Rampai Sekar Tentang Menulis Cerpen*

Rampai Sekar Tentang Menulis Cerpen*

Sama halnya dengan besi yang dapat berkarat karena jarang digunakan, maka berdiam diri bisa merusak kecerdasan (Leonardo Da Vinci).
Kenapa kita harus menulis? Adalah retorika yang perlu kita refleksikan ke dalam diri kita masing-masing. Pengertian menulis di sini adalah menulis yang berdasarkan ide-ide atau gagasan orisinalitas kita, bukan menulis karena kita merangkum atau menulis dalam hal pengerjaan tugas. Lebih spesifik lagi, yaitu menulis dengan estetika, menulis sastra.
Berapakah usia kita? Itulah retorika kedua yang perlu juga kita refleksikan. Agatha Christie menghasilkan sekitar 85 judul novel. Dan, Agatha Christie meninggal pada usia yang sama dengan jumlah novel yang dihasilkan. Hal ini berarti setiap tahunnya, sepanjang hidup Agatha Chrstie, menghasilkan satu novel. Konon, sampai tahun 2003, semua novelnya terjual sekitar 2 milyar eksemplar. Angka ini merupakan angka penjualan buku tertinggi di dunia (Tanudi: 2008).
Kenapa harus menulis sastra, dalam hal ini adalah cerpen. Sebab, sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan, sebagai cermin, sastra memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya (Giyardi: 2008:1). Bisa diperjelas bahwa sastra tidak akan lekang oleh waktu karena sastra adalah bagian dari perjalanan waktu itu sendiri.
***
Orang bisa mati, bangsa bisa bangkit dan runtuh, tapi ide hidup terus. Ide punya daya tahan tanpa kematian (John. F. Kenedy).
Menulis di awali dari saat ini. Sepulang dari acara ini. Bahkan saat acara ini berlangsung. Kalau perlu dari detik ini. Mari, kita menulis. Menulis sesuatu yang berada dalam benak kita. Menulis sesuatu yang masih menjadi gagasan. Membayangkannya, menghubungkannya dengan realita, lantas menuliskannya!
Bagaimana harus memulai menulis? Adalah pertanyaan yang sering diajukan ketika kita hendak menuliskan sesuatu. Begitu banyak metode dan memang tidak ada metode yang paling baik, yang ada hanya teknik yang cocok buat masing-masing individu.
Coba kita pinjam tulisan Lukito (2008) tentang Teknik Jika saya. Teknik ini memperkaya dan melatih daya imajinasi dalam membuat suatu tulisan yang kreatif. Misalnya: Jika saya menjadi seorang bayi dalam kandungan yang tiba-tiba ada semacam alat yang mengeluarkan kita secara paksa karena seseorang tak menginginkan kelahiran kita. Lanjutkan cerita tersebut dalam dua sampai tiga atau lebih paragraf.
Sementara Aleinikov (37:2004) menyarankan untuk mendaftar lima hal paling bodoh yang pernah atau barangkali akan Anda lakukan. Misalnya: Resleting yang terbuka saat presentasi di depan kelas, mengirim sms ke kekasih gelap tetapi salah pencet sehingga terkirim ke kekasih betulan, dst. Setelah merasa ada lima hal yang bodoh baik yang pernah atau akan dilakukan, maka tuliskan dalam dua sampai tiga atau lebih paragraf.
Seorang teman pernah menyarankan untuk menulis dengan cara begini: siapkan kertas dan pensil atau buka ms.word. Selanjutnya, ingat-ingat lagi kejadian lima atau sepuluh jam yang lalu. Ingat-ingat Anda berada dai mana lantas kemana saja dan hingga sampai pada posisi Anda sekarang. Jika tidak ada yang menarik, coba Anda ingat-ingat lagi beberapa waktu yang lalu mengenai sesuatu yang paling menarik (bisa konyol, lucu, romantis, sedih, dsb) untuk dituliskan.
***
Suatu saat aku mesti mati, tetapi karya-karyaku akan menjadi mantra untuk membangkitkan aku kembali (www.lubisgrafura.co.cc)
Jangan hanya menulis untuk diri kita sendiri. Masalah dimuat atau tidaknya di koran atau dibukukan itu persoalan lain. Masalah ini sastra canon ini sastra ecek-ecek itu urusan kedua. Masalah dibaca orang atau tidak, yang penting menulis dan kirimkan.
Yang menjadi pokok persoalan adalah kemana kita mengirimkannya. Begitu banyak media di Indonesia baik lokal maupun nasional. Buka laman koran yang hendak dituju, lantas cari redaksi dan emailnya. Kirim karya Anda!
Pada sebuah pasar sastra Jawa Timur di Surabaya yang dilaksanakan pada 22-23 Agustus 2008 ada seorang penyair millis (dirinya menyebut begitu karena tidak pernah masuk koran dan hanya menerbitkan puisi-puisinya di millis-millis) yang “marah” karena puisinya tidak pernah dimuat di koran. Lantas, pada suatu kesempatan, saya bertanya “Berapa puluh puisi yang sudah Anda kirim, sudah adakah sekitar 80 puisi?” Penyair millis itu menggelengkan kepala. Selanjutnya saya jawab “Oleh karena itu, menulislah kembali.”
Dr. Djoko Saryono, Mpd pernah juga mengatakan bahwa sebuah karya itu setidaknya indah dan berguna, sedangkan karya di dalam millis-millis dan di cybersastra adalah karya-karya yang barangkali tidak indah dan juga tidak berguna. Kecuali, puisi tersebut ditulis pada laman-laman seorang yang berprofesi penulis.
Hal ini mencerminkan bahwa untuk menghasilkan karya yang bagus, maka kita juga harus memiliki referensi yang bagus juga. Misalnya, jika hendak menembus cerpen dalam koran, maka disarankan untuk membaca cerpen-cerpen koran tersebut. Hal ini disebabkan agar diri kita membentuk suatu pemahaman akan “rasa” dari karakteristik koran tersebut. Sebab, setiap koran memiliki gaya dan ”rasa” yang berbeda-beda.
***
Kalau ada keyakinan yang bisa memindahkan gunung, itu adalah keyakinan pada kekuatan Anda sendiri (Marie Von Ebner-Eschenbach).
Artinya apa? Keyakinan dan tanpa patah arang adalah salah satu kunci untuk menuju suatu kesuksesan. Kalau kita yakin, seluruh sel dalam diri kita akan menuntun alam bawah sadar, bahkan seluruh alam semesta akan mendukung langkah kita menuju impian kita. Gagal dan berhasil bukanlah hasil akhir. Selama dalam proses itulah kita akan menemukan banyak hal. Singkat kata: menulis, kirimkan, menulis, kirimkan, menulis lagi, kirimkan lagi…ingatlah Tuhan tidak pernah tidur dan selalu melihat usaha kita.

DAFTAR RUJUKAN
Alenikov G. Andrei. 2004. Mega Kreativitas. Yogyakarta: Niagara.
Giyardi, R. 2008. Dunia Sastra Ibarat Pasar. Katalogus VII/VIII/08 Artcentre Taman
Budaya Jawa Timur
Lukito, AM. Semua Bisa Menulis. Makalah Makalah Dicari Guru Penulis 2008 Malang
Tanudi. 2008. Belajar Menulis dari Sejarah. Makalah Dicari Guru Penulis 2008 Malang

*Lubis Grafura. Mahasiswa pascasarjana UM. Beberapa kali memenangkan kejuaraan lomba antara lain: Juara I menulis Puisi IRIB Kerjasama Indonesia-Irak bertema “Keagungan Rasulullah” 2007, mendapatkan penghargaan atas nominasi cerpen tingkat nasional dari Menpora dan CWI 2005, Juara III kolom kita.com 2008, Juara III All About Women Unibra 2005, dan Nominator cerpen STIS Jakarta 2005. Karyanya terampai dalam Puisi Cinta Webersis (2008), Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra 2008), La Runduma (2005). Karyanya pernah dimuat di Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Koran Pendidikan, Kreativa, Jurnal Bahasa dan Sastra Surabaya, Siar, dan Komunikasi. Mengelola http://www.lubisgrafura.co.cc dan bisa dihubungi di lubisgrafura@ymail.com

Iklan

5 Komentar »

  1. Erly muftihati Said:

    kalau bisa,, ajarin aku ya……………….

  2. kalau bisa,, ajarin aku ya……………….he,,he….

  3. Bella Said:

    Apa siH peNGerTian bunGA raMPai??
    Q penGIn taU Cz q BrU dnGer naMA iTU!!

  4. ivan Said:

    mas, mohon alamat medianya ya..anak2 gerilya mau kirim..
    terimakasih

  5. ivan Said:

    oh iya
    sama cerpen saya
    thanks


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: