Kritik Cerpen Koran, Juli 2007

Kritik Cerpen Koran, Juli 2007

Mulai Minggu ini akan saya unggah ke mailist tentang kritik saya mengenai cerpen koran. Saya akan mencoba mengupasnya dengan segala keterbatasan pengetahuan saya. Mungkin akan terdengar pedas. Namun, jangan kuatir, tulisan saya sudah pernah mendapat pujian dari Kompas. Konon, dialog yang saya gunakan cukup cerdas (Ups, maaf, itu adalah komentar Kompas kepada film Janji Joni).

Garind Nathaniel begitulah judul cerpen yang dimuat oleh Suara Merdeka minggu ini. Tokoh utama dalam cerpen ini sudah bisa ditebak pada judulnya. Cerpen ini mengisahkan seorang lelaki bernama Garind  yang telah melakukan sesuatu hal dan mengakibatkan tewas ibunya. Rasa sesal dan kesalahan yang dirasakan tokoh terlalu dibelit-belitkan, sehingga kurang mendapatkan gambaran cerita yang baik nan jelas. Pada empat sampai lima paragraf, pembaca akan merasa bosan dan menghentikan pembacaan. Seperti halnya film D’Girlz Begin yang memaksa saya membuang CD-nya setelah memutarnya pada menit kelima.

Sedikit terobati kekecewaan saya ketika membaca Dongeng untuk Anjeli di Suara Pembaruan. Sebuah metamor yang bagus. Sebuah televisi telah merebut Anjeli dari hati ibunya dengan caranya sendiri, Nadia. Nadia merasa bahwa cerita-cerita (dongeng) yang pernah dikisahkan tidak lebih menarik daripada televisi. Televisi tak pernah lelah bercerita, sementara ibunya dari pulang kerja selalu merasa capek. Begitulah cerita bergulir hingga suatu ketika Anjeli menagih dongeng kepada ibunya. Lantas, ibunya merasa bahagia karena anaknya masih menyukai dongeng-dongeng daerahnya. Catatan kaki yang menyatakan bahwa Omar Bakri dan Malin Kundang perlu ditendang saja. Toh semua orang juga tahu kalau Omar Bakri adalah petikan dari lagu Iwan Fals dan Malin Kundang berasal dari Sumatra. Jika untuk memberi kesan ”izin” dari empunya, hal tersebut tetap saja tidak perlu dibuatkan catatan kakinya karena sudah umum dan banyak diketahui orang. Cerpen ini hendak menyampaikan nilai-nilai akibat pengaruh teknologi, termasuk tentang pengaruh televisi. Bukan pesan baru yang disampaikan dalam cerpen ini. Sebut saja sebuah judul cerpen yang berjudul Sihir Televisi yang pernah dimuat di Sinar Harapan pada waktu yang lalu juga menyampaikan hal yang sama. Tetapi memang benar, mempercayai televisi sepenuhnya sama saja dengan mempercayai seekor buaya bisa terbang.

Cerpen Wajah karya Sides S di Republika juga terasa sedikit membosankan. Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki bernama Durma yang bergonta-ganti profesi dari tukang becak, loper koran, wartawan, hingga sampai ke pembantu seorang janda yang baik hati. Ada kejanggalan juga bahwa si Durma kok bisa-bisanya dari pekerjaan tukang koran hingga jadi wartawan. Ok, Joni sebelum di Horison juga memiliki latar pengalaman yang sama. Namun, dalam cerpen ini kurang begitu digambarkan. Pembaca seolah didoktrin dengan kalimat tidak banyak orang tahu proses metamorfosis dahsyat itu. Tujuan kalimat tersebut adalah untuk melogiskan cerita dengan cara yang memaksa. Namun, diakhir cerita ada adegan yang sedikit dramatis ketika seorang janda dimana tempatnya bekerja memberikan seluruh hartanya. Sides S ternyata kurang cukup pandai membawa pembaca ke dunia ceritanya. Kesan dramatis tersebut justru membuat cerpennya jauh dari realita dan terkesan mengada-ada.

Cerpen berjudul Sugesti pada Suara Karya terkesan norak. Banyak pemenggalan anak kalimat dengan induk kalimat menjadi kalimat utuh. Pemenggalan tersebut digunakan untuk memberi kesan penceritaan, namun gagal. Seperti siswa SMP saya yang baru belajar menulis cerpen saja. Saran kepada Human S, penulisnya, untuk menempuh matakuliah bahasa Indonesia lagi dengan sungguh-sungguh.

Pintu yang Terkunci milik Azizah Hefni (Zizi) pernah mendapatkan penghargaan Creative Writing Institut pada tahun 2006. Seorang penulis yang mengirimkan karyanya setelah menang lomba adalah perbuatan yang jauh dari kreatif. Sikap itu menunjukkan kesan nebeng doang. Hal ini dilakukan karena honor lomba, terkadang, tidak memuaskan. Tapi, itu sah saja!

Kompas menghadirkan Gincu Ini Merah, Sayang karya Eka Kurniawan menjadi pilihan Kritik Cerpen Koran minggu ini (Coba baca cerpen ini sambil mendengarkan lagu Kucing Garong versi Dede, wuih nikmat banget!). Sesuatu yang mengesankan bagi saya adalah ketika Rohmat Nurjaman, sebut saja begitu (konon, frase sebut saja begitu telah menggeser secara lebih cerdas untuk menunjuk orang ketiga tunggal yang disembunyikan identitasnya seperti bukan nama sebenarnya) menikahi bekas pelacur bernama Marni. Ketika bercinta, sepasang suami istri tersebut, saling dihantui perasaan masing-masing. Si suami ingat berbagai lelaki yang telah mencumbui istrinya sebelum dirinya. Begitu pula sebaliknya. Pesan-pesan tersirat lainnya juga tampak dalam cerpen ini. Misalnya, ketika Marni selalu mengoleskan lipstik tebal dibibirnya adalah untuk membahagiakan suaminya. Justru lipstik itulah yang dibenci Rohmat hingga dirinya memutuskan untuk bercerai. Kesalingterbukaan dan komunikasi dua arah sangat perlu dilakukan dalam berumah tangga. Bagaimanapun, cerpen ini memukau, sayang!

Lubis Grafura
http://www.lubisgrafura.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: