Jalin Kelindan Antara Pendidikan dan Kebudayaan

(Dimuat pada majalah Media Maret 2010)

Para guru hendaknya sedikit meletakkan sejenak buku-buku panduan mengenai pengajaran dan pembelajaran yang kreatif nan inovatif. Terlalu sibuknya kita terhadap teknis tersebut justru terkadang telah melupakan persejatian dari tujuan pengajaran dan pembelajaran itu sendiri.

Setiap daerah di seluruh nusantara ini tentunya memiliki lokalitas yang khas dan tidak terdapat di daerah lainnya. Kekayaan ini semestinya patut dilestarikan tidak hanya oleh dinas pariwisata setempat. Namun, mestinya adalah tanggung jawab juga para guru.

Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa guru memiliki peluang yang besar atas regenerasi budaya daerah setempat. Betapa tidak, seorang guru memiliki hampir separuh waktu siswa dalam sehari. Kesempatan inilah yang mestinya bersama-sama kita manfaatkan untuk menanamkan budaya lokal kepada siswa.

Ambil satu contoh, di Malang misalnya, ada sebuah tari yang disebut dengan tari beskalan. Barangkali para siswa setingkat SMA di Malang bisa dihitung dengan jari yang mengenal tari ini. Padahal tari ini menurut Pak Chattam AR, salah seorang dosen tari Universitas Negeri Malang (UM), bisa jadi adalah tari yang merupakan permulaan dari perkembangan seni tari di Malang.

Pemisahan dinas pendidikan dan kebudayaan yang awalnya terkait menjadi satu secara sepintas seolah mengkomoditikan budaya melalui dinas pariwisata. Namun, dengan melihat sisi postifnya, mestinya pendidikan melakukan sinkronisasi dengan dinas pariwisata setempat sebagai wujud pelestarian budaya. Perwujudan dari sinkronisasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Pertama, memasukan lokalitas budaya daerah di dalam bacaan modul yang disusun guru secara bersama dalam MGMP. Hal ini juga menjadi sarana agar para guru tidak menggantungkan buku lembar kerja siswa (LKS) dari penerbit-penerbit tertentu yang mengedepankan keuntungan daripada kualitas.

Tentu saja tidak semua matadiklat mampu memfasilitasi konsep ini. Walaupun demikian, hendaknya kita tetap memasukkan lokalitas tersebut pada modul matadiklat tertentu semisal bahasa Indonesia, IPS, PKN, kewirausahaan, dan matadiklat lain yang terkait.

Kedua, adanya pameran produk kerajinan siswa di sanggar-sanggar yang berada di bawah naungan dinas pariwisata. Terlebih ini adalah untuk siswa SMK yang mana output mereka adalah tenaga siap kerja. Melalui matadiklat seni dan budaya, siswa dapat menyalurkan hasil karyanya pada tempat yang memiliki akses luas yang dimiliki oleh dinas pariwisata.

Ketiga, kunjungan ke tempat-tempat pariwisata budaya di beberapa daerah selain di daerahnya sendiri. Kegiatan ini akan sangat baik jika dilakukan pada siswa setingkat sekolah usia dasar. Sebab, kegiatan ini bisa menanamkan benih kecintaan budaya lokal dan nasional kepada anak.

Keempat, hendaknya tiap sekolah memiliki ekstrakulikuler atau mulok tentang budaya setempat. Pentingnya mulok atau ekstrakurikuler ini adalah menanamkan kepada siswa untuk berpikir global dan berbudaya lokal.

Memang, tidak semua guru mampu mengajarkan budaya yang ada di daerah setempat, bahkan bisa jadi seorang guru berasal dari daerah lain. Guru di sini hanya sebagai pembina selaku penanggung jawab, selanjutnya, dalam teknis di lapangan perlu seorang praktisi dari daerah sekitar.

Pendidikan, kebudayaan, dan pendidikan kebudayaan.

Secara harfiah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan dan kebudayaan memiliki makna yang sebenarnya memiliki keterkaitan di dalamnya. Pendidikan merupakan hal atau perbuatan atau cara mendidik. Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia (spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat).

Benang merah yang bisa kita runut dari kedua istilah tersebut adalah hal mendidik dan penciptaan batin manusia. Hal konkrit dari budaya itu sendiri adalah nilai-nilai religi dan pekerti yang termaktub dalam satu bungkus, yaitu lokalitas daerah. Dengan kata lain, kebudayaan adalah dasar pembentukan karakter manusia Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara sejak tahun 1932 telah merumuskan bahwa tujuan pendidikan antara lain adalah memajukan dan mengembangkan kebudayaan untuk menuju pada keluhuran hidup dan kemanusiaan. Oleh karena itu hendaknya pendidikan dan kebudayaan tidak perlu didikotomikan secara tegas. Keduanya mesti menyatu pada satu kesatuan yang berkelindan menjadi satu.

Kesimpulannya, para guru yang kini tengah disibukkan dengan teknis pengajaran dan pembelajaran yang kreatif nan inovatif hendaknya juga tidak melupakan orientasi pendidikan yang berbudaya. Kesalahan atas terkikisnya budaya lokalitas pada generasi muda hendaknya tidak selalu ditudingkan kepada derasnya arus global yang masuk, melainkan tanggung jawab para guru yang menanamkan nilai budaya anak didiknya.

Lubis Grafura

Guru SMK Negeri 1 Nglegok, Blitar. Mahasiswa pascasarjana universitas Negeri Malang Beberapa karya sastranya pernah diterbitkan

oleh Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Jawa Pos, Surya, Malang Pos, dsb

Bukunya yang terbit antara lain:  Pesan Sigkat (2009, tokoebook.com),Ketawang Puspawarna (2009, Babel). Kini menjadi pimred majalah budaya nirlaba New Indonesia.

Pengelola laman pendidikan dan sastra di www.lubisgrafura.wordpress.com

Bisa dihubungi melalui pos-el di lubisgrafura@ymail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: