NASKAH (SKENARIO) FILM INDEPENDENT: “SANDAL JEPIT”

SEPASANG sandal japit berada di bawah telapak kaki yang hitam nan legam. Sepasang kaki dengan segores luka di salah satu sisinya. Sebuah luka yang menunjukkan betapa kerasnya sebuah perjuangan hidupnya.
Sepasang kaki itu berjalan pada sebuah tiang bendera di suatu sekolahan.  Sepasang kaki itu berhenti sejajar. Membiarkan sepasang tangannya, yang membawa bendera, menalikan pada tiang bendera. Seusai menarik bendera merah putih ke ujung tiang, sepasang kaki itu berjalan kembali menuju sebuah rumah.

Sebuah karya dari BengkelFilm memresentasikan:
SENDAL JEPIT
Mari Mendengarkan Bahasanya Tentang Indonesia

Sepasang kaki yang sama dengan sebelumnya tengah mengambil air wudlu. Sandal jepit tersebut membawa sepasang kaki tuannya yang terbungkus sarung tersebut menuju halaman rumah. Menuju sebuah jalan. Gang. Hingga sampilah pada sebuah masjid. Sepasang sandal japit tersebut berhenti di teras masjid. Menunggu pemiliknya menuntaskan sujud dluhur pada Rab-nya.
Sepasang sandal itu masih menunggu di antara sandal-sandal yang lainnya. Dirinya tak peduli. Biarpun hanya sepasang sandal japit, namun ia tetap setia menunggu pemiliknya.
Tanpa disangka ada seseorang – di dadanya ada beberapa sandal curian – mencuri sandal yang berada di samping sandal japit. Tentu saja sandal japit tersebut diam tak berteriak. Tak lama berselang, datanglah sepasang kaki lain – bukan sepasang kaki tuannya.
Sepasang kaki tersebut adalah sepasang kaki yang mencari sandal yang hilang. Di curi! Sepasang kaki itu mencari-cari sandalnya, namun ia tidak menemukan.
MASTER
Waduh, sandalku nang ndi rek? Jangkrik! Wis karepmu, tak gae sandale!
***
Sepasang kaki yang menjadi tuan sandal japit itu tampak resah mencari-cari sandal japitnya yang sudah tidak ada.
FUNI
Lho, sandalku nang ndi?
***
Sandal japit itu kini memeliki tuan baru. Sepasang kaki milik Master. Sepasang kaki itu terus berjalan hingga sampai pada sebuah gerombolan beberapa pemabuk sekaligus penjudi. Sayup-sayup seorang pengamen menyanyikan lagu kritikan tentang bangsa Indonesia.
Belum lama Master bermain judi sekaligus mabuk, tiba-tiba pengamen berteriak bahwa ada operasi oleh satuan polisi pamong praja. Master tak sempat berfikir lebih jauh, dirinya segera berlari menyelamatkan sendiri. Sepasang sandal japit tersebut terpisah satu dengan lainnya. Sandal sebelah kanan terinjak sepatu milik polisi pamong praja.
Sandal jepit sebelah kanan tersebut berharap bertemu dengan pasangannya kembali. Ia berharap memiliki tuan yang baru lagi. Dan, setelah lama menunggu, seorang dengan sepasang kaki telanjang berhenti di depan sandal japit tersebut. Menjatuhkan sandal japit, tepat, di samping sandal jepit sebelah kanan.
Sepasang kaki menjadi tuannya yang baru. Sandal japit tersebut terus berjalan. Berjalan melewati gang. Melewati trotoar. Kemudian masuk ke dalam gerbang sebuah rumah yang mewah.
***
Pada sebuah halaman rumah yang mewah sandal japit itu diam memunggu pemiliknya yang sedang mencuci sebuah mobil. Sandal japit itu berada di samping timba yang berisi air dan slang. Pembantu itu, tuannya yang baru, mencelupkan lap ke dalam ember. Beberapa percikan air mengenai sepasang sandal jepit tersebut. Hingga datanglah sepasang sepatu membawa sepasang kaki dengan celana yang bersih.
AGUNG
Udah beres?
LUBIS
Tinggal ngelap sedikit. Ok, dah selesai. Kinclong!
AGUNG
Sip, sip (sambil melihat-lihat)
JENG RINI
(seketika datang) Gimana Pa? Jadi belanja?
AGUNG
Ok, Ma. Ini mobil juga sudah bersih.
JENG RINI
Ohya, nanti jangan lewat balai kota ya Pa? Soalnya tadi saya dengar di radio ada orang demo BBM. Mereka itu kurang kerjaan aja. Dasar orang-orang malas bekerja! Kita itu harusnya dukung kebijakan pemerintah. Betul tho Pa?
AGUNG
Iya (dengan agak malas). Ohya, nanti mama jadi beli baju?
JENG RINI
Iya dong Pa. Kan lagi ada diskon. Ada kacamata murah-murah Pa, sepatu, tas kulit, sendal, wah pokoknya lengkap dan murah Pa. Ntar kita beli baju juga ya Pa. Buat Papa juga ada kok. (Jeng Rini membuka jendela) Danu?
DANU
Ya Ma? (suara Danu dari dalam)
JENG RINI
Mama sama papa mau belanja dulu ya! (Danu tidak menjawab)

Mobil perlahan mundur melewati sepasang sandal jepit. Lubis membantu Agung memberi aba-aba saat mobilnya mundur. Mobil pun perlahan mengecil dan hilang. Sepasang kaki Lubis hendak membereskan timba, dsb. Namun, tak lama kemudian Danu berada di teras.
DANU
Pak Lubis, tadi mama dah berangkat ya?
LUBIS
Lho, baru saja berangkat
DANU
Wah!

Selanjutnya Lubis membereskan ember, dan menggulung selang. Sementara sandal japitnya masih berada di halaman. Dua orang teman Danu, Said dan Hesti, masuk ke halaman rumah.
SAID
Halo Dan!
HESTI
Dah lama nunggu ya Dan?
DAN
Ah, enggak. Kita ke rumah Andreyas sekarang?
HESTI
Enggak, tahun depan! Ya iyalah. Sekarang.
DANU
Ya udah, sekarang aja. Jalan kaki aja ya, kan dekat. Cuma beberapa blok.
SAID
Boleh-boleh.
HESTI
Ok, deh.
Sepasang kaki Danu telanjang saat turun dari halaman rumah. Ia menemukan sepasang sandal japit di depannya. Danu tahu kalau sandal itu pasti milik Lubis. Lantas, ia memiliki ide:
DANU
Pak Lubis, pinjam sandalnya ya. Malas ke belakang nih.
LUBIS
Silakan. Monggo.
Sepasang sandal japit tersebut selanjutnya meninggalkan sebuah halaman rumah. Melewati pintu gerbang.
***
Di trotoar.
DANU
Eh, kata radio, di balai kota ada demo. Para mahasiswa menuntut agar pemerintah menurunkan harga BBM.
SAID
Betul itu! Sebagai generasi muda, sebagai ruhnya reformasi, mahasiswa harus berada di baris depan. Kamu tahu nggak? Rektor itu takut sama mentri, mentri takut sama presiden, presiden takut sama mahasiswa!
HESTI
Dan, mahasiswa takut sama polisi. Sebab, polisi bawa senjata buat mukulin mahasiswa! Mendingan mahasiswa gak usah demo. Belajar yang rajin, ke perpus, ke warnet, biar cepat lulus.
SAID
Gak bisa begitu dong. Mahasiswalah yang murni memperjuangkan rakyat kecil. Bukan janji-janji belaka. Mahasiswa, selain cerdas secara akademik juga harus tanggap terhadap nasib bangsanya. Sebab, dari mahasiswalah kelak akan lahir penerus-penerus bangsa! Pembawa gelombang perubahan!
DANU
Sepakat! Mahasiswa harus bangun. Membuka mata hatinya. Dan melanjutkan langkah bangsa untuk mengejar ketertinggalan. (seketika sandal Danu copot)
SAID dan HESTI
Tertawa.
HESTI
Kalau sandal japitnya copot, bagaimana mengejar ketertinggalan?
SAID dan HESTI
Kembali tertawa
DANU
Tetap harus melangkah! (dengan tegas)

Sandal japit tersebut di taruh pada sebuah tempat sampah. Mereka terus berjalan sambil menikmati sore yang perlahan merangkak di atas kota. Hingga gelak tawa mereka lenyap terbawa angin yang menggoyangkan pucuk dedaunan.

KREDIT TITEL

Seorang pemulung sedang mengais di tempat sampah. Ia menemukan sepasang sandal jepit yang sudah copot ujungnya, namun ia mencoba menalinya kembali dengan rafia dan menjatuhkan tepat di depan sepasang kaki telanjangnya. Pemulung itu berjalan seiring matahari yang perlahan sayup oleh kelamnya senja.

SANDAL JEPIT
http://www.bengkelfilm.wordpress.com/sandaljepit
bengkelfilm@gmail.com

7 Komentar »

  1. desh Said:

    nice story

  2. andreas Said:

    spasang sandal yang terlunta nasibnya hina tapi dibutuhkan tanpa sengaja, hina tapi manfaat, apakah sandal jepit yg koyak ini mampu menangkat citra manusia menjadi superjet…..

  3. Naskahnya boleh saya pinjam?

  4. Lusi Said:

    Tlong naskah nya nnti..biar laris ksih gambar2 yg mnarik biar apik

  5. JULIA Said:

    COPI NASKAH NYA YAH BUAT TUGAS SEKOLAH

  6. rizky Said:

    saya copas y

  7. papa rama Said:

    kreatif idenya….


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: