Budaya Laptop

JAUH sebelum laptop dipopulerkan oleh Tukul, budaya laptop dalam berbagai acara di televisi sudah sering ditemui. Baik acara hiburan seperti gosip, bicang-bincang, reality show, dsb hingga acara informasi seperti berita. Penggunaan laptop dalam berbagai acara televisi tersebut terkadang tidak memiliki fungsi yang jelas. Selebihnya, hanya berupa prestise saja.

            Tidak mengherankan kalau budaya laptop di negara kita masih sebatas prestise. Hal ini sangat tampak dalam berbagai acara di televisi yang menyuguhkan laptop di meja pembawa acara. Ironisnya, laptop tersebut sama sekali tidak difungsikan. Lantas timbul pertanyaan, untuk apakah fungsi laptop bagi pembawa acara tersebut? Kalaupun untuk memandu acara sepertinya kurang begitu tampak. Barangkali di sinilah bahwa budaya laptop di negara kita masih berupa prestise semata.

            Keberadaan laptop sangat menunjang hadirnya teknologi internet nirkabel, yang sering kita sebut dengan hot spot. Pengguna internet tidak perlu lagi repot-repot menggunakan kabel untuk melakukan aktivasi internet. Dimanapun mereka dapat melakukan aktivasi, asalkan terdapat layanan hot spot dan memiliki wireless.

            Wireless yang kini sudah diterapkan dalam laptop memungkinkan orang untuk memiliki teknologi ini setelah handphone (HP). Kebutuhan akan teknologi komputer dewasa ini sudah tidak dapat kita pandang sebelah mata lagi. Hal ini tampak ketika setiap instansi atau perusahaan selalu menggunakan komputerisasi untuk transaksi informasi atau pendokumentasian data.

            Kebutuhan akan laptop inilah yang akhirnya menetaskan ide pejabat pemerintah kita untuk menginventarisasikan laptop. Jumlah yang dianggarkan satu laptop adalah seharga dua puluh satu juta rupiah. Tentu saja banyak polemik yang dapat ditarik dari wacana ini. Namun, kita harus melihat sisi lain dari fenomena yang menjadi isu di negara kita ini.

            Secara positif, ide inventarisasi laptop tersebut sangatlah menunjang kinerja para pejabat kita. Artinya, keberadaan laptop telah memberikan satu sumbangan untuk peningkatan sumber daya manusia di negara kita. Dengan adanya laptop, para pejabat di negara kita dapat melakukan akses informasi yang cepat dengan internet. Perlu juga ditambahkan perlunya kursus beberapa bahasa untuk pejabat kita agar dapat mengikuti perkembangan berbagai ragam informasi yang sedang terjadi. Di sisi lain, jumlah yang dianggarkan untuk inventarisasi laptop itu jauh lebih tinggi. Tentu saja ini membuat beberapa kalangan merasa ada ketimpangan.

            Terlepas dari kedua spekulasi di atas, perlunya juga pemerintah mempertimbangkan pendidikan untuk masyarakat. Pendidikan ini dimaksudkan agar sumber daya manusia masyarakat Indonesia secara luas dapat dibangun. Konkritnya, perlunya pengadaan komputerisasi dan internetisasi di setiap daerah. Selain masyarakat Indonesia dapat menikmati fasilitas ini, masyarakat Indonesia diharapkan nantinya dapat lebih terdidik dan tidak tertinggal dari negara-negara lainnya.

            Akan sangat lebih optimal lagi apabila setiap daerah membuat sebuah situs untuk daerahnya masing-masing. Tentu saja akan sangat banyak manfaat yang diperoleh. Daerah tersebut dapat menampilkan berbagai macam kekayaan alam, budaya, dan sebagai sarana pengenalan daerah kepada dunia secara luas. Dengan adanya internetisasi di masing-masing daerah akan mendidik masyarakat kita menjadi masyarakat yang kritis. Selanjutnya, dengan adanya pertukaran informasi melalui internet, diharapkan dapat menumbuhkan semangat nasionalisme antarsuku, agama, ras di negara kita.

            Kita kembali ke laptop! Kini banyak kita jumpai di beberapa tempat umum di kota-kota. Kehadiran laptop bukan lagi hal yang asing bagi kita. Bukan lagi sesuatu yang musti kita beri nilai prestise, melainkan sebagai pentingnya akan kebutuhan informasi. Kehadiran teknologi di negara kita diharapkan dapat membawa faedah yang siginifikan daripada sekedar budaya ikut-ikutan atau tren semata.

            Kehadiran laptop, sekali lagi, hanyalah sebagai wadah pertukaran informasi. Semakin tinggi akan kebutuhan informasi sekaligus menjadi penanda kemajuan sebuah zaman. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan juga ketika kita pernah mendengar sebuah slogan future is here. Dan memang, modern itu terjadi hari ini.

 

Lubis Grafura

Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM)

Mengelola situs sastra, pendidikan, dan humaniora

di www.lubisgrafura.wordpress.com

 

2 Komentar »

  1. Thinz Said:

    Aq setuju ma km, tapi, apa kamu yakin anggota DPR tuh bisa ngoprasi’in laptop, kan kerja mereka cuma 3D, datang,duduk,dengar,selebihnya cuma ngabisin anggaran negara cuma untuk kegiatan2 yang kagak jelas maksudx,pesan q,jgn terlalu ngedukung DPR,karena manusia macem mereka ga’ perlu dikasih simpati,coz yg mereka perjuangkan sebenernya cuma perut mereka sendiri,MEREKA DAH GA’ PUNYA HATI NURANI LAGI!!!!

  2. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: