluh ,Lubis Grafura,(RB 26-1-2006) saya temukan nilai lebih lain, dapat memberikan pencerahan dan perenungan; “Aslika. Dengar saya ya. Kalaupun aku tak terlalu pintar ngomong soal agama, tetapi Tuhan berjanji bahwa suami atau jodoh yang kelak kau terima itu adalah sebagian dari sikap laku di masa lalumu. Jika dirimu baik, maka suamimu adalah orang yang baik. Lihatlah ke cermin hatimu, berkacalah di sana. Kau, wanita yang baik! Aku melihatnya!”

Paragraf itu merujuk –yang dalam konteks cerita- pada ayat Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 3, ”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan berzina atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mu’min”.

Memang, dari dulu saya ingin sekali memasukkan unsur-unsur agama Islam ke dalam setiap karya saya. Karena, bagi saya, tidak ada keraguan di dalam agama Islam (walau saya sejujurnya punya puluhan juta gudang dosa). Nilai-nilai Islam seharusnya bisa menjadi universal. Bahkan, target saya, orang yang di luar Islam sendiri akan mengatakan bahwa “ini bukan cerpen Islami” tetapi ini cerpen “yang universal” tetapi di dalam sifat keuniversalan itu ada nilai-nilai luhur Islam yang seratus persen “milik Islam”

Jujur saja, saya sangat kagum dengan Hollywod yang mampu menyelaraskan antara logika, religi, dan jalan cerita yang “wah!” kenapa kita sebagai orang (penulis) Islam tidak berbuat seperti itu? Tujuan kita membuat karya bukankah agar dibaca orang lantas orang tersebut dapat memetik nilai-nilai budi yang halus?

Awalnya, saya sangat menampik kehadiran sastra Islami (walau tidak semua). Jujur saya sangat tidak sepakat. Karena menurut saya sangatlah munafik. Seolah seperti nonton sinetron yang tokohnya kiai lantas memiliki tenaga dalam (dengan efek computer) lalu iblisnya kalah. Atau dengan membaca fatihah setannya mencelat. Aduh, munafik sekali bagi saya. Jazuz!

Coba, kalau memang berdakwah, kenapa kita tidak membuat karya yang universal tetapi Islami? Tetapi sehabis saya pikir-pikir juga. Biarlah mereka membuat “sastra Islami” yang dikonsumsi oleh orang-orang Islam sendiri. Toh, pasarnya juga jelas! Segala sesuatu kan ada prosesnya.

Saya ingin menceritakan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang universal, bukan agama teroris! Islam mengajarkan akan cinta kasih dan damai, Islam memberikan kemudahan, kabar baik dan buruk, serta jalan menuju kebenaran yang sebenar-benarnya. Itu semua lewat karya. Tanpa harus dengan tokoh berjilbab atau santri. Bolehlah kita sesekali memakai atribut itu. Tapi jangan naïf juga soal ceritanya. Nanti tokohnya tomboy trus kenalan dengan santri lalu berjilbab. Tolong kelogisan itu dipikirkan lagi.

Misi dalam naskah saya adalah : unsur-unsur Islam, kematian, asmara-romantis, feminitas, dan kalau perlu soal sex. Kenapa? Karena keempat unsur tersebut universal sekali. Soal feminitas adalah soal bumbu. Dia pantas ada dan tidak, tetapi untuk lainnya saya kira sangat perlu. Coba amati deh film-film besar Hollywod yang di dalamnya mesti ada : kemanusiaan, sex, dan ketuhanan. Coba aja lihat film-film itu mesti nanti akan menemukan ketiga hal tersebut.

Ok, selamat berkarya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Lubis Grafura.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: