Kritik Sastra Koran, Minggu 8 Juli 2007

Kritik Sastra Koran, Minggu 8 Juli 2007

Halaman Seni Kompas

Cerpen Salvo karya Beni Setia pada Kompas bercerita tentang seorang prempuan yang memiliki kemampuan menembak. Hal ini dibikoskan (because), dikarenakan, ayahnya adalah seorang militer. Dalam cerpen tersebut cukup menarik ketika si penulis “mengembel-embeli” ceritanya dengan dunia persenjataan dan militer. Terdapat istilah FN, colt (mekanisme penembakan yang sangat sederhana), sniper, perbakin, AKA, hingga teleskop dan laser. Kesemuanya itu adalah perihal yang berhubungan dengan polisi dan militer. Lantas menjadi pembungkus cerita yang bagus. Namun, pembaca yang kurang menyukai atau kurang memahami dunia tersebut, cerpen ini bisa terasa membosankan. Mustinya peristilahan seperti perbakin perlu diberi dash, dua tanda koma dalam kalimat sebagai keterangan, atau segala sesuatu yang dapat menjelaskan peristilahan trsebut. Pun ketika ada sebuah adegan ketika “aku” mengokang senjatanya di depan guru BK. Bukankah sesuatu yang sangat berlebihan?

Beni, saya kira, cukup mahir dalam menjaga alur cerita Salvo. Ada beberapa adegan yang menurut saya cukup heroik sekali. Hal ini dibikoskan, secara kebetulan, saya suka tokoh heroik perempuan, sebut saja Tomb Raider, Cat Women (walau konon mendapat dua puluh penghargaan film terjelek), Ultra Violet, dsb, etc, dll. Kembali ke adegan yang menarik (heroik), adegan tersebut adalah ketika tokoh “aku” menembakkan pistolnya ke aspal dan si preman ketakutan. Wah, terbayang oleh saya ketika Ultra Violet mengokang pistolnya dan menembakkan ke semua musuhnya. Pun dalam paragraf pengantarnya cukup bagus untuk membuka paragraf berikutnya “Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter?”

Secara keseluruhan, cerpen ini cukup bagus. Namun, seperti cerpen-cerpen kompas sebelumnya yang selalu realis. Untuk pembaca cerpen Kompas mungkin lama-kelamaan akan terasa membosankan. Topik ini dibahas sedikit oleh Binhad Nurrohmat di bawah kolom cerpen. Dibahas juga soal juri cerpen pilihan kompas yang konon dilempar ke pihak luar…selanjutnya baca Mendustai Sastra Koran hal.28.

Dunia di Kepala Ucu Agustin (Media Indonesia)

Ucu Agustin memberikan cerpen yang cukup renyah dalam Suatu Malam Aku Menggambar Seseorang dan Suatu Siang Aku Melihat Seseorang Menggambarku (SMAM). Kalau saya tidak salah (dan semoga tidak salah), Ucu pernah menerbitkan salah satu buku berjudul Dunia di Kepala Alice. Dia pernah menjadi nominator Creative Writing Institut (CWI) dan Menpora pada tahun 2004. Saya sempat memandang slapstik kumcer Dunia di Kepala Alice. Hal ini disebabkan pemakaian gaya non-naturalis, namun terasa membosankan.

Kembali ke cerpen, kerenyahan cerpen SMAM ternyata juga memaksa saya untuk mengatakan bahwa cerpen ini sedikit terasa memnbosankan. Saya menebak bahwa hal ini disebabkan oleh ruang yang diberikan Media Indonesia cukup luas sehingga banyak pengarang yang trejebak dalam bermanis-manisan kata dan berboros-boros kata.

Tapi Ucu, kalau membaca tulisan ini, saya kira tak perlu merasa rendah diri (?). Seperti salah satu tokoh dalam cerpen SMAM tersebut, ada salah seorang yang bernama Karamel. Sebuah metamorf yang digunakan Ucu untuk menggambarkan sifat manisnya tokoh (barangkali). Pun begitu juga dalam kemisteriusan cerita (yang saya sukai) tentang seorang lelaki yang ia gambar dan lelaki yang menggambarnya. Pembaca akan dengan bebas menginterpretasikan bahwa lelaki yang menggambarnya adalah ayahnya dan lelaki yang menggambarnya adalah…inilah misteri yang disisakan Ucu untuk memberikan nilai taruhan pada cerpennya.

Gajah di Pelupuk Mata Republika

Tak lepas dari visi misinya, koran Republika masih tetap mengusung nilai-nilai atau paling tidak ada perkataan yang berhubungan dengan Islam (mengutip perkataan Bang Mukid). Pertama kali lihat cerpen ini saya kira cerpen tersebut dibuat oleh Sobron Aidit yang memiliki kumpulan memoar (semoga saya tidak salah) dengan judul Gajah di Pelupuk Mata.

Cerpen tersebut memiliki pesan secara tersirat bahwa kita musti mengawasi anak kita sedemikian rupa. Hal ini disuratkan pada kalimat “Gajah di pelupuk mata kok saya tidak tahu”. Adapun Gajah adalah anak dari Sanca yang tidak jujur kepada ayahnya. Namun, lambat laun ketidakjujuran Gajah dicium juga oleh Sanca.

Sebagai cerpen pilihan lubiswordpress.com, cerpen Gajah di Pelupuk Mata adalah cerpen yang pantas mendapatkan penghargaan.

Lubis Grafura

www.lubisgrafura.wordpress.com

2 Komentar »

  1. sandi muammar daman aji Said:

    salam kenal bang lubis. saya daman dari redaktur lintas media manajemen qolbu multimedia. sudi kiranya abang memberi informasi email untuk tulisan sastra di surat kabar. saat ini saya sedikit jenuh menulis artikel-artikel keagamaan, ingin refreshing mencoba kegiatan penulisan yang berbeda. insya Allah, akan saya rahasiakan informasi tersebut demi privasi pemilik email yang bersangkutan.

    terima kasih sebelumnya bang lubis.

  2. widara Said:

    bahwa dalam cerpen- cerpen yang di muat menjadi sangat bermanfaat sekali bagi saya,, karena saya gunakan sebagai salah satu referensi tugas-tugas yang saya dapatkan dari kampus..

    namun, akan lebih baik bila yang dimuat lebih banyak lagi. hehe
    terimakasih…..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: