Kenapakah Tuhan Menciptakan Kita?

Kenapakah Tuhan Menciptakan Kita?

Pertanyaan ini pernah ditanyakan malaikat kepada Tuhan pada suatu dialok berikut.
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Para malaikat berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Malaikat saja yang khusuk, ternyata jawaban itu masih dirahasiakan oleh Tuhan. Lantas, apa maksud tujuan Tuhan sebenarnya?
Saya pernah membayangkan masa kecil saya yang tangah hadir di tengah-tengah sahabat kecil saya. Sebut saya Pi’i, Sumeh, dan Aan. Kami sering bersama-sama dalam berbagai hal. Kami pernah mandi bersama di sungai dan menikmati hidup. Kalau saat ini kami bertengkar, mungkin besok kami sudah baikan lagi. Tidak ada dendam. Yang ada hanya pertanyaan: ”Apa yang akan kita lakukan agar kita senang hari ini?”
Perbedaan status tidak membuat kami saling iri. Perbedaan pendapat tidak membuat kami berdebat. Perbedaan mainan yang kami miliki, kami akan saling meminjami.
Waktu berlalu. Aan pun pergi ke pulau seberang, Pi’i pula tidak pernah pulang, Sumeh pun semenjak rumahnya digusur saya tidak pernah menemuinya lagi. Hanya saya sendiri yang berada di tempat yang lima belas tahun lalu sangat ramai. Kenapa Tuhan mempertemukan jika harus dipisahkan?
Saya pun punya bapak yang baik dulu. Memiliki seorang bude yang perhatian. Selalu membela saya apa adanya. Selalu menempatkan diriku pada kebenaran walau terkadang saya tahu saya salah. Dialah yang selalu berkata dengan senyuman untuk menasihatiku bukan dengan kata-kata kasar.
Keduanya telah pergi. Pertanyaannya lagi adalah: Apakah tujuan Tuhan mempertemukan saya dengan mereka?
Lantas, kenapa Tuhan begitu saja menciptakan surga dan neraka. Tuhan akan menjebloskan kita ke dalam neraka jika kita banyak dosa dan sebaliknya. Jika Tuhan Mahatahu dari awal hingga akhir kenapa Ia pilih kasih kepada hambanya mana yang masuk surga dan neraka.
Apakah pemahaman kita sepicik itu. Kita baik masuk neraka dan sebaliknya. Memang tidak ada batasan yang pasti bagaimanakah orang yang baik dan yang jahat itu. Menjauhi larangannya dan menaati perintahnya adalah hal yang sederhana namun dalam realisasinya bukan hal yang sepele untuk dijalani.
Sayapun sering bertanya kenapa saya adalah saya yang kurasakan? Kenapa saya bukan dia? Kenapa saya bukan si anu atau si itu? Kenapa saya bukan air yang senantiasa mengalir? Kenapa saya bungan angin yang senantiasa menghilir? Pertanyaan inilah yang membuatku berpikir tentang hidup bahwa hidup ini hanya ada dua: pilihan dikotomis dan takdir mutlak.
Hidup adalah pilihan. Itu kata banyak orang dan memang benar adanya. Saya menyebutnya dengan pilihan dikotomis. Artinya pilihan yang saling bersebeangan. Seperti malam dan siang. Hitam atau putih. Setiap tindakan yang kita jalani sehari-hari ini adalah pilihan dikotomis. Kita mau berbuat jahat atau baik? Mau menaati atau membangkang? Tuhan sudah memberi kebebasan kepada kita.
Tuhan menciptakan kita ternyata tidak main-main. Ia sudah menyiapkan segalanya. Memberi banyak fasilitas. Kita hanya duduk memilih, seperti halnya kita dalam WHO Wants To Be Millionare yang bebas dalam memilih. Bedanya, dalam kehidupan ini kita sudah bisa tahu resikonya jika berbuat baik dan sebaliknya. Sayangnya, kita sering lupa dalam hal ini.
Tuhan sudah menyiapkan segala keperluan kita. Kalau kita pandai membaca hal-hal terkecil dalam hidup ini tentu kita akan bisa merasakan cintaNYa. Misalnya, kenapa kita gagal melakukan sesuatu, barangkali kita perlu berpikir ada apa di depan sehingga kita tidak berhasil. Kita harus berprasangka baik kepada Tuhan dengan bertanya: ”Rencana baik apa yang dipersiapkan Tuhan sehingga saya gagal dalam langkah ini?”
Dalam Pilihan Dikotomis kita bisa melakukan perubahan. Misalnya kita sekarang sudah menjadi jahat, barangkali besok kita perlahan menjadi baik. Apakah salah itu benar-benar dosa dan salah? Saya rasa tidak. Tuhan pun memberikan satu fasilitas refresh terhadap kita. Berikut adalah petikannya.
”Apa yang terjadi jika aku berbuat dosa?”
”Dituliskan dosamu”
”Jika aku bertobat dan mohon ampun?”
”Diampuni dosamu.”
”Jika aku berbuat dosa lagi?”
” Dituliskan dosamu”
”Jika aku bertobat lagi?”
”Diampuni dosamu. Ia-lah yang tidak akan pernah bosan memberi ampun dan tobat selama kau tidak bosan meminta ampun dan tobat.”
Hal ini bukan berarti kita mudah melakukan dosa dan setelah itu kita bertobat. Dalam petikan terakhir disebutkan : Ia-lah yang tidak akan pernah bosan memberi ampun dan tobat selama kau tidak bosan meminta ampun dan tobat. Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah kita tidak malu terus berbuat dosa walau Tuhan tak bosan mengampuni?”
Hal kedua saya sebut dengan Takdir Mutlak. Artinya kita tidak bisa mengubah segalanya atau memiliki kesempatan untuk mengubahnya. Misal: jadi apa diri kita, kematian, kelahiran, dsb.
Kenapa Tuhan menguji kita?
Sejatinya dari air mata tidak hanya kesedihan, tapi juga kebahagiaan. Suka dan duka, miskin kaya, senang bahagia, semuanya adalah ujian kepada kita. Dua sisi itu hanya mengombang-ambing kita, apakah kita tetap ingat kepadanya? Atau justru kita murtad kepadanya!
Tuhan-lah yang senantiasa bersabar saat kita sedang dalam ujian bahagia walau kita melupakannya. Jika kita menangis saat ditimpa musibah, Tuhan lebih tersedu dan ia pun berharap kau bisa melewatinya. Seolah seorang gadis yang kekasihnya sedang berperang dengan calon suami yang dipilihkan ortunya. Kepada siapakah gadis itu berpihak? Itulah kita. Kita adalah kekasihNya yang dinanti agar kita memenangkan peperangan.
Dengan siapa? Dengan ibliskah? Satu hal yang pasti: kita berperang dengan hawa nasfsu kita sendiri! Lantas kemana peran iblis? Iblis hanya menyodorkan pilihan dikotomis itu dengan barat sebelah, sedangkan kitalah yang memilih. Kitalah yang menanggung segala risikonya.
Kurang cinta bagaimana lagi Tuhan?
Agar menjadi PNS kita mesti ujian diantara ribuan orang. Jika ingin naik kelas kita pun ada tes. Jika mau masuk PTN kita harus bersaing. Ujian, tes, saiangan, perang, itu semuanya bukan kepada siapa-siapa, semuanya itu ditujukan kepada diri kita. Kalaupun toh ada orang lain yang dilibatkan itu hanya pemantik saja.
Kurang sabar bagaimana lagi Tuhan?
Dialah yang akan menunggu kita. Dialah yang akan senantiasa ada. Lebih mengenal diri kita daripada kita sendiri. Sebab, Ia lebih dekat dari urat nadi kita. Bukankah sebelum jadi sarjana dan bekerja kita harus melewati tahapan-tahapan? Itulah dunia.
Lantas, kenapa Tuhan menciptkan kita? Jawaban itu tak perlu kita cari, karena dengan kekusyukan yang tinggi kita akan menemukannya di sana.
Mari…kita saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

http://www.lubisgrafura.co.cc
Kritik dan saran: lubisgrafura@ymail.com

Iklan

4 Komentar »

  1. Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin 😀

  2. Lex dePraxis Said:

    Hmmm, tulisan yang manis. Terima kasih telah berbagi. Saya juga ada menulis topik serupa tentang mencari kebahagiaan dan kebermaknaan dalam entri saya yang berjudul Being Superhero.

    Salam kenal, dan sampai jumpa lagi.

    Lex dePraxis

  3. inspiratif sekali mas..terima kasih…
    semoga kita semakin bisa belajar untuk mengerti hakikat yang sebenarnya dari mengapa Tuhan YME menciptakan kita??
    karena tidak ada produk gagal dari Yang Maha Sempurna..

  4. meditation1234 Said:

    n__n


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: