Cerpen Anak dari Rochima Firma Dhona

Cerpen Anak dari Rochima Firma Dhona

Sudah tiga jam aku tidak keluar kamar sejak pulang sekolah
pukul satu siang tadi. Teriakan mama yang menyuruhku
segera makan siang pun tak kuhiraukan. Aku sangat kesal
pada guru dan teman-temanku di sekolah. Bayangkan, sudah
lima tahun aku sekolah di SD Kasih Bunda ini, tak pernah
sekalipun mereka memberiku kesempatan untuk berpartisipasi
dalam kegiatan kesenian. Setiap ada pergelaran seni
seperti karnaval, gebyar seni, lomba-lomba seni, atau
perpisahan, guru-guru selalu menunjuk anak yang itu-itu
saja. Di kelasku, kalau tidak Revi, Vista, ya Merry yang
ditunjuk oleh Bu Ira, wali kelasku.
Puncak kekesalanku adalah tadi siang, ketika Bu Ira
menunjuk beberapa anak untuk membawakan tarian tradisional
di acara perpisahan anak kelas enam minggu depan. Awalnya
beliau menunjuk aku. Tentu saja aku senang sekali, karena
inilah yang aku impikan sejak lama. Ternyata Bu Ira salah
tunjuk. Memang di kelasku ada satu anak yang punya nama
sama denganku. Bedanya, dia tidak berkacamata dan berambut
keriting seperti aku. Pokoknya, dia lebih cantik dari aku.
Kupandangi foto keluarga yang ada di meja belajarku.
Disitu terlihat mama dan papa mengapit aku, Mbak Mita,
dan Mbak Andri yang sedang memakai pakaian wisuda. Mbak
Andri tampak cantik. Kakakku yang satu ini memang patut
dibanggakan. Selain cantik, baik, pintar menari, prestasi
lainnya di bidang seni pun sangat banyak. Begitu juga
dengan Mbak Mita. Rupanya kedua kakakku itu mewarisi
semuanya yang ada pada mama dan papa.
Kubandingkan wajahku dengan wajah mereka. Astaga, aku baru
menyadari kalau aku tidak memiliki perpaduan sedikit pun
dari wajah mama dan papa! Jangan-jangan aku…
“Lia, ayo makan siang, sayang!” suara mama mengagetkanku.
Buru-buru kubuka pintu kamar dan membiarkan mama masuk.
“Kamu kenapa?” tanya mama yang kini sudah duduk di
sebelahku. “Sakit?” tanyanya lagi seraya meraba keningku.
Kutelungkupkan wajahku di bawah bantal. Aku tidak ingin
mama tahu masalahku. Tapi aku butuh seseorang yang mau
mendengar keluh kesahku.
“Ma,” akhirnya aku mulai membuka percakapan, “guru-guru di
sekolah Lia kok suka pilih kasih ya? Masa’ kalau sekolah
ngadain acara kesenian, Lia nggak pernah diajak. Apa
karena Lia nggak cantik?”
Sejenak kulihat wajah mama kebingungan.
“Hmm, siapa bilang Lia nggak cantik? Mama rasa, Lia belum
dapat kesempatan saja. Suatu saat, Lia pasti diajak.”
“Tapi, Mama tahu sendiri kan, kalau sejak kelas satu, Lia
nggak pernah disuruh ngisi acara-acara seperti pentas seni
dan lainnya itu?” cecarku.
“Ya… mungkin karena guru-guru tahu kalau Lia nggak bisa
nari atau nyanyi.”
“Kok, Mama bilang gitu sih? Dulu waktu Lia TK kan sering
disuruh nari,” sangkalku. “Kalau memang Bu Ira milih siswa
karena kemampuannya, kenapa coba, si Revi yang narinya
kayak robot malah dipilih? Sudah jelas kan, Bu Ira milih
yang cantik-cantik doang?!” tegasku.
“Atau.., mungkin karena Lia pemalu kali….” Tebakan mama
kali ini membuatku tambah bete.
“Kalau Lia pemalu, Lia nggak mungkin berani sekolah,
Ma..,” jawabku asal. Percuma curhat sama mama. Sejenak
kami sama-sama terdiam. Kuremas-remas boneka Teddy yang
sejak tadi kudekap. “Bilang aja kalau Lia nggak cantik,
dan…,” kulirik mama, agak ragu kulanjutkan kata-kataku,
“Lia… bukan anak mama.”
Mama terhenyak kaget. “Kamu ngomong apa sih, Nak?” mama
meraihku dalam pelukannya. “Lia juga anak kebanggaan Mama,
sama seperti Mbak Andri dan Mbak Mita. Lia harus tahu
kalau Lia telah melengkapi kebahagiaan mama, karena mama
punya tiga anak perempuan yang dikaruniai kemampuan yang
berbeda-beda.” Sambil tetap mengelus rambutku, mama
melanjutkan kata-katanya. “Mama bahagia anak mama ada yang
pintar menari seperti Mbak Andri, mama juga bangga punya
Mbak Mita yang pandai menyanyi, dan mama tambah bangga
karena anak terakhir mama pun sangat istimewa, jago
komputer dan olahraga. Bagi mama, kalian adalah kekayaan
mama yang paling berharga.” Mama menghentikan ucapannya,
menatap mataku lekat-lekat.
“Mama tahu Lia iri, tapi Lia harus ingat, kalau setiap
orang, meski kembar sekalipun, tidak ada yang sama.
Masing-masing pasti punya kelebihan di satu sisi dan punya
kekurangan di sisi lain. Semua itu harus tetap kita
syukuri. Meski Lia nggak pernah dilibatkan dalam acara
kesenian, Lia nggak usah berkecil hati. Tekuni saja apa
yang Lia bisa sekarang ini. Siapa tahu itulah yang
nantinya bisa membuat Lia berprestasi,” urai mama panjang
lebar.
Kulepaskan dekapan mama. Aku rasa, nasihat beliau benar.
“Ma, maafkan Lia. Lia nggak ingin berburuk sangka lagi
sama siapa pun.”
Kulihat mama tersenyum mendengar kata-kataku.
Terpilih untuk mengisi acara perpisahan atau tidak,
sepertinya aku nggak ingin mempermasalahkannya lagi.

Iklan

1 Komentar »

  1. Fitriat Hidayati Said:

    Wow…..cerpennya asik juga, banyak hal menarik dan patut untuk dijadikan masukan bagi adek-adek yang mungkin juga menghadapi masalah seperti di atas.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: