Polemik Skandal DPR hingga Poligami A.A Gym

Polemik Skandal DPR hingga Poligami A.A Gym

Aduh, sebegitunya ya negara kita. Di televisi banyak menyiarkan berita-berita tersebut sekaligus di media-media dan tak kalah juga lho di pages atau web atau blog atau milis-milis di internet juga mengangkat isu ini. Mungkin saya agak terlambat dalam meyikapi ini, tetapi tak apalah, berikut ulasan saya.

Soal Skandal YZ dan ME

Secara hati nurani, saya sangat terpukul seperti kalah main judi. Betapa tidak, mereka adalah tokoh masyarakat yang secara tidak langsung menjadi panutan masyarakat. Saya “melaknat” dua insane ini bukan berarti saya juga tidak punya dosa. Saya hanya prihatin saja. Jangan-jangan jika saya pada posisinya juga akan melakukan hal yang sama. Tetapi bagaimanapun, saya MELAKNAT dua insane tersebut. LAKNAT! LAKNAT! LAKNAT! Tetapi saya belum melihat adegan asyik-masygul yang konon hanya 42 detik itu. Pecat saja deh mereka itu.

Yang menjadi prihatin saya lagi, hari ini di Kompas (10/12) diberitakan bahwa di televise-televisi kini banyak diputar video tersebut. Tentu saja ini untuk mengejar ratting penonton dan membuat tertariknya para pengiklan. Aduh, busyet dah pertelevisian di Indonesia. Saya sangat kecewa. Menurut saya pemberian tanda semaca R, DW, BO atau sejenisnya sudah tak ada gunanya lagi. Orangtuapun terkadang tak memperhatikan ini. Saya pernah melihat dengan kepala saya sendiri, ketika saya sedang menonton televisi di tetangga saya yang nota bene di desa. Saat itu ada anak usia SD-lah yang ikut nongkrong, pas ada adegan yang agak “gimana gitu” dan ada tanda BO eh orang tuanya diam aja. Malah berkomentar. Nah, si anak ini bertanya. Lhadalah, orang tua ini menjelaskannya bukan dengan cerdas, tetapi justru mendukung. Duh, siapa yang salah ini?

Ohya, Pak Presiden (walau mungkin juga Bapak tidak membaca situs ini) tolong jangan diberi peringatan televise kita yang menampilkan adegan gituan. Langsung aja dicabut izinnnya atau gimana lah. Implikasinya ini terhadap anak didik kita. Kebetulan saya juga seorang pendidik, jadi saya merasa sangat prihatin.

Skandal PNS

Nah, ini dia kasus yang kedua. Kok bodoh ya mereka. Kalau saya jadi mereka tidak akan melakukan skandal di restoran makan. Lha wong punya gaji tiap bulan, ngapain nggak sewa kamar hotel aja. Patungan lah. GOBLOK!

Ini sangat memalkukan sekali di kancah perantauan negara kita. Musti dengan cara apa lagi kita mesti membenahi negara kita ini. TOLONG TIDAK USAH DIBERI KESEMPATAN ORANG-ORANG MACAM GINI, LANGSUNG PECAT AJA, KARENA NANTINYA PNS YANG LAIN JUGA NGIKUT. BIAR KAPOK, PECAT! PECAT! SECARA TAK TERHORMAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Polemik AA Gym

Nah, diantara isu-isu itu ternyata Aa Gym juga tidak mau kalah seru. Menikah lagi, itu adalah alasan yang baik dari pada melakukan skandal. Cuma ada statemen Aa yang saya kurang sependapat nih. Gini “saya menikah lagi secara legal kok. Masak saya melakukan pernikahan ilegal?” kira-kita begitu bunyinya. Tetapi esensi dari statement itu justru menjadi boomerang lho buat Aa. Emangnya Aa siapa? Nabi? Malaikat yang nggak punya salah? Lha sampena saja manusia kok masak nggak mungkin melakukan hal-hal yang illegal. Mungkin sekali gitu! Coba dong dirubah statementnya begini “saya menikah legal kok. Lha dari pada melakukan yang illegal?” atau gimana lah yang penting tidak menuju ke sesuatu yang “menyempurnakan diri” kita kan nggak sempurna.

Ya, semoga istri Aa mendapatkan ketabahan. Segala keikhlasannya bisa mendapatkan ridlo Allah. Seharusnya istri Aa ini menjadi contoh istri-istri yang lain dari pada membiarkan suaminya selingkuh, ya mending nikah lagi.

Itu kalau dari sudut pandang berfikir positif kepada Aa. Tetapi di sisi lain mana ada sih perempuan yang mau di madu? Kebetulan karya saya juga banyak yang berupa kefeminitasan, jadi jujur saya juga kurang sepakat. Tetapi ya gimana lagi. Makanya saya menulis feminis bukan berarti saya ngerti perempuan. Karena itulah saya belajar memahami perempuan…wassalam. Mari mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lubis Grafura

Iklan

1 Komentar »

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: