Teknik “Memancing” untuk Menulis Puisi

Teknik “Memancing” untuk Menulis Puisi

Saudara-saudara pebengkel, beberapa waktu yang lalu saya termenung sambil menikmati lagu oldiest (smoga tidak salah menuliskannya) dan tiba-tiba mendapatkan inspirasi menulis puisi. Mungkin agak terkesan “membajak” tetapi, apa pedulilah, kita bermain-main saja dengan kata dan puisi. Mari,

Pertama, mari kita siapkan teks lagu oldiest semacam Alias, Duran Duran, Vanila Ice, Belinda Carlisle, Roxette, MLTR, atau siapa sajalah.

Kedua, pilih lagu yang pualing disukai. Baik syairnya atau iramanya.

Ketiga, coba cari kalimat atau syair yang menjadi favorit.

Keempat, buka MS Words dan mulailah mengetik kata yang paling disukai itu

Kelima, beri judul lain yang hampir mirip dan editlah menjadi puisimu sendiri.

Berikut adalah contoh dari beberapa puisi yang berhasil saya buat dari teknik “memancing” dari lagu-lagu oldiest. Pertama, saya memilih lagu Ordinary World-nya Duran Duran:

Came in from a rainy Thursday on the Avenue

Thought I heard you talking softly

I turned on the lights, the TV and the radio

Still I can’t escape the ghost of you

What is happening to it all?

Creazy some say

….

Pride will tear us both apart

Well now pride’s gone out the window

Cross the rooftops, runaway

(dan dari syair di atas terjadilah puisi kita sendiri, seperti halnya puisi saya berjudul “suara” berikut ini)

Suara

Hujan mengetuk jendela ruang kuberdiam

ada suara yang merambat di gelombang udara

: seperti suara perempuan

Kumatikan note book, televisi, dan lampu

namun aku masih mendengar suara itu

sebegitu dekat, seolah di depan gendang telinga kau merambat

“apa yang terjadi?” tanyaku pada dingin hujan

“kau gila!” jawab hujan sembari mengetuk daun jendela

Aku berlari turun ke jalan menembus hujan

suara itu terus memanggil lewat getaran-getaran

dedaun dan reranting di pinggir jalan kota tua.

Selembar kertas di jalan yang basah menceritakan padaku

tentang seorang pengantin perempuan yang lari

di hari pernikahannya, karena ia tahu

: yang menutup dan mengunci ruang hatinya –

adalah hanya kekasihnya,

yang kini sedang berdiri di perempatan jalan kota tua

saat hujan meluruh. Dan aku melihat pengantin perempuan itu

– sedang menuju ke arahku.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Berikutnya dari lagunya MLTR “Sleeping Child” terjadilah perkawinan yang sebegitunya:

Oh, my sleeping child the world’s so wild

But you have built your own paradise

If all people around the world

They had mind like yours

Wo’d have no fighting and no wars

If all the kings and the leaders

Could see you here this way

They would hold the earth in their arms

They would learn to watch you play

(bim salabim, jadilah puisi berikut yang berjudul “anak-anak turun ke jalan” ini)

Anak-anak Turun ke Jalan

Anak-anak turun ke jalan sembari membawa kembang api

masing-masing di tangan kanan dan di kiri

rembulan menjelma sebentuk sampan, melayari lautan bintang

mengikuti langkah anak-anak di jalanan

orang tua bernyayi di balik pagar, bersorak seperti ketika

karnaval tiba – anak-anak mereka melintasi halaman rumah

Anak-anak turun ke jalan bernyanyi dengan riang

seorang tentara di seberang sana menyembunyikan senjatanya

: di balik lampu jalanan

ikut bersorak mengikuti nyayi anak-anak

dan seseorang telah mengubur dalam-dalam

(segenggam mesiu), ia pun ikut bersorak

tak ada polisi, tak ada petugas keamanan

semua mengikuti nyanyi anak-anak

semua raja, semua pemimpin, semua presiden

ikut turun ke jalan mengiring langkah anak-anak

: perang, pertikaian, pembantaian, dan dunia yang liar

hanya tinggal dongeng-dongeng yang sudah dilupakan.

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Saya beri contoh satu lagi dari lagu “Hands to Heaven”-nya Breathe seperti berikut ini:

Tonight I need your sweet caress

Hold me in the darkness

Tonight you calm my restlessness

You relieve me sadness

Morning has come another day

I must pack my bags and say goodbye, goodbye

(abra ka dabra, jadilah puisi yang berjudul “uluran tangan” milik kita sendiri, beginiJ

Uluran Tangan

Datanglah padaku, pada malam-malam yang gelap

ukirlah relief kisah-kisah perjalananmu di relungku

datanglah pada dingin-dinginku, ikuti arah mantraku

niscaya, kau akan berjalan menuju arahku.

Datanglah sebelum pagi pecah

karena aku harus segera berkemas,

membawa seluruh bekal perjalanan ke dalam tas

dan padamu, aku harus mengucap pisah.

Tangamu masih sebegitu jauh untuk kurengkuh

kubisikkan doa-doa kepada sepoi angin

dan air mata yang membelah wajahmu di kejauhan

menjelma arus Niagara, atau Gangga yang membelah Hindia

datanglah saat kuberkemas, memasukkan seluruh kenangan ke dalam tas

datanglah sebelum pagi benar-benar pecah

karena, hanya padamu aku harus mengucap pisah

Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

Selamat Mencoba…

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: