FFI, Festifal “Fools” Indonesia

FFI, Festifal “Fools” Indonesia

Keputusan dewan juri Festifal Film Indonesia (FFI) 2006 yang memenangkan film thriller, Ekskul mengundang berbagai polemik tentang keberadaan FFI itu sendiri. FFI 2006 yang dewan jurinya beranggotakan Rima Melati, Noorca M Massardi, WS Rendra, Eddy D Iskandar, Remy Silado, Chaerul Umam, dan Embi C Noer (Suara Pembaruan) harus menghadapi para nominator yang mengembalikan pialanya.

 

Ketidak puasan tersebut dipicu oleh kemenangan film Ekskul yang disinyalir telah menjiplak film asing, terutama pada musik pengiringnya. Tentu saja hal ini perlu dibuktikan dengan pertanyaan “apakah buktinya?” dalam hal nada atau musik, sebuah musik dikatakan menjiplak apabila sedikitnya terdapat delapan bar sama. Kalau tidak memenuhi syarat itu berarti bukan plagiat (suara pembaruan). Apakah sudah dibuktikan?

 

Lebih lanjut, para sineas yang tidak puas dengan hasil FFI 2006 menghendakaki bubarnya FFI. Mereka memandang kinerja FFI tidak begitu signifikan. Lantas, mereka mengembalikan piala yang sudah diperoleh.

 

Bagi saya, dalam sebuah festifal atau dalam lomba, urusan kalah menang itu mutlak hak juri. Makanya, dalam lomba (biasanya cerpen) dicantumkan embel-embel “keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, tidak ada surat menyurat” Artinya, siapapun yang menang atau yang kalah harus menerima itu semua dengan lapang dada. Juri kan tidak hanya satu orang, mereka tentu sudah bekerja keras dan berdebat sana berdeat sini untuk menentukan pemenang dari berbagai dimensi pandangan.

 

Usul untuk membubarkan FFI menurut saya adalah sesutu hal yang “fools”, lha bagaimana kita bisa tahu film mana yang baik dan yang kurang baik. Bolehlah dikatakan bahwa FFI adalah salah satu, bukan satu-satunya, penentu film terbaik setiap tahunnya. Kalau membubarkan FFI ya sama saja dengan sastra tanpa kritikus, atau permainan sepak bola tanapa komentator. Gimana ya jadinya?

 

Biarlah mereka membuang atau menyimpan piala tersebut. Itu hak mereka, seperti halnya dewan juri yang berhak memutuskan menang atau kalah.

 

Lantas, untuk dewan juri saya juga mengharapkan adanya penilaian yang objektif. Bukan maksud saya untuk bersuudzon, tetapi alangkah baiknya kalau dewan juri itu tidak hanya terdiri dari beberapa kalangan seniman saja, tetapi kalau bisa melibatkan banyak aspek seni bahkan kalau perlu diikutkan juga orang yang awam terhadap intrinsic dan ekstrinsik film, tetapi penggemar film.

 

Saran saya, semoga tahun depan ada FFI yang lain, yaitu Festifal “Fools” Indonesia yang juga memberikan sumbangan dari kaca mata lain tentang film, dewan juri, dan sineas di Indonesia. Mungkin, dari tulisan ini pembaca dapat memberikan nominasi kepada siapakah predikat “fools” itu layak diberikan!

Sumber: Ari Wijayanti

 

 

Lubis Grafura

Pecinta film (bukan film indonesia – yang murahan)

www.lubisgrafura.wordpress.com

 

6 Komentar »

  1. djizuti Said:

    according to me kayaknya masih banyak dech film yang lebih baik dari pada film Ekskul.So Jurinya emang “mata” nya pada kemana semua…jelas2 banyak music plagiatornya kok dimenangin(Universal Music dah men somasi), sory pak lubis kali ini saya tidak sependapat dengan sampeyan.perkiraan saya kali ini bukan hanya isu suap yang tahun 2005 lalu digembor2kan oleh si produser ekskul yang menang tahun ini.so….mending jurinya diganti yang lebih kompeten dibidang per-film-an nasional untuk saat ini dan masa yang akan datang +ngikutin perkembangan film luar negeri juga.

    Dari Lubis,
    Yups! pendapatmu nanti bakal kutampung😕

  2. sastra_lohan Said:

    saya sangat menentang coment 1di atas yang terlalu memuaskan hak asasi manusiawi_ne.
    Bener kata Lubis selebih_e.
    Ekskul pantas mendapat FFI, bukane saya bodoh atau cukup pintar tapi dari beberapa nominasi yang masuk 5 besar memang Ekskulah yang benar2 pantas.
    Flash back…..
    alasan_e
    1. Ramond Y Tunka bener2 menjadi diri sendiri alias secara alamiah menjadi sosok Joshua yang luar biasa sehingga mampu menghipnotis semua manusia yang nonot, dia pun terkesan tidak seperti aktor2 lain yang tidak membuat karakter menjadi berlebihan. Dia telah sukses mewakili pelajar di dunia yang mengalami nasib yang sama.
    So, kenapa ga dapet Citra? kalopun Ramond ga mendapatkan apa yang seharusnya dia pegang, masih ada Agus Ringgo yang berperan sbg Bimo “Jomlo” yang adalah pendatang anyar yang punya style caracter lebih pantas menjadi runner up. Lalu seorang Dj Wingki yang beberapa kali memerankan tokoh dalam film Indonesia malah ga masuk nominasi. Eh kok yang menang di bawah ABG “sorry.?”
    2. Penulis skenario-e perlu diacungin jempol. So banyak penemuan2 baru yang menjadi kejutan, shg banyak dari kita yang mengaku nonton Ekskul lebih dari 1001 kali terobati karena selama ini banyak film2 yang memakai kata2 itu2 saja.
    contohnya:
    “obrolan Chatty sm Joshua di teras sekolah”
    Kalo kita begini terus ntar bisa di gosipin pacaran loh. Katanya pendiam kok bisa ngegombal yah. Katanya ngetop kok mau pacaran sama aku yah.
    masih banyak lagi yang membuat inspirasi bagi penulis2 pemula yang katanya awam.
    3. Crita-ne ga pasaran. Kalo masalah musik yang njiblak ato embuh lah itu memang penting tapi bukankah dewan juri yang begitu potensial mau dikatakan ga bisa nilai mana film yang bagus. Juri
    kan lebih pintar dari kita.
    Kalo di bandingkan dengan Heart “film terlaris sepanjang 2006” kita jadi ingat film India “kuch 2 ho ta hai”, hanya saja film ini di buat lebih indah dengan alam yang mempesona. Dan satu ada Nirina Zubir yang membuat film ini jadi di tunggu2.
    4. So Film Ekskul sudah memenuhi 5 syarat sebuah film faforit. Termasuk Penokohan, Tema, Alur, Skenario.
    5. Kalo Ekskul dimaki sana -sini apalagi kesan sineas muda yang tergolong “ngambekan” ga bisa nrima hasil.
    Aku yang cinta film Indonesia, ga relaaaaaaaaaaaa….?
    Ekskul Congratulation. Aku berharap tahun ini ada sequel-nya.

  3. sastra_lohan Said:

    Sorry nambah lagi.
    Masih soal Ekskul.
    Aku kecewa berat sama semua sineas muda, terutama sutradara yang menelurkan film cool macam BROWNIES, Kang Hanung Bramantio.
    Masalahnya kok bentuk protesnya mengembalikan piala Citra. Itu kan do’a dari kita yang rela ngantri bioskop walau tiket sekarang harganya lebih mahal dari nasi ponggol satu bungkus. Mengembalikan Citra berarti tidak menghargai diri sendiri dan manusia yang tidak bisa menghargai diri sendari itu tanda tak mampu.
    Emang ini ide siapa………………..sih?????
    membuat generasi penerus terhambat di tengah sungai melihat sang senior yang selama ini di kagumi film2_me.
    Saran saya, sudahlah? Kita tahu kok kalian yang mengembalikan Citra pernah mendapatkan Citra, ga usah diperkenalkan lagi lah.

  4. sastra_lohan Said:

    About the last Ekskul.
    Sorry ini bukan karena saya membela Film Ekskul, tapi ada beberapa hal yg harus diperhatikan tentang yang lain.
    Jika ada categori lagi dan seandainya saya jadi dewan juri, memutuskan:
    Ekskul sebagai Film Best line “kenapa buah jatuh ke bawah, karena sudah matang”, best Action “saat Joshua menyandera Jerry dkk”, Best cameo “Olga Lidya-reporter-“siapa dia,ga main sinetron lagi”,Best Kiss”Joshua&Chatty-di kamar dengan posisi berhadapan menyamping tidur”,Best Costum”suiter yg di pake Joshua-jadi tren pd saat itu”.
    Thanks.

  5. fani Said:

    saya pikir festival film bukanlah standar baku utk menilai kualitas proses aktualisasi kreatifitas.cara pandang setiap org jg berbeda2 terhadap film.tinggal darimana sudut pandang kita.kalo eskul menang ya biarin aja,toh hal itu tdk menghambat kreatifitas kita.malah justru bisa memacu kita.TERUSLAH BERKARYA,KITA BANGUN BANGSA DNGN KRETIVITS……..thanks.salam buat orang2 yg kreatif di malang,dari jogja

  6. Mang Kohar Said:

    Saya suka nonton film, tapi ketika film Ekskul menang di FFI, harusnya semua pihak, baik itu penonton, sineas dan juga produser, menghargai keputusan dewan juri. Bagiamanapun, film yang bagus untuk seseorang, belum tentu juga bagus untuk orang lain. Semisal, film can’t hardly wait-nya Jeniffer Love Hewitt, saya bilang keren. Sementara pacar saya bilang film itu kacangan. Nah, di sini, perbedaan penilaian seseorang terhadap suatu film, lebih banyak disebabkan karena perbedaab point of view. Beda sisi pandang. Anyway, film yang bagus belum tentu menang. Tapi, film yang menang, kemungkinan besar bagus..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: