Pertalian Dualitas Antara Alam dan Pendidikan

Pertalian Dualitas Antara Alam dan Pendidikan

Oleh: Ari Wijayanti, S.Pd *)

Keberhasilan suatu pendidikan hendaknya tidak hanya diukur berdasarkan nilai statistik dan penguasaan teknologi saja, melainkan juga diukur melalui nilai pekerti kepekaan diri kepada lingkungan: alam!

Selaku guru bahasa daerah, saya merasa bahwa selain adanya krisis budaya di negara kita, saya juga merasakan krisis kepekaan terhadap alam. Artinya, kecintaan kita kepada alam sepertinya masih tergeser oleh kepentingan kapitalisme yang sedikit banyak muncul di setiap kurikulum kita. Pendidikan di negara kita mestinya juga mengajarkan kepada anak didik bahwa sesungguhnya keserasian antara alam dan pendidikan tidak bisa dipungkiri.

Selaku guru, hendaknya kita juga mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan kecintaan alam. Setidaknya ditanamkan kepada siswa untuk senantiasa menjaga kelestarian alam. Sebab, alam sepertinya kini sudah berada pada ambang batas yang memprihatinkan.

Al Gore dalam presentasinya Unconvenient Truth juga menjelaskan betapa cuaca kini memiliki perubahan yang signifikan. Hal ini berbanding lurus dengan naiknya keutuhan manusia yang makin hari makin beranjak naik.

Sebuah film bertajuk Home juga menjelaskan hal yang sama. Beberapa hal yang patut dicatat dalam film tersebut adalah bahwa bumi tidak bisa dibagi-bagi berdasarkan regional negara. Hal ini bukan berarti tidak perlu adanya batas negara, namun sebuah negara tidak bisa seenaknya mengeksploitasi kekayaannya dengan mengatakan “Ini milikku, terserah mau saya apakan.” Sebab, alam saling berkaitan.

Sebuah pelajaran yang mestinya juga kita tilik adalah hilangnya suku Rapanui. Rapanui membentuk peradaban yang hebat di pasifik, yaitu petani, pemahat yang hebat, dan navigator yang luar biasa. Mereka terperangkap dalam populasi yang berlebihan dengan sumber daya alam yang menipis. Mereka mengalami ketidaktenangan sosial, pemberontakan, dan kelaparan. Akhirnya, mereka hanya meinggalkan jejak berupa patung-patung di pesisir.

Sebagai pendidik ada banyak jalan yang bisa kita lakukan untuk permasalahan ini. Sebagai guru, hendaknya kita tidak senantiasa mengajarkan apa yang menjadi latar belakang kita mengajar saja. Misalnya, sebagai guru bahasa daerah saya tidak hanya mengajarkan hal-hal mengenai kebahasaan saja, namun juga mengaitkannya ke dalam isu yang sedang menjadi hangat pembicaraan juga.

Ada baiknya juga, apabila di sekolah terdapat LCD, seorang guru bisa menampilkan gambar-gambar tentang perusakan hutan di Borneo hingga pengaruh penggunaan kertas yang berlebih. Sebab kertas dibuat dari pohon apokaliptus, dimana daun pohon tersebut sangat beracun untuk tanah. Selain itu, pohon ini juga menyerap air yang begitu banyak sehingga akan mengkibatkan kerusakan lingkungan.

Tidak dipungkiri bahwa ada sekolah-sekolah yang belum meiliki fasilitas LCD. Bisa jadi menggunakan media koran atau buku-buku bacaan yang berkaitan dengan kerusakan alam. Jika memungkinkan buku-buku seperti ini bisa didapat di banyak toko buku terdekat.

Bisa jadi kedua fasilitas tersebut tidak dapat dilaksanakan sehbungan dengan kondisi sekolah yang semisal berada di daerah pedesaan atau pelosok. Hambatan ini seyogyanya tidak dijadikan alasan untuk tidak mensosialisasikan masalah krisis cuaca ini. Seorang guru setidaknya bisa menggunakan imajinasinya dalam menyampaikan cerita ini. Bisa jadi narasi tersebut dimulai dengan kata yang bombastis, semisal “Tahukah kalian bahwa pulau kita ini bisa tenggelam seiring naiknya permukaan air laut? Tahukan kenapa?” selanjutnya seorang guru bisa menjelaskan lebih lanjut untuk mengantarkan pelajaran.

Hal terdekat yang bisa kita lakukan adalah mengubah gaya hidup kita. Perubahan tersebut antara lain mengajak siswa untuk menggunakan sepeda daripada motor untuk mengurangi polusi (jika memungkinkan), tidak menyalakan lampu pada siang hari, mencabut charge bila sudah penuh, membuang sampah pada tempatnya, menanam bunga/pohon bersama, menggunakan energi seperlunya, membuat tulisan selamatkan bumi di tiap dinding kelas, bagi yang memungkinkan membuat laman (blog) tiap kelas yang berisi kampanye lingkungan, dan sebagainya.

Sekali lagi bahwa guru, seorang pendidik, adalah seorang orator. Ia memiliki kemampuan menggerakkan massa yang jumlahnya lebih besar dari organisasi manapun. Minimal, guru menanamkan hal itu ke alam bawah sadar murid-muridnya agar mereka senantiasa ingat.

Hal terdekat yang bisa dilakukan sebagai guru, mari kita mengubah pola dan gaya hidup yang mengahbiskan sumber daya alam. Sebab, kita adalah contoh bagi mereka agar mereka melakukan seperti apa yang kita lakukan.

*) guru Bahasa Daerah SMP Negeri 2 Kandat, Kediri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: