Membuat Manyalah, Bukan Hal yang Mudah: Tips Menulis Sebuah Majalah (Email)

Pagi Mas Yudha,

Semoga pagi ini cukup menyenangkan. Membalas email sambil mendengar lantun alun Anggun membuat saya cukup bersemangat hari ini I don’t want work today, maybe I just want stay, make it easy, cz I don’t want stress!. Lantun Anggun tersebut seolah menyindir saya betapa rutinitas keseharian saya di sekolahan cukup membosankan. Saya bergaul dengan orang-orang yang administratif. Kehadiran Mas Yudha ternyata cukup menghidupkan saya akan idealisme yang hampir tenggelam.

Saya kok belum puas kalau email yang dikirim Mas Yudha disebut sebagai sebuah proposal. Saya menilai tulisan tersebut masih pada tataran wacana dengan latar belakang pemikiran saja. Saya belum bisa menemukan detail gerak majalah ini. Sedangkan untuk tujuan, barangkali saya sudah cukup puas. Sebuah proposal, tidak harus bagus, namun harus memiliki nilai komunikatif dan persuatif. Artinya, pembaca proposal tersebut bisa mendapatkan informasi yang hendak disampaiakn (komunikatif) dan tergerak hatinya untuk mengikuti atau mendukung apa yang tertulis dalam proposal (persuatif).

Apa yang perlu dilakukan agar tulisan itu menjadi sebuah proposal? Pertama perlu adanya rancangan anggaran biaya. Kedua, kesepakatan kerjasama, yaitu bentuk iklan apabila pengiklan membutuhkan sekian ruang ia akan membayar sejumlah sekian, perlu juga segera disusun bahwa iklan berwarna dan tidak memiliki tataran harga yang berbeda. Ketiga, rubrikasi segera disusun. Ini adalah hal yang cukup esensial dari sebuah media manapun. Sama halnya kalau Mas Yudha pergi ke restoran, saya yakin menu yang akan Mas Yudha cari, bukan siapa pemilik restorannya. Keempat, segera dibentuk struktur organisasinya siapa saja. Mulai dari pimred, redaksi, editor, penulis (terdiri dari penulis lepas dan tetap), dsb.

Mengenai hal lainnya, saya pun mengajungkan dua ibu jari untuk tulisan dalam ”Selayang Pandang” sebuah tulisan yang bagus.

Hal yang perlu saya ulas lagi adalah mengenai karakter sebuah majalah. Karakter yang Mas Yudha sampaikan sepertinya masih bersifat teknis, yaitu masih yang bersifat visual. Artinya karakter yang dibentuk majalah secara kasat mata saja. Padahal, kalau kita bicara mengenai karakter, kita akan mengidentifikasikannya terhadap dua hal, yaitu melalui bentuk fisik (visual) dan psikis (nonvisual). Karakter majalah semacam berikut adalah karakter fisik.

KARAKTERISTIK MEDIA
Ukuran : 148 mm x 210 mm
Posisi : portrait/tegak
Tebal : 50 halaman
Jenis kertas
Cover : matte 210 gr
Isi : HVS 110 gr
Warna : full colour

Apa yang menjadi karakteristik nonvisual sebuah majalah? Sangat mudah sekali. Pertama, berita yang diangkat. Coba bandingkan koran Kompas dengan Jawa pos. Berita yang diangkat oleh Kompas lebih universal, kalau tidak sempat membaca hari ini, dibaca esok hari masih bisa. Ini adalah berita yang bersifat humaniora (bukan politik dan internasional). Coba bandingkan Femina dengan majalah Chic? Bisa menemukan perbedaan keduanya? Itulah mengenai sudut pandang. Kedua, gaya penulisan. Perlu kita rumuskan yang bagaimana gaya penulisan majalah kita. Saya sangat menyarankan kalau satu sampai dua paragraf dalam setiap tulisan/artikel mengandung persuatif yang dalam atau kata bombastis. Kalau dalam jurnalistik ada istilah teras berita kita akan menyebutnya sebagai persuatif berita (mengenai ini, bisa kita bahas pada email berikutnya, karena akan poanjang ulasannya). Ketiga, Perlunya memberikan amanat dalam setiap tulisan, jadi tulisan itu tidak hanya bersifat infornatif, namun juga bersifat pemaknaan. Artinya, orang yang membaca tulisan ini, mereka akan menemukan dua hal: informasi dan amanat.

Beberapa pertanyaan yang barangkali perlu didiskusikan dan dipecahkan bersama. Berikut pertanyaannya.
1. Budaya seperti apa yang Mas Yudha maksud dalam New Indonesia?
Saya pingin tahu bagaimana batasan budaya yang dimaksud dalam majalah ini Mas? Tolong dirumuskan pengertiannya dan bagaimana batasannya. Perlu diingat Mas, bahasa juga termasuk sebuah budaya. Bahasa yang berbudaya adalah bahasa yang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kesepakatan yang ada. Hal ini kita mengacu pada kesepakatan Pusat Bahasa dan Balai Bahasa. Kalau memang bahasa masuk dalam rumusan ini, kenapa namanya New Indonesia bukan Indonesia Baru. Apakah Punk juga termasuk budaya? Budaya korupsi? Ataukah budaya hanya terbatas pada atribut kedaerahan beserta kegiatannya? Tentunya, saya tidak berharap jawaban mengenai batasan budaya adalah budaya yang tidak hanya Jawa, tapi seluruh nusantara yang dipadu dengan globalisasi (jawaban ini masih bersifat umum dan terdengar seperti jawaaban anak sma). Saya berharap Mas Yudha dan teman-teman bisa merumuskan terlebih dahulu sebelum saya bisa membantu lebih jauh.
2. Struktur organisasi majalah apakah sudah terakumulasi dengan baik?
Perlu segera dirumuskan juga mengenai pimred beserta jajarannya. Apalagi mengenai penulis, Mas Yudha harus segera mengklasifikasikannya menjadi dua, yaitu pebulis lepas dan penulis tetap. Apakah juga sudah ada nomor rekening? Sebab begini Mas, saya kurang yakin dalam waktu dua bulan (apalagi penulis belum terbentuk, dan kru lainnya) bisa cetak. Kalaupun bisa, saya yakin hasilnya kurang optimal. Oleh karena itu, segera saja pimred membuat jadwal yang bisa dievaluasi bersama. Dimana pada jadwal tersebut terdapat alokasi waktu yang harus segera kita selesaikan. Misalnya, dalam minggu ini kita sudah punya taregt apa yang harus segera di selesaikan.
3. Bagaiamana detail pembiayaan majalah ini?
Ini pertanyaan yang sensitif, namun kalau boleh, saya ingin tahu secara jelas dari mana sumber dananya. Siapa saja pemasok dananya? Kalau ada orang lain, tentunya ada kompensasinya, dan tentunya akan ada warna idealisme yang ditawarkan. Dari sini juga perlu segera dibentuk bendahara yang bertugas untuk mengatur sirkulasi biaya. Dialah yang bertanggung jawab mengenai pendanaan tiap edisi. Misalnya, kalau kita menerbitkan edisi bulan ini, otomatis, kita sudah harus memiliki sisa dana untuk edisi berikutnya, begitu seterusnya.
4. Apakah masalah legalisasi majalah sudah ada izinnya?
Saya berharap ini bukan majalah minor label. Artinya, majalah yang diterbitkan melalui arus bawah. Mengenai pengurusan izin, barangkali Rendra lebih paham. Mas Yudha bisa minta bantuan kepada Rendra untuk mengurus masalah izin majalah. Atau kalau Rendra ternyata tidak bisa, nanti saya carikan teman yang berkompeten dalam bidang ini.
5. Apakah ada kompensasi dari tulisan yang dimuat?
Oke lah, Mas Yudha menamakan ini adalah proyek idealisme. Bagi saya, idealisme memang harus diperjuangkan. Bukan dengan cara yang nekad. Atau seperti halnya onani, sekali berbuat setelah itu selesai. Kita membutuhkan forplay dan afterplay. Artinya, idealisme boleh kita bangun dengan cara yang menggebu, namun perlu diimbangi dan disinergikan dengan sistem yang ada. Seolah virus di dalam flashdisc, ia tidak akan bekerja selama ia tidak masuk sistem. Virus itu baru bekerja saat ia sudah masuk ke dalam sebuah sistem. Sejarah di negara ini sudah cukup mengajari kita, bagaimana sebuah idealisme yang tidak dilandasi dengan kooperatif dan sistematis akan kandas di tengah perjalanan. Mario Teguh pernah mengatakan, jangan melawan arus selama diri kita belum kuat benar! Intinya begini Mas, saya usul kalo bisa setiap penulis yang tulisannya dimuat, kita beri merek akompensasi. Kalau layak, kita beri uang, kalau tidak cukup, kita bisa memberikan mereka sertifikat dan majalah. Begitu pula para kru majalah, perlu kita beri royalti sekadarnya. Itu pun kalau ada, kalau tidak, cukuplah dengan apresiasi lain yang tentunya bisa dibanggakan.
6. Adakah muatan edukatifnya?
Saya sangat berharap ada.

Ohya Mas, barangkali itu dulu. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Sungguh saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini semua saya uraikan agar majalah ini memiliki tujuan yang jelas. Terlepas dari semua itu, salut saya sangat salut dengan semangat idealisme Mas Yudha. Berharap saya, pemuda di Indonesia seperti Mas Yudha. Kalaupun kita tidak pernah bertatap muka, barangkali dengan ini jarak tidak melekangkan semnagat dan tali persaudaraan kita. Ups, satu lagi, global warming jangan dipandang sebagai isu saja mas yang bisa datang dan pergi. Ia ada unconveniant truth*) yang mesti kita hadapi. Ok, salam buat keluarga dan orang-orang terdekat.

”Setiap generasi memiliki jalan sendiri untuk menunjukkan jati diri. Dan, kami, sudah melakukannya!”

Salam,

Lubis Grafura
http://www.lubisgrafura.co.cc
lubisgrafura@ymail.com

*) judul film yang dibintangi oleh Algore.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: