MARGINAL

MARGINAL

Ifa Masluhah*

Sebagai seorang wartawan Persma, Lia selalu berpikir kenapa kondisi Indonesia masih tetap carut marut. Hampir semua media massa selalu mengkritisi kondisi masyarakat yang masih timpang. Setiap hari wacana tentang penggusuran pedagang kaki lima, pengamen jalanan pemulung hingga pengemis menjadi sajian yang menghiasi dunia pertelevisian kita. Setiap hari selalu ditayangkan kejadian yang berbeda dengan lokasi yang tidak selalu sama. Tak heran Lia pasti selalu memantau perkembangan tayangan-tayangan tersebut. Ia melihat itulah wajah yang tampil dalam potret kesuraman masyarakat marginal Indonesia.

Membayangkan semua hal itu, pikiran Lia semakin ewuh pakewuh. Tubuhnya terasa berat, segera saja ia sandarkan bahunya ke dinding ruangan 3 x 4 markas persma kesayangannya. Sebuah ruangan sempit pusat segala aktivitasnya bersama kawan-kawan entah dalam suasana suka atau duka. Sambil bersandar dan membuka-buka majalah, lia mengulang kembali bayangannya tentang kaum ayang termarginalkan.

Lia mulai merunut satu persatu peristiwa yang telah mengantar dirinyahingga membayangkan kisah-kisah memilukan tersebut. Sebuah gambaran kehidupan masyarakat Indonesia. Pikiran itu berawal ketika ia melihat banyak sekali pengemis yang berada diatas jembatan layang. Saat melihatnya, Ia merasa risih, serta miris. Dan kejadian lain yang hampir sama terus berdatangan hingga sampai di kampus tercintanya.

Belum sempat memikirkan jawaban dari permasalahan itu, Lia malah tertidur.

“ ***** “

“ ruang apa ini, kenapa kaki dan tanganku terikat”. Ucap Lia dalam hati
“Aduh gelap lagi” tambahnya.
Kemudian dari sudut ruangan terlihat cahaya. Sebuah layar nampak melingkupi ruang yang bercahaya itu.

Lia masih terkejut dengan pemandangan aneh itu, ia tak menyadari keberadaannya sekarang.ia tak mampu berteriak suaranya tercekat, dalam sekali jauh didalam tenggorokan. Keterkejutannya terus bertambah. Layar itu menampilkan putaran film.Lia hanya mampu menikamtinya dalam diam

Dilayar itu muncul sebuah rumah megah, disana tinggal orang-orang kaya yang serba berkecukupan. Namun layaknya tayangan sinetron, mereka selalu bertengkar, konflik muncul berceceran, dan menghiasi sebagin besar kisah itu,.

Belum selesei keheranan itu lia nikmati, tayangan lain muncul;

Slide itu menampilkan korban-korban zaman di kawasan kumuh yang Lia saksikan tadi siang muncul disana. Tak terlihat sedikitpun kemewahan disana. Tapi canda tawa anak-anak kecil disana selalu terlihat dalam temaram musik jalanan.

Tak lama kemudian gambar-gambar lain bermuncul, berputar-putar dan berulang.

“ ***** “

“Woi! Bangun-bangun”
Lia tersentak, ternyata yang ia saksikan tadi hanya mimpi. Sekarang ia masih berada di tempat yang sama dalam markas besarnya. Tapi ia merasa kejadian tadi benar-benar nyata.” Ya allah apa yang terjadi “ Lia menggumam.

Sebuah titik terang keluar di hatinya. ”ini adalah peringatan Allah buatku, Aku harus banyak bersedekah, saudara-saudaraku membutuhkan aku. Mungkin selama ini yang aku lakukan hanya bermain-main saja.”

Lia, mulai menemukan sebuah jawaban atas berbagai pertanyaan yang sempat melingkupi hati dan pikirannya. Lia ingat bahwa salah satu amalan yang disukai Allah setelah amal fardhu adalah amalan yang dapat memberikan kemaslahatan bagi sesama. Tak cukup memberikan harta saja, tapi kita harus memberikan kepedulian dan kasih saying kepada sesama tanpa mengharap imbalan apapun.

“ Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang didiringi sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Q.s. Al Baqoroh [2]:263)

*mahasiswa FEUB jurusan Manajemen’2008
Penerima Beastudi Etos wilayah Malang angkatan 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: