Menggairahkan Menulis dalam kehidupan

Menggairahkan Menulis dalam kehidupan

Oleh: Bagus Setya Mahardhika.

Dalam dunia pendidikan kita sering melihat bahwa tidak semua siswa pandai untuk menulis. Baik itu karangan fiksi maupun non fiksi. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi kita semua. Ini dimungkinkan karena mereka menganggap kemampuan menulis tidak begitu “berharga” dalam kehidupan nyata. Atau arti kasarnya, mereka tidak bisa dapat uang dari menulis. Sehingga dengan anggapan seperti itu tuntutan untuk memperdalam kemampuan itu hanya sebatas memenuhi nilai akademis saja. 

Pada dasarnya, apabila kita melihat lebih jauh, kemahiran dalam menulis sangat diperlukan dalam kehidupan nyata. Misalnya untuk menulis surat, menulis iklan, mengekspreikan diri dalam bentuk puisi, lirik lagu atau menulis surat lamaran kerja. Selain itu masih banyak aktivitas dalam kehidupan nyata  yang mengharuskan kita untuk menguasai kemampuan menulis. Tentunya kita semua ingin, seluruh masyarakat menyadari bahwa kemampuan tersebut tidak hanya diperlukan di bangku sekolah.

Menulis dalam kurikulum

Sebenarnya pemerintah (dinas pendidikan) sudah menyadari betul tentang hal ini. Ini dibuktikan dengan adanya perubahan kurikulum yang terus dilakukan untuk mencapai kesempurnaan. Tetapi dibalik itu semua kita tentunya bertanya-tanya, bagaimana kurikulum yang sempurna? Seperti yang kita lihat, pada tahun 2004 telah diluncurkannya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan memasuki tahun 2007 dinas pendidikan telah “melounching” lagi sebuah kurikulum bernama KTSP (Kurikulum ). Dengan adanya perubahan-perubahan ini membuktikan bahwa kita negara kita ini “bingung” kurikulum apa yang harus diterapkan.

Sebagai warga negara yang baik, kita seharusnya berterimakasih dengan adanya perubahan yang menuju perbaikan. Kurikulum yang telah dipersiapkan pemerintah tentunya telah melalui uji coba yang sangat ketat. Oleh karena itu kita harus memanfaatkan sebaik mungkin hasil perubahan itu dengan jalan mengaplikasikannya di sekolah dengan sungguh-sungguh.

Kembali pada menulis, dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) bahasa dan sastra Indonesia, kemampuan menulis juga mendapat “kapling” yang cukup banyak dibanding kompetensi yang lain. Kompetensi menulis terbagi menjadi menulis dalam aspek kebahasaan dan menulis karya sastra. Seperti kompetensi menulis paragraf, menulis pidato (aspek bahasa). Sedangkan pada aspek menulis karya sastra contohnya menulis kreatif puisi, menulis cerpen, menulis drama. Hal ini juga kita lihat pada kurikulum terbaru kita yaitu KTSP. Namun ada perbedaan yang terdapat pada KBK dan KTSP. Perbedaan yang mendasar adalah pada indikatornya. Pada KTSP indikator harus dibuat sendiri oleh guru. Sedangkan pada KBK indikator telah ditetapkan sebelumnya tetapi guru boleh menambahkan indikator tersebut. Pada intinya, dua kurikulum tersebut menginginkan guru lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil pembelajaran.

Meningkatkan Kemampuan Menulis

Dalam meningkatkan kemampuan menulis diperlukan sebuah semangat yang tinggi, displin, tidak pernah mengenal menyerah terus mencoba-dan mencoba. Pada umumnya, seorang pemula biasanya sulit menemukan ide. Apabila mereka menemukan ide, biasanya mereka bingung untuk menuliskan kata apa yang tepat untuk mengawali tulisan yang akan dibuat. Hal ini lumrah terjadi pada permulaan belajar. Ini dikarenakan mereka merasa tidak percaya diri dan kurang membaca.

Seperti yang telah diketahui, hubungan antara membaca dan menulis sangatlah erat. Kemampuan menulis siswa dipengaruhi oleh kemampuan membacanya. Membaca dapat dianalogikan sebagai input, sedangkan menulis adalah output-nya. Seseorang mungkin tidak dapat menulis sesuatu tanpa sebelumnya ia membaca tentang hal-hal yang akan ia tulis. Dengan kata lain, aktivitas membaca adalah sebuah upaya menambah perbendaharaan ”saldo tabungan” pikiran sebelum kita menariknya dalam bentuk sebuah tulisan.

Dari hal tersebut dapat kita renungkan bahwa untuk mencapai tingkat mahir, kita harus berkorban waktu dan tenaga untuk banyak membaca. Namun kita harus pintar-pintar dalam memilih buku bacaan. Tentunya yang ada kaitannya dengan apa yang akan kita tulis. Sehingga pada waktu menulis kita tidak merasa kebingungan mencari kata-kata atau kalimat yang baik dan dapat mewujudkan sebuah tulisan yang dapat “dihargai. Semoga.

 

Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM).

Jurusan Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia 2002

Pemerhati sastra pada komunitas Bengkel Imaji Malang.

 

     

         

                

Iklan

2 Komentar »

  1. setyaning dyas Said:

    Menulis, sesuatu yang sulit dilakukan, bila sekejap saja inspirasi menghampiri, lalu kabur entah kemana. Sungguh, betapa ingin mengungkap makna dalam pikiran agar menjelma jadi rangkaian kata nan cantik dan menggugah rasa.
    Apakah untuk menulis dibutuhkan kedewasaan pikiran?

  2. thanks


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: