Anakon II

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

C. Analisis Kontrastif

1. Sejarah Analisis Kontrastif

Penemuan dasar teori yang sekarang dikenal dengan analisis kontrastif (contrastive analiysy) dirumuskan di Lintas Budaya Linguistik Lado (Lado’s Cultural Across Linguistic) pada tahun 1957 (wikipedia, 2007).

Dalam buku tersebut, Lado mengklaim bahwa those elements which are similar to (the learners) native language will be simple for him, and those elements that are different will be difficult. Dari klaim tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajar akan menemukan kemudahan apabila dalam bahasa yang dipelajarinya memiliki kesamaan komponen dengan B1. Sebaliknya, jika komponen tersebut berbeda, maka pembelajar akan menemukan kesulitan.

Dr. Robert Lado, adalah seorang linguis yang cukup terkenal. Lado mula-mula memunculkan teori perbandingan. Hal ini meliputi pendeskripsian bahasa, membandingkannya, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan berbahasa.

Selama tahun 1960-an, teknik tersebut menyebarluas dan mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari berbagai kalangan. Selanjutnya, Center of Applied Linguistic di Wasington, DC menyeponsori perkembangan teori ini. Dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan bahwa kesulitan-kesulitan dalam mepelajari B2 telah dipetakan dengan Analisis Kontrastif. Hal ini memungkinkan untuk menciptakan kursus-kursus bahasa yang lebih efisien. Analisis Kontrastif yang berpijak pada behaviorisme diharapkan juga dapat memberikan sumbangan kepada desain kurikulum yang efektif untuk pemerolehan bahasa kedua.

2. Kritik terhadap Analisis Kontrastif

Analisis kontrastif mengklaim bahwa semua kesalahan terjadi dalam pembelajaran dan B2 diinterferensi oleh B1. Bagaimanapun juga, klaim ini tidak dibuktikan oleh bukti empiris yang terakumulasi sepanjang pertengahan dan akhir tahun 1970-an.

Hal ini justru menunjukkan bahwa prediksi kesalahan-kesalahan (errors predicted) analisis kontrastif yang tak terjelaskan tidak diobervasi dalam pembelajar bahasa. Dengan kata lain, beberapa bentuk kesalahan justru dibuat oleh pembelajar yang tidak mengindahkan B1-nya.

Telah menjadi jelas bahwa analisis kontrastif tidak dapat memprediksikan kesulitan-kesulitan pembelajar bahasa, dan analisis kontrastif hanya berfungsi untuk melihat ke belakang penjelasan mengenai kesalahan-kesalahan. Perkembangan ini, akhirnya memberikan penolakan terhadap paradigma behavioristik yang mendukung adanya analisis kontrastif.

3. Hakikat Analisis Kontrastif

Pengertian analisis kontrastif dapat ditelusuri dengan melihat dua kata yang menjadikkannya satu frasa. Kedua kata tersebut adalah kata analisis (analisys) dan kata konstrastif (contrast) yang berasal dari kata kontras.

Secara harfiah, kata analisis dan kontras menurut KBBI online adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dan memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila diperbandingkan. Sedangkan kamus Oxford menyebutkan bahwa analisys adalah study of something by examining its parts (penyelidikan terhadap sesuatu dengan cara menguji bagian-bagiannya). Contrast dipaparkan sebagai compare two things so that differences are made clear (memperbandingkan dua hal agar perbedaan diantara keduanya tampak jelas).

Menurut Musthofa (2008), analisis kontrastif adalah atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa analisis kontrastif adalah pemahaman antardua bahasa, yaitu bahasa pertama (B1) dengan bahasa kedua (B2), dengan cara membandingkannya, mencari persamaan, kemiripan, dan perbedaan guna memberikan peta konsep kepada pembelajar agar lebih mudah dalam mempelajari B2.

3.1 Konstrastif sebagai Ranah Kebahasaan (Linguistik)

Istilah kontrastif lebih dikenal dalam ranah kebahasaan (linguistik). Perbandingan dalam lingustik terbagi menjadi dua bagian, yaitu linguistik historis-komparatif dan linguistik kontrastif. Jika linguistik historis komparatif membandingkan bahasa dari periode ke periode, maka linguistik kontrastif hanya membatasi diri pada periode tertentu.

Linguistik kontrastif membandingkan dua bahasa dari segala komponennya dalam satu periode sehingga ditemukan perbedaan-perbedaan dan kemiripan-kemiripan yang ada. Dari hasil temuan itu, dapat diduga adanya penyimpangan penyimpangan, pelanggaran-pelanggaran,atau kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan para dwibahasawan.

Sebuah tindakan disebut tindakan analisis apabila dwibahasawan membandingkan dua bahasa antara B1 dengan B2. Tindakan membandingkan tersebut akan menghasilkan faktor persamaan, kemiripan, dan perbedaan. Metode membandingkan bahasa yang sedang dipelajari seseorang (B2) dengan bahasa yang telah dimiliki lebih dahulu (Bl) dikenal dengan metode linguistik kontrastif.

3.2 Analisis Kontrastif sebagai Prosedur Kerja

Sudah diterangkan di atas bahwa analisis kontrastif merupakan pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara Bl dengan B2. Perbandingan tersebut akan menghasilkan persamaan, kemiripan, dan perbedaan sehingga guru dapat memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan belajar, menyusun bahan pengajaran, dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.

Di dalam pembelajaran B2 kepada siswa akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan B1 digunakan ke dalam B2. Kebiasaan ini bisa berupa sistem B1 yang digunakan ke dalam B2. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki sitem yang berbeda. Pentransferan ini disebut sebagai transfer negatif atau lebih dikenal dengan interferensi.

Transfer bahasa terbagi atas dua bagian. Apabila B1 dengan B2 memiliki kesamaan dalam beberapa hal dan dapat digunakan seorang pembelajar, maka pembelajar tersebut akan menemukan kemudahan. Transfer ini disebut transfer positif. Sedangkan jika B1 dan B2 memiliki sistem yang jauh berbeda dan pembelajar menerapkan sistem B1 ke B2 maka akan terjadi transr negatif.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab kesalahan berbahasa bersumber pada transfer negatif. Transfer negatif ini sendiri terjadi sebagai akibat penggunaan sistem yang berbeda antara Bl dan B2. Perbedaan sistem bahasa itu dapat diidentifikasi melalui Bl dengan B2. Kesalahan berbahasa dapat dihilangkan dengan berbagai cara, antara lain menanamkan kebiasaan ber-B2 melalui latihan, pengulangan, dan penguatan.

Dengan demikian, analisis kontrastif dapat disebut sebagai prosedur kerja. Hal ini disebabkan karena analisis kontrastif meliputi suatu kegiatan membandingkan struktur B1 dengan struk B2 untuk menemukan perbedaan-perbedaan.

4. Dasar Utama Analisis Kontrastif

Dasar utama dari analisis kontrastif adalah behaviorisme. Behaviorisme adalah ilmu jiwa tingkah laku. Kaitannya dengan pemerolehan bahasa, behaviorisme adalah aliran yang mempercayai bahwa seorang telah memiliki dasar kebahasaan sebelum dirinya mempelajari bahasa lainnya.

Terdapat dua hal yang menjadi titik tolak dari behaviorisme ini, yaitu kebiasaan dan kesalahan. Kaitannya dengan bahasa, kebiasaan dan kesalahan yang dimaksudkan adalah kebiasaan berbahasa dan kesalahan berbahasa.

Aliran psikologi tingkah laku menjelaskan pengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi, atau rangsangan yang menghasikan tanggapan (respon). Rangsangan yang berbeda menghasilkan tanggapan yang berbeda pula. Hubungan antara rangsangan tertentu dengan tanggapan tertentu menghasilkan kebiasaan. Kebiasaan ini dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan.

Ada dua karakteristik kebiasaan. Pertama kebiasaan yang dapat diamati. Kebiasaan ini berupa kegiatan atau aktivitas yang dapat dilihat atau diraba. Kedua, kebiasaan yang bersifat mekanis atau otomatis. Kebiasaan ini terjadi secara spontan, tanpa disadari dan sukar dihilangkan.

Di dalam pemerolehan Bl, anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan ini biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan menirukan, anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur dan pola bahasa ibunya. Peristiwa semacam ini terjadi pula dalam pemerolehan B2. Melalui peniruan dan penguatan para siswa mengidentifikasi hubungan antara rangsangan dan tanggapan yang merupakan kebiasaan dalam ber-B2.

5. Hipotesis Analisis Kontrastif

Setelah memahami apa sebenarnya analisis kontrastif, akan memasuki pembicaraan hipotesis analisis kontrastif. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu persoalan.

Perbandmgan antara struktur Bl dengan B2 yang akan dipelajan oleh para siswa menghasilkan identifikasi perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Perbedaan itu merupakan dasar untuk memperkirakan butir-butir yang menimbulkan kesulitan belajar bahasa dan kesalahan berbahasa yang dihadapi oleh para siswa. Berpijak dari timbulnya kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa inilah muncul bipotesis analisis kontrastif.

Dulay (1982:97) memaparkan beberapa hipotesis. Hipotesis tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

Tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa performasi B2 melakukan mayoritas kesalahan gramatikal yang mereflesksikan B1.

Pembelajar B2 membuat banyak kesalahan di lingkup tatakata yang bisa diperbandingkan antara B1 dan B2 – kesalahan tidak akan terjadi apabila terdapat transfer postif.

Ada dua jenis hipotesis analisis kontrastif (Musthafa, 2008). Pertama, hipotesis bentuk lemah. Hipotesis ini menyatakan bahwa analisis kontrastif hanyalah bersifat diagnostik Karena itu analisis kontrastif dan analisis kesalahan harus sating melengkapi. Analisis kontrastif menetapkan kesalahan mana termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan Bl dan B2. Analisis kesalahan berbahasa mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa siswa. Kedua, hipotesis bentuk kuat. Hipotesis ini menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara Bl dengan B2 yang dipelajan oleh siswa. Hipotesis ini didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut.

Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan dalam pengajaran B2 adalah interferensi Bl (bahasa ibu).

Kesulitan belajar itu sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh perbedaan antara Bl dan B2.

Semakm besar perbedaan antara Bl dengan 62 semakin besar kesulitan belajar yang timbul.

Hasil perbandingan antara Bl dan B2 diperlukan untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar B2.

Unsur-unsur yang serupa antara Bl dan B2 akan menimbulkan kesukaran bagi siswa.

Bahan pengajaran dapat disusun secara tepat dengan membandingkan kedua bahasa itu, sehingga apa yang harus dipelajan siswa merupakan sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan analisis kontrastif.

Ada tiga sumber yang digunakan sebagai penguat hipotesis analisis kontrastif, yakni (1) pengalaman guru B2, (2) telaah kontak bahasa di dalam situasi kedwibahasaan, (3) dan teori belajar.

1). Pengalaman Guru B2

Setiap guru B2 yang sudah berpengalaman pasti mengetahui bahwa kesalahan yang cukup besar dan selalu berulang dapat dipulangkan kembali pada Bl siswa. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat berupa pelafalan, susunan kata, pembentukan kata, susunan kalimat. dan sebagainya. Sebagai contoh anak Jawa (Bl bahasa Jawa) berbahasa Indonesia (B2). Kesalahan-kesalahan itu akan tampak dengan jelas pada contoh kalimat di bawah ini.

Bapaknya ada? (Bapak Rudi ada?)

Duitnya Dimas hilang (Duit Dimas hilang)

2). Telaah Kontak Bahasa di dalam Situasi Kedwibahasaan

Dwibahasawan yang mengenal dua bahasa atau lebih merupakan wadah tempat terjadinya kontak bahasa. Semakin besar kuantitas dwibahasawan semakin intensif pula kontak antara dua bahasa atau lebih itu. Kontak bahasa mengakibatkan timbulnya fenomena saling mempengaruhi. Bila seorang dwibahasawan lebih menguasai Bl, maka Bl itulah yang banyak mempengaruhi B2. Demikian pula sebaliknya

3). Teori Belajar

Teori belajar terutama teori transfer sangat mendukung hipotesis analisis kontrastif. Transfer adalah suatu proses yang melukiskan penggunaan tingkah laku yang telah dipelajari secara otomatis dan spontan dalam usaha memberikan balikan baru. Transfer dapat bersifat negatif dan dapat pula bersifat positif. Transfer negatif terjadi jika tingkah laku yang telah dipelajari berbeda dengan tingkah laku yang sedang dipelajari. Sebaliknya, transfer positif terjadi apabila pengalaman masa lalu sesuai dengan tingkah laku yang sedang dipelajari.

Jika pengertian kedua macam transfer itu dikaitkan dengan pengajaran bahasa, transfer negatif terjadi kalau sistem Bl yang telah dikuasai digunakan di dalam B2. Padahal sistem kedua bahasa itu berbeda. Sebaliknya, jika sistem itu sama maka terjadi transfer positif. Transfer negatif dalam pemerolehan bahasa kedua (B2) disebut interferensi. Interferensi menimbulkan penyimpangan. Penyimpangan menimbulkan kesalahan berbahasa.

6. Manfaat Analisis Konstrastif

Apakah analisis kontrastif dapat menyelesaikan masalah-masalah kesulitan belajar siswa dalam hal belajar bahasa? Jawaban yang paling mudah adalah belum tentu. Sebagai suatu ilmu analisis kontrastif mempunyai kelemahan-kelemahan di samping kelebihannya. Bertolak dari kelebihannya, bagaimanapun analisis kontrastif tetap memiliki manfaat. Manfaat yang dimaksud sebagai berikut.

Analisis kontrastif dapat membantu mengatasi kesulitan siswa dalam proes belajar B2.

Dengan metode analisis kontrastif akan ditemukan butir-butir kesulitan belajar siswa.
Pembuktian kesulitan akan diperoleh melalui kegiatan belajar secara teratur di kelas.

E. Perbedaan Mendasar Antara Kesaahan Berbahasa dengan Analisis Kontrastif

Setiap pembelajar yang hendak mempelajari bahasa kedua (B2) tentu akan melakukan kesalahan-kesalahan. Tugas dari seorang guru adalah mencoba menganalissis kesalahan-kesalahan tersebut dengan cara membuat kategore kesalahan, sifat, jenis, dan daerah kesalahan. Analisis inilah yang kemudian disebut dengan analisis kesalahan (error analisys).

Analisis kesalahan memiliki perbedaan dalam beberapa aspek dengan analisis kontrastif. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari aspek permasalahan, batasan kognitif, ruang lingkup, objek, dan tujuannya. Kedua analisis tersebut seyogyanya tidak dipisahkan antara satu dengan yan lainnya, sebab keduanya menjadi dua sisi yang saling melengkapi.

1. Perbedaan Analisis Kontrastif dengan Analisis Kesalahan

1.1 Dari segi permasalahan

Analisis kesalahan sering juga disebut dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis jenis ini memiliki segi permasalahan dalam kompetensi membaca, menyimak, menulis, dan mendengarkan. Selain empat kompetensi itu, analisis kesalahan berbahasa juga meliputi wilayah tata bunyi, tata bentuk kata, dan tata kalimat. Denagn demikian, permasalahan analisis berbahasa meliputi permasalahan bidang keterampilan dan bidang linguistik.

Anakon atau analisis kontrastif memiliki asumsi bahwa B1 akan mempengaruhi B2. Pengaruh itulah yang selanjutnya menjadi pembelajar melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut juga dapat terjadi pada wilayah tata bunyi, tata bentuk kata, dan ada pula yang berhubungan dengan tata kalimat.

Pengaruh dari B1 ke dalam B2 inilah yang harus diberantas atau setidaknya dikurangi oleh seorang guru. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membandingkan kedua bahasa tersebut melalui analisis kontrastif.

1.2 Batasan Kajian

Ellis memberi batasan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa, mengumpulkan data, pengidentifikasian kesalahan yang terdapat dalam data, penjelasan kesalahan tersebut, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian atau penilaian taraf keseriusan kesalahan itu. Dengan kata lain, batasan kajian dari analisis kesalahan adalah memberikan kategori, sifat, jenis, dan daerah kesalahan.

Sementara itu, analisis kontrastif hanya membatasi dirinya pada perbandingan antara B1 dengan B2. Dari perbandingan itu, pengajaran B2 dapat mengaju kepada perbandingan anatara B1 dengan B2 tersebut dan guru dapat meramalkan apa saja kesalahan yang akan dibuat oleh siswa.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup analisis kesalahan dapat meliputi wilayah tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi) tata kalimat (sintaksis), dan tataran tata makna (semantik). Analisis kesalahan bidang tata bunyi berhubungan dengan kesalahan ujaran atau pelafalan, grafemik, pungtuasi, dan silabisasi. Analisis kesalahan dalam tata bentuk tentu saja kesalahan dalam membentuk kata terutarna pada afiksasi. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. Dan yang berikutnya analisis kesalahan bidang semantik berkaitan dengan ketepatan penggunaan kata, frase atau kalimat yang didukung oleh makna baik makna gramatikal maupun makna leksikal.

Analisis kontrastif terbatas hanya menganalisis dua bahasa dengan jalan membandingkannya, yakni membandingkan B2 dengan Bl atau antara bahasa yang dipelajari dengan bahasa ibu. Hasilnya terutarna perbandingan unsur kebahasaan yang berbeda akan membantu guru bahasa untuk meramalkan kesalahan yang kemungkinan dilakukan siswa dan sekaligus menolong siswa agar segera menguasai bahasa sasaran (B2).

1.4 Objek Analisis

Objek merupakan sasaran yang digarap suatu kegiatan. Analisis kesalahan dan analisis kontrastif memiliki objek yang sama, yaitu bahasa. Namun, keduanya berbeda pada titik tekannya. Analisis kesalahan menitikberatkan objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Meskipun yang menjadi objek adalah bahasa, tetapi hasil analisisnya bukan untuk kepentingan bahasa itu sendiri melainkan untuk kepentingan pengajaran bahasa.

Analisis kesalahan dalam pembicaraan ini identik dengan analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan menitikberatkan analisisnya pada bahasa ragam formal. Seperti kita ketahui dilihat dari ragam pemakaiannya bahasa itu dibedakan atas bahasa ragam santai dan bahasa ragam formal. Bahasa ragam formal digunakan orang pada situasi formal seperti berpidato, berceramah, khotbah, berdiskusi, berseminar, berkongres, berkonferensi, bermusyawarah, dosen memberikan kuliah, guru mengajar di depan kelas, dan sebagainya yang jelas bahasa yang digunakan dalam situasi resmi.

Analisis kesalahan ditekankan pada proses belajar B2 (termasuk bahasa asing). Dengan demikian objek analisis kesalahan adalah bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing. Objek yang lebih khusus lagi adalah kesalahan bahasa siswa yang bersifat sistematis dan menyangkut analisis kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat, dan tata makna.

Bahasa sebagai objek, dalam analisis kontrastif, dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran. Sebagai bahan pengajaran berkaitan erat dengan guru dan siswa, sebab guru yang bertindak sebagai pelaksana pengajaran bahasa dan siswa sebagai sasaran yang mempelajari bahasa.

Dilihat dari sudut bahasa, bahasalah yang dibandingkan. Dilihat dari guru, guru sebagai pelaksana perbandingan. Dan dilihat dari siswa diharapkan siswa segera menguasai bahasa yang dipelajarinya, sebab kesalahan-kesalahan yangmungkin akan dibuatnya segera dapat diramalkan berdasarkan perbandingan bahasa sebelumnya

1.5 Tujuan

Analisis kesalahan dapat membantu guru untuk mengetahui jenis kesalahan yang dibuat, daerah kesalahan, sifat kesalahan, sumber kesalahan, serta penyebab kesalahan. Bila guru telah menemukan kesalahan-kesalahan, guru dapat mengubah metode dan teknik mengajar yang digunakan, dapat menekankan aspek bahasa yang perlu diperjelas, dapat menyusun rencana pengajaran remedial, dan dapat menyusun program pengajaran bahasa itu sendiri. Dengan demikian jelas bahwa antara analisis kesalahan dengan bidang kajian yang lain, misalnya pengelolaan kelas, interaksi belajar-mengajar, perencanaan pengajaran, pengajaran remedial, penyusunan ujian bahasa, dan bahkan pemberian pekerjaan rumah ada hubungan timbal balik.

Khusus untuk guru, analisis kesalahan dapat digunakan untuk (1) menentukan urutan sajian, (2) menentukan penekanan-penekanan dalam penjelasan dan latihan, (3) memperbaiki pengajaran remedial, (4) memilih butir-butir yang tepat untuk mengevaluasi penggunaan bahasa siswa

Seperti halnya analisis kesalahan memiliki tujuan, demikian pula analisis kontrastif. Pateda (1989:20) menjelaskan bahwa analisis kontrastif bertujuan:

menganalisis   perbedaan antara Bl (bahasa ibu) dengan B2 (bahasa yang sedang dipelajari) agar pengajaran bahasa berhasil baik;

menganalisis   perbedaan   antara Bl   dengan B2 agar kesalahan berbahasa siswa dapat diramalkan dan pengaruh Bl  itu dapat diperbaiki;

hasil analisis digunakan untuk memmtaskan keterampilan berbahasa siswa;

membantu    siswa untuk    menyadari kesalahannya Jalam berbahasa sehingga siswa dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajarinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

2. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, tampaklah perbedaan antara analisis kesalahan dengan analisis kontrastif. Terlepas dari perbedaaan diantara keduanya, tternyata analisis kesalahan dengan analisis kontrastif sangat erat hubungannya. Analisis kontrastif merupakan salah satu bagian dari analisis kesalahan. Jika analisis kesalahan melihat kesalahan itu secara umum, analisis kontrastif melihat kesalahan itu secara khusus. Dikatakan demikian sebab analisis kontrastif melihat kesalahan dengan cara membandingkan antara Bl dengan B2. Hasil membandingkan itu dapat diketahui adanya pengaruh (in-terferensi) Bl ke dalam B2 yang sedang dipelajari siswa.

Pembelajaran B2 – Kesalahan – analisis

ANALISIS KESALAHAN

ASPEK

ANALISIS KONTRASTIF

Keterampilan dan linguistik

PERMASALAHAN

Pengaruh B1 terhadap B2

Membuat kategori, sifat, jenis, dan daerah kesalahan

BATASAN KAJIAN

Membandingkan B1 dan B2

Fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik

RUANG LINGKUP

Dua bahasa yang dianalisis dengan cara membandingkan

– Bahasa ragam formal

– Bahasa siswa yang sedang mempelajari B2 atau bahasa asing

OBJEK

Bahasa sebagai objek, dalam analisis kontrastif, dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran

Analisis kesalahan dapat membantu guru untuk mengetahui jenis kesalahan yang dibuat, daerah kesalahan, sifat kesalahan, sumber kesalahan, serta penyebab kesalahan

TUJUAN

Agar pengajaran bahasa berhasil baik;

Agar kesalahan berbahasa siswa dapat diramalkan dan pengaruh Bl  itu dapat diperbaiki

Memmtaskan keterampilan berbahasa siswa;

Siswa menguasai dalam waktu singkat

PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA

MAKALAH

Disusun dalam rangka melengkapi

Tugas matakuliah Pemerolehan Bahasa Kedua

yang dibina oleh

oleh:

PENDIDIKAN PASCASARRJANA

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

SEPTEMBER 2008

DAFTAR PUSTAKA

Dulay, Heidi. 1982. Language Two. New York: Oxford University Press

Kamus Besar Bahasa Indonesia On Line. (www.kbbi.web.id/frase.htm)

Oxford Learner’s Pocket Dictionary. 2008. New York: Oxford University

Wikipedia. Contrastive Analisys. 2008. (http://www.wikipedia.org/2Fwiki/2F/Contrastive_analisysy.htm)

2 Komentar »

  1. yazid Said:

    maaf. saya boleh minta tolong dicarikan perbedaan dan persamaan antara B1 dan B2.

  2. analisis kontrastif bahasa sangat penting untuk guru bahasa. Oleh karena itu artikel ini sangat membantu saya untuk memahaminya. Kalau bisa, diberikan juga contohnya ya


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: