SONG OF THE DAY MIMPI BY ANGGUN

SONG OF THE DAY MIMPI BY ANGGUN

 

Betapa lagunya Anggun C. Sasmi sudah banyak menemani diriku saat mengerjakan skripsi. Mbak Anggun baca blog ini nggak ya? Aku pengagum lagu Tua-tua Keladi dan Takut. Banyak kenangan yang sudah diwarnai oleh kedua lagu tersebut. Apalagi lagu mimpi ini. Izinkan saya menulisnya di blog ini!

 

Ketika bapak saya masih hidup dan saya masih SD, saya sangat suka sekali dengan musik. Bapak tidak segan-segan membelikan saya kaset. Kalau dihitung-hitung sudah berapa ratus keping kaset berada di lemari. Saya masih ingat betapa ibu akan memarahi diriku jika membeli kaset.

 

Lagu inilah yang punya sejarah seperti itu, saya menangis gara-gara minta uang untuk beli lagunya Anggun C Sasmi berjudul Tua-tua Keladi. Saat itu, kalau nggak salah, saya dibelikan yang kumpulan lagu, bukan album Anggun. Di dalamnya ada Farid Harja. Sampulnya warna hitam ada gambar Anggun mengenakan baret atau topi semacam itu berwarna merah (ujungnya). Sayang, ibu tidak memberi izin untuk beli kaset itu. Aku ngambek “demontrasi” mogok makan nasi (tapi kalau jajan enggak!)

 

Sesamudra air mata, ibuku tetap seperti seorang tiran yang tak peduli. Malah semakin marah. Namun, esok paginya aku melihat sesuatu menyembul di saku dada bapak. Saya yakin itu bukan bungkus rokok. Ayahku memberi tebakan “apakah ini?” saya yakin 100% itu adalah kaset. Dan itulah kaset Anggun berjudul Tua-tua Keladi.

 

Kebahagiaanku terhenti keesokan harinya. Aku keliru memutarnya. Lagu Anggun terhapus gara-gara aku menekan tombol REC pada kaset kesayanganku itu. Lagi-lagi ibuku marah. “Kaset mahal-mahal dirusak!” aku masih ingat kata-katanya seperti itu. Seolah ikut mengalir dalam nada lagu mimpi.

 

Keesokan harinya pula kesedihanku berakhir. Bapak datang memberiku kaset baru yang sama. Ia pun berkata “segala sesuatu tak akan kembali dengan hanya menangisinya” kalimat itu tak pernah aku dengar lagi sampai bapak menghembuskan nafasnya yang terakhir tahun 1996.

 

Selamat jalan bapak, kalaupun aku tak bisa lagi melihatmu, tapi dengan lagu ini aku merasa waktu kembali ke masa saat aku berjalan berdua bersamamu pada malam hari. Kau menggandengku, lalu aku bertanya tentang bayanganmu yang lebih panjang dariku. Dan aku bertanya kenapa kakiku tak bisa menyentuh bayangan kepalaku.

 

Tak ada nomor telepon untuk menghungimu atau sekedar mengirimkan SMS, tak ada alamat untuk kutuliskan surat, dan aku tak tahu dimana sekarang bapak berada. Aku tak yakin apakah doaku sampai kepadanya. Aku hanya berharap bahwa blog ini yang berada di awang-awang langit sampai ke hadapan bapak di bawa gelombang alam yang entah berada dimana.

 

Aku tak tahu apakah jika suatu kali ada suara ketukan pintu dan saat kubuka pintu adalah bapak berada di luarnya tersenyum sambil menyembunyikan sesuatu di saku dadanya. Aku berharap bahwa suatu saat itu nyata. Walau itu tak mungkin terjadi. Biarlah aku berharap biarlah orang lain menganggapku orang yang tak bisa menerima kenyataan.

 

Setiap hari aku selalu berlari jika ada suara ketukan pintu dari luar rumah, karena dulu bapak selalu mengetuk pintu dan berpura-pura menjadi tamu, saat kubuka pintu itu ternyata adalah bapak.

 

Aku tak tahu apakah bapak akan bangga melihatku jika suatau saat ia kembali dan mengetuk daun pintu. Melihat diriku yang seperti sekarang ini. Melihatku menjadi orang yang penuh dosa.

 

Jika alam berbaik hati kepadaku, ingin sekali aku masuk celah-celah gelombang dan kurunut lagi ribuan suara yang terjebak dalam dimensi ruang-waktu-alam-gelombang. Ingin kucari kata-kata bapak diantara tirliunan suara. Aku yakin aku bisa menemukannya. Biarkan aku menyimpannya, walau suara bapak hanya dua frase.

Kepada kenangan, ingin sekali kau pinjamkan masa lalumu kepadaku walau itu hanya beberapa detik saja. Walau aku tak bisa membawanya pulang, aku rela hanya melihat slide-slide gambar masa lalumu.

 

Kepada udara, ikhlaskah kau meminjami aku bau keringat bapak saat aku bersama beliau mengayuh sepeda lalu berhenti di sebuah warung di pinggir sawah. Bapak membiarkan aku memilih segala makanan yang aku suka. “bungkuskan untuk ibu” katanya setelah aku merasa kenyang dan tak ingin lagi makan.

 

Kepada angin, kisah yang kau bawa akankah kau perlihatkan lagi kepadaku. Sebuah kisah tentang seorang anak yang melempar kailnya di samping seorang lelaki pendek-gemuk-hitam. Lantas lelaki itu tersenyum melihat anaknya optimis akan apa yang akan didapatkannya. Dan lelaki itu terus tetap memberi semangat kepada anaknya, ketika anak lelaki itu tak berhasil mendapatkan ikan di kailnya?

 

Kepada tanah, apakah kau masih menyimpan warna darahku yang menetes saat aku melepaskan busur panah yang batangnya terbuat dari seng dan melukai kulit di bawah ibu jariku sebelah kiri? Bapaklah yang saat itu mengajari aku berhenti menangis dan segera mengobatinya.

 

Kepada laut, masihkah kau mengingat tentang kisah seorang anak lelaki yang takut melihat air laut saat kapal berlayar. Masihkah kau ingat, siapa yang mengajari anak lelaki itu untuk tidak takut menatap sesuatu yang belum terjadi. Masihkah kau ingat wajah lelaki itu?

 

Demi alam dan seluruh isinya, kumohon izinkan aku meminjam sedikit kenangan yang dulu pernah kulukis dengan bapak di selembar kertas bernama waktu – masa lalu. Tapi saat aku menangis, hanya ada nisan berukhir nama bapak yang terdiam. Air mata tetap akan membuat alam enggan meminjamkan kenangan ini. Bagaimanapun, aku harus melanjutkan hidup!

 

Mimpi

 

Dalam hitam gelap malam kuberdiri melawan sepi

Di sini di pantai ini telah terkubur sejuta kenangan

Dihepas keras gelombang dan ditimbun batu karang

Yang takmungkin dapat terulang

 

Wajah putih pucat pasi tergoires luka di ahti

Matamu membuka kisah kasih aslanar yang telah ternida

Ghaspkan semua hayalan enyahkan satu harapan kemana lagi harus mencari

 

Kau sadadrkan sejenak benan diri kau taburkan benih kasih hanyalah emosi

Melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi terlelapdalam lautan emosi

Setelah aku sadar diri kau telah jauh pergi

Tinggalkan mimpi yang tiada bertepi

 

Kini khanyal rasa rindu merasuk di dada

Serasa sumpah melayang opergu memabawa arus pergi kemarau

3 Komentar »

  1. djizu Said:

    Sekali lagi aku tertipu oleh uang…!!!!

  2. Agiel Pamunkaz Said:

    ohhh begitu sedih ceritanya tapi bener2 bikin orang simpati..

  3. Norman Said:

    haiii……, boleh minta lagunya anggun yg judulnya mimpi donk……
    soalnya aq sk banget sm lagu itu, please ya friend….
    kirim ke email aq ya….
    thanks a lot ya…..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: