Hari Aksara Internasional dan Pemberantasan “Buta” Membaca

Jika kita menengok sejarah, mestinya kita bangga. Majapahit pernah memiliki perpustakaan besar yang dinamakan Sana Pustaka, berisi buku-buku berharga yang membuktikan bahwa pada abad itu pendidikan telah ada. (Sejarah Pendidikan, 2012:14).

Namun demikian, bangga saja tidak cukup. Kendati Leo Agung dan T.Suparman dalam bukunya Sejarah Pendidikan menyampaikan bahwa sejarah telah membuktikan nusantara telah memiliki sistem pendidikan. Perlu pengejawantahan yang nyata. Apalagi dalam menghadapi tantangan globalisasi.

WIN_20161018_21_49_50_Pro

Pentingnya tindakan nyata ini perlu segera diupayakan mengingat buta aksara di negara ini masih terbilang cukup memprihatinkan. Menurut data yang dipublikasikan oleh Tempo disebutkan bahwa Indonesia masih memiliki “pekerjaan rumah” yang besar terkait masalah buta huruf.

Pada 2013, jumlah penduduk buta aksara di Indonesia yang masih tinggi terdapat di 11 provinsi, yaitu:  (1) Papua sebesar 30,93% atau 615.977 jiwa; (2) Nusa Tenggara Barat 10,92% atau 314.435 jiwa; (3) Sulawesi Barat 7,96% atau 60.164 jiwa; (4) Sulawesi Selatan 7,37% atau 381.329 jiwa; (5) Nusa Tenggara Barat Timur 7,21% atau 203.002 jiwa; (6)   Jawa Timur 5,92% atau 1.481.646 jiwa; (7) Kalimantan Barat 5,76% atau 170.038 jiwa; (8) Bali 5,33% atau 140.628 jiwa; (9) Papua Barat 4,92% atau 26.280 jiwa; (10) Sulawesi Tenggara 4,60% atau 65.924 jiwa, dan Jawa tengah 4,54% atau 960.905 jiwa.

Begitu juga halnya buta aksara di dunia global juga masih menjadi PR yang nyata bagi sejumlah pihak. Hal inilah yang mendorong Konferensi Tingkat Menteri Negara-Negara Anggota PPB yang diselenggarakan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tanggal 17 November 1965 di Teheran, Iran, untuk mencanangkan bahwa pada tanggal 8 September adalah Hari Aksara Internasional (International Literacy Day).

“Buta” Membaca di Pendidikan Kita

Jika kita mencermati peserta didik sekarang ini barangkali juga memprihatinkan. Mereka memang tidak buta aksara melainkan “buta” membaca. Ini pada hakikatnya juga merupakan permasalahan yang sama terutama bagi guru.

Pernyataan tersebut dibuktikan oleh kompas dengan jajak pendapat dari 665 responden tentang minat baca remaja [Kompas, 14 Juni 2015]. Hasilnya masyarakat Indonesia dapat dikatakan tidak terlalu suka membaca, yaitu responden yang mengaku tidak pernah membaca buku mencapai 37,5 persen. World Culture Score Index yang mengukur lama waktu untuk membaca buku mengungkapkan rata-rata orang Indonesia hanya menghabiskan 6 jam per minggu untuk membaca buku. Padahal angka melek huruf Indonesia mencapai 93% yang sangat jauh dibandingkan dengan India yang hanya 65%, tetapi India rata-rata menghabiskan 10 jam seminggu untuk membaca buku. Terdapat sejumlah asumsi peserta didik kita tidak senang membaca antara lain adalah sebagai berikut. Tidak ada arahan dari orang tua. Keluarga merupakan peletak dasar pendidikan anak pertama yang selanjutnya menjadi peserta didik di sekolah. Apabila keluarga tidak pernah membiasakan atau mengenalkan mereka untuk membaca maka hasilnya pun anak juga tidak gemar membaca buku.

Teladan yang kurang dari guru. Tidak berlebihan jika ada yang berpendapat bahwa guru saat ini sulit dijadikan teladan dan panutan. Salah satunya adalah dalam hal membaca. Bagaimana guru bisa menyuruh muridnya membaca sementara ia sendiri tidak pernah membaca. Pertanyaan sederhana yang perlu kita sampaikan kepada guru: Dari sekian banyak dana sertifikasi yang diterima, berapakah yang dialokasikan untuk membeli buku? Perkembangan teknologi terutama gawai. Banyak peserta didik kita yang gemar membaca atau mengunggah status di jejaring sosial dan menonton video di kanal youtube ketimbang buku. Terlebih lagi saat ini banyak anak yang diasuh oleh gawai sementara orang tua tidak memperkenalkan membaca buku.

WIN_20161018_21_55_13_Pro

Upaya yang Bisa Dilakukan Guru

Membiasakan atau membudayakan membaca buku bukanlah perkara mudah. Apalagi sekarang ini dengan adanya kecanggihan gawai menjadikan murid lebih tertarik menggunakannya daripada membaca buku. Namun demikian, bukan berarti alasan ini menjadi akhir dari perjuangan untuk mengampanyekan budaya membaca. Upaya berikut bisa menjadi alternatif yang bisa diupayakan oleh guru.

Guru harus memberi teladan terlebih dahulu. Hal ini menjadi upaya pertama yang bisa dilakukan oleh guru. Sayangnya teladan ini menjadi krisis dalam dunia pendidikan kita saat ini. Apabila seorang guru memiliki komitmen untuk membudayakan membaca sementara dirinya juga memberikan teladan yang nyata, akan ada peluang murid-murid akan terinspirasi.

Guru bisa memanfaatkan kliping koran bekas yang berisikan berita inspiratif. Hanya dengan meminta waktu 5 -10 menit murid di awal atau di sela-sela pembelajaran akan mampu meningkatkan kemampuan membaca mereka. Tidak perlu diragukan lagi manfaatnya. Tidak peduli apapun pembelajarannya, membaca menjadi bagian penting dari proses belajar.

Guru mengampanyekan perpustakaan daerah sekitar atau mengajak murid ke perpustakaan. Pengejawantahan dari upaya ini adalah membuat klub membaca atau ekstrakurikuler. Hal ini akan meningkatkan budaya membaca dimulai dari perpustakaan.

Mengoptimalkan perpustakaan sekolah juga upaya yang menarik untuk dilakukan. Memang kondisi perpustakaan sekolah banyak yang tidak layak. Namun bukan berarti pula bahwa perpustakaan harus ditinggalkan. Guru bisa mengajak murid untuk membersihkan atau menata ulang perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka.

Lima menit promosi buku sebelum memulai pembelajaran. Guru bisa memulai mengampanyekan budaya membaca juga dengan cara mempromosikan buku di awal pembelajaran: isi, kelebihan,dan alasan kenapa murid harus membaca buku tersebut. Apalagi jika buku tersebut bisa didapatkan di perpustakaan. Asumsinya, murid akan tertarik dengan buku tersebut dan akan meminjam di perpustakaan.

Setidaknya itulah yang bisa diupayakan oleh guru dalam mengkampanyekan budaya membaca. Dengan demikian, peringatan hari aksara internasional tidak hanya sebatas perayaan saja namun ada upaya lebih lanjut untuk menuntaskan kemalasan membaca yang akan mengantarkan kita kepada “buta” membaca.

Lubis Grafura, M.Pd

Guru SMKN 1 Nglegok, Kabupaten Blitar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: