Pendekatan Semiotik untuk Menafsir Puisi bagi Siswa SMK

 

Puisi bisa menjadi sangat indah di mata pencintanya, namun menjadi pelajaran yang sangat menakutkan bagi siswa, terutama siswa sekolah kejuruan. Puisi menjadi sama rumitnya dengan matematika. Tapi setidaknya, matematika masih bisa dicari persamaan atau rumusnya. Ibaratnya, satu ditambah satu pasti dua, tapi tidak dengan puisi. Begitu pula ketika guru bahasa Indonesia bertanya kepada siswa kelas dua belas tentang materi paling sulit. Dengan lantang mereka akan menjawab: Puisi!

Berpegang teguh pada pendapat bahwa sebuah puisi bisa seribu arti, puisi menjadi permasalahan tersendiri ketika harus menjadi soal pilihan ganda. Terlebih lagi bagi siswa sekolah kejuruan. Sastra menjadi sesuatu yang sulit dipahami, tak terjangkau, dan asing. Inilah tantangan guru bahasa Indonesia di sekolah kejuruan. Di tambah lagi, sebuah survai di koran nasional menempatkan puisi sebagai buku yang paling sedikit peminatnya.

WIN_20160823_00_54_06_Pro     Prof. Dr. Rachmad Djoko Pradopo dalam bukunya Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya memaparkan pendekatan semiotik dalam menafsir puisi. Dengan pendekatan semiotik, puisi bisa ditafsirkan melalui dua tahap. Pertama, pembacaan heuristik, yaitu membaca puisi berdasarkan struktur kebahasaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberi sisipan kata atau sinonim kata-katanya ditaruh dalam tanda kurung, dan struktur kalimatnya disesuaikan dengan kalimat baku; bila perlu susunannya dibalik untuk memperjelas arti. Misalnya sajak, takut aku hangus api bisa ditulis ulang menjadi aku takut (terhadap) api (yang bisa membakarku hingga) hangus. Kalimat yang sudah disesuaikan strukturnya bisa menjadi lebih mudah dipahami.

Langkah selanjutnya adalah pembacaan retroaktif atau hermeneutika. Hermeneutika dalam buku Dr. M. Rafiek, M.Pd, Teori Sastra: Kajian Teori dan Praktik dijelaskan dengan cukup mudah dipahami. Hermeneutika bisa dilacak menurut pemikir awalnya, seperti Ricoeur, Dilthey, dan Habermas. Dari ketiga pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa hermeneutika merupakan sebuah tindakan memberikan makna suatu karya menurut pengalaman penafsir, kendati Dilthey dan Habermas menyarankan untuk melakukan riset terhadap unsur ekstrinsik sastra, terutama adalah latar belakang si pengarang.

 

Pengejawantahan Pendekatan Semiotik

Berikut ini adalah pengejawantahan pendekatan semiotik dalam menafsir puisi terhadap puisi karya Lia Octavia yang dikutip dari antologi puisi Penulis Lepas (Pustaka Jamil, 2011).

 

Tentang Mimpi

 

….dan kita adalah anak-anak waktu

Yang tergegap mengeja masa

Terseok meniti badai

 

Seperti mimpi yang melintasi zaman

Kita terus berlari mengurai lelah

Menyuling lagu-lagu indah

23 Januari 2008

 

            Langkah I: Pembacaan Heuristik. Puisi di atas diparafrasekan menjadi seperti di bawah ini:

Kita adalah anak-anak (manusia yang lahir pada suatu) waktu. (Kita adalah anak-anak manusia) yang tergegap (kesulitan) mengeja (memahami) masa (serta) terseok (terus berjalan dengan berat) meniti badai (permasalahan yang menimpanya). (Sementara itu, hidup ini seperti) mimpi yang (terus) melintasi zaman. Kita terus berlari (sampai) mengurai (tiba) lelah. Kita (juga berusaha) menyuling lagu-lagu gundah.

           Langkah II: Pembacaan Retroaktif/Hermeneutika. Dari pusi yang sudah diubah menjadi paragraf pada langkah I di atas, selanjutnya paragraf tersebut disempurnakan lagi dengan menambahi tafsir bebas seperti di bawah ini:

Kita adalah manusia yang lahir pada suatu waktu, tergegap menghadapi cobaan hidup dari masa ke masa, dan kita sedang berusaha untuk keluar dari masalah (badai). Hidup ini juga terasa seperti mimpi, tapi kita harus menjalaninya.

 

Apakah Siswa SMK mampu Mengaplikasikannya?

Tentu saja bisa. Namun, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar siswa sekolah kejuruan dapat mengejawantahkan teori yang tampak njlimet ini.

           Pertama, guru bahasa Indonesia hendaknya menyingkirkan dulu istilah-istilah yang ‘melangit’ seperti retroaktif, hermeneutika, dan semiotik.     Guru bisa menggantinya dengan redaksi, “Mari kita menafsir puisi. Langkah pertamanya adalah  memberi kata/menambahi kata-kata dan membalik struktur bahasanya agar mudah dipahami. Setelah itu, langkah berikutnya adalah mengira-ngira maksud puisi tersebut.”

           Kedua, guru harus aktif berkeliling mengecek pekerjaan siswa dari satu meja ke meja yang lainnya. Hal ini untuk memastikan apabila ada pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan oleh siswa.

           Ketiga, berikan kesempatan siswa untuk berekspresi sebebas-bebasnya dan jangan lupa membawa kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) atau KBBI online (daring).

           Terakhir, siswa hendaknya mempresentasikan atau jika terbatas waktu, guru bisa membuat tabel kesimpulan di papan tulis yang akan diisi oleh setiap siswa.

WIN_20161017_21_54_44_Pro Dengan demikian akan diketahui tafsir umum tentang puisi tersebut. Selamat mengajar semoga apa yang kita sampaikan bisa bermanfaat bagi siswa baik di dunia maupun di akhirat.

 

Lubis Grafura, M.Pd

Pengampu bahasa Indonesia

SMKN 1 Nglegok, Kabupaten Blitar

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: