puisi: Suara

Suara

Hujan mengetuk jendela ruang kuberdiam

ada suara yang merambat di gelombang udara

: seperti suara perempuan

Kumatikan note book, televisi, dan lampu

namun aku masih mendengar suara itu

sebegitu dekat, seolah di depan gendang telinga kau merambat

“apa yang terjadi?” tanyaku pada dingin hujan

“kau gila!” jawab hujan sembari mengetuk daun jendela

Aku berlari turun ke jalan menembus hujan

suara itu terus memanggil lewat getaran-getaran

dedaun dan reranting di pinggir jalan kota tua.

Selembar kertas di jalan yang basah menceritakan padaku

tentang seorang pengantin perempuan yang lari

di hari pernikahannya, karena ia tahu

: yang menutup dan mengunci ruang hatinya –

adalah hanya kekasihnya,

yang kini sedang berdiri di perempatan jalan kota tua

saat hujan meluruh. Dan aku melihat pengantin perempuan itu

– sedang menuju ke arahku.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Anak-anak Turun ke Jalan

Anak-anak turun ke jalan sembari membawa kembang api

masing-masing di tangan kanan dan di kiri

rembulan menjelma sebentuk sampan, melayari lautan bintang

mengikuti langkah anak-anak di jalanan

orang tua bernyayi di balik pagar, bersorak seperti ketika

karnaval tiba – anak-anak mereka melintasi halaman rumah

Anak-anak turun ke jalan bernyanyi dengan riang

seorang tentara di seberang sana menyembunyikan senjatanya

: di balik lampu jalanan

ikut bersorak mengikuti nyayi anak-anak

dan seseorang telah mengubur dalam-dalam

(segenggam mesiu), ia pun ikut bersorak

tak ada polisi, tak ada petugas keamanan

semua mengikuti nyanyi anak-anak

semua raja, semua pemimpin, semua presiden

ikut turun ke jalan mengiring langkah anak-anak

: perang, pertikaian, pembantaian, dan dunia yang liar

hanya tinggal dongeng-dongeng yang sudah dilupakan.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Jiwa

Bukankah kau bisa merasakan kedatanganku?

membauinya, menyentuhnya dengan jemarimu?

matikan semua lampu di kota ini, nyalakan lilin di tanganmu

Lantas, aku akan terbang menyelinap

masuk ke setiap relung hati, seperti gesekan biola

mengalir seperti harpon

atau berdebum seperti pukulan dram?

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Uluran Tangan

Datanglah padaku, pada malam-malam yang gelap

ukirlah relief kisah-kisah perjalanamu di relungku

datanglah pada dingin-dinginku, ikuti arah mantraku

niscaya, kau akan berjalan menuju arahku.

Datanglah sebelum pagi pecah

karena aku harus segera berkemas,

membawa seluruh bekal perjalanan ke dalam tas

dan padamu, aku harus mengucap pisah.

Tangamu masih sebegitu jauh untuk kurengkuh

kubisikkan doa-doa kepada sepoi angin

dan air mata yang membelah wajahmu di kejauhan

menjelma arus Niagara, atau Gangga yang membelah Hindia

datanglah saat kuberkemas, memasukkan seluruh kenangan ke dalam tas

datanglah sebelum pagi benar-benar pecah

karena, hanya padamu aku harus mengucap pisah

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Kepulangan

Di hutan ini aku tersesat,

totem elang yang menuntun jalan pulang tlah hilang

roh-roh nenek moyang tlah murka, menggulung hutan

dengan badai, kilat, dan lebat hujan

/

manusia tak lagi berdiri di satu garis persamaan,

perbedaan tlah menjelma hitam-putih, tinggi-rendah

pada peperangan ras, agama, dan batas

/

aku semakin lemah melangkah

kutatap hatiku yang kosong, tak mampu kuberlari

apalagi bersembunyi, (kau tlah menemukanku:)

kurindu gelak-gelak tawa dan tangis bahagia

yang kini menempel di sulur-sulur pohon tua

/

“jangan pedulikan apapun yang dikatakan pohon”

“lanjutkan perjalananmu, percaya pada hatimu”

“di seberang kan kau temui, apa yang kau cari”

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Surga

Seberapa berhargakah bagimu cinta itu?

Setarakah dengan Titanic yang karam?

Sejumlahkah dengan WTC yang menyisakan kelam?

Kau saja yang berada di tengah samudra, bisa kembali pulang

Apalagi berada di pucuk menara tertinggi di dunia

Kau cukup mendengarkan suara anak-anak

Menghentak di seluruh jalanan, di muka bumi

Diantara lelampu jalanan malam yang penuh kedamaian

Di sanalah pintu sorga itu sedikit terbuka

Di sinilah kehidupan itu dimulai

Untuk memahami perantauan-perantauan di masa depan

Dan kunci itu sudah kau pegang.

Seberapa berhargakah?

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: