13 Februari 2007: Selamat Ulang Tahun Adik Ari

Wijayanti : Lentera

Jikalau malam tlah kau terjemahkan

menjadi kedalaman hati seorang lelaki

akan kaukah yang menjadi kerebat secuil nyala

di dalam lentera, yang siapa telah menggantungnya

di antara tembok dan palung hati, aku lelaki.

Bengkel Imaji Malang, Februari 2007

 

Entah, bagaimana kulukiskan rasa bahagiaku yang terbungkus lewat ucapan terima kasihku padamu. Saat ini, ada detak keras saat menuliskan kalimat-kalimat ini. Detak yang terus mengingatkan pada saat pertama kali bertemu. Lewat sebuah kebetulan dan berujung pada kerinduan.

 

Jujur, dahulu kupikir Wulan adalah pelabuhanku yang terakhir. Mungkin juga dirimu bersama dengan Andris Setyawan dahulu. Tapi, kita punya masa lalu. Masa lalu adalah sejarah, sejarah adalah bagian dari hidup kita. Kita tak perlu malu mengakui masa lalu pun menyembunyikan dari hari-hari kita. Bukankah kita telah bersepakat untuk menelusuri masa lalu bersama-sama dan mewarnai hari depan bersama?

 

Terkadang jika aku lagi marah dengan sampean, aku sering mengingat-ingat masa lalu. Masa awal kuliah. Kita berjalan menelusuri jalanan di daerah Amabarawa Bawah menuju ke kampus paling ujung timur. Ada tempat-tempat tertentu yang tak bisa luput dari alfaku. Bahkan daun yang meluruh saat itu pun sempat berujar bahagia, sebelum dirinya jatuh ke tanah.

 

Mulanya ada keraguan yang mendalam bahwa aku bisa mengalahkan Andris. Tapi, jangan sebut aku Lubis kalau akau tak bisa mendapatkanmu. Itulah instingku sebagai lelaki atau kalau boleh meminjam perkataan Duta Sheila yang menyebutnya “pejantan” dan aku bangga untuk bersaing mendapatkanmu.

 

Ceritamu tentang masa lalumu itu ternyata mendesirkan darahku, mempercepat detak jantungku, tarikan nafasku, bahkan jika kau tahu, darahku mendidih di ubun-ubun ketika kau ceritakan kepadaku tentang sikap Andris yang mengikat. Aku hanya tersenyum kecut ketika kau bercerita tentang “perempuan” yang tak memiliki batas untuk bergerak, untuk menghadirkan dirinya sebagai perempuan. Sementara, perempuan itu adalah dirimu.

 

Lambat laut, sel-sel dalam otakku melaju. Meruncingkan gagasan dalam otakku untuk mendedikasikan hidupku untuk menulis dan memperjuangkan hak-hak perempuan yang mustinya mereka dapat. Adik masih ingat kan ketika aku menulis cerpen dan tak satupun media pernah memuatnya, hingga aku menuliskan Matahari dalam perut Ibui yang menjadi juara III lomba di Unibra? Selanjutnya Aku Cantik, Perempuan di Larang Menangis, dan Lilin yang tak Pernah Padam yang mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olah Raga Tahun 2005 lalu? Semuanya terinspirasi dari sampean. Hingga sampai ratusan cerpenku tercipta, sampeanlah dasar dari semua ini.

 

Lantas, siapa yang memperkenalkanku pada Primagama? Menjadikan aku menjadi seperti ini adalah tak ubahnya dari usaha sampean. Betapa sampena setia menengarkan cerita-ceritaku, konsep-konsepku, gelishku, marahku, benciku, bahagiaku, semua tercampur dan sampean mendengarkan begitu setia. Tak pernah menyela sebelum aku berhenti bicara. Begitulah perempuan itu seharusnya.

 

Adik, aku tahu sampean juga punya keresahan tersendiri mengenai hubungan kita. Soal orang tuaku. Aku tak pernah tahu masa depan itu seperti apa. Apakah kita akan bersama tau tidak. Seperti kulukiskan:

Hari esok,

yang ada hanya tak kepastian

seperti dirimu yang berdiri memandang

sketsa pada lukisan buram

Tapi apakah setiap orang tidak bisa bermimpi, berharap? Dalam sejarah hidupku apa yang kuinginkan semuanya terwujud, hanya berbekal mimpi dan harapan, tentu saja tak luput dari doa dan usaha. Aku bisa seperti sekarang ini, pun aku bermimi dan berharap.

 

Kalaupun samapena hendak meninggalkan aku karena kekecewaan ini, aku terima itu. Tetapi, sebelum sampean memutuskan, tanyakan hati sampean. Apakah sampean percaya pada harapan?

 

Mungkin aku tak bisa memberikan lebih apa yang sudah diberikan Andris selama hidup sampean. Cerpenku Lilin yang tak Pernah Padam adalah wujud keputusasaanku yang dalam. Namun, jiwaku sebagai lelaki tak akan pernah menyerah walau tubuh berkalang tanah dan bersimbah darah. Semoga hiperbolaku tak melebihi apa yang kruasa. Tetapi memang itu yang kurasakan.

 

Mari kita jalani semua ini. Kerjakan skripsi, berusahalah dengan giat. Kita pasti bisa, kalau kita sama-sama percaya. Ada banyak sejarah yang sudah kita goreskan pada hari-hari yang lalu. Aku merasa samapean adalah rumahku. Sampean adalah kepulanganku. Aku tak tahu apa rencana Tuhan di balik ini semua. Sekali lagi, aku hanya percaya kepada harap, harapan!

 

Kalau boleh berhayal, aku ingin sekali menerobos waktu dan memilih ruang di saat aku memandang sampean dua hari setelah aku menyatakan rasaku nang sampean. Betapa teduh di dalam kelas. Kita sama-sama menatap. Tapi kini, kita tersadar pada ruang kosong kenyataan. Kita harus berusaha. Mengejar ketertinggalan. Seberapapun perih nanti, atau saat ini kita harus melewati dan menyakini segalanya adalah yang terbaik. Bahkan apa yang pernah ditulis Chairil bisa menyakinkan kita bahwa segala kepediahan itu akan berlalu dengan sendirinya, karena hidup itu mengalir:

Luka dan bisa ku bawa berlari

Berlari…

Hingga hilang pedih perih

(Aku – Chairil Anwar)

Atau yang pernah dikatakan Jack kepada Rose dalam Titanic sebelum beku merenggut jiwanya Kau harus berjanji, apapun yang terjadi kau musti hidup…

 

Pada persimpangan apapun, kalau bisa kita musti tetap terbuka dik. Ibu di Warung Ungu sering menanyakan sampean, dan mengatakan kepadaku bawha aku adalah lelaki yang paling beruntung karena mendapatkan sampena. Perempuan seperti sampean. Akupun berharap demikian.

 

Hari ini adalah ulang tahun sampean, aku tak bisa memberi apa-apa untuk mebahagiakan sampean. Mungkin secarik puisi ini bisa mewujudkan rasa cintaku kepada sampean:

Wijayanti: Ruas Usia

Tumbuhlah seruas batang usaiamu

pada empat ribu tiga ratus dua puluh hari yang lalu

malaikat telah membuat sketsa wajahmu

yang kini hadir dalam lukisan syairku.

Bengkel Imaji Malang, Februari 2007

 

Dik, harapanku semoga sampean bisa lebih dewasa. Apa yang sampaikan harapkan menjadi kenyataan. Mari, ulurkan tangan. Satukan ruas jemari kita. Melangkah pada jalan yang sama. Biarkan aku di depanmu ketika harus melewati samudra es, ikuti jejak langkahku. Tetapkan hatimu. Perlu sampean tahu, bahwa cinta sejati itu bukan kepadaku tetapu lebih kepada siapa yang menciptakankita. Ke sanalah kita akan kembali kepada yang lebih mencitai kita. Mari, kita banyak-banyak memohon ampun, berdoa. Aku hanya berharap jalanku menuju cinta ku kepada Allah adalah cintaku kepada sampean.

 

Setelah baca ini, kerjakan skrispi ya? Semoga cepet selesai, trus bekerja, kita bahagiakan orang tua kita. Sat itulah, ketika pintu rumahmu terketuk, aku datang untuk menjemputmu…bersiaplah!

 

 

I LOVE U, Met ulang tahun yang ke-23 ya!!!!

 

 

Lubis Grafura

Moderator www.lubisgrafura.wordpress.com

 

3 Komentar »

  1. djizu Said:

    Cieeeeeehhhh……(you are the man !!!biz)(dalem bangett neh)

    Met Ultah juga buat Saudari Ari W yang ke 23 semoga cepet nikah ma Om Lubis(kalo nikah tak usahakan datang(tak mencoba berjanji pada kalian berdua))

    long time no see man….
    sik tak kuliah ndisik biz dosene Ayu biz dino iki, opo sing diomongke dadi nyantol kabeh(hehehehehheh)

  2. Riri Said:

    Wahhh..dlem bge iia cerpennya..

  3. kecebonganyut Said:

    kamseupay banget tu cerpennya…………………..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: