Menulis untuk Keabadian:menghasilkan cerpen berkualitas

 

Begitulah sekiranya yang pernah dikatakan oleh Pramodya. Betapa raga ini bisa dibakar, dihancurkan, ataupun dibunuh namun gagasan kita tidak akan pernah mati. Pikiran kita akan selalu hidup dalam karya kita. Hidup untuk selamanya. Setidaknya itulah yang pernah dikatakan Mahadma Gandi. Pun, tak lepas dari yang pernah diutarakan oleh Chairil Anwar aku ingin hidup seribu tahun lagi.
Menulis prosa, termasuk dalam cerpen maupun novel, setidaknya kita pernah membaca sebuah karya sastra. Ketika kita sudah membaca beberapa buku sastra, biasanya kita menemukan beberapa tokoh sastra yang menjadi panutan. Tidak ada salahnya juga kalau kita meniru teknik atau gaya penceritaannya. Lantas,lambat laub, kita akan menemukan karakter kita sendiri.
Beberapa sastrawan yang menjadi favorit oleh beberapa penulis pemula adalah Seno Gumira Ajidarma, Dwi Cipta, Eka Kurniawan, Kurniawan Efendi, dsb. Karya-karya mereka tidak hanya baik dalam hal penceritaan atau kisah yang dituturkan menarik saja, melainkan ada sebuah renungan yang bisa kita ambil manfaatnya.
Teknik Menulis Cerpen
Ada begitu banyak teknik yang digunakan oleh para penulis. Kita tidak bisa mengatakan bahwa teknik menulis yang baik adalah ini dan ini. Hal ini disebabkan karena setiap penulis bisa menggunakan teknik yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa teknik yang pernah digunakan oleh para siswa.

Teknik Merekontruksi Cerita
Teknik Rekontruksi ini adalah mengubah cerita yang sudah ada dengan menggunakan sudut pandang kita. Misalnya, kita tahu bahwa cerita Malin Kudang adalah cerita anak yang durhaka kepada ibunya. Lantas, kita rekontruksi saja ceritanya menjadi Malin Kundang adalah anak yang berbakti kepada ibunya.
Dalam lampiran, kita bisa melihat cerpen Hikayat Malin yang pernah dipublikasikan oleh Sinar Harapan, bahwa cerpen tersebut merekontruksi cerita yang sudah ada. Selain itu dalam cerpen tersebut juga terdapat peralihan sudut pandang dan visualisasi film. Lebih jelasnya baca cerpen tersebut.
Teknik Putus Sambung
Teknis Putus Sambung adalah teknik dimana kita menghentikan pemacaan sebuah cerpen tertentu lantas kita membuat endingnya sendiri. Pertanyaan selanjutnya yang timbul adalah apakah ini bukan jiplakan? Tentu saja tidak, kalau kita mengubah sedikit demi sedikit pada proses editing, lantas mengubahnya menjadi cerpen yang benar-benar milik kita sendiri.
Perlu ditambahkan, bahwa dalam proses editing, kita mencari konflik yang sama sekali berbeda dengan cerpen yang kita jadikan ”putus-sambung”. Berikut adalah contoh bagaimana kita bisa melanjutkan sebuah kisah menjadi kisah kita sendiri.
Contoh Teknik Putus Sambung:
Matahari memerah di balik kerumun reranting daun rambutan. Sehelai daun rambutan terputus dari rantingnya. Angin menimbang seheledai daun kering itu di udara. Lantas, jatuhlah sehelai daun itu di atas rerumput.
Dari arah timur, seorang perempuan dengan rambut panjangnya yang tergerai di pundaknya tengah mengayunkan sapu lidi. Menyapu sebuah halaman rumahnya. Perempuan itu baru saja menikah sekitar setahun yang lalu dan sampai sekarang belum juga memiliki seorang anak.
Suaminya, sebagai seorang TNI telah dikirim ke perbatasan Irian Jaya untuk mengamankan keadaan perang saudara di pulau yang terkenal emasnya itu. Kira-kira sekitar dua bulan setelah menikah, suaminya musti dikirim ke perbatasan untuk mengamankan situasi di sana.
Hingga sore ini, ketika ia mengayunkan sapu lidinya, belumlah ia bertemu dengan suaminya. Tetapi ia selalu menyediakan makanan di meja makan untuk suaminya. Walaupun makanan itu belum juga disentuh suaminya semenjak ia dikirim ke Irian Jaya. Tapi perempuan itu tak pernah putus asa menunggu suaminya pulang. Ia sangat yakin bahwa suatu hari suaminya pasti akan kembali. Sementara orang-orang yakin bahwa suaminya sudah mati.
Selepas perempuan itu menyelesaikan menyapu halaman rumahnya, ia menyiapkan makan malam di meja makan. Di kursi tempat suaminya dulu biasa makan, perempuan itu menuangkan nasi ke dalam piring. Ia yakin bahwa tak lama lagi suaminya akan pulang. Ia pun tersenyum, sambil membayangkan sosok suaminya tengah duduk di depan piring.
Perempuan itu tiba-tiba teringat, bahwa sore ini ia akan ke Bapak Kepala Desa untuk menanyakan kabar suaminya. Barangkali ada surat yang terlayang untuknya. Maka, pergilah suaminya ke rumah Kepala Desa.
Langit bergradasi warna merah dan gelap. Angin berhembus dingin membawa aroma dedaunan. Seorang lelaki membawa penyangga di kedua ketiaknya. Tampak kaki kirinya putus. Wajah lelaki itu sangat cerah ketika melihat rumahnya. Ia akan melihat istrinya kembali. Lantas, ia berdiri di depan pintu dengan menyimpan ribuan kisah dan rindu desah.
Lanjutkan cerita ini!
Menghadapi keringnya Ide
Keringnya ide atau berhenti ketika sedang di tengah-tengah adalah hal yang biasa. Terlebih lagi ketika kita sedang memegang pena, atau jari-jari kita berada di atas key board namun apa yang kita pikirkan tak bisa muncul sama sekali. Tidak usah bersedih hati, terlebih bunuh diri.
Letakkan pena, atau shut down computer, lantas lakukanlah hal-hal lain yang kita sukai. Misalnya membaca buku, memonton film, makan, tidur, berkencan, sholat, ngopi, godain kekasih teman, ataupun naik gunung. Intinya, lakukan hal lain yang tidak membuat kita pusing memikirkan keringnya ide.
Beberapa rekomendasi film yang dalam gaya penceritaan maupun kualitasnya bisa kita petik pelajarannya. Film tersebut adalah Babel, Forest Gump, 21 Grams, Crash, Pursuit Happines, Monster House, Saving Privat Riyan, Empire in the Sun, Berbagi Suami, Janji Joni, Cast Away, Charlotte Webs, dsb
Beberapa karya sastra yang direkomendasikan adalah Pelajaran Mengarang Seno Gumira Adji Dharma, Dari Mana Datangnya Mata Veven SP. Wardhana, Senapan Cinta Kurniawan Efendi, dsb. Akhirnya, mari kita menulis untuk keabadian!
Lubis Grafura

6 Komentar »

  1. nyssa Said:

    komentar dri Q gak da dech.cz Q seneng dengn teknik yg anda brikan,makaciiiiiiiiihhhhhhhhhhh bgtttttttttttsssssss aku cuka.aku pengen pintar kyk u.aku seng bget nulis tpi g da yang dimuat tulisan Q,kacian yach😦

  2. Roy Thaniago Said:

    Artikel yang baik. Salam kenal!

  3. haerul Said:

    Yeah…Saya setuju bang, menulis adalah pekerjaan orang beradab…heheheh, Menulis banyak positifnya, Bisa membuka jalan, bisa memutar otak kita. Keep writing….

  4. lelut Said:

    kerenzz bangetzz ceLpen NuaA..JdY CinT4 d3CHh…

  5. lelut Said:

    lOv3 uu..
    LUBISGRAFURA❤

  6. lelut Said:

    ArTiKeL yAnG bAiK sAlAm KeNaL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: