Bersastra, Perlunya utile de ucire: teknik menulis itu….

Bersastra, Perlunya utile de ucire

Sebuah sastra tidak hanya indah. Tidak cukup dengan kata-kata disusun indah selayaknya mozaik pada lukisan dinding pada zaman renaissance. Sastra adalah perpaduan antara bentuk dan isi. Seperti halnya tubuh seorang perempuan, tidak hanya indah dipandang. Tentunya,kau juga perlu memanfaatkannya!
Sebuah email saya terima dari salah satu anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP). Email itu berisi beberapa puisi. Puisi-puisi yang disusun secara baik dengan diksi dan –tentunya- dengan hasil perenuangan yang dalam agar katarsis di dalam puisi bisa tercapai.
Beberapa puisi yang saya baca, saya merasa sedang melakukan perjalanan waktu yang kiri kanannya adalah kata. Kata itu indah. Meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain. Tidak jarang, saya juga menemukan Tuhan di sana. Tuhan hanya menempel begitu saja seperti hiasan dinding. Yang terkadang terbaca, kadang tersisihkan. Kutemukan hal ini pada Cebbing.
Ada penggolongan puisi yang terbagi menjadi dua bagian. Pertama, puisi yang disebut sebagai acrobat kata-kata. Puisi seperti ini biasanya kuat hanya pada diksi dan minus dalam pemaknaan. Biasanya puisi seperti ini serasa di awing-awang. Sulit diphami namun kata-kata yang ditaarkan sangat dramastis nan bombastis. Kedua, puisi yang memiliki diksi yang baik dan kandungan makna yang kuat. Puisi jenis inilah yang bisa kita namai, atau sesuai dengan teori, utile de ucire. Artinya, sebuah karya yang baik adalah karya yang bisa memberikan pencerahan selain keindahan. Pencerahan itu, menurut saya, perlu disampaikan secara eksplisit dan implicit.
Banyak penyair yang mencoba menulis puisinya dengan bahasa yang sulit dimengerti. Lantas, pertanyaannya adalah “untuk apa ia menulis?” seperti halnya menulis skripsi yang setelah itu hanya bersusun rapai di rak perpustakaan tanpa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi manusia. Coba dinilai, apakah puisi di bawah ini, termasuk jenis puisi yang mana.
Tidak perlu psimis. Penilaian ini berdasarkan subjektivitas, bukan objektivitas. Dimana uraian ini berdasarkan selera, bukan berdasarkan patokan. Tentunya selera yang saya maksud tetap berlandasakan pada tataran pemikiran dan dasar pemikiran yang bisa dipertanggungjawabkan.
Mau dikemanakan puisi-puisi ini?
Saya merekomendasikan untuk dikirim ke Kompas. Alasannya, karena kompas memberikan kebebasan berekspresi mengenai karakter dan baris puisi. Secara keseluruhan, puisi-puisi tersebut, layaklah untuk mengisi kolom kompas. Setidaknya, jika saya, yang jadi editornya.

Lubis Grafura
http://www.lubisgrafura.co.cc

Berikut puisi-puisi Andi UKMP

Iklan

1 Komentar »

  1. lukisanmoses Said:

    Salam. Tq. Enak ulasannya.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: