Sajak Lubis Grafura di Suara Pembaruan

Sajak Lubis Gafura

Mata yang Sederhana

di sepasang matamu,

kulihat mimpi yang sederhana

menunggu lampu perempatan memerah

mengetuki pintu lantas menengadah

agar esok bisa berada di sekolah

di sepasang matamu,

kulihat dunia yang sederhana

tak ada makan malam keluarga

tempat tidur pun hilang hangatnya

namun, kau masih bisa belajar tertawa

di sepasang matamu,

kulihat juga derai air mata

jatuh menjadi bulir hujan di jalanan

saat kau mendengar ejekan papan iklan

Malang, 2008

*

Sebelum Daun Mengembun

sebelum cahaya melipat gelap

biar kutatap kau di penghabisan

sebab hari esok tinggallah teka-teki

dan sebelum adzan subuh berlabuh

izinkan kupeluk kau di perbatasan

sebab pertemuanlah yang kunanti

sebelum mata lelap mulai terbangun

sebelum daun-daun mulai mengembun

Malang, 2008

*

Lesung Pasir

Senja menjelma benang panjang

mencelup matahari melelah

serupa teh celup merah

di cangkir laut

dan ombak itu menggapai-gapai

segaris jejak telapak kaki

yang tak kunjung sampai

serupa diriku yang menunggu

kau datang dengan sampan

menjemput dan membawa pulang

Malang, 2008

*

Sebelum Kau Duduk di Pelaminan

Sebelum kau duduk di pelaminan:

Izinkan aku datang dengan sekuntum kembang

Yang dulu belum sempat kusampaikan

Namun, waktu terburu berlalu membawamu

Sebelum kau duduk di pelaminan:

Biarkan aku sejenak menatap wajahmu

Yang dulu belum sempat kulakukan. Sebab,

Aku hanya bisa memandangmu dari balik dahan

Sebelum kau duduk di pelaminan:

Izinkan aku mengatakan cinta

Yang dulu belum sempat kukatakan

Sebelum waktu membawa tubuhku pada kematian

2008

*

Bunga dari Segala Senja

: Ailin

Rembulan memudar saat fajar tergelar

Desah nafasmu yang dingin mencipta embun

Kini menggantung di pucuk daun

Seketika jatuh meluruh padatanah basah

*

Kutabung detik pada cawan rindu

Kini berbunga hari, berputik minggu

Mekar jadi bulan. Merpati yang kukirim

Selalu kembali dengan surat yang sama

Sedang, embun yang kau jatuhkan di rahimku

Mengembang menjadi akar, tangkai, dan daun

Hendak tumbuh menjadi sempurna.

*

Tumbuhlah bunga liar di halaman.

Belum juga kuberi nama bunga itu

Sebab, aku sungguh tak tahu:

Batangnya hijau berseling putih.

Ada bulu halus di setiap helai daunnya

Ungu. Bunga apakah itu?

*

Gadis yang manis, bunga yang manis

Akarmu itu sudah tumbuh. Memperkokoh

Bebatang. Memperlebat dedaunan. Tapi,

Kenapa huruf-huruf yang dulu kuejakan

Kau tata menjadi duri, kau tusukkan di dadaku.

Kalimat-kalimat yang dulu kuajarkan

Kau jadikan pisau tertancap di leherku

Gadis yang manis. Bunga yang manis

Kenapa kau ikuti tanda jejak kakiku dulu

Menawarkan cinta pada setiap senja

Sedang senja hanya datang selepas saja

Mengantar sore pada gelapnya malam

Setelah itu kau akan sendirian meniti fajar.

Gadis yang manis, bunga yang manis

Kau alasan jantungku masih berdetak

Darah yang mengalir. Nafas yang terhela

Gadis yang manis, bunga yang manis

Kenapa kau terus berlari. Waktu tak habis

Kau cicipi sendiri. Jalan-jalanmu yang tertempuh

Hanya akan selalu berakhir dengan perempatan.

*

Belum sempat kulihat mekar bungamu

Kini kau melayu di pelataran waktu

Gadis yang manis, bunga yang manis

Kau mengering di pelukan tanah basah.

Sisa hujan semalam. Aku masih berharap

Kau akan tumbuh lagi di balik keringmu.

Menandai waktu lagi dari awal.

Saat pertama kau belajar menjadi sempurna

Di dalam rahimku yang berdinding sunyi

2008

Reduksi

aku tengah jengah

menatap waktu yang semakin resah

tak cukup sehari semalam hanya 24 jam

aku sedang meradang

meratap usia yang sedang memanjang

tak cukup walau seribu tahun lagi

Malang, 2008

2 Komentar »

  1. ailin rifanani Said:

    pak, maaf jika sering tak berkenan dihati. aku hanya hamba yang sangat hina yang selalu mencari jalan Allah…. ridlo Allah…..

  2. ailin rifanani Said:

    Ass. Wr. Wb.
    Subkhanallah…… begitu luar biasa diri mu pak….
    banyak kelebihan yang ada dalam jiwa dan ruh pak lubis….
    smg nikmat itu…. kelebihan itu…. tidak membuat pak lubis lupa….
    Allah selalu menyembunyikan kelemahan hamba-hambanya, karena Allah sayang pada pak lubis. “janganlah risau akan nikmat yang belum engkau miliki, tapi risaulah akan nikmat yang belum kau syukuri….” Wallahu’alam. Semoga pak lubis jadi manusia yang sholeh, jangan pernah sakiti ibu pak lubis…. walaupun setatus bapak nanti berubah. Sampai akhir hayat pak lubis ridlo Allah adalah ridlo Ibu. beda dengan wanita,…..
    Pak Jazakumulloh khairan katsir…..
    Klo ada info CPNS kabari ya pak…..
    Oh ya…. di terima di Darul Ulum.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: