Saya Hanya Ingin Menuliskan Klausa “Betapa Hidup itu, Hanya Segitu Saja”

Ya Allah, jika hidup itu kejam, tapi kenapa aku tak bisa

Ya Allah, jika hidup itu musti saling menikam, tapi kenapa aku tak bisa

Kalau memang sudah ketentuan, tunjukan saja aku jalan pulang yang benar

_Lubis Grafura_

Setelah saya terjun di berbagai belahan dunia, ada sesuatu yang bagi saya masih jengah, kenapa ya orang-orang kok tega dengan sesamanya. Klakson-klakson di jalan saling memaki. Orang-orang dengan arogannya ingin terakui eksistensi. Gelandangan-gelandangan dan pengemis yang dibuat profesi, lantas suatu saat pasti kau temui seorang gelandangan yang berdasi.

Begitulah, berikut akan saya curhatkan bagaimana saya memandang kehidupan, termasuk kehidupan politik di Negara kita.

 

Kehidupan Beragama di Sekitar Saya

Hal ini adalah kehidupan yang sangat krusial. Sementara itu kehidupan beragama adalah kehidupan yang sifatnya pribadi. Hak setiap orang. Tak perlu menghakimi atas nama agama untuk tujuan tertentu. Tapi, yang membuat saya kecewa adalah pernyataan sebagian orang yang menjadikan “atribut” agama sebagai dalih untuk memetak-metakkan kehidupan. Begini konkritnya:

Pada sutu kali di kantor Primagama, pimpinan saya pernah berkata kepada saya, yang saat itu saya sedang berbincang dengan dua orang murid. Lantas pimpinan saya yang bernama Imam Zainuri tersebut ikut masuk ke dalam pembicaraan kami.

“Mas Lubis itu seorang seniman, Dik.” Begitu katanya kepada dua orang murid saya.

Kedua murid saya tersenyum.

“Kalau orang-orang yang kayak gini,” sambil menunjukkan jenggotnya “bukan temannya.”

Ia sambil tertawa. Saya tahu itu kelakar belaka. Memang Pak Imam itu orangnya suka berkelakar. Saya juga seperti itu. Dan saya tahu itu tidak ada maksud apa-apa sama sekali. Tetapi, kalau boleh menganalisis perkataannya, kalimat Pak Imam sangat memiliki arti yang sangat signifikan dan secara langsung di dalam otaknya selama ini sudah jelas-jelas. Ia membedakan mana yang golongannya dan mana yang bukan.

Dalm kata lain, Pak Imam yang nota bene adalah panutan saya selama ini, guru saya, pimpinan saya, ternyata hanya segitu kepekaan sosialnya dalam memandang kehidupan itu secara universal. Ia sama sekali tidak punya kepekaan itu. Apalagi ia adalah seorang pemimpin.

Kalau memang begitu, betapa kita hidup di atas daun kelor saja. Kita hanya berteman dengan orang yang berjenggot saja. Orang yang pakai celana cingkrang saja. Berteman dengan orang yang seagama saja? Betapa pola pikir kita sangat sempit. Dan saya merasa sangat kecewa dengan Pak Imam, pimpinan Primagama cab. Blimbing. Mungkin saya akan mengkomunikasikan ini dengannya Minggu depan.

Tapi bagaimanpun, ia juga sudah memberikan banyak sumbangan ilmu kepada saya. Mungkin memang ada benarnya pepatah mengatakan” tak ada gading yang tak retak”

Kehidupan Politik di Sepasang Kaca Kacamata Saya

Mendengar kata “politik” saja saya seperti sedang makan sate di kandang babi. Entah dari dulu say abenci itu. Tapi memang harus bagaimana lagi. Lha wong hidup tanpa itu ya kita tak akan pernah bisa kok.

Saya kok ketawa mendengar DPR yang ingin naik gaji, sementara mereka ta pernah melihat sekelilingnya masih banyak anak-anak yang mebutuhkan pendidikan, kemiskinan yang belum terentaskan.

Lantas, isu yang sudah hampir ditinggalkan orang, adalah masalah sekandal. Menurut saya langkah A.A Gym benar. Sepertinya A.A Gym sudah memberikan teladan yang baik di tengah percaturan politik, bahkan hingga urusan “konak”

Ah, apapun lah soal politik. Aku merasa jenuh saja membicarakannya.

Kehidupan Seni di Sekitar Saya

Tak ada bedanya juga. Lagi-lagi kulihat arogansi saja. Biarlah mereka juga berorientasi ke seni untuk seni atau ke masyarakat. Mereka merasa diri ini begitu hebat dari pada yang lain….

 

Dan tiba-tiba kata-kata saya hilang bersama bersin. Saya enggan melanjutkan tulisan yang makin lama terasa membosankan. Lantas, hidup itu ya hanya segitu saja di mata beberapa orang yang dungu.

 

 

Lubis Grafura

Pecinta Wanita

 

 

Iklan

1 Komentar »

  1. djizu Said:

    Itulah situasi yang bisa menimbulkan konflik di masyarakat. kalo menurutku enaknya gini bis seperti “lakum diinukuum waliyadiin”(maaf kalo salah nulisnya). kalo mereka ada yang merasa benar yo terserah..itu benar menurut mereka.paling itu gak usah mikir2 yang aneh..aneh yang gak perlu kayak gitu. Mo dikotak-kotakkan mo disegitigakan etc. Bukan Jengot man! yang nunjukin iman seseorang, bukan celana yang nunjukin ketaqwaan seseorang, maling berjenggot {maaf:) juga banyak, maling berpeci juga banyak.Jadi orang yang berjenggot yang bener2 ngikutin sunnah rosul boleh dibilang kalah banyak dibandingin jenggot2 anak band etc. menurut gw seh kalo anak berjenggot sekarang bukan nunjukin keimananya ngikutin sunnah rosul tapi sekedar gaya doang, kalo dah gitu najis tralala gw.hiduplah apa adanya sebagaimna kamu hidup, jalani perintah-NYA dan jauhi Larangan-Nya niscaya kamu akan jadi orang yang beruntung, yang penting jadi seorang Manusia itu dapat Memanusiakan manusia dan Menuhankan Tuhan-nya.

    Djizu

    dudusoposopo


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: