Satu Bulan Dua Kemenangan

Enam puluh empat tahun lalu: para pendahulu kita meruncingkan bambu, lantas mengecup kening istri dan anaknya, pamit untuk menuju kemenangan negara kita. Deru tembak, kegelapan, pekik menjelang ajal, dan dentuman bom bersatu dalam degub jantung. Hingga akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi, kita bisa mengingat semangat Soekarno menghangatkan kebekuan nusantara. Pada bulan yang sama di tahun ini, kita pun mesti berjuang kembali, kita berjuang tanpa deru tembak dan dentuman bom. Kita berjuang yang nyaris tanpa lawan. Sebab, musuh yang sebenarnya yang akan kita hadapi adalah diri kita sendiri.

Perjuangan bangsa kita tentunya tidak berhenti pada saat dibacakannya teks proklamasi saja. Perjuangan kita masih panjang, bahkan terasa tak akan pernah usai. Permasalahan mengenai negara ini seolah terus menjelma menghantui setiap generasi bangsa ini.

Peringatan perjuangan para pahlawan di bulan Agustus ini terasa memudar. Betapa tidak, upacara peringatan hanya sebatas “ritual rutin” tiap Agustus. Nyaris, tanpa ruh yang menjadikannya kidmad. Para siswa-siswi hadir hanya karena kehadirannya diabsen. Di sisi lain, terdapat deretan rumah-rumah mewah yang di depan halamannya terdapat sehelai kain merah putih lusuh yang salah satu sisinya diikat sekenanya pada batang bambu.

Terlepas dari itu, masih ada juga perayaan-perayaan yang diselenggarakan untuk menyemarakkan bulan Agustus. Salah satunya adalah panjat pinang. Sebuah usaha untuk mendapatkan hadiah yang diikat di atas tiang tinggi itu pun masih banyak kita jumpai, walau hadiah yang direbutkan tidak seberapa. Lantas kenapa mereka masih mau melakukannya? Barangkali untuk mengingat jasa dan nilai kebersamaan para pejuang kita yang dilambangkan dengan hadiah yang diikat di atas tiang.

Sesuatu yang sulit untuk dilakukan untuk mendapatkan hadiah itu, bahkan bisa dikatakan mustahil, apabila kita kerjakan bersama-sama dan penuh kesungguhan, niscaya akan berhasil. Dan hal itu sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Mereka bersama-sama merekatkan jemari, saling memberikan bahu kepada sesama, mengulurkan lengan, bahkan tak jarang mengorbankan nyawanya untuk berperang.

Korupsi dan terorisme yang menjadi isu bagi kita tak ubahnya adalah pil pahit yang mesti kita telan bersama-sama dan silih berganti. Kita akan saling tuding dan memberikan asumsi yang penuh emosi apabila kita tidak belajar bijak dari nilai-nilai yang sudah diajarkan para pendahulu kita. Sebab, semakin dalam analisis dan prasangka buruk kita, maka semakin besar kemungkinan bangsa ini akan pecah. Dan, para pembuat ulah itu akan semakin melebarkan senyum.

Marilah, kita bersatu. Tak perlu bom untuk meledakkan gedung yang besar, tak perlu lah media-media menyiar-kabarkan lagi mengenai pil pahit yang mau tidak mau mesti kita telan, tak perlulah kita saling menudingkan kesalahan. Justru, mari kita lihat anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Seharusnya kita mengulurkan tangan untuk mereka, karena anak-anak bangsa itulah senjata kita. Barangkali salah satu dari mereka, nantinya akan menjadi pemimpin yang mampu membawa negara kita ini menuju kemenangan yang sejati.

Pada bulan yang sama, kita pun disusul dengan datangnya bulan yang penuh berkah. Bulan yang juga mengantar kita pada kesejatian. Kita pun harus menggali nilai-nilai yang sudah dibawa oleh seorang Rasul lantas diwariskan kepada kita. Sebuah warisan yang lebih mulai daripada dunia seisinya. Warisan itu adalah Islam.

Islam mengajarkan kepada kita mengenai puasa. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Puasa lebih dari sekedar menahan lapar dan haus. Puasa di sini adalah puasa dari seluruh indera yang ada ditubuh kita. Kita harus melawan diri kita sendiri. Melawan setiap emosi yang selama ini merajai.

Di sinilah kita juga mesti merasakan perjuangan. Perjuangan yang lebih besar malah. Betapa tidak, kita tidak tahu siapa lawan kita. Dimana dia berada. Bagaimana wujudnya. Kita hanya tahu diri kita dan perasaan-perasaan yang akan mengendalikan diri kita. Dengan itulah kita berperang. Kita berperang tanpa pedang. Kita bertaruh tanpa musuh. Hanya Allah yang tahu bagaimana kualitas puasa kita – perang kita! Kita hanya bisa menghitung kuantitasnya.

Bulan ini sebenarnya adalah sebiah isyarat kalu kita bisa membacanya. Ada nilai-nilai yang ditawarkan banyak untuk kita pelajari. Untuk gali. Allah tidak serta merta menurunkan bulan penuh ampunNya pada bulan kemerdekaan ini tanpa alasan. Mestinya kita berpikir lebih dalam. Agar kita bisa memperbaiki kualitas diri yang nantinya terpaancar dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Pada bulan ini kita belajar dua hal: belajar mengenai pejuang bangsa kita dan belajar mengenai nilai-nilai pada bulan suci. Kita harus meneladani, meresapi, sekaligus menjalani hal yang sudah dilalui oleh pendahulu kita agar pada bulan ini kita akan menemukan dua kemenangan: kemenangan sebagai bangsa dan negara sekaligus kemenangan keabadiaan dalam bulan penuh berkah. InsyaAllah, kita nanti tidak akan menemukan lagi pil pahit yang mesti kita telan. Semoga.

tag: dijaminmurah

Lubis Grafura
http://www.lubisgrafura.co.cc
lubisgrafura@ymail.com

Iklan

1 Komentar »

  1. Anjar Said:

    》》 So Sweet


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: