Fenomena Tukul

Fenomena Tukul


Kita kembali ke lap…top!

Disetiap pembicaraan baik di kantor, di kafe atau warung, di kampus, sekolah, bahkan anak TK pun sudah biasa mengucapkan kalimat tersebut. Bicara tentang Tukul, tak bisa kita lepaskan dari peran televisi. Peran televisi ibarat istilah klise, yaitu bagai pisau. Artinya, televisi dapat berperan positif dan sebaliknya.

             Apabila kita kembalikan ke peran dasar televisi adalah sebagai media pendidikan. Kalau seluruh televisi di Indonesia bersedia menyiarkan acara-acara yang bertendensi ke pendidikan, tentu moral bangsa ini dapat ditata mulai dari sini. Para programer televisi selalu mengelak dan berlindung di balik alasan “seni” kalau acara mereka dianggap jauh dari nilai-nilai moral.

            Televisi swasta yang selalu mengejar reting iklan telah menghasilkan acara televisi yang “sembrono”. Asal jadi. Sebagai contoh di sini adalah sinetron yang berkepanjangan dan tak berkesudahan. Hampir selalu dipastikan sinetron di Indonesia selalu berkutat pada perebutan harta, perselingkuhan, pengkhianatan, dsb. Begitu pula dengan sinetron-sinetron yang berbumbu “edukasi basis Islami”. Kalau memang diniatkan sebagai sinetron “eduksi basis Islami” kenapa musti ada adegan pemerkosaan atau menonjolkan sensualitas.

Kita kembali ke lap…top!

            Boleh dibilang Tukul adalah pelawak yang sedang naik daun tahun ini. Kepandaiannya dalam mengemas acara menjadikannya sesosok pelawak yang cerdas. Cerdas dalam hal ini berarti ketika dirinya cukup pintar memberikan umpan balik kepada lawan. Kalau Tukul kalah dalam berargumen, ia sering menganekdotkan diri sendiri sambil berkata “Puas? Puas?”. Kembali para penonton tertawa.

            Tak jarang Tukul menertawakan diri sendiri, sebagai eksploitasi kelucuan. Mulut, bentuk bibir, raut muka, apapun ekspresinya selalu membuat para penonton mengakak. Kelebihan ini justru menjadi bumerang bagi esensi program Empat Mata.

            Betapa tidak, topik yang diangkat menjadi buram. Pesan yang hendak tersampaikan justru kabur oleh lawakan. Tak jarang pula, para “bintang tamu” menjadi kikuk di depan Tukul. Apalagi hampir setiap pertanyaan tak dapat dijawab secara tuntas. Lantaran Tukul sudah menebak jawabannya lewat ekspresi yang mengocok perut para penonton.

Kembali ke lap…top!

            Tukul, yang konon, honornya mencapai 20 juta setiap kali tayang adalah sosok yang sederhana. Kesederhanaan inilah yang musti ditunjukkan kepada publik sebagai media edukasi. Hal ini membawa kembali ke peran televisi. Harusnya, para selebritis yang menjadi “panutan” pemirsa televisi tidak “mendidik” mengenai keglamouran, hidup boros, dan bersemangat ketika membicarakan produk luar negeri.

            Tukul adalah sosok selebritis yang musti ditiru kelebihannya. Pandai membawa suasana, murah senyum, dan hidup sederhana. Nilai-nilai itulah yang mustinya kita tiru dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya Tukul lebih menonjolkan kelebihannya ini daripada sekedar guyonan yang sepintas lalu.

            Empat Mata sudah menjadi totonan “wajib” bagi ribuan mata di Indonesia. Mungkin, selanjutnya, televisi swasta yang lain juga akan mengikuti ketenaran acara ini. Konsep yang sama dengan pengemasan yang berbeda barang kali. Seperti halnya dulu, dapat kita amati maraknya berita kriminal yang akhirnya hampir setiap stasiun televisi swasta menyiarkannya. Lantas, selanjutnya diikuti, cerita misteri, sinetron misteri, reality show, hingga saat ini sinetron yang bernuansa Islami. Kesemuanya itu adalah tayangan acara yang memiliki rating tinggi.

            Televisi seharusnya mengimbanginya dengan acara-acara pendidikan yang bermutu selain mengejar rating. Sebagai contoh di beberapa stasiun tv swasta ada yang menayangkan keindahan bahari, kekayaan alam nusantara, dsb. Acara-acara semacam ini patut untuk dirintis sebagai pemersatu bangsa dan mewujudkan rasa nasionalisme.

            Nah, mungkin Tukul dapat mengawali perannya sebagai pelawak yang selain bisa menghibur juga bisa mendidik. Mungkin pula, Tukul nanti akan mengundang para “bintang tamu” dari seantero nusantara untuk menasionalismekan persatuan bangsa. Hal tersebut untuk mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia adalah Sabang dari Merauke (dikurangi Timor-Timor dan dua pulau yang direbut Malaysia). Itulah peran Tukul yang diharapkan bangsa, daripada hanya sekedar mempopulerkan frase “kembali ke lap…top!”

Lubis Grafura

Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Pengamat Sastra di Bengkel Imaji Malang

Iklan

11 Komentar »

  1. Mochamad Rusli Said:

    ternyata pak lubis bahasannya lebih menyeluruh , mendetail salut saya ingin belajar menulis cerpen , puisi bagaimana caranya gimana triknya
    ada gak makalah tentang itu mohon bantuannya minta dikirim email saya atau lewat pos, alamat saya SMA Bina Insani Jl. K.H. Sholeh Iskandar kec. Tanah Sareal Bogor Makasih atas bantuannya

  2. junthit Said:

    Bisa aja nih blog cari topik,tapi bagus,enak ngupasnya..

  3. Paijo Said:

    Bagaimana pendapat bung Lubis mengenai acara News Dot Com yang notabene juga bermuatan pendidikan politik. Terimakasih dan salam eksperimen.

    Dear Paijo,
    Ya, nanti akan saya kupas. Terima kasih sudah me-link blog saya ya.

  4. Hasan Said:

    Four Eyes (baca: Empat Mata) dan Tukul sudah jadi sesuatu yang tak bisa dipisahkan, pinjem kata2nya Kang Abik, seperti dua sisi uang logam…
    Acara Empat Mata sudah jadi tontonan wajib saya dan teman2 satu kost, dari situlah kami sekost yang awalnya jarang kumpul bareng2 karena kesibukan masing2 jadi bisa meluangkan waktu walau hanya 1 jam untuk duduk bersama, tertawa bareng…
    Ragam bahasa, ndeso, katrok, kutu kupret, ndeso, underestimate, dan puas-puas-puas, sudah jadi kosa kata temen2 kampus, itulah Tukul

  5. eeta Said:

    kata-kata tukul memang menjadi trend center saat ini, makanya tak heran jika org2 sering mengikuti kata2 yg ada di empat mata, semoga saja empat mata bukan hanya laku oleh jenaka tukul melainkan agar kita bisa mendapatkan informasi2 dan komentar selebriti tentang suatu permasalahan yg lebih berbobot lagi agar Four Eyes (empat mata)tidak jenuh ditonton.

  6. Nu_n1k Said:

    Silent Please…
    Banyak orang pintar dan berpendidikan tinggi bilang bahwa apa yg disampaikan tukul sama dengan pembododahan…meng-eksploitasi kejelekan untuk di tertawakan orang…..dll….
    Kalo saya kok gak sampai ke situ ya…bagi saya itu acara menghibur…walaupun kadang juga berlebihan….
    kalo soal dampak guyonan dan kata2 di Empat Mata yg mungkin merugikan…masih banyak acara-acara lain yg lebih merugikan mempengaruhi budaya bangsa….
    lihat acara acara Fear Factor…yg perserta wanitanya selalu berbikini ria san dengan santainya berpelukan/berciuman…apa itu justru yg seharusnya di cek ulang…layak enggak untuk di tayangkan di Indonesi….Halal enggak…..
    Hidup tukul…yang sudah bikih rakyat miskin bisa ketawa….jugaorang ndeso seperti kami…..

  7. zhanzhe Said:

    Harusnya Empat Mata ganti judul jadi “Gelap Mata” (produsernya), masa seminggu 5x…. sampe bosen gw.

  8. Elha Said:

    Empat Mata lucu koooqqq. Kadang jayusnya yang gak berisi, tapi justru orang Indonesia tuh sukanya sama hal-hal yang berisi kekosongan!! jadi, thx berat bwt “Empad_maTa”… ^^_^^ salam manis bwt MaZ TuKul yg selalu ada di do’a Kuw moga2 makin mirip sama yg itu..tuuh…

  9. novinsky Said:

    hai lubis… aku dah baca beberapa tulisanmu… menarik… sangat menarik… sepertinya kapan-kapan kt harus berdiskusi… aku sekarang ngajar di komunikasi unmuh n banyak terlibat di media watch.. kapan2 kita diskusi tentang media, culture, language, social, religion etc lah… sukses bro.. pren SMU

  10. david Said:

    yang jelas apakah anda dapat memberikan komentar tentang dampak negatif dari tayangan tukul ersebut, sehingga kita dapat mengolah hal yang dirasa baik dan membuang jauh-jauh hal yang tidak pantas untuk ditiru. erimakasih.

  11. epha Said:

    lucuuuuuuu tauck, tukul tu nglawaknya ga perlu mikir, langsung celoz tai megang bwanget…………………………….


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: