Jakarta di Kepala Totilawai Tjitrawasita

Jakarta di Kepala Totilawai Tjitrawasita

Saat menyelesaikan sebuah kisah berjudul Jakarta seolah kita akan dibawa oleh pengarang ke dalam sebuah tamasya melihat sebuah akuarium. Di dalam akuarium tersebut terdapat tiga ekor ikan besar lengkap dengan aksesorisnya. Tiga ekor ikan itu adalah tokoh-tokohnya, sedangkan aksesorisnya adalah alur, tema, latar, dan amanat.

Ketiga tokoh yang dipilih pengarang setidaknya cukup mewakili sebuah kota yang sering disebut sebagai kota metropolitan di Indonesia. Ketiga tokoh tersebut memetaforkan lapisan sosial di masyarakat. Pun, mereka memberikan sebuah dikotomi lapisan masyarakat kota besar tersebut.

Pak Jenderal alias Paijo adalah lapisan sosial atas sekaligus adalah pejabat. Si pembaca tentu perlu mencatat: banyak pejabat negara berada di Jakarta! Si Penjaga adalah manifestasi dari strata sosial bawah. Keduanya adalah gambaran sosial di dalam masyarakat Jakarta dimana kehidupan orang yang kaya makin kaya, dan sebaliknya. Pak Pong? Pak Pong adalah budaya dari luar yang terbentur padanya dan berakhir melompong.

Sekilas Gambaran Politik

Tidak ke situ, ke Paprika. Tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu!”

Tjitrawasita perlahan menusukkan jarum kritiknya melalui tokoh si penjaga kepada Pak Pong. Dari dialog tersebut tersirat sebuah pernyataan bahwa sebagian pejabat di negara kita menghabiskan waktunya di night club. Sebagai seorang pejabat, seharusnya memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakatnya.

Jika melihat tahun terbitnya cerpen tersebut, 1979, cukup mengindikasikan kondisi politik pada jaman itu. Pada saat itu, sering kita dengar istilah te es te, yaitu sebuah kepanjangan dari tahu sama tahu (tst). Pernyataan tersebut tampak pada dialog yang diungkapkan oleh tokoh si penjaga: Tidak! asal Bapak Jenderal mau teken, biasanya urusan selesai.

Jakarta sebagai karya sastra

Jakarta diungkapkan Tjitrawasita dengan bahasa yang sederhana. Unsur kedetilan pendeskripsian sangat tampak ketika tokoh Pak Pong mengisikan biodata. Dari kedetilan tersebut, pengarang mampu mengalirkan suasana yang apa adanya tanpa ada kesan artifisial yang berlebihan.

Adegan dimana Pak Pong larut dalam angan membayangkan dirinya bertemu Paijo juga menarik. Terlebih saat Pak Pong sudah menggumam dalam hati membayangkan kata-kata yang akan muncul dari adik misannya. Pengarang cukup cerdas saat membalik angan tokoh rekaan menjadi sesuatu yang diluar dugaannya.

“Kakak, Ibu, Dik Tinah?” dia sempat mencatat kata-kata baru. “Bukankah kata-kata itu dulu berbunyi, “Kakang, simbok, dan gendukku Tinah?”

Pengakhiran dari Jakarta dirasa juga cukup menarik saat Pak Pong memberikan sebuah kain yang dibatik orang tuanya. Kain yang di dalamnya terukir cinta ibu dan coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan tersebut akhirnya di berikan kepada penjaga yang dengan baik menerima Pak Pong.

Bagaimanapun juga, Jakarta tetaplah sebuah kota besar dengan ribuan kisah dan Jakarta mengambil salah satu sisinya. Itulah setidaknya yang ada di kepala Tjitrawasita.

Jakarta di Kepala Totilawai Tjitrawasita

Tugas Pra Pasca

Lubis Grafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: