Sajak-sajak Andi

CEBBING

I

Aku menemukanmu dalam diam yang tak beraturan,

sekejap saat udara menggigilkan musim

serta kabut-kabut itu semakin lindap

dalam tiap tingkah asingmu.

Alisku mengerucut pada kelip yang muram

menandai dinding dengan sedikit epulan putih

seraya merangkai cerita-cerita yang tak utuh ini

menjadi satu-kesatuan dalam bingkisan akhir tahun.

Aku mengamati tingkahmu dalam keringkihanku,

mengenyangkan khayalan dengan sesuatu yang tak bergizi

untuk menggeser syahwatku sedikit lebih lurus lagi

serta mencoba sesuatu yang akan mengingatkanku padamu

sebagai akhir dari kenikmatan malam ini.

II

Aku mengendapkan diri dalam embun,

sedikit menjadi bagian dari pagi

untuk menyambut hangat nafasmu

dan mulai mencoba menceritakan mimpi-mimpi semalam

sebelum kau terlelap lagi, dalam tingkah asingmu

sebab aku hanya bisa melamun kosong

saat kau mulai memutar musik kesukaanmu

dan aku semakin tak kuasa menghadapi gigilan musim.

Badan ini terlalu muda, untuk kau keroki

dengan doktrin-doktrin sayang

masih belum tebal benar kulitku

untuk dihadapakan pada bara apimu

masih butuh berbagai alur lagi

untuk kita bertemu dalam kesiapan

sebagai takdir lurus mudamu.

III

Tertahan dalam sendaumu, mentari mulai utuh

tersirami ludah-ludah ketidakberaturan

yang manja meminta belaian sendu

dari tiap percakapan yang kita bangun

serta mulai angkuh, mengegoiskan diri

hanya untuk memotong kalimat-kalimat

yang kita susun menjadi paragraf-paragraf manis

sebelum cerita itu menyeyumkan diri dengan sendirinya

aku ingin kita melentangkan diri, menumbalkan kemudaan ini

untuk menyumbat orasi yang tak berbentuk

dan melelapkan dunia dalam pangkuan-Nya kembali

seperti di musim gugur awal sua kita.

Malang, 2009

pencerita

deritan tanya yang mulai merona seakan menelanjangi alam, meminta lanjutan dari tiap-tiap potongan masalah yang tertinggal dalam saku baju tuhan.

ada seberkas sinar, mungkin jawaban atas malam pekat. seperti lilin-lilin yang kita susun dipematang danau, membinarkan wajah perjaka yang menunggu ikan emas disemak-semak muram. ada juga batuk wajah tua, bau nisan yang menyengat mengaduk-ngaduk tiap tingkah yang akan kita persembahkan untuk merumat malam.

ada penghuni baru, wajahnya merona masam. dikulitnya bisul-bisul asyik bercanda dan meriakan suasana, hingga mengaduk mataku yang minus dan merangsang lambungku yang mual untuk mencairkan batu-batu dalam tiap kebekuan yang terbangun antara dialog-dialog maya.

seekor capung berlarian, mengajak perjaka itu untuk turun ke danau dengan bertelanjang dada, mungkin ia ingin mengintip apa yang membidang didadanya ada kobaran api masa atau hanya sekedar pembuktian akan keperjakaannya.

sebuah tongkat tiba-tiba tergeletak begitu saja di halaman rumah, bentuknya seperti ular yang haus darah. matanya merona merah, dengan sisik-sisik mengembang tajam serupa belati ayah yang pernah merobek lambung ibu hingga aku pun lahir. ya, aku hanyalah bayi prematur yang selalu merindukan ibunya untuk mengobati keminusannya.

Kerucuk perut telah dikenyangkan dengan beraneka lauk, tanpa sebutir putih merona pipi artis yang lagi naik daun.

Malang, 2009

guru les sedang memprivati muridnya

pintu itu terbuka, dengan wajah manis pemuda itu menyilakan guru lesnya masuk dan duduk diruang tamunya. seorang perempuan setengah baya mengamati isi ruangan itu sedetail-sedetailnya, tas merah terlanjur asyik menggamit pundak putihnya. pemuda itu datang dengan minuman dingin, pas dengan cuaca yang agak panas. perempuan itu mengeluarkan buku biologi dari dalam tas merahnya, sementara sang pemuda asyik mengamati perempuan di depannya dari atas ke bawah sambil berharap dapat materi reproduksi dan langsung praktek.

malang, 2009

cerpen

sedap pagi tercipta setelah kau datang dengan manis bibirmu, lengkap ditanganmu segelas kopi susu. semakin nikmat ketika loper koran membumbui pagi dengan berita hangat, aku hanya menghela nafas putih. bau apekku bercampur dengan roti sumbu yang kau hidangkan, bau tubuhmu mengisi khayalanku secara penuh dan membuaikannya menjadi cericit burung didahan kertasku.

lembut ceritamu menuntunku untuk menghangatkan tubuh ini di bak mandi dan aneka wewangian mulai menyihir risauku untuk mendamaikan masa yang mulai menghiruk pikuk, serta merta tarianmu membungkus hariku dengan aneka kegiatan menghibur. satu- persatu mimpi kau bangun dengan ketelatenan yang mengantarkan hariku pada ujung surgawi.

aku mulai kenyang dengan khayalanku, kau telah mengisi imajinasiku dengan utuh mulai dari prolog hingga epilog.

malang, 2009

aku dan hening

kita berdamai untuk sementara, hanya untuk melelapkan alam yang mulai letih diguyur hujan. aku sedikit kesal dengan keadaan ini, memunafikkan diri dalam rintihan dingin yang menyayat indra malamku. derai angin memasuki celah-celah pintu yang tak rapat benar, poriku ikut meresponnya dengan manis dan persekutuan pun mendaki mimpi panjangku yang sengaja aku simpan dalam almari ceritaku.

kita hanya menjalankan peran dari skenario yang disodorkan malam, untuk membuatnya diam dan tak lagi merengek minta sesuatu yang bukan-bukan. kita hanya ingin menikmati damai, walau nurani kita tak pernah mampu menyepakati perjanjiannya. namun kita tetap mempura-purakan diri telah larut dalam permainan ini, dan menuntun mimpi kita beriringan ke kayangan untuk didandani sama-sama.

aku dan kamu akan kembali seperti kemarin-kemarin lagi jika malam mulai bisa ditinggal pergi mencari rumput, serta tidak lagi minta disuapi setiap waktu maka kita pun akan kembali larut dalam keangkuhan kita masing-masing. ya, mengoperasikan syaraf-syaraf kita sesuai job deskripsi yang tersepakati di awal permainan, dan kita pun semakin membidangkan senyum tak manis kita.

malang, 2009

suatu alasan yang membuatku menunggu hujan

masih saja aku tangkap kemarau yang melilit warna emasmu, masih kerontang khayalmu.

entah apa yang harus kulakukan, membiarkanmu menipis tergesek panas, rasanya bukan jalan yang terlalu istimewa. mungkin aku akan menunggu hujan, membayangkan dirimu berenang diantara titik air yang memancar dari pancuran langit. menyaksikan tubuhmu yang basah akan mengenyangkan imajinasiku yang mulai kelaparan, ruang mimpiku akan kembali penuh dengan coretan-coretan tentang tubuhmu.

satu buku telah penuh dengan guratan-guratan sintal tubuhmu, aku masih bingung mau memberinya judul apa?

aku terlalu takut untuk memberinya judul, pernah terpikirkan dengan kesintalan tubuhmu yang akan aku jadikan judul namun aku takut kamu malah tidak suka. Aku semakin takut saja, kau sepertinya suka sesuatu yang abstrak. untuk mengabstrakkan tubuhmu aku tak sanggup dan rasanya tidak elegan saja jika itu aku lakukan, aku semakin takut lagi dan akhirnya tertidur dalam bayangan tubuhmu.

dalam lelapku aku bermimpi kau asyik dengan gerimis hingga matamu merah, tapi kau sangat senang sekali dan senyummu terlihat tidak mentah.

suatu alasan yang membuatku menunggu hujan, sepertinya cocok untuk membingkai kesintalan tubuhmu.

malang, 2009

lara

yang menyeruak dalam pangkuanmu, orok amis bernanah. aku ingin muntah, mengeluarkan daging-daging yang kau tanam semalam. tentu belum utuh benar, masih bisa kau rubah bentuknya, sesuai dengan kemauanmu pastinya. kau bisa membentuknya seperti kelaminmu, biar kau tambah menyanyanginya dan tentunya tidak semaunya lagi mempermainkannya. atau kau bentuk saja seperti kelamin istrimu, jika suatu saat istrimu lagi datang bulan kau pun bisa menggaulinya, sesukamu pastinya.

malang, 2009

malam ini sangat panas, jendela itu terbuka agak lebar

malam ini udara tidak seperti malam kemarin yang menggigilkan tulang, malam ini ac takluk tak berkutik sedikitpun. jendela itu terbuka agak lebar, aku bisa melihatnya dengan jelas seiring gorden bermotif bunga dengan warna merah muda berkibar, mungkin penghuni didalamnya lagi sumuk. aku semakin asyik melihat gorden itu dikibar-kibarkan angin, ada daging mentah segar yang siap dilahap nikmat didalamnya.

malang, 2009

cerita kumuh untuk jutawan

rajutan benang bercampur debu basah, menerbangkan layang-layang raksasa. seperti khayalan adik kakak yang tumbuh ditengah lumpur-lumpur kenikmatan, tak pernah mau turun dari ketinggiannya. sayapnya semakin mengkokoh, dibelakangnya ada hal yang selalu mengencangkan bekalnya untuk berputar-putar dilangit, semacam hipnotisme positif yang menular cepat ke tiap sendi-sendi mimpinya.

cerita kecil menyeruak dengan kekumuhannya, beraneka konflik tersusun rapi di dinding-dindingnya. seseorang berdasi mengamati lukisan itu seecara seksama, ada masa kecilnya dalam bingkai yang merapikan diri didepannya.

malang, 2009

ingatan

kerikil-kerikil yang pernah bersarang dalam otakku tengah asyik mencandai mata buram malam, permainan baru yang diperoleh dari pengembaran tengah dipertontonkan dengan cuma-cuma saja, semakin asyik saja para audiens dalam lingkaran yang diciptakannya. tepat ditengah audiens sebilah cahaya menggeser semua kebekuan yang mulai mencapai pada puncaknya, pohon es mulai ditumbangi setelah perlahan dicairkan dan udara kembali normal.

malang, 2009

perempuan yang kutemui dalam pagi

segelas larutan yang semalam aku embunagi telah tandas, aku masih belum yakin untuk menemuinya. ijazah dari kakak perempuanku tak banyak membantu, aku terlanjur gugup.

darah-darah semakin mengkristal jadi balok-balok kegemetaran, keringat dingin menjadi daki-daki silau yang mengkerdilkan kekerdilanku. aku hanya sanggup menahan kebekuan gerakku, pagi semakin mengencangkan ikat pinggangnya di kakiku. aku semakin takut saja untuk membelai aspal-aspal hitam yang mulai geram, lantaran pipinya semakin kasar jika tak ada yang membelainya.

perempuan itu mengikatkan wajahnya di pohon kersen, aku ingin menggantung diri di rantingnya, sebelum aku benar-benar remuk dalam ketertegunanku.

malang, 2009

hijau daun

beraneka ragam pose yang dimanis-maniskan menyebar dalam ruang-ruang hijau perkotaan, memaksakan penyumbatan akan luka dalam. obat-obatan alamiah semakin marak ditawarkan, jalanan sesak dengan aneka promosi. sampai ruang untuk melengangkan waktu pipis pun sudah tergusur dengan kepentingan-kepentingan yang semakin terpudar, namun selalu ditutupi dengan kesumba-kesumba dukun jalanan.

lantaran dunia semakin berpenyakit, mereka ramai menawarkan pengobatan gratis.

tenda-tenda dibangun, mirip pengungsian untuk menampung surat-surat kaleng yang terkadang memaksa masuk dalam otak-otak peradaban.

sembako-sembako mengalir bak bah, dengan aneka terobosan yang berkelok ke kiri. cukup mengenyangkan ketandusan yang mendera, memelihara mimpi-mimpi yang sudah lama terkerangkeng.

malang, 2009

kampung manis

segenap penghormatan, semua doa-doa dipajang untuk menyambut tetamu dari tanah sebrang, aneka jamuan disusun serapi mungkin.

ada selir-selir, selues mungkin melayani para tamu. melenakan mata batin yang gamang, hingga semakin larut dalam kelindapan.

malang, 2009

ketika aku bangun

perlahan ketika aku membuka mata, ada bantal, bau rambutmu, sisa ketombemu, serta liurmu yang aku pancing semalam untuk keluar dari pertapaanya. aku tak lagi melihat tubuh telanjangmu, puting susumu juga hilang, pantat mulus halus telah hangus, hanya ada rontokan jembut

terlihat mengkerut,

aku lihat wajahku di cermin tampak kusut.

malang, 2009

pesta malam

masih teringat jelas, pesta malam yang kita gelar berdua, ada bubuk bubuk bening yang letih dan terpaksa kita pangku. tubuh kita bersentuhan, lantas bergesekan, membentuk sebuah miniatur masa depan dengan tingkah tingkah lucu, aku kate guyu mengingat cinta cintaan remajaku.

malang, 2009

setelah kita sama sama puas

jariku mulai berdarah, kau menyiletnya beberapa saat setelah kita sama sama puas. mulutmu bernanah, belatung belatung kecil menggerayang gerayang, seperti ketika kau mulai terangsang, meletup letup sebelum mengerang

, aku mulai kesetanan.

malang, 2009

sepasang merpati

sepasang merpati, sebulan yang lalu kau beli, bulunya merah campur putih, ada gelang perak serupa warna gigi.

setiap pagi, kau memandikannya dengan penuh kasih

lantas menungguinya sampai bulunya kering

sebelum mengelus elus bulunya, kau selalu menangis

aku hanya mengamatinya dari jauh, aku tak begitu paham dengan kesendirianmu.

malang, 2009

kau semakin rumit

kau semakin rumit, serupa mantra mantra yang belum kau hapal ketika mendoakanku. ada yang menyelinap, memasuki keintiman yang sempat kita cipta, semakin berani mengutak atik dinding tempat kita bersembunyi memadu mani mani kita.

kau semakin rumit, serupa malam yang bingung ketika ditanya tentang mimpi mimpinya, ada yang mengintrogasinya, tetap saja rumit seperti gerik asingmu.

malang, 2009

sekilas tentang purnama

aku pernah mengenal perempuan dalam purnama, selepas menggadaikan kelajanganku pada pekerja-pekerja di wisma perantauan. perempuan dengan selendang kusam tiba-tiba menabrakku yang berjalan gontai setelah kelelahan menggarap malam, perempuan yang telah rela mengusap keringatku dengan selendang kusamnya. membasahi kerontang langkahku dengan siraman harum bebungaan, sepuluh menit lamanya dia bercerita tentang mamanya yang diperkosa supir pribadinya. sepuluh menit yang mengembang jadi cerita-cerita dalam antologi cerpenku, sepuluh menit yang menitikkan air darahnya pada putih kertas imajiku.

ini malam purnama kedua setelah dia menitipkan masa depannya, aku masih ingat betul dengan percikan percikan kalimat rapi yang membelai pipi kasarku.

malang, 2009

asyik

aku kembali melelap dalam wajahnya, senyum warna warni jatuh tepat dalam ruang yang sengaja dikosongkan. debu debu asyik bercanda, tak memperdulikan orang ketiga datang dengan senjata.

Malang, 2009

pusara purbakala

melilitkan diri dalam setiap tingkah yang kau ranumkan dengan kedewasaan malam, menjatuhkan mimpi-mimpi yang aku simpan,

masuk dalam pusara purbakala,

tertimbun

pada sepi-sepi, dalam pepohonan yang masam.

: ada ibu tua, memegang gagang belati, darah-darah kental semakin binal menggerayang

dipangkuan tangannya.

malang, 2009

kapan

kapan kita bersepeda lagi, menikmati langit sore, menyusun canda-canda penentram kesibukan. sedikit apatis dengan petunjuk tuan-tuan, bukanlah dosa besar. kita bukan lagi anjing peliharaan mereka, perbudakan itu telah terpotong oleh garis tajam usia khayalan. saatnya membuat aspal untuk pijakan senyaman-nyamannya, tak perlu perhatikan lagi segala tetek bengek prosedural dan segala macam birokrasi, persetan dengan segala huruf-huruf yang terdoktrin untuk mengkotak-kotakkan mimpi bayi kita.

kapan kita menziarahi garba agung, tempat menyusun jati diri. menengok kembali fosil-fosil percintaan yang telah membelah lautan menjadi dua sisi manis, pilihan yang sedia berkompromi. sisi pertama untuk kenangan, sisi kedua untuk ujung percintaan yang kita berhentikan ditengah mimpi siang bolong para nelayan.

malang, 2009

kenangan

kita pernah sama-sama punya ruang pribadi, tempat egoisme beranak pinak.

malang, 2009

transaksi

sekian detik yang lalu aku menjual nafas sahabatku pada pedagang asongan, lebih tepat menukarnya dengan mimpi-mimpi polosnya.

malang, 2009

selembar daun yang jatuh pada mata lelapmu

selembar daun jatuh tertiup angin, selepas kenikmatan yang kau seruput dari tingkah anehku mulai menyebar dalam sendi-sendi lelapmu. kau begitu cantik dengan baju tidur itu, raut-raut lelahmu ikut luntur terciprati ronta nikmat yang kau puja dari kelibidoan malam malamku. kau tak ubahnya bayi nyalam, mendengkur indah sepanjang malam.

selembar daun jatuh lagi, tepat di bening matamu. aku ingin menyekanya, tanganku tak kuasa. lantaran sebuah diafragma telah menangkap pemandangan estetis, membingkainya dengan cerita- cerita menarik. aku hanya mampu menikmatinya dengan rasa seni yang kampungan, tak cukup untuk meresapi lekuk-lekuk berbentuk.

malang, 2009

perempuan yang duduk disamping bapak tua

aku seperti sangat mengenal perempuan yang asyik dengan lintingan tembakau itu, kedinginannya membekukan bapak tua dalam epulan pengasih. sisa-sisa gincunya masih terasa mengiris, merobek kembali jahitan keluguan, ada selimut yang telah membungkusku untuk terdiam dipojokan ruang sewaan laki-laki hidung belang, dan aku hanya mampu menggigit imajiku saat desahnya bersahutan dengan tawa kaku bapakku.

malang, 2009

perempuan dalam mata kursi

selembut jelly, kenikmatan telah menyetubuhi dan memberi kepuasan pada titik sepi.

Malang, 2009

senyum palsu

beraneka riasan, hanya untuk memberikan sedikit sentuhan pada tiap langkah yang lewat depan batang-batang berdarah. ada tikaman dalam setiap sua, memupus program reboisasi dan ada darah dimana-mana.

Malang, 2009

laki-laki kecil dengan becak tua

becak tua sedang terseok dengan tetes keringat kecut, wajah riang sedang asyik menikmati keseokan yang tercipta dari otot-otot tua.

Malang, 2009

seputar daerah tentang pendidikan

seragam lusuh dengan warna kepedihan telah menyihir angka-angka dan kalimat yang meluncur deras dari bibir perawan, masuk dalam relung-relung kenikmatan laki-laki gendut yang asyik menikmati alam dengan BMW terbarunya.

Malang, 2009

Ssttttttt!

Hening, menelan banyak cerita yang akan kita bukukan.

Ssttttttt!

Hanya mampu mengenangnya, tak ada perlakuan yang lebih arif.

Tak terkecuali mimpi, masih sepi. Sebentar lagi, mungkin aku mati.

Mengenang diri, dalam pesakitan. Aku tak peduli, perih mengiris dirimu. Hanya ada pinta malam, wajib terpelihara dari intimidasi dan ancaman.

Malang, 2009

Gelas dan Embun Malam

Segelas embun, hasil percintaan kita di malam basah. Ada masalah yang tergantung di langit hitam, belum terselesaikan. Aku cukup mampu mengenangmu dalam riuh, meski dalam keadaan tidak utuh.

Segelas embun, kita persembahkan pada Tuhan di malam basah. Ada titik hujan, mengguyur cerita tentang mimpi-mimpi kita.

Malang, 2009

Duduklah dalam Pangkuan

Hamparan sajadah panjang, lengkap warna-warni wiridan memulai percakapan yang tak sempurna ini. Aku terlanjur asyik masuk dalam nyanyi sunyi, terbawa dalam mimpi-mimpi bayi.

Duduklah, dekap mesra doa-doa berkah yang telah larut dalam hamparan sajadah. Lantas, kita saling mempererat pangkuan ini.

Malang, 2009

Menghindar

Terlalu hambar jika kita memujanya tanpa rasa, terlalu banyak biji-biji surgawi yang kita buang percuma sebelum ditanam dalam rintih sunyi hati. Menyiakan puji-puji cantik, terlampau menghindar dari garis tangan yang akan terpetakan dalam tindak pidana. Mengucap kredit-kredit musiman akan menyeret kita dalam ritual perkawinan dua puluhan, malah menceburkan baju kering dalam busa-busa kekuning-kuningan.

Ya, tak cukup waktu untuk meneriakkan slogan-slogan pemujaan. Cukupkan dengan serangkaian upacara tanpa ada pembimbing, asal kue-kue untuk menyogok ini habis termakan : doa kita pasti diterima, tenang saja.

Malang, 2009

Tatkala Aku Takluk pada Teka-teki Huruf di Monitor

Mimpiku harus tertahan dulu, monitor untuk menontonnya telah hangus dalam kepenatan panjang. Hanya ada meja kosong dan sound-sound bisu, tak ada kehidupan yang dapat aku eja. Kata-kata telah letih untuk diajak bermain-main dengan mainan Tuhan, aku harus pasrah menghadapi sayatan sepi. Kau mulai semakin tak peduli pada masaku, lantaran kumal telah menghalangi kepedulianmu.

Malang, 2009

Jenuh

Aku ingin menemuimu lagi, untuk jenuh yang penuh dalam otakku.

Malang, 2009

Tempat Bermain

Kita pernah ada dalam suasana, pada waktu yang tidak tentu. Kita pernah saling merasa, saling mengikat masalah, dan akhirnya harus muntah. Bukan sekedar muntah biasa, muntah yang penuh wangi candawi. Ya, kita bersenggama dalam tingkah asing. Dan pada malah basah kita bermain dalam rintih hujan, larut dalam kelip-kelip petir. Hangus, tak berbentuk lagi.

Malang, 2009

Waktu yang Mencumbu Mimpi

Aku terlentang, harus mampu mengerang. Untuk mempuaskan dahagamu, darah harus muncrat dalam celana tuhan.

Malang, 2009

Dalam Penantian

Malam hening, pagi mulai beranjak dari duduk manisnya. Aku larut dalam penantian, sementara Kau tak kuketahui ada dimana.

Malang, 2009

Jendela

Aku punya waktu khusus, tempat untuk mengamati gerak dan ceracau manja yang hanya dapat ternikmati di malam hari.

Malang, 2009

Perempuan dan Gelang Emas

Perempuan datang dengan bibir terluka, membawa seikat bunga kenangan. Bunga yang dipetik dari kebunku, ujarnya. Aku mengingat kembali air mata ibu, yang lancar menyirami bunga-bunga tiap pagi. Ingat kembali akan aroma coklat dari tiap asap dupa yang ibu sulut tiap ingin membangunkanku. Tiap subuh, dengan cium manis di keningku. Aku hafal betul saat-saat ibu mengajakku berjamaah, lantas bercerita tentang bapak yang tak pernah pulang. Bapak yang tak pernah aku lihat, hanya dapat aku bayangkan wajahnya dari cerita-cerita ibu tiap pagi. Tiap pagi, ibu mengantarku ke kali dan kita pun mandi bersama. Ibu, kapan kita bisa mandi bersama lagi?

Perempuan yang datang dengan seikat bunga kenangan masih didepanku, membawakan cerita masa lalu. Membawakan doa-doa yang tak pernah terkabulkan, membawakan gelang-gelang imitasi. Dan aku tetap dengan lamunan, tentang gelang emas yang tak pernah bisa aku kenakan di pesta pernikahanku.

Malang, 2009

Malaikat

Aku selalu bermimpi di datangi malaikat, dengan wajah rupawan dan berjenis perempuan. Tanpa busana, tanpa apapun yang menutup kemaluannya. Malaikat yang membawa nikmat, dan selalu meniduri mimpiku. Mencipta harapan untuk jalan yang akan aku tempuh, berkilau kemesraan.

Malaikat yang datang pada malam hari, membawakan purnama untuk menidurkan otot-ototku yang seharian harus menegang. Dan aku pun terlelap dalam pangkuannya, bersama mimpi-mimpi panjang yang tak ’kan berakhir. Mimpi tentang dirimu yang telanjang, dan mengajakku tidur dibawah rembulan dengan iring-iringan shalawat kepada semesta.

Malang, 2009

Bintang

Ada bintang, datang dengan seorang perempuan. Jodohku mungkin, atau perawat untuk pesakitan ini. yang aku ingat, dia selalu menemani malam-malamku. Dongeng-dongeng lancar mengalir dari urat-urat senyumnya, dan aku selalu larut dalam tingkah hipnotisnya.

Bintang datang lagi, kali ini menjemput perempuan yang pernah diantarkan padaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya, hanya ada air mata dan darah.

Bintang datang kembali, untuk menjemputku. Aku menurut saja, dia tak berbicara apa-apa. Langsung saja merangkulku, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

Sudah lama bintang tidak datang padaku, tapi hidupku sudah sejahtera. Apa mungkin dia datang hanya untuk menyejahterakanku?

Malang, 2009

Sebatang Rokok dan Cerita Malam Hari

Kita kembali lahir lewat angin yang diantarkan malam pada bilik-bilik warung kopi, ada sisa kenangan yang tak terawat. Kenangan tentang dirimu yang tak sempat aku nikmati, sebatang rokok yang tak pernah tersulut. Rokok yang pernah kau berikan pada gadis peminta-minta, dan aku hanya mampu mengingat semua itu dalam keadaan tidak utuh,

di malam ini.

Malang, 2009

Pertigaan Waktu

Sempat terhenti di pertigaan waktu, ada beberapa hal yang perlu kita ulas kembali sebelum perjalanan ini dilanjutkan. Ini tentang bekal-bekal dan anggota yang telah gugur di perjalanan, tentang kerikil yang akan kita pungut atau kita tinggalkan nanti. Tentang peluang nyawa kita, pulang ke pangkuan keluargakah kita atau mungkin akan bercumbu dengan tanah dan para malaikat. Sesuatu yang harus kita pikirkan, sebelum jeda panjang ini termakan kembali oleh waktu. Dan jangan pernah kita berselisih tanpa hal yang jelas, hanya karena kepentingan pribadi kita. Lupakanlah sejenak lapar yang menggelitik perutmu masing-masing, kita fokus dulu pada mimpi yang telah kita gantungkan bersama.

Berlama-lamalah di pertigaan waktu, untuk mendinginkan egoisme kita.

Malang, 2009

Ingin Pulang

Ada janji yang kita pendam di halaman rumahmu, kau mungkin telah menjaganya agar tidak ada yang menggali dan memindah letaknya. Janji yang hanya kau dan aku yang tahu, janji yang menyeret kenyamananku untuk pulang dan segera menggali janji itu bersama-sama.

Malang, 2009

Segelas Air Mata

Malam dipenuhi hujan, ada kita dalam kamar percintaan. Saling bertatap, sama-sama mendekap diri dan ada segelas air mata di antara kita. Segelas yang tak tersentuh, hanya ada hampa yang mencoba menggodainya. Kita pun ikut hampa, bersama segelas air mata dan nafsu yang lugu penuh malu.

Segelas air mata telah bercampur keringat percintaan kita, dan kita mendiamkannya saja dengan air mata di pipi kita masing-masing.

Malang, 2009

Sepuluh Menit

Berdiam diri dengan fikiran kosong, ada beberapa bahan yang menunggu untuk ditulis menjadi sebuah cerita. Cerita untuk dinikmati sendiri, dalam sepuluh menit. Sepuluh menit untuk mengusir bayangan dirimu, untuk kembali hidup dalam kekosongan.

Malang, 2009

Menemui Pagi

Aku ingin menemui dirimu di pagi buta, saat kita belum utuh dengan urat-urat kita. Saat-saat dimana kita berada dalam titik terlemah, dan hanya ada bau mulut yang bercampur dengan sisa embun. Tak ada ketertarikan badaniah, maupun fikiran tentang bentuk tubuhmu yang molek.

Malang, 2009

Seseorang yang Mengajakku Mandi Hujan

Datang dengan tergesa seorang wanita cantik tanpa busana, mengajakku mandi dalam hujan. Menikmati tubuhnya dan warna hujan mendamaikan rintih yang telah lama menggerogoti langkah ini, memberi warna baru pada aspal-aspal yang telah berlumut.

Malang, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: