Panca Pondasi Bangsa

Panca Pondasi Bangsa

 

Kelima titik tersebut adalah sektor pertanian, perikanan, kebudayaan, dan pendidikan yang berada di masing-masing sudut titik persegi. Sementara itu, sektor pusat adalah agama yang menjadi sentra dari keempat titik tersebut.

Kita adalah negara yang besar, mengingat kita memiliki banyak kepulauan dan perairan yang kaya. Tak berlebihan, jika kita menyebut bahwa tanah air kita adalah tanah air surga. Segala macam kebutuhan banyak tersedia di negara kita. Lantas, bagaimana kita mengolah sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia di dalamnya (SDM)? Itulah pertanyaan kita, sekaligus untuk dibahas dalam tulisan ini.

Belajar dari negara Jerman dan Jepang yang nota bene SDA-nya sangat terbatas, namun mereka mampu untuk menjadi negara yang kuat dan memiliki potensi untuk diperhitungan dalam percaturan politik dunia. Kenapa negara kita tidak bisa? Kita bisa! hanya saja kita masih memulai dan meraba-raba.

Kesimpulannya, kekuatan sebuah negara bukan terletak pada kekayaan SDA-nya, melainkan SDM-nya lah yang menentukan kemajuan negara tersebut. Ibaratnya seorang anak yang diwarisi orang tuanya ilmu akan mampu bertahan dari pada yang diwarisi harta namun tak diwarisi ilmu. Harta bisa habis dalam hitungan menit, begitu pula SDA.

Pertanian dan Perikanan

Negara kita adalah negara agraris. Sangat ironis, apabila kita mengimpor beras dari luar negeri. Dalm hal ini, perlunya pemerintah mengembalikan efisiensi bulog, meningkatkan perannya, mengadakan dialog untuk petani dan bulog. Singkatnya, perlunya bimbingan petani Indonesia, mulai dari hal pembibitan, penanaman, hingga ke pemasaran. Kalau sektor ini berhasil, kita tak perlu impor beras. Justru kita harus mengekspor beras yang tentu saja berkualitas

Nenek moyang kita adalah pelaut, dan kita mewarisi budaya melaut. Sebagian besar negara kita juga meliputi laut. Kekayaan bahari kita tolong ditingkatkan. Sebenarnya untuk sektor pertanian dan perikanan atau dalam konteks ini uga meliputi peternakan, kesulitan rakyat kita bukan masalah pengucuran dana dari pusat saja. Hasilnya akan nihil kalau pemerintah hanya memberikan dana, tanpa ada bimbingan. Jadi yang dibutuhkan rakyat kita adalah: (1) lembaga bimbingan, pengaduan, atau penyuluhan yang tersedia di berbagai kecamatan, (2) proses peminjaman dana / subsidi dana / peminjaman modal ringan bunga, (3) agen distribusi hasil.

Pemerintah tidak bisa memihak/ melakukan kebijakan dari salah satu kebutuhan tersebut. Pemerintah harus melakukan ketiga-tiganya: ya menyuluh, ya mensubsidi, ya mendistribusi. Itulah yang harus dilakukan.

Kebudayaan dan Pendidikan

Kaya SDA, kita juga kaya budaya. Pemerintah juga perlu memberikan penyuluhan atau “mewajibkan” di setiap daerah untuk membangun sanggar budaya di negara ini. Melestarikan budaya adalah hal penting. Tujuannya jelas, yaitu melestarikan budaya dan menarik wisata domestic ataupun mancanegara. Lantas, siswa-siswi SD sampai dengan SMA perlu diadakan pembelajaran di luar kelas mengnal budayanya. Baik budaya lokal maupun budaya nasional. Bukankah budaya kita juga mengajarkan moral yang baik?

Sebenarnya kekolotan dan tradisi-tradisi yang kurang baik di negara kita dapat diselesaikan dengan jalur pendidikan. Bukankah pendidikan itu diupayakan untuk memperhalus budi pekerti manusia? Daerah-daerah pelosok perlu diadakan pembangunan. Peran otoda adalah untuk membangun negara kita dari akar-akarnya. Artinya pemerintah daerah diberi kebebasan untuk mengatur anggarannya sendiri. Termasuk di dalamnya adalah mengatur pendidikan. Memberikan pendidikan kepada desa atau daerah yang masih terbelakang. Karena satu orang, menurut saya, akan memiliki potensi yang bagus dan cerdas kalau mereka memiliki dasar pendidikan yang bagus.

Titik Sentra: Agama

Sebagian besar negara ini adalah muslim. Perlunya tokoh-tokoh atau pemuka agama untuk saling bekerja sama. Memberikan pencerahan “kedamaian” kepada umatnya masing-masing. Titik ini juga memberikan pusat dari keempat titik lainnya. Kalau titik ini tidak kuat, orang yang lain bisa melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Perlunya diadakan dialog antaragama yang disiarkan di tv atau radio, atau mungkin kerja bakti bersama antarumat bergama yang didasari tanpa saling menginterferensi.

Ari Wijayanti

Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: