Implementasi Nilai Perjuangan Kartini di SMK

“Ya, namaku hanya Kartini. Sebab itu, panggilah aku Kartini saja, tanpa gelar, tanpa sebutan.” (Surat, Jepara 25 Mei 1899).

Jauh sebelum orang-orang mengagumi Kartini, seorang Kartini pun pernah tidak memiliki ketertarikan terhadap sekolah dan minat baca. Salah seorang yang bisa dikatakan pemicu dari segala bentuk perjuangan Kartini adalah sahabat kecilnya, Letsy.

Kartini, yang saat itu dipanggil Ni, tengah menemukan Letsy sedang bersandar di pohon. Ni meminta sahabatnya untuk menceritakan sesuatu, namun sahabatnya itu menolak dengan alasan tengah menghafal pelajaran bahasa Prancis. Ni tetap merajuk, dan Letsy tetap tak bergeming.

“Ni,” kata Letsy. “Kalau aku tidak belajar bahasa Prancis, aku tidak bisa pergi ke Negeri Belanda. Aku ingin menjadi guru. Kalau kelak aku tamat, suatu saat aku mungkin ditempatkan di sini. Aku tidak akan lagi duduk di dalam kelas, tapi di depannya. Katakanlah Ni, Kamu kelak ingin jadi apa?”

Pertanyaan Letsy yang terakhir itulah yang akhirnya membuat Ni terus memikirkan, merenungkan, dan mencari jawabannya ke sana ke mari. Namun, ia tak kunjung mendapatkan jawaban.

Ketika umurnya 12½ tahun, tibalah waktu meninggalkan kanak-kanaknya yang lela. Ia harus meminta diri dari bangku sekolah, tempat duduk yang disukainya.  Ia harus pamit dengan teman-temannya bangsa Eropa. Ia dipandang cukup dewasa untuk pulang dan tunduk kepada kebiasaan negerinya. Hidup benar-benar terasing dari dunia luar sampai tiba saatnya datang lelaki untuk menuntut dan membawanya pulang ke rumah.

Ketika terakhir kali ia menempuh perjalanan dari sekolah ke rumah, matanya yang kelam berenang dalam air mata pedih. Dadanya yang ramping turun naik dengan garangnya dan mulutnya yang kecil gemetar menahan sedu-sedan (KITLV-LIPI, 2008: 14)

“Kelak kamu ingin jadi apa?”

Pertanyaan itu belum sempat terjawab, sementara Kartini harus segera dipingit dalam sebuah kamar. Namun, Kartini masih bisa berpikir, satu hal terdekat apakah yang bisa dilakukan dalam ruang yang gelap lagi suram tersebut. Buku-buku milik Kartini yang sering dikirimi oleh sahabatnyalah yang menjadi cahaya bagi suram dan gelapnya.

Walau demikian, akhirnya Kartini menjadi pahlawan yang berjuang secara multidimensi. Perjuangan Kartini tidak hanya melambangkan perjuangan kaumnya saja, melainkan juga pada dimensi pendidikan, kebudayaan, dan terlebih adalah sikap semangat tanpa mengenal putus asa dalam menghadapi keterhimpitan. Semua itu dimulai dari membaca dan menulis yang bisa kita terapkan pada anak didik tingkat SMK.

Kenapa Harus SMK?

Sebab ada paradigma yang keliru tentang SMK: siswa SMK tidak perlu banyak membaca seperti halnya SMA. Siswa SMK dipersiapkan menjadi tenaga kerja bukan ahli teoretis, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi akan sulit bersaing dengan SMA yang memang diorientasikan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi (Admin, 2010)

Itulah salah satu paradigma yang mesti kita luruskan. Tenaga kerja siap pakai ini tentu saja harus diberi bekal tidak saja dibidang keahlian, namun juga wawasan pegetahuan lainnya.  Bisa jadi anak SMK terjebak dalam kesibukan di bengkel atau lab. Sebab, jika ini dibiarkan, bisa jadi anak SMK hanya akan jadi budak industri. Nabi Muhammad pun pernah berpesan kepada kita untuk senantiasa membaca, membaca, dan membaca (iqro’).

Artinya, siswa SMK tidak selalu kita dikotomiskan berdasarkan program keahliannya saja. Bisa jadi seorang siswa jurusan otomotif pada saat lulusnya nanti akan menjadi ahli komputer. Kita sebagai guru tidak akan tahu masa depan siswa mereka. Namun, kita bisa mempersiapkan kompetensi yang nantinya bisa menjadi peluang masa depan mereka. Misalnya, matadiklat bahasa Indonesia, tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi ujian nasional saja, melainkan juga bisa menjembatani lulusan SMK  menjadi penulis.

Persis yang dilakukan Kartini, saat keterhimpitan melandanya, ia melaluinya hanya dengan membaca dan menulis. Keterhimpitan Kartini tersebut dapat kita analogikan pada siswa SMK yang tengah terjebak pada orientasi industri saja. Agar bisa keluar dari paradigma yang sempit itu, mereka harus memiliki wawasan. Wawasan tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca dan implementasinya adalah menulis.

Alhasil, mari kita selaku guru SMK, baik guru di bidang produksi, adaptif maupun normatif, bersama-sama membakali dengan sungguh-sungguh anak didik SMK menjadi anak yang profesionalime dibidangnya, berwawasan, dan selalu rendah hati seperti tampak pada prolog Kartini di atas. Melalui sajaknya berikut, Kartini mengingatkan kita bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan.

Habis malam datanglah terang

Habis badai datanglah damai

Habis juang, datanglah menang

Habis duka tibalah suka

Daftar Rujukan

Admin. 2010. Menggugat Keberadaan SMK. (online), (http://www.smkshare.webege.com/?a=detail_artikel&id=22, diunggah pada tanggal 08 Januari 2010 dan diakses pada 10 Maret 2010)

KITLV-LIPI. 1989. Kartini. Jakarta: Djambatan.

Sastroatmodjo, Suryanto. 2005. Tragedi Kartini. Yogyakarta: Tunas Harapan


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: